
Jino membelikan buah buahan yang banyak untuk Rendra dan mama Melati. Ia juga membelikan kue buat Rendra.
Setelah Jino merasa cukup, ia membayar di kasir.
"Untuk siapa buah dan kue sebanyak ini, mas" ucap Melati melihat kantong belanjaan yang dipegang Jino
"Untuk Rendra dan mama"
"Kenapa harus beli banyak banget gini mas..."
"Bukankah Rendra harus banyak makan buah dan sayur"
"Tapi nggak meski sebanyak ini juga. Nanti layu dan busuk jika terlalu lama dikulkas"
"Mama dan kamu juga bisa makan buahnya"
"Mas...lain kali beli secukupnya aja. Nanti bisa beli lagi jika habis. Jadi buahnya segar terus"
"Aku nggak kepikiran kesana, Mel"
Sampai di dekat mobil, Jino membukakan pintu dan mempersilakan Melati masuk.
Ketika akan menjalankan mobil, Jino melihat sabuk pengaman belum Melati pasang. Ia mendekati tubuh Melati bermaksud ingin memasangkannya.
Melati kaget karena jarak mereka yang begitu dekat. Jino memandangi wajah Melati yang memerah. Ia lalu makin mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Melati membuat ia makin kaget dengan tindakan Jino yang spontan itu.
"Mas..." ucap Melati begitu tersadar
Jino hanya tersenyum dan menjalankan mesin mobilnya. Sepanjang perjananan pulang Melati hanya diam. Jino diam diam mencuri pandang.
"Kenapa memandangiku terus mas. Konsentrasi bawa mobil aja. Aku nggak mau kecelakaan..."
"Apa lagi aku, Mel. Aku tak ingin kamu terluka sedikitpun. Aku ingin secepatnya menikahimu dan kembali hidup bersama."
Melati hanya diam tanpa menjawab ucapan Jino.
"Melati...setelah kita menikah, aku ingin kita pindah ke rumah yang telah aku beli buat kita"
"Rumah...mas tak pernah bicarakan ini sebelumnya"
"Aku sudah membeli rumah setahun yang lalu. Saat ini rumah itu telah selesai direnovasi. Aku mau kamu dan aku tinggal bersama dirumah itu"
"Bagaimana dengan mama, mas"
"Tentu saja mama akan ikut tinggal bersama kita"
"Apartemen yang abang beli"
"Aku akan minta orang mengurusnya. Mel...apa kamu keberatan jika syukuran pernikahan kita nantinya diadakan di rumah baru itu"
"Terserah mas. Aku ikut aja...."
"Kalau gitu aku akan minta EO yang menangani pernikahan kita untuk mendekorasi rumah itu aja. Halaman belakang rumah itu cukup luas. Kita bisa mengadakan di sana. Besok aku akan bawa kamu, mama dan Rendra melihat rumah kita itu"
__ADS_1
"Nggak usah ,mas. Nanti ketika nikah aku juga dapat melihatnya. Jika setiap hari mas harus keluar, bagaimana pekerjaan kantor. Nanti bisa terbengkalai"
"Aku masih bisa tetap mengatur pekerjaanku , Melati. Besok aku akan jemput jam sepuluh. Setelah melihat rumah kita makan di restauran langgananku. Banyak lauk kesukaanmu tersedia"
"Mas...semua makanan aku suka asal itu layak buat di makan"
Tanpa terasa mobil telah masuk ke halaman gedung apartemen Melati tinggal.
"Mas mampir dulu atau langsung kembali ke kantor"
"Apa kamu nggak keberatan membawa belanjaan sebanyak ini"
"Mas jangan meremehkanku ya. Aku ini wanita kuat, loh"
"Kalau gitu aku langsung kembali ke kantor aja" ucap Jino. Ia kembali membantu Melati menanggalkan sabuk pengaman. Melati menahan nafasnya ketika jarak mereka yang sangat dekat.
Jino yang melihat Melati menahan nafasnya menjadi tersenyum. Ia kembali mencuri ciuman dari pipi Melati.
