Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Delapan puluh Delapan


__ADS_3

Setelah sore hari Jino membawa Melati dan mama serta Rendra kembali. Sampai diapartemen setelah memandikan Rendra , mama pamit akan istirahat dan sekalian menemani Rendra tidur.


Melati membuatkan teh hangat buat Jino. Dan membawa sepiring kue untuk menemani Jino menonton televisi.


Melati meletakan minum dan kue diatas meja.


"Mas...silakan minum"


"Terima kasih Mel. Nanti aja aku masih kenyang. Mel...kenapa duduknya jauh banget. Aku udah jinak loh, jangan takut"


"Apaan sih, mas..."


"Temani aku...duduk di sini" ucap Jino menepuk sofa disampingnya. Melati berdiri dan duduk disamping Jino.


Jino tersenyum dan memiringkan duduknya menghadap Melati. Ia menarik tangan Melati dan menggenggamnya.


"Melati...aku tau kamu masih ragu menikah denganku. Kamu menerimaku hanya demi Rendra. Tapi dengarkanlah Melati, aku berjanji tidak akan pernah lagi menyakiti hatimu. Aku akan berusaha menjadi suami terbaik untukmu. Aku akan membuatmu melupakan cintaku yang dulu sangat menyakiti hatimu. Jika cintaku dulu ibarat neraka bagimu , saat ini aku akan membuat cintaku bagai surga dihatimu"


"Mas...aku juga bukanlah wanita ahli surga yang tanpa salah. Aku juga pernah melakukan kesalahan denganmu. Aku juga akan berusaha menjadikan rumah tangga kita nanti bagai surga. Aku mau kamu dan aku sama sama belajar dari masa lalu dan menjadi manusia yang lebih baik"


"Aku tak berhenti bersyukur karena kamu mau memberikan aku satu kali kesempatan lagi Mel. Dan aku harap dengan kita saling menerima pernikahan ini akan membawa kebahagian dan kebaikan terutama buat Rendra"


"Iya mas...."


"Kapan abang Kai akan datang, Mel"


"Besok siang mas"


"Mel...aku gugup" gumam Jino


"Gugup...kenapa mas"


"Dua hari lagi pernikahan kita, aku tak tau kenapa aku bisa jadi segugup ini. Mungkin karena aku harus berhadapan dengan Kai sebagai wali nikah kamu nantinya"


"Mas gugup karena harus berhadapan dengan abang. Kenapa harus gugup. Abang Kai itu seorang pria yang baik dan sangat tampan. Tidak menakutkan..."

__ADS_1


"Tapi lebih tampan aku , Mel"


"Gantengan abang Kai lah...seandainya abang Kai bukan abangku, mungkin aku bisa jatuh cinta dengannya"


"Mel...kamu berhasil membuatku cemburu" gumam Jino, Melati tertawa mendengarnya.


"Mas...apa kamu besok masih kerja"


"Nggak, Mel. Aku harus mengawasi orang orang yang akan dekorasi rumah buat nikah kita. Apa kamu perlu bantuan."


"Nggak, mas. Semuanya sudah kamu uruskan"


"Abang Kai nanti biar supirku yang jemput"


"Biar aku aja , mas"


"Nggak boleh calon manten pergi bawa mobil. Pamali..."


"Mas...bisa aja"


"Hati hati mas..." ucap Melati ketika Jino akan melangkah pergi


Jino berbalik dan mendekati Melati, dengan tanpa Melati duga ia mengecup bibir Melati.


"Mas...."


"Aku pamit...mungkin besok aku nggak kesini. Biar lusa nanti ketika nikah kamu kangen denganku"


"Aku atau mas nantinya yang kangen"


"Tentu saja aku..." ucap Jino mengacak rambut Melati. Setelah itu barulah Jino pergi meninggalkan Melati.


Melati masuk setelah Jino menghilang dari pandangannya.


...............

__ADS_1


Hari ini pernikahan antara Jino yang bernama lengkap Jino Satria Pratama dengan Cantika Melati Putri akan berlangsung. Tampak banyak karangan bunga dari keluarga dan teman terdekat mereka memenuhi sepanjang jalan depan rumah mereka.


Pagi hari akad nikah akan dihadiri oleh keluarga dan sahabat dekat mereka saja.


Semua tamu telah duduk rapi, begitu juga dengan Jino sebagai pengantin pria.


Tak berapa lama tampak Melati keluar dari dalam rumah menuju taman belakang tempat akan berlangsungnya akad nikah berlangsung.


Acara di mulai dengan pembacaan ayat suci Alquran. Dan dilanjutkan dengan kata sambutan dari salah seorang kerabat.


Sebelum ijab kabul Jino meminta waktu untuk dirinya. Ia berdiri berhadapan dengan Melati yang didampingi Rendra , Kai dan mamanya.


Jino memegang mik dengan tangan sedikit gemetar.


"Selamat pagi ...terima kasih untuk seluruh keluarga dan sahabat yang telah meluangkan waktu untuk dapat hadir di acara pernikahanku ini. Aku hanya meminta sedikit waktu sebelum ijab kabul dimulai"


Jino berhenti bicara sejenak untuk menarik nafasnya.


"Cantika Melati Putri....Beberapa waktu telah kita lewati. Banyak yang sudah dilalui bersama. Tidak mudah memang. Tidak mudah memang perjalanan yang telah kita lewati. Banyak kesulitan dan kesukaran didalamnya. Tapi, bukankah segala hal di dunia ini selalu diterima dengan konsekuensi? Tidak ada kesulitan yang berdiri sendiri. Kesulitan selalu seiring dengan kebahagiaan. Saya bersyukur kepada Tuhan karena sudah diberikan satu hati untuk mencintaimu, satu otak untuk selalu memikirkanmu dan satu mulut yang tak pernah berhenti untuk selalu mendoakanmu untuk jadi istriku. Sekarang semoga doa ku terkabul. Maukah menjadi istriku?"


Melati berusaha menahan air matanya agar tak keluar.


"Mama...abang Kai dengan restu dari kalian aku bersedia menerima Mas Jino sebagai suamiku. Aku juga mengucapkan terima kasih atas cinta yang kamu berikan untukku. Semoga nanti aku bisa menjadi istri yang baik bagimu" Ucap Melati dengan menahan tangis. Pernikahan pertamanya tidak dilaksanakan seperti ini, langsung saja ijab kabul.


"Jino...aku titipkan adikku tersayang padamu. Aku serahkan tanggung jawabku padamu. Jika nanti dalam perjalanan rumah tangga kalian, adikku melakukan kesalahan...aku mohon padamu tegurlah ia dengan lembut dan jika ia tak juga mendengarnya, aku minta kamu beritau aku. Jangan marahi ia, biar aku saja yang akan mengajarinya. Aku tak akan rela dan ridho jika kamu menyakiti hati atau tubuhnya. Jika suatu saat kamu sudah bosan dan tak ingin bersamanya lagi, kembalikan ia padaku dengan baik seperti kamu melamarnya saat ini. Aku akan selalu siap menerimanya kembali. Ia permata dalam keluarga, jadi aku minta jaga ia baik baik" ucap Kai terbata menahan tangisnya.


Kai tak pernah membayangkan jika ia dapat menjadi wali nikah untuk adik wanitanya.


Semua tamu terharu mendengar ucapan Kai yang penuh kasih sayang buat adiknya Melati.


Melati akhirnya menangis. Ia tak bisa membendung air matanya lagi mendengar ungkapan cinta dari abangnya. Melati memeluk pinggang Kai dengan erat.


**********************


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2