
Hari ini di kediaman orang tua Jino akan diadakan pertemuan keluarga.Atas permintaan Raka, mama Jino mengundang keluarga besar mereka makan malam.
Jino sebenarnya enggan untuk hadir diantara keluarga besar mereka. Ia tak mau menjadi bahan omongan nantinya.
Jino tau tujuan pertemuan ini untuk membicarakan hubungan antara Raka dan Melati. Ia tak mau keluarganya menatapnya dengan tatapan tanya tanya.
"Apa aku keluar aja dengan alasan ada pertemuan dengan klien yang tak bisa di tunda"
Jino akhirnya menemui mamanya yang sedang sibuk di dapur menata menu buat makan malam mereka nantinya.
"Ma, aku minta maaf karena tak bisa hadir dipertemuan keluarga ini"
"Kenapa , Jino"
"Aku ada pertemuan dengan klien yang tak bisa aku tunda karena klien itu harus kembali lagi besok"
"Apa bukan karena Raka dan Melati"
"Maksud mama apa"
"Kamu bukan sengaja menghindar karena tau pertemuan ini diadakan untuk membahas hubungan antara Raka dan Melati"
Tanpa mereka sadari, Melati berdiri di belkang Jino. Melati yang tadinya ingin membantu mama Jino mengurungkan niatnya karena mendengar namanya disebut.
"Bukan, ma..." gumam Jino
"Aku ini mama kamu, Jino. Mama yang melahirkan kamu. Mama tau bagaimana kamu, dan bagaimana perasaanmu. Mama tau kamu pasti sedih karena Melati akhirnya lebih memilih Raka dan tak memberi kesempatan padamu untuk berubah dan memulai hubunfan kalian dari awal. Tapi Jino, mama harap kamu bisa terima ini dengan lapang dada. Karena semua yang terjadi dalam hidup kita adalah takdir dari Tuhan. Kita hanya menjalaninya. Jika memang Melati akhirnya menikah dengan Raka itu berarti mereka memang berjodoh"
"Ma...aku harus pergi. Sampaikan maafku buat seluruh keluarga" ucap Jino tanpa menghiraukan ucapan mama tadi.
Melati melangkah pelan ke ruang keluarga. Ia tak mau Jino dan mama tau keberadaannya tadi. Melati memang dari sore telah datang. Ia bermain dengan Rendra dikamarnya Rendra tadi.
Melati melihat Jino yang ingin berjalan keluar, ia lalu menghadang langkah Jino.
"Mas, aku mau bicara" ucap Melati mengagetkan Jino yang berjalan sambil menunduk.
"Melati...mau bicara apa"
"Mas, aku minta maaf"
"Minta maaf untuk apa, Melati"
"Aku mohon maaf karena hubunganku dengan Raka membuat mas tak nyaman"
"Kenapa kamu harus minta maaf, Melati. Kamu tak salah. Jika memang perasaanmu lebih nyaman bersama Raka, itu pilihanmu. Aku yang seharusnya minta maaf karena aku sering membuatmu terluka"
__ADS_1
"Mas...aku sudah katakan, lupakan semua itu. Aku sudah memaafkan semuanya. Aku mendoakan mas mendapatkan wanita yang lebih baik"
"Aku tak akan mencintai lagi , Melati. Cukup sudah dua kali aku terluka karena mencintai wanita. Mungkin aku akan hidup sendiri saja. Aku akan fokus untuk membesarkan Rendra saja"
"Maaf, Melati. Mas harus pamit. Mas mungkin tak bisa menghadiri pertemuan keluarga. Sampaikan maaf mas buat Raka"
"Baiklah mas. Hati hati..."
"Aku hanya bisa mendoakan semoga Raka dapat membahagiakan kamu, karena selama pernikahan kita hanya kepahitan dan penderitaan yang aku berikan"
Jino melangkah meninggalkan Melati yang terus memandangi kepergiannya hingga hilang dari pandangan.
Setelah terdengar suara mesin mobil Jino menjauh, Melati menaiki tangga menuju kamar Rendra.
Jino ternyata mengendarai mobilnya menuju salah satu klub malam.
Sampai di kamar Melati melihat Rendra sedang bermain dengan pengasuhnya. Melati minta tinggalkan ia berdua saja.
"Nda...." ucap Rendra melihat Melati
"Iya sayang..."
"Papi..." ucap Rendra lagi. Saat ini usia Rendra yang sudah sebelas bulan sudah dapat mengucapkan kata kata.
