
Setelah mengundang wartawan dan mengumumkan jika Melati adalah saudara kandungnya , Kai kembali ke Kuala Lumpur untuk kembali beraktifitas.
Saat ini seluruh keluarga Jino dan Raka telah mengetahui siapa Melati sebenarnya. Melati meminta pada mamanya untuk tetap menggunakan namanya saat ini. Jika ia menggunakan nama aslinya Richelle , ia jadi tidak terbiasa.
Kai telah kembali ke Malaysia dan kembali ke aktifitasnya. Ia tak lupa menghubungi Melati dan mamanya setiap saat.
Melati merasa hidupnya saat ini sangat bahagia. Akhirnya ia bisa merasakan memiliki saudara kandung yang selalu melindunginya. Kai memang sangat menyayanginya walau mereka baru setahun ini berkumpul.
Melati membuka matanya. Ia melihat Rendra yang masih terlelap. Melati mengecup dahi putranya itu.
Ia keget merasakan dahi Rendra yang hangat. Melati duduk dan memegang dahi seeta tubuh Rendra.
"Ya Tuhan, badannya panas banget. Apa ia kembali demam"
Melati keluar kamar dan memanggil mamanya. Mama yang sedang masak kaget mendengar teriakan Melati dan menghampirinya.
"Ada apa ,nak. Kenapa teriak..."
"Rendra, ma..."
"Ada apa dengan Rendra" ucap mama dan masuk ke kamar
"Badannya panas banget , ma"
Mama memegang dahi cucunya dan merasakan suhu badan Rendra yang tinggi.
"Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit. Rendra tak boleh minum obat sembarangan. Kamu cepat ganti pakaian. Ibu juga akan siap siap"
Melati mengganti pakaiannya dan ia menggendong Rendra. Mama telah menunggunya di luar.
Mama menggendong Rendra dan Melati yang mengendarai mobilnya.
Sampai di rumah sakit Rendra langsung ditangani dokternya. Rendra saat ini telah berada di ruang rawat dengan tangan yang terpasang selang infus.
Mama telah menghubungi Jino. Dan saat ini ia dan mamanya dalam perjalanan ke rumah sakit.
Jino langsung menuju ruang rawatnya Rendra begitu menginjak rumah sakit. Mama Jino mengikuti langkahnya dibelakang.
Tanpa mengetuk pintu Jino masuk dan menuju tempat tidur Rendra. Ia melihat wajah putranya yang pucat.
"Apa yang terjadi, Mel. Kenapa Rendra bisa demam"
"Aku nggak tau ,mas. Ketika pagi aku mengecupnya ,aku merasa subu badannya yang panas"
"Apa kata dokter, Mel"
"Dokter tadi telah mengambil sampel darahnya. Nanti setelah hasilnya keluar, mas dan aku diminta menemui dokter"
"Kita tunggu aja ya, Mel. Kamu jangan menangis terus. Doakan saja semua baik baik"
"Mas, aku takut"
__ADS_1
Jino mendekati Melati dan memeluk bunda dari Rendra putranya.
"Melati, kamu saat ini tidak sendiri. Ada aku, mama aku dan mama kamu juga abang Kai. Kami akan melakukan apa saja untuk kesembuhan Rendra. Jadi kamu jangan kuatir begitu. Rendra pasti merasakan kesedihanmu"
"Mas...Rendra pasti sembuhkan"
"Iya, Mel...apapun akan aku usahakan untuk kesembuhan Rendra"
"Terima kasih, mas"
"Kamu nggak perlu berterima kasih. Karena ku ini papinya Rendra."
Ponsel ditangannya berdering, Melati melepaskan pelukan Jino. Mama Jino dan mama Melati hanya melihat dari tempat mereka duduk.
Melati melihat nama Kai di ponselnya. Ia menyentuh tombol hijau menerima panghilan itu.
