
Setelah satu minggu menjalankan kemoterapi keadaan Rendra tampak sedikit membaik. Ia telah kembali dari rumah sakit.
Di apartemen Melati , Jino menyediakan seorang asisten rumah tangga untuk membantu membersihkan rumah dan memasak.
Jino ingin Melati fokus bersama Rendra saja tanpa harus memikirkan pekerjaan rumah tangga.
Kai hari ini akan datang ke Jakarta. Ia ingin bicara mengenai rencana pernikahan Jino dan Melati.
Setelah Kai bicara dengan Jino dan Melati baru bisa ia tentukan langkah selanjutnya.
Melati tampak sedang asyik menemani Rendra bermain sambil menyuapi Rendra buah buahan.
Mama membantu bibi di dapur memasak buat makan siang mereka.
Kai akan tiba sebentar lagi bersama Jino. Mereka akan makan siang di sini.
"Ma...masakan ikan saus padang. Mas Jino suka banget ,ma" teriak Melati
"Iya, nak. Ini mama lagi bersihin ikan guraminya"
"Papi...nda...suka"
"Iya sayang. Papi Rendra suka banget ikan gurami saus padang"
"Enda suka"
"Rendra juga suka , ya. Nanti bunda suapin ya sayang"
"Iya, nda..."
"Rendra ...anak bunda harus makan yang banyak agar semua penyakit ditubuhnya lenyap"
"Enda sehat..."
"Iya , sayang. Rendra sehat...pasti itu. Anak bundakan kuat"
"Enda kuat"
Melati mengecup pipi Rendra gemas. Ia lalu mencubit pelan pipi gembulnya.
"Enda sayang papi..sayang unda"
"Bunda juga sayang banget sama Rendra. Kamu harta bunda yang paling berharga."
Melati memeluk putranya dan tanpa sadar air matanya mengalir di pipi.
"Sayang, bunda akan memberikan kamu adik yang akan bisa menyembuhkan penyakitmu. Apapun akan papi dan bunda lakukan buat kamu, nak..."
__ADS_1
Ketika pukul satu siang terdengar suara bel nerbunyi. Melati membukakan pintu. Tampak Kai dan Jino yang berdiri dibalik pintu.
"Abang..." ucap Melati memeluk Kai.
"Masuklah mas...." ucap Melati lagi.
"Mana Rendra, dek" tanya Kai
"Itu sedang bermain"
"Rendra ganteng...apakabar nak. Uncle kangen banget" ucap Kai dan menggendong Rendra. Ia menghujani Rendra dengan ciuman.
"Geli...uncle"
"Selamat siang, ma" sapa Jino ketika melihat mama
"Selamat siang...mari kita makan siang dulu. Nanti lauknya keburu dingin"
Mama mengajak semuanya buat makan siang dulu sebelum melanjutkan perbincangan.
Jino tampak makan dengan lahap. Ia paling menyukai ikan saus padang dan cah kangkung.
"Mau tambah , mas"
"Bolehlah..." ucap Jino dan menyodorkan piringnya. Melati mengambilkan nasi dan lauknya.
"Melati tau betul selera kamu, nak. Lauk ini semuanya Melati yang sarankan. Ia tau benar selera kamu" ucap Mama
Melati menyuapi Rendra. Ia sudah ada sedikit selera makan saat ini.
Setelah mereka menyelesaikan makannya, Mama membawa Rendra untuk bermain dikamar.
Mama membiarkan Kai yang akan bicara dengan Jino. Semua urusan Melati mama serahkan pada Kai sebagai abangnya.
Melati duduk disamping Kai dengan bersandar di bahu abangnya itu. Kai memang sangat memanjakan Melati. Begitu juga Melati yang sangat manja jika bersama Kai. Selama ini ia tak pernah merasakan memiliki saudara. Saat Kai memberikan semua perhatiannya buat Melati , ia menjadi sangat bahagia.
