
Raka mendatangi rumah Melati dengan membawa sarapan. Sebelum berangkat ke kantor, ia mampir ke rumah Melati.
Raka mengetuk pintu rumah, terdengar suara sahutan dan langkah kaki yang mendekati pintu.
"Raka...masuklah"
Melati mempersilakan Raka duduk ,ketika ia akan beranjak menuju dapur Raka menahannya.
"Melati, duduklah. Jangan repot"
"Aku cuma ingin buatkan kamu teh aja"
"Nggak perlu, seharusnya kamu itu hanya istirahat aja. Kamu baru habis melahirkan. Jangan banyak bergerak"
"Aku nggak apa ,Raka. Aku mengerjakan semuanya dengan pelan aja"
"Ini aku bawakan sarapan. Kamu nggak perlu masak. Nanti dari kantor aku kirimkan makan siang. Makan malam juga biar aku yang bawakan"
"Raka, aku takut mas Jino nanti tau jika kamu sering ke sini"
"Nggak apa...aku akan menghadapinya langsung. Pria tak bertanggung jawab. Seharusnya ia mempekerjakan seorang perawat atau pembantu buatmu. Jika aku yang melakukan, aku takut nanti kamu yang dihukum Jino"
Melati menangis mendengar ucapan Raka. Raka menjadi kaget melihatnya.
"Melati, kenapa menangis. Apa ada ucapanku yang salah"
"Nggak..."
"Jika tidak, kenapa kamu menangis"
"Raka, kenapa kamu begitu baik denganku. Aku takut nanti jadi bergantung padamu. Mas Jino selalu mengatakan, jika aku harus bisa hidup mandiri karena pada akhirnya aku akan hidup sendiri saat ia tak membutuhkan aku lagi"
"Aku tak akan pernah meninggalkan kamu, walaupun seisi dunia menolakmu ...aku akan tetap berada disampingmu" gumam Raka
Melati memandangi Raka dengan intens, membuat pria itu salah tingkah.
"Kenapa kamu memandangi aku , Mela"
"Raka, terima kasih karena selalu ada buatku. Jika suatu saat kamu memiliki pasangan, kamu bisa meninggalkanku. Kamu nggak perlu selalu ada buatku"
"Aku menginginkan kamu, Mela. Aku menunggu saat Jino mencampakan kamu, dan aku akan menerima kamu dengan tulus. Bukannya aku berharap Jino menceraikanmu, tapi jika ia tak juga menghargaimu...aku harus merampasmu dengan paksa. Aku tak akan pernah lagi membiarkan ia mengambil kamu kembali dari sisiku"
__ADS_1
"Raka...Raka...." ucap Melati berulang kali memanggil Raka yang termenung sambil menatap wajah Melati
Raka kaget setelah Melati menyentuh telapak tangannya yang ada di atas meja.
"Ada apa Melati...."
"Raka, apakah kamu sudah bicara dengan mbak Nia"
"Sudah, Melati"
"Apa mbak Nia mengizinkan aku membantunya menjaga putraku Rendra"
"Iya, Mela. Tapi kamu hanya bisa ke sana tiga kali seminggu..."
"Nggak apa Raka. Yang penting aku bisa melihatnya lagi. Raka...terima kasih" ucap Melati tanpa sadar tangannya menggenggam tangan Raka.
Raka kembali memandangi wajah Melati dengan intens.
"Aku senang jika melihat kamu tersenyum dan bahagia" lirih Raka
"Raka, itu semua karena kamu. Aku tak tau harus berkata apa. Aku banyak berhutang budi dengan kamu. Aku nggak tau jika tak ada kamu...."
Tanpa sadar Melati meneteskan air matanya. Ia sangat senang karena dapat bisa bertemu lagi dengan puteranya.
"Mela...aku harap kamu jangan pernah menangis lagi. Kamu harus kuat...."
"Besok pagi aku antar kamu ke rumah Jino"
"Biar aku pergi dengan taksi aja , Raka. Kamu berikan aja alamat rumah Jino. Aku sudah terlalu sering merepotkan kamu"
"Melati, aku senang bisa membantu kamu. Aku ikhlas melakukannya. Kamu jangan pernah lagi mengatakan jika kamu itu merepotkan."