"Papi pergi , sayang. Kamu mau papi ikut bermain ya"
"Maafkan bunda , sayang. Bukannya bunda egois jika akhirnya bunda lebih memilih om Raka untuk mendampingi bunda dan menjadi ayah sambung kamu. Bunda hanya takut jika bunda memilih papi, bunda akan terluka lagi. Karena bunda tau, papi tak pernah mencintai bunda. Bunda takut papi hanya menjafikan bunda sebagai pelarian atas kekecewaannya pada mamimu. Bunda melihat sendiri betapa papi sangat mencintai mamimu dulu. Pasti tak mudah baginya untuk dapat melupakan begitu saja cintanya. Bunda tak ingin terluka pada orang yang sama untuk kedua kalinya. Jika nanti akhirnya bunda tak berjodoh dengan om Raka mungkin bunda tidak akan sesakit saat papi melukai bunda untuk kedua kalinya...."
Melati bicara dengan Rendra sambil menangis. Rendra yang telah bisa berjalan satu dua langkah mendekati Melati. Ia mengusap air mata Melati.
"Sayang, sekali lagi maafkan bunda karena tidak bisa memberikan kamu keluarga yang utuh" ucap Melati dan memeluk Rendra.
Melati membawa Rendra ke atas kasur dan berbaring dengan putranya itu. Melati dan Rendra akhirnya tertidur.
Hari sudah malam. Keluarga sudah mulai satu persatu berdatangan.
Mama Jino yang tau dari pengasuh jika Melati ada di kamar bersama Rendra memberitahu pada Raka, saat ia bertanya dimana keberadaan Melati.
Raka langsung menuju kamar Rendra. Ia melihat Melati yang tertidur dengan memeluk Rendra.
"Melati...bangun dong, udah malam" ucap Raka mengusap lengan Melati.
Melati membuka matanya dan melihat Raka yang telah rapi.
"Kamu udah datang"
__ADS_1
"Udah dari tadi. Aku pikir kamu belum datang. Aku coba hubungi ponsel kamu, tapi nggak diangkat."
"Aku udah datang dari sore"
"Iya , tante ada ngomong. Tante bilang kamu bermain dengan Rendra dari sore. Nggak taunya molor"
"Aku tadi ngantuk banget..."
"Keluargaku udah hampir semuanya hadir. Kita gabung ya bersama mereka"
"Aku di sini aja dulu. Aku malu. Nanti jika kamu butuh aku hadir, kamu hubungi aja. Aku akan bergabung"
"Baiklah, aku turun dulu. Semua pasti udah lpar. Kamu nggak makan bersama kami dulu"
"Kamu duluan aja. Aku tunggu Rendra bangun"
"Kamu ikut makan bersama kami aja, nnati jika kamu tak mau bergabung saat aku ngobrol dengan keluarga besarku ,kamu bisa pamit"
"Baiklah, aku panggil pengasuhnya Rendra dulu."
Pengasuh Rendra datang setelah Melati menghubunginya. Raka dan Melati turun berdampingan menuju ruang makan.
Keluarga yang hadir hanya yang dewasa saja. Karena Raka ingin bicara lebih tenang. Jika banyak anak anak nanti pasti heboh suasananya.
Mereka udah ada yang mulai mengambil makanan masing masing. Keluarga tampak heran memandangi Raka yang selalu berdekatan dengan Melati.
"Mana Jinonya, kok nggak keliatan" ucap salah seorang oom Raka dan Jino
"Jino minta maaf karena tak bisa bergabung, ia ada pertemuan dengan klien yang tak bisa ditunda" ujar mama Jino
"Mantan istrinya aja bisa ikut gabung, masa Jino tak bisa. Aku pikir karena ia sudah pisah dengan Nia , mau ikut perkumpulan keluarga begini. Tapi ternyata sama aja, ada tak ada Nia memang Jinonya yang tak suka kumpul dengan keluarga. Dulu aku pikir Nia yang melarang , karena ia yang tak suka dengan mertuanya" ucap tante Jino
Mama hanya tersenyum mendengar ucapan adik sepupunya itu.
Semua keluarga tau hubungan antara Nia dan mama Jino yang tak pernah akur dari awal pernikahannya.
"Maafkan Jino...." gumam Mama
Setelah semua keluarga selesai makan, mama Jino mengajak buat mengobrol di taman saja biar lebih leluasa dan nyaman.
Melati pamit buat melihat Rendra dengan semua tante dan om Raka.
Melati tau mereka semua dari tadi memandangi dirinya dan Raka dengan intens dan dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa aku merasa jika keluarga Raka dan Jino memandangi diriku dengan kurang bersahabat. Apa mereka tak menyukai kehadiranku...."
__ADS_1
********************
Terima kasih