Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Sembilan puluh Lima


__ADS_3

Jino tampak masih menahan amarahnya. Wajahnya memerah. Melati menggenggam tangan Jino dan membawa ke dadanya.


Melati mengecup tangan Jino, membuat pria itu kaget dengan apa yang dilakukan Melati.


"Mas, aku mau kamu mengikhlaskan dan merelakan semua yang pernah mbak Nia lakukan padamu. Lupakan semuanya. Jangan pernah mengingatnya lagi. Agar kedepannya tidak lagi ganjalan dihatinya, mas" ucap Melati tersenyum


"Terbuat dari apa hatimu, Mel. Apa kamu tak ada dendam atau marah atas semua yang pernah aku atau Nia lakukan"


"Mas... aku hanya manusia biasa. Marah... pasti. Apa mas lupa jika aku juga pernah tak ikhlas atas apa yang mas lakukan. Aku tak menerima maaf mas, dan menolak rujuk. Hingga saat ini sebenarnya aku masih belajar untuk ikhlas atas semua takdir dalam hidupku"


"Dan apa saat ini kamu sudah mengikhlaskannya"


"Menurut mas... "


"Mas harap kamu sudah bisa melepaskan semua belenggu masa lalu itu" ucap Jino membawa Melati kedalam dekapan dadanya dan mengecup bibir Melati.


"Masa malu sama pak supir" gumam Melati


"Kenapa harus malu. Kamu istriku" ucap Jino dan kembali mengecup bibir Melati


"Mas... " ucap Melati memukul pelan dada Jino.


"Pak... berhenti" teriak Jino tiba tiba.


"Kenapa mas... " ucap Melati dengan kaget juga.


"Ada kang cilok. Mas pengin... " ucap Jino menunjuk gerobak cilok


"Mas pengin cilok itu" tanya Melati nggak yakin


"Iya, Mel. Sepertinya enak... "


"Mas pernah makan itu.... "


"Dulu waktu sekolah, sama teman teman"


"Biar aku yang beliin... " ujar Melati membuka pintu mobil.


"Mela... mas ikut." ujar Jino dan mengikuti Melati keluar dari mobil


Sampai digerobak penjual itu, Melati minta dibungkus satu. Dan minta lidi buat makannya.


Melati dan Jino kembali ke mobil. Tujuan mereka ke sebuah warung yang Melati tau menjual asinan buah dan sayur cukup enak.


Di perjalanan Jino melahap cilok dengan semangat. Dalam sekejap cilok dibungkusan habis. Melati memandangi Jino dengan sedikit heran.


Jino yang menyadari Melati dari tadi memandangnya, tersenyum dengan semringah.


"Kenapa memandangi mas begitu, kamu mau" ucap Jino


"Nggak... emang mas udah pengin banget ya"


"Iya... mas udah membayangkan ini dari kemarin"


Melati memegang dahi Jino dan berkata lirih


"Nggak panas lagi"


"Kenapa kamu pegang dahi mas"


"Siapa tau karena badan mas terlalu tinggi panasnya jadi mas bersikap aneh" ucap Melati lagi


"Kamu pikir mas kerasukan"


Melati tersenyum membalas ucapan Jino. Melihat itu Jino jadi gemas dan mencubit pipi Melati.


"Kamu tuh kalau senyum tambah cakep" ucap Jino dan mengecup pipinya.


"Mas... itu dibilang, malu sama pak supirnya"


"Kalau di rumah nggak malu ya. Nanti mas mau cium pipi nih hingga kempot "

__ADS_1


"Enak aja... " ucap Melati cemberut


Sampailah mereka di sebuah warung yang sederhana tapi bersih.


"Asinannya mau makan sini atau bungkus"


"Makan sini aja, setelah itu bungkus"


"Mas serius... "


"Kamu dari tadi kok tanya melulu"


"Mas... sejak sakit kemarin jadi aneh " lirih Melati.


Melati dan Jino turun dari mobil diikuti supir. Melati memang memaksa supirnya buat ikutan makan. Pak supir memilih meja yang berbeda dari Melati dan Jino.


Melati memesan sepiring asinan sayur dan buah masing masing sepiring.


Jino tampak antusias ketika pelayan menyajikan asinan sayur di meja. Ia langsung melahapnya dengan segera.



Melati menyuapi asinan buah dengan perlahan. Ia takut Jino juga ingin mencicipi.