"Tapi Raka, kamu harus pergi kerjakan..."
"Aku sekalian pergi kerja...."
"Raka ,terima kasih...."
"Jangan mengucapkan terima kasih terus, Mela. Kamu sudah terlalu sering mengatakannya"
"Karena saat ini hanya ucapan terima kasih yang bisa aku katakan buat membalas semua kebaikanmu"
"Aku tak pernah mengharapkan imbalan...."
__ADS_1
Melati tersenyum dengan manisnya pada Raka.
Dan ia baru sadar jika dari tadi tangan mereka saling menggenggam. Melati menarik perlahan tangannya, membuat Raka menjadi gugup. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf Melati...."
"Tak apa, Raka"
"Ini sarapanmu. Ingat Melati, kamu nggak usah masak. Kamu masih dalam pemulihan pasca melahirkan. Jika kamu capek dan sakit, itu sangat berbahaya"
"Iya, Raka...nanti biar aja aku yang pesan makanannya melalui aplikasi online"
"Nggak perlu Melati. Aku akan kirimkan makanan dari pakar gizi langsung. Lebih terjamin kebersihannya. Dan juga gizi yang terkandung lebih baik"
"Itu akan sangat merepotkan , Raka. Dan harganya pasti mahal..."
"Kamu nggak perlu memikirkan biaya. Semua ini anggap saja dari Jino. Tapi dikirimkan melalui aku. Kamu istri sepupuku, aku juga merasa ikut bertanggung jawab jika sesuatu terjadi padamu."
Setelah bicara cukup lama dan waktu telah menunjukan pukul delapan, Raka pamit akan ke kantor.
Sementara di rumah Jino, ia tampak sedang tidur disamping puteranya. Ia memegang jari mungil puteranya sambil sesekali mengecupnya.
Nia masuk dengan membawa sebotol susu yang tadi dibuat pengasuh anaknya.
"Sayang, lihatlah putera kita. Ia tampak sangat lucu dan menggemaskan. Rasanya aku tak ingin pergi kerja. Aku ingin didekatnya setiap saat"
"Papi harus tetap kerja. Cari uang yang banyak banget. Sekarang tanggung jawab papi telah bertambah"
"Mami benar ya , sayang. Papi harus kerja lebih giat lagi, semua itu untuk masa depanmu"
"Jino, mandilah. Sekarang udah hampir jam delapan. Kamu nggak seriuskan jika ingin bolos kerja"
"Aku akan bolos jika kamu menginginkan itu. Siapa tau kamu ingin berdua di kamar denganku seharian ini"
"Kamu tuh pikirannya mesum terus. Nggak bosan apa kemarin liburan udah berdua terus di kamar"
Jino bangun dari tidurnya dan menghampiri Nia yang sedang memberi susu buat Rendra.
Ia memeluk tubuh Nia dari belakang dengan eratnya.
"Aku nggak akan pernah bosan denganmu , sayang" ucap Jino sambil mengecup tengkuk Nia
"Aku yang tak mau jika setiap saat bersamamu. Kapan waktuku buat Alex jika kamu dirumah terus. Aku sebenarnya kasihan melihat kamu Jino. Tapi aku tak bisa juga mencintaimu, aku sudah terlanjur menyerahkan semua cintaku buat Alex dan Raka. Tapi jika aku boleh memilih aku mungkin lebih memilih Raka. Tapi pria itu sulit sekali buat aku taklukan. Dari pertama kamu mengenalkan Raka denganku, ketika kita pacaran...aku sudah mulai menyuakainya. Tapi mengapa aku tak bisa menyukaimu, Jino. Padahal kamu telah memberikan segalanya padaku. Mungkin karena aku yang terlanjur membencimu. Aku sudah hampir menikah dengan Alex saat itu jika saja kamu tidak membuat bayiku meninggal"
__ADS_1
*********************
Terima kasih buat pembaca setia novel ini. Maaf jika tak bisa membalas komentar satu persatu. Tapi semua komentar aku baca saat ada waktu....😍😍😍😍