Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Seratus Sepuluh


__ADS_3

Hari ini Melati dan Rendra telah kembali ke rumah. Jino akan mengadakan aqiqah putrinya tepat dihari ke empat belas nanti. Ia ingin Melati dan Rendra telah benar benar pulih baru mengadakan acara.


Kesehatan Rendra sudah tampak semakin membaik. Dokter menyarankan untuk memeriksa kondisi kesehatan Rendra bulan depan. Untuk memastikan jika tidak ada reaksi negatif dari transplantasi darah tali pusat adiknya.


Sementara di rumah sakit Raka tampak semakin pucat dan lemah. Ia harus menjalani pencucian darah.


Melati sedang menyusui putrinya, Jino yang habis mandi mendekati ranjang dan mengecup dahi Melati dan putrinya.


"Mas, mau berangkat kerja"


"Iya, ada rapat pagi ini"


"Bagaimana keadaan Raka. Udah ada perkembangan"


"Maaf, Mela. Bukan maksud mas ingin berbohong tentang keadaan Raka" ucap Jino duduk di kursi samping tempat tidur.


"Aku mengerti maksud mas menyembunyikan ini"


"Kamu nggak marah, sayang"


"Kenapa aku harus marah. Aku nggak ada hubungan apa apa dengan Raka. Hubungannya dengan Raka hanya karena ia sepupu dari mas. Cuma aku harap mas tidak pernah menutupi apapun itu. Aku ingin kita saling terbuka. Mas ... aku telah menyerahkan seluruh hidupku buat mas dan anak anak. Tak ada diganti ini selain mas dan anak anak. Jadi mas tak perlu kuatir. Aku tak memiliki perasaan apa apa dengan Raka lagi"


"Sayang, terima kasih karena telah menyerahkan seluruh hidupmu hanya untuk mas. Mas juga janji hanya ada kamu dan putra putri kita dihati ini. Mas akan selalu berusaha menjadi suami dan papi yang terbaik. Mas juga akan selalu memupuk cinta ini agar ia semakin tumbuh berkembang"


"Mas ... aku boleh meminta sesuatu "


"Tentu saja boleh, sayang"


"Mas, jika tak ada pendonor ginjal buat Raka boleh nggak aku jadi pendonornya" gumam Melati pelan


"Kamu ngomong apa, sayang. Mas nggak salah dengarkan " ucap Jino kaget


"Mas ... Raka pria baik. Kimberley juga baik. Mereka sudah punya rencana buat meniti masa depan. Tapi semua terhalang karena penyakit Raka. Aku ingin membalas kebaikan Raka selama ini padaku dengan memberikan satu ginjalku buatnya"


"Jangan minta yang aneh aneh, Mela. Mas tak setuju"


"Mas, aku masih bisa bertahan dengan satu ginjal. Aku akan periksakan ginjalku. Jika keduanya dalam keadaan sehat, aku baru mendonorkan ginjalku yang satu"


"Dan ketika ginjalmu yang tinggal satu bermasalah nantinya, apa yang harus mas lakukan"


"Mas, aku akan menjaga pola makan dan juga aku akan menjaga kesehatanku saat ginjalnya tinggal satu. Masih banyakan yang bisa bertahan hidup dengan satu ginjal"


"Mas nggak setuju" ucap Jino dan berdiri dari duduknya


"Mas ... ini saatnya aku membalas kebaikan Raka selama ini"


"Mas akan membayar orang yang bersedia menjadi pendonor. Dari pada mas mengizinkan kamu yang jadi pendonornya"


"Mas .... "


"Jangan egois, Mela. Jika kamu ingin membalas kebaikan Raka bukan dengan begini caranya"


Jino keluar dari kamar sebelum Melati melanjutkan omongannya.


Melati meletakkan bayinya diatas tempat tidur setelah menyusui.


Ia menyusul Jino ke ruang makan. Tapi tak dilihatnya Jino.


"Ma, mas Jino mana"

__ADS_1


"Baru aja berangkat. Kenapa, nak."


"Nggak ada. Aku kira masih sarapan"


"Tadi Jino bilang akan sarapan di kantor. Apa ada masalah "


"Nggak, ma. Mas Jino pagi ini ada rapat, mungkin ia takut telat. Rendra mana, ma"


"Ada dibelakang, lagi main. Ini mama mau suapin. Apa ada yang kamu inginkan, nak"


"Nggak, ma. Mama juga jangan lupa sarapan. Maaf jika Mela merepotkan mama terus"


"Mela, mama senang melakukan semua ini. Justru mama akan sedih jika kamu tak melibatkan mama dalam membesarkan anak anakmu"


"Ma, terima kasih" ujar Melati memeluk mamanya sambil terisak


"Kenapa kamu menangis. Kamu nggak bertengkar dengan Jino kan"


"Nggak, ma"


"Istirahatlah di kamar. Jika butuh sesuatu panggil mama atau bibi"


"Baik, ma"


Melati masuk ke kamar dan menangis. Ia tak bermaksud membuat Jino jadi marah dengan permintaannya.