"Mas...jangan macam macam ya"
"Aku hanya lakukan satu macam aja kok. Cuma mengecup pipimu aja. Apa kamu ingin aku melakukan hal yang lebih dari tadi"
"Mas...nggak lucu loh"
"Aku bukan pelawak, tentu saja nggak lucu"
"Mas...nyebelin banget sih" ucap Melati sambil memanyunkan bibirnya.
"Jangan memancingku ,Mel"
"Itu bibirmu kenapa dimajukan"
"Mas...." teriak Melati. Ia membuka pintu dan keluar dari mobil dengan kesal.
Jino juga ikut turun. Ia mengambil belanjaan di bagasi dan menjinjingnya.
"Sini mas belanjaannya aku bawa. Mas harus kembali ke kantorkan"
"Aku antar kamu aja sampai apartemen. Aku mau bertemu Rendra"
"Alasan...." gumam Melati pelan. Mendengar itu Jino jadi tertawa.
Melati membuka pintu apartemen dengan kode keamanan. Ia mempersilakan Jino masuk.
"Selamat sore ma. Selamat sore gantengnya papi" ucap Jino melihat Rendra yang bermain ditemani mama Melati.
"Sole, pi"
"Ma, ini ada buah dibeliin mas Jino" ujar Melati.
"Biar saya yang bawa bu"ucap pembantu Melati.
Ia mengambil kantong belanjaan dan menyusunnya dalam kulkas.
__ADS_1
"Ma, besok aku ingin mengajak mama ,Melati dan Rendra melihat rumah yang akan aku dan Melati tempati setelah kami menikah"
"Nak Jino membeli rumah baru"
"Udah dari setahun yang lalu aku beli, ma."
"Jam berapa nak Jino kita pergi besok"
"Jam sepuluh pagi aku jemput, ma"
"Baiklah..."
"Ma...aku juga berencana akan mengadakan syukuran pernikahan kami dirumah itu. Agar sekalian syukuran rumah baru itu"
"Itu terserah kamu dan Melati aja. Bukankah yang akan menikah kalian. Jika kamu dan Melati telah sepakat, mama ikut saja"
"Bagaimana dengan abang Kai, ma. Apa ia setuju nantinya"
"Mama rasa abang akan setuju aja."
"Pi..pi...main" ucap Rendra mengajak Jino.
Jino lalu duduk dilantai bersama Rendra dan ikut bermain.
"Melati, mama dan bibi mau ke supermarket dulu ya. Buatkan minum buat nak Jino"
"Iya ,ma..."
Setelah mama dan bibi pergi, Melati menuju dapur untuk membuatkan minum. Jino menyusul Melati ke dapur. Ia memeluk pinggang Melati dari belakang.
"Mas mau apa...."
"Aku kangen banget memeluk dan menghirup wangi tubuhmu ini, Melati. Telah lama aku menanti saat aku dapat memeluk tubuhmu kembali"
Melati membalikan badannya menghadap Jino.
"Mas...kita ini belum resmi menikah lagi"
"Aku tak akan berbuat lebih, aku hanya ingin memelukmu. Izinkan sebentar saja, Mel"
Jino makin menarik pinggang Melati. Hingga tubuh mereka tiada jarak. Melati menahan nafasnya karena merasa gugup berada seintim ini dengan Jino.
"Melati... aku ingin kamu dan aku hidup bersama sampai kita menua, bukan hanya karena untuk kesembuhan Rendra saja" bisik Jino
"Mas... " hanya itu yang dapat Melati ucapkan karena gugup. Deruan nafas Jino terasa hangat dilehernya.
"Jangan pernah meninggalkan aku lagi, dan jangan pernah berlari dariku. Apapun akan aku lakukan agar kamu tetap bertahan disamping. Aku ingin memiliki anak darimu bukan hanya untuk kesembuhan Rendra, tapi karena aku yang memang sangat menginginkan keturunan dari rahimmu. Aku akan menebus semua kesalahan yang pernah aku lakukan dulu"
"Kita akan sama sama berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi, mas. Semua juga untuk kebaikan Rendra"
Jino makin mempererat pelukannya pada tubuh Melati.
"Mas... aku sebenarnya dapat merasakan perubahan sikapmu. Itulah sebabnya aku mau menerima kamu kembali. Aku juga berharap kamu tidak hanya berjanji tapi akan membuktikan semua ucapanmu"
__ADS_1
*******************
Terima kasih