"Abang ....Rendra bang"
"Kenapa Rendra , dek"
"Rendra sakit lagi"
"Udah kamu jangan menangis. Besok jadwal abang kosong, abang akan kesana. Kita akan usahakan pengobatan apapun itu buat Rendra. Kamu tak usah bersedih. Yang terpenting saat ini jaga kesehatanmu juga. Rendra butuh bunda yang kuat agar ia juga bisa kuat menghadapi penyakitnya. Abang yakin Rendra akan sembuh, ia anak yang kuat"
"Abang...aku takut"
"Nggak usah takut...kamu dengan siapa di rumah sakit"
"Ada mas Jino dan mamanya. Mama juga disini menemani..."
Melati memberikan ponselnya dengan Jino.
"Jino, aku boleh minta tolong "
"Tentu saja boleh, bang...ada apa"
"Tolong temani Melati dan mamaku di rumah sakit malam ini. Besok aku baru bisa ke sana"
"Abang tak usah kuatir, tanpa abang mintapun aku pasti menemani. Rendrakan putraku , bang"
"Terima kasih , Jino. Aku tutup dulu ya, aku masih ada kerjaan"
"Baik bang..."
Jino mengembalikan ponsel Melati setelah sambungan dimatikan Kai.
Melati dan Jino duduk berdampingan menemani Rendra.
"Mama mau pamit sebentar, Jino" ucap mama Jino
"Mau kemana, ma"
__ADS_1
"Beli sarapan. Tadi belum ada yang sempat sarapankan. Ini udah hampir makan siang lagi"
"Aku nggak lapar, ma" ujar Melati pelan
"Lapar ataupun tidak, kamu harus tetap makan. Kamu harus tetap sehat agar bisa menjaga Rendra"
"Mama benar , Melati. Kamu harus makan walau sedikit"
"Tapi aku nggak ada selera ,mas"
"Biar mama nanti yang suapi, nak" ucap mama Melati
"Mama...aku bisa sendiri"
Mama Jino meninggalkan ruang itu untuk membeli makanan.
Perawat masuk , memberi kabar jika dokter ingin bicara dengan orang tua Rendra.
Jino dan Melati pamit pada mama, mereka menuju ruang kerja dokter. Melati mengetuk pintu dan mereka masuk setelah dokter mempersilakan.
Jino dan Melati duduk di hadapan dokter. Ketika mereka telah duduk dokter mulai menerangkan hasil lab dari penyakit Rendra.
Dokter mengatakan Rendra harus menjalani kemoterapi agar kanker yang dideritanya tidak menyebar. Dan ia juga membutuhkan donor sumsum tulang belakang.
Transplantasi sumsum tulang adalah prosedur untuk memperbarui sumsum tulang yang rusak dan tidak lagi mampu memproduksi sel darah yang sehat. Transplantasi sumsum tulang disebut juga transplantasi sel induk atau sel punca.
"Jadi apa sebaiknya yang kami lakukan, dok" ucap Melati dengan terisak.
"Rendra harus mendapatkan pendonor agar bisa melakukan transplantasi. Agar ia bisa kuat dalam menjalani kemoterapi" ujar dokter
"Siapa yang bisa menjadi pendonornya, dok" tanya Jino
"Yang paling tepat saudara kembarnya. Tapi bisa juga dari saudara kandung, ayah kandung atau terkadang ada orang lain yang cocok. Tak semestinya pendonor dari keluarga. Tapi emang keluarga biasanya lebih banyak yang cocok"
"Saya bersedia dokter. Tolong periksa sumsum saya apa cocok dengan Rendra" ucap Jino
"Baiklah, bapak bisa menjalankan tesnya besok di rumah sakit ini"
"Melati, sudah jangan menangis. Jika aku tak cocok, aku akan mencari orang yang bisa mendonorkan sumsum buat Rendra. Ia pasti sembuh"
"Mas...mas janji akan melakukan apa saja buat kesembuhan Rendra"
"Iya, Mela. Apapun itu akan mas lakukan"
Setelah dokter menjelaskan semuanya, Jino dan Melati kembali kekamar rawat Rendra.
Tangisnya pecah dipelukan mama. Mama juga tak bisa menahan tangis mendengar semua yang dikatakan Melati. Mama teringat perjuangannya mengobati Michelle dulu.
********************
Terima kasih
__ADS_1
Ini aku lampirkan penjelasan mengapa penderita kanker memerlukan donor sumsum tulang belakang saat harus menjalani kemoterapi.