"Enak banget, sayang. Coba nih" ucap Jino menyuapi Melati sesendok asinan sayur.


"Enakkan... " ucap Jino lagi


"Ya, enak banget " ucap Melati. Memang asinan sayurnya terasa pas dilidah. Bumbunya juga enak.


Setelah menghabiskan sepiring asinan sayur, Jino melirik ke piring Melati.


"Nggak enak ya asinan buahnya"


"Enak... "


"Kok nggak dihabiskan "


"Takut mas mau mencicipi"


"Kalau mas pengin, bisa pesan lagikan"


"Ini aja... " ucap Melati menyodorkan piringnya kehadapan Jino.


"Yakin nggak mau lagi"


"Nggak mas... "


Jino langsung melahapnya dengan segera. Setelah habis ia minta dibungkuskan asinan sayur buat dirinya dan mama Melati.


Setelah itu mereka pulang. Sampai di rumah Melati melihat Rendra yang sedang bermain. Ia langsung menggendong putranya.


"Sayang, bunda kangen banget" ucap Melati mengecup seluruh bagian di wajah Rendra.


"Geli nda"


"Geli ya... " ucap Melati kembali mengecup membuat Rendra tertawa.


Jino juga ikutan mengecup tengkuk Rendra membuat putranya terbahak.


"Nda, papi dari mana"


"Rumah sakit, bawa papi berobat"


Saat ini usia Rendra sudah memasuki tahun ke tiga. Walau perkembangannya normal tapi ia harus tetap menjalani kemoterapi dan meminum obat obatan.


Rendra cepat merasakan lelah dan sering mengantuk. Mungkin pengaruh dari obatan yang dikonsumsinya.


Setelah bermain dengan Rendra cukup lama, Melati menidurkan putranya.


Melati masuk kamar dan melihat Jino yang terbaring sambil memainkan tabletnya.

__ADS_1


Mungkin sedang menghubungi atau mengecek pekerjaannya.


Melati masuk kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Ia ikutan naik ke tempat tidur bergabung dengan Jino.


"Mau tidur siang, sayang"


"Hhhmmm... " jawab Melati


Jino meletakkan tablet ke atas nakas samping tempat tidur dan ikutan berbaring. Ia memeluk tubuh Melati.


"Sayang, jadwal kemoterapi Rendra tanggal berapa ya... "


"Emang sekarang tanggal berapa mas"


"Belum tua udah pelupa... "


"Efek dirumah terus"


"Mau liburan.... "


"Kasihan Rendra jika dibawa liburan, nanti kecapean "


"Liburan yang dekat aja... Bali... kita ajak mama sekalian. Bila perlu kita bawa bibi buat bantu jagain Rendra. Sekalian bulan madu"


"Telat mas... masa bulan madu sekarang "


"Nggak ada kata telat buat mas. Apa lagi jika itu menyangkut kamu dan Rendra"


"Nanti aku pikirkan lagi mas. Jadi sekarang tanggal berapa mas"


"Tujuh belas... "


"Tujuh belas.... " ucap Melati kaget


"Ya... kenapa. Telat ya bawa Rendranya berobat"


"Nggak mas. Rendra jadwal kemoterapinya bulan depan"


"Kenapa kamu kaget"


"Aku kok belum datang bulan... seharusnya tanggal delapan"


"Kamu serius sayang" ucap Jino antusias memeluk tubuh Melati makin erat


"Iya, mas... "


"Semoga saja kamu hamil sayang"


" Tapi aku kok nggak merasa apa apa" lirih Melati


"Kita periksa ya... "


"Nggak usah mas, aku malu kalau ternyata nggak"


"Kenapa malu. Bukankah kita perlu memastikannya"


"Aku beli test pack aja nanti"


"Jangan kamu yang pergi. Biar aku minta tolong supir aja yang beliin. Kalau ternyata kamu hamil, bagaimana. Kamu nggak boleh banyak gerak"


"Mas... aku hamil. Bukan sakit parah... kenapa nggak boleh gerak.. "


"Nggak ada bantahan, kamu dirumah aja"


"Malu mas, masa minta beliin pak ujang sih"


"Kalau gitu mas minta tolong Dina sekretaris mas aja yang beliin. Sekalian antarkan berkas ke rumah nanti"


"Terserah mas ajalah... "


"Semoga ini emang benar... " ucap Jino mengecup perut Melati.

__ADS_1


************************


Terima kasih


__ADS_2