"Jino...abang dengar dari mama, kamu dan Melati ingin melangsungkan pernikahan kalian kembali. Apa itu benar"
"Ya, bang. Aku dan Melati telah sepakat akan menikah segera. Kami akan memberikan Rendra adik. Agar dapat membantu pengobatannya"
"Abang senang mendengarnya.Selain pernikahan ini bisa membantu kesembuhan Rendra, abang juga senang karena jika ia telah menikah denganmu, ada seorang yang melindunginya. Aku jadi tak kuatir jika sering meninggalkan Melati dan mama. Tapi abang minta , Melati dan kamu jangan menikah hanya semata mata buat Rendra saja. Abang takut nanti setelah adik Rendra lahir kalian memutuskan berpisah kembali. Kalian juga seharusnya menikah karena memang dari hati. Belajarlah untuk mencintai kembali"
"Iya, bang. Aku rasa tak perlu belajar untuk mencintai Melati, karena sampai detik ini aku masih mencintainya" ujar Jino, membuat Melati memandang ke arah dirinya.
"Kamu bisakan Melati. Pernikahan bukanlah satu permainan, apa nanti yang akan orang orang pikirkan jika kalian menikah dan akhirnya kembali berpisah"
"Bang, aku akan menerima pernikahan ini dengan sepenuh hati. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik"
__ADS_1
"Abang yakin kamu pasti bisa" ucap Kai mengusap kepala Melati.
"Jadi kapan kamu dan Jino rencananya akan menikah. Abang rasa lebih cepat lebih baik"
"Bang, aku terserah mas Jino aja"
"Jino...bagaimana. Kapan kamu akan menikah dengan Melati"
"Secepatnya bang..."
"Aku perlu tanggal pasti, agar aku bisa mengosongkan jadwalku"
"Mela...kalau dua minggu lagi bagaimana, kamu siap"
"Kapanpun mas mau, aku siap"
Kai memeluk Melati mendengar ucapan adiknya itu.
"Kamu mau pesta yang bagaimana , Dek. Di Kuala Lumpur apa di sini"
"Di sini aja bang. Karena aku memikirkan kesehatan Rendra. Aku tak mau jika ia harus kecapean jika dibawa bepergian. Aku tak ingin pesta bang, aku hanya ingin mengadakan jamuan makan malam buat keluarga dan sedikit teman dekatku setelah pernikahan nantinya "
"Baiklah, setelah dapat tanggal pastinya...segera hubungi abang. Jika kamu berubah pikiran dan ingin mengadakan pesta segera hubungi abang, biar nanti abang minta tolong rekan abang yang tinggal di sini buat membantu"
"Apa abang tak ada jadwal dua mingguan mendatang" ucap Jino
"Ada satu hari yang kosong. Nanti abang hubungi manajer dulu buat pastikan tanggal berapanya"
"Berarti aku menikah nanti pas jadwal abang kosong aja. Karena yang akan menjadi wali nikah Melati nantinya abangkan"
"Aku baru ingat, Jino. Akulah yang akan menjadi wali nikahnya Melati, ya"
"Iya, bang. Aku bahagia banget dengan pernikahanku kali ini karena ada abang dan mama terutama Rendra. Semuanya demi kebahagian Rendra"
"Walau ini bukan pernikahan pertama bagiku, tapi aku sangat senang selain karena pernikahanku nantinya bisa membantu kesembuhan Rendra, ini juga karena ada orang tua dan abangku yang akan menemani dan mendampingiku nantinya"
Kai memandangi adiknya dengan mata berkaca kaca.
"Aku tak pernah bermimpi atau membayangkan akan menjadi wali nikah buat adik kandungku sendiri. Ternyata aku diberi satu kesempatan itu. Aku tak akan melewatinya."
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Jino pamit. Melati memberikan dokumen pribadinya yang telah diubah, karena nama orang tuanya yang tertera saat ini adalah nama ayah dan ibu kandungnya.
Jino memeluk dan pamit dengan Rendra sebelum kembali ke kantor.
Dalam perjalanan menuju keperusahaannya, Jino tampak selalu tersenyum.
"Ya Tuhan, aku tak pernah menduga jika aku bisa menikahimu kembali. Karena aku sadar kesalahanku padamu begitu besarnya. Aku janji Melati setelah kita menikah kembali, aku akan buat hari harimu penuh tawa. Aku akan membuatmu selalu tersenyum dan melupakan semua masa lalu kita . Akan aku buktikan pada keluargamu jika aku ini memang pria yang tepat untuk mendampingi Melati"
__ADS_1
**********************
Terima kasih