Melati mencoba menghubungi Jino, tapi ponselnya tidak aktif. Jino memang selalu matikan ponselnya jika sedang rapat.


Sore harinya Jino baru pulang dari kantor. Ia melihat Rendra yang sedang bermain dengan mama mertuanya.


"Selamat sore gantengnya papi"


"Selamat sore, papi"


"Sudah, pi"


"Bunda mana"


"Di kamar. Dari tadi pagi Melati murung aja. Apa kalian ada masalah, nak" ucap mama hati hati


"Nggak ada, ma."


"Mungkin Melatinya kecapean. Apa si kecil rewel tadi malam"


"Nggak juga, ma. Aku masuk dulu ,ma. Biar aku tanyakan sama Melati"


"Iya, nak. Jika ada masalah sebaiknya cepat diselesaikan. Jangan ditunda. Dalam berkeluarga masalah itu biasa. Tak ada rumah tangga yang berjalan mulus terus"


"Mama jangan kuatir. Aku tak akan melupakan janjiku pada abang. Aku tak akan membuat Melati menangis"


"Syukurlah, nak. Terima kasih karena selalu mengerti. Terkadang seorang wanita itu memang butuh perhatian kecil dari suaminya. Dan juga wanita itu memang manja. Apa lagi ini masih masa masa rawan saat habis melahirkan. Mama harap kamu bisa memakluminya"


"Iya, ma. Aku pamit" ujar Jino melangkah masuk ke dalam kamarnya.


Jino melihat Melati yang duduk sambil melamun dekat jendela kamar.


Ia mendekati Melati dan memeluknya dari belakang. Jino mengecup kepala Melati.


"Bunda sedang mikirin apa. Kok melamun"

__ADS_1


Melati menengadahkan kepalanya memandangi Jino yang berdiri disampingnya.


Tanpa bisa dikendalikan air matanya jatuh membasahi pipi.


Jino berlutut dihadapan Melati dan menghapus air matanya.


"Mas, marah" ucap Melati terisak


"Nggak, kenapa kamu berpikir begitu"


"Mas mematikan ponsel dari pagi"


"Astaga, mas lupa mengaktifkan kembali setelah rapat. Tadi rapatnya sedikit berjalan alot, makanya mas pusing dan lupa mengaktifkan kembali"


"Maaf karena aku menambah beban pikiran, mas"


"Hai ... siapa yang bilang kamu menambah beban, mas"


"Mas marah karena permintaan aku tadi pagikan"


"Mas, nggak marah sayang. Tapi mas hanya nggak setuju dengan niat kamu. Kamu nggak boleh egois. Mel. Masih banyak cara untuk membalas budi Raka. Mas, takut nanti setelah kamu mendonorkan ginjal, kesehatanmu yang memburuk. Mas tak akan bisa hidup tanpamu. Apa kamu tak memikirkan mas dan anak anak. Bagaimana kami tanyamu nanti" ucap Jino dengan air mata


Melati memeluk Jino dan membawa kepala ya kedekapan dadanya.


"Maaf, mas. Aku bukannya egois"


"Jika gitu, kamu harus pikirkan juga bagaimana mas dan anak anak"


"Mas, maafkan aku"


"Udah, nggak usah ucapkan kata maaf lagi. Kamu nggak salah. Kamu hanya mengutarakan pendapat. Mas aja yang ketakutan. Mas aja yang terlalu naif. Nanti kita bicarakan itu. Kamu udah makan. Lihat nasimu masih utuh di meja"


"Aku takut mas marah"


"Mas udah berjanji dengan abang, jika mas tak akan pernah marah dan menyakitimu. Jika mas langsung pergi tadi, itu juga untuk menghindari kemarahan. Mas harap kamu mengerti"


"Iya, mas"


"Sekarang kamu harus makan. Mas minta bibi bawakan nasi dan lauk yang baru ya"


Melati menganggukkan kepalanya. Jino berdiri. Melati memeluk Jino dari belakang sebelum ia meninggalkan kamar.


"Aku mencintaimu, mas. Jangan pernah marah"


"Sebesar apa cintamu pada, mas. Mungkin lebih besar lagi cinta mas padamu, kamu segalanya bagi mas"


Jino membalikkan badannya menghadap Melati dan membalas pelukan Melati dengan erat.


********************


Terima kasih


Mampir juga ya ke karya baruku.


Naura gadis yang sangat baik, berubah sejak ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita muda yang usianya hanya beda dua tahun diatasnya.


Naura berkenalan dengan seorang pria yang membuat ia jatuh cinta karena perhatian pria itu padanya.


Semua impiannya yang ingin menjalin hubungan serius dengan sang pria kandas setelah ia tau jika sang pria dan ibu tirinya pernah memiliki hubungan dan sampai saat ini masih saling mencintai.

__ADS_1


Bagaimana kelanjutannya... Mampir dan favoritkan ya. Terima kasih.



__ADS_2