
"Kamu kenapa sih mengambil semua yang aku sayangi! Kamu benar benar tidak bisa diamkan!" teriak Riri garang.
Ia langsung melabrak Ranty yang masih di sekolah. Jam pulang sekolah telah berlalu beberapa menit, hampir semua siswa siswi telah pulang apalagi kelas tiga dan kelas satu.
Jam pun menunjukan pukul 13.20, Ranty tidak langsung pulang ke rumahnya kerena ia harus membersihkan perpustakaan dan membereskan semua buku buku yang tidak karuan akibat anak anak yang mengambil dan tidak disimpan kembali ke tempatnya.
Ranty tidak menduga kalau Riri bakal datang dan melempiaskan semua kemarahannya padanya.
"Maksud kamu apa?" tanya Ranty heran.
Ia hanya mendesah melihat kedatangan Riri yang tanpa ia duga sama sekali. Kedatangan yang tiba tiba tapi kedatangan Riri untungnya setelah pulang sekolah, kalau saja Riri datang sebelum pulang sekolah iantidak tahu apa yang akan terjadi.
"Jangan pura pura nggak tahu," sinis Riri sambil melemparkan buku diary yang pegang nya.
Buku itu mengenai tubuh Ranty dan langsung meluncur kebawah terhempas begitu saja. Sebuah buku dengan tebal beberapa cm jatuh tepat di bawah kakinya.
"Jauhi Anindya kalau kamu ingin hidupmu aman."
"Aku nggak pernah mendekati Anindya, dia juga nggak pernah mendekatiku. Kami disini hanya bagaikan gurindam murid dan tidak lebih," bela Ranty sambil mengambil buku diary.
"Aku nggak percaya apa yang ucapkan. Tapi tulisan tangan itu membuktikan kalau selama ini dia mendekati kamu begitu juga dengan kamu!"
"Tulisan tangan Anindya kah yang disini? Atau jangan jangan ini tulisan tangan kamu yang mengaku jadi tulisan Anindya?" sindir Ranty tersenyum.
"Brengsek," Dengus Riri.
"Kenapa?
"Aku hanya ingin kamu jauhi Anindya."
"Kalau aku nggak mau bagaimana, "tantang Ranty sinis.
Ia langsung membereskan buku buku tanpa peduli pada kedatangan Riri. Ranty menyimpan buku yang dipengangnya diatas meja dan mulai mengerjakan apa yang harus dikerjakan.
"Kamu dengar nggak sih!" teriak Riri marah.
__ADS_1
Gadis itu langsung menarik tangan Ra tua ke belakang supaya berhadapan dengan dirinya. Ranty hanya menghindar dari tangan Riri. ia.lanhsung membalikkan badannya menatap Riri yang membalas menatapnya dengan sinis.
"Kalau kamu datang hanya untuk bikin onar lebih baik kamu pulang, ngapain kamu kesini," teriak Ranty langsung mendorong tubuh Riri.
Ia sebenarnya tidak ingin ada pertengkaran antara dirinya dan Riri, tapi Riri sepertinya sengaja mengajak diet dengan dirinya. Ranty lanhsung meninggalkan perpustakaan, tapi Riri dengan cepat merah pundak Ranty dan Ranty berusaha melepaskan pegangan Riri.
"Kakak," Anindya tiba tiba muncul diantara keduanya menatap dengan perasaan lain melihat kedatangan kakaknya.
Riri yang melihat adiknya datang hanya diam. Begitu juga dengan Ranty. Ketiganya sama sama tidak bicara, hanya mata mereka.saling tatap sedemikian dalamnya.
"Kak, ada apa kakak datang ke sekolah?" tanya Anindya tajam menatap wajah kakaknya.
"Tanya saja sama wanita yang tidak bermoral," suara Riri sinis tertuju pada Ranty.
"Sama dengan kamu, kamu datang tanpa diundang, tanpa permisi. Datang main marah tanpa hujan maupun angin," balas Ranty pedas.
"He, kamu yang duluan membawa masalah. Kamu datang tanpa permisi dalam keluarga kami di dalam kehidupan ayah dan mama," balas Riri.
Anindya langsung meraih tangan kakaknya untuk menghentikan pertengkaran di sekolah. Tapi Riri terus menyerobot saja tanpa ada rem sama sekali.
Riri langsung diam mendengar teriakan dari Anindya adiknya. Ditatapnya wajah adiknya lembut tapi gadis remaja tanggung itu hanya menghindar.
Ranty menyentuh pundak Anindya lembut tapi Anindya menepiskan dengan kasar. Ia tahu kalau Ranty melarang ia dan Riri bertengkar, Jadi Ranty m nc gah supaya Anindya tidak melawan ucapan Riri.
Anindya sebenarnya dalam hati merasa nyakin kalau Riri datang hanya untuk dirinya, hanya pelampiasannya Ranty. Anindya nyakin Ranty melakuakan itu kerena tidak ingin mereka bertengkar. Tapi Anindya tidak peduli sama sekali, ia langsung mendekati kakaknya.
"Kak, jelaskan apa yang membawa kakak ke sekolah,"
"Aku menemukan diary di kamarmu, maksud kamu apa kamu menulis itu!''
Anindya dari awal juga sudah menduga kalau kedatangan dirinya pasti ada sangkut pautnya. Anindya hanya tersenyum sinis melirik kakaknya, sebenarnya tanpa tanyakan ia sudah paham. Anindya mengatakan itu hanya ingin menjebak kakaknya saja.
"Kenapa kamu diam? Jangan jangan kamu berkomplot dengan dirinya, "tunjuk Riri tajam
"Itu nggak ada sangkut pautnya sama ibu Ranty. Aku juga hanya menganggap ibu Ranty sebagai guru itu saja kok," elak Anindya datar.
__ADS_1
"Nggak percaya! Kamu sudah di guna guna, sama dia supaya dia punya komplotan untuk merusak rumah tangga ayah dan mama," suara Riri lantang.
Nada suaranya terdengar seperti mengejek pada Ranty. Anindya tanpa ba bi bu lagi langsung menarik tangan Riri untuk menjauhi Ranty. Ranty yang akan mengejar keduanya meraih tangan Anindya tapi gadis itu hanya menepiskan begitu saja.
"Nin,"
"Ibu jangan ikut campur, ini urusan kami berdua."
Ranty terdiam sejenak mendengar gertakan Anindya pada dirinya Riri berusaha untuk melepaskan nganggaman tangan yang ditarik oleh Anindya tapi gadis itu terus menarinya sampai tempat parkiran.
"Kak, aku nggak mau Kaka dan ibu Ranty bertengkar lebih baik kakak pulang. Aku akan jelaskan semuanya," kata Anindya memohon.
"Nin, maksudmu?"
"Kak, urusan Kakak bukan dama ibu Ranty kan? Urusan kakak padaku!"
Beberapa kali Riri mau mendekati Ranty tapi Anindya berusaha untuk menghalanginya. Ia terlihat kesal melihat adiknya seperti itu, tanpa pikir panjang lagi akhirnya Riri pun mengikuti apa kata Anindya tapi sebelumnya ia melirik wajah Ranty.
Setelah Riri pergi dengan roda duanya, Anindya menghampiri Ranty yang masih di perpustakaan.
"Bu, kalau ada apa apa coba teriak atau minta bantuan sama orang sih!" geram Anindya menghampiri Ranty yang masih berdiri diluar perpustakaan.
"Trus lagi jangan ledeni kak Riri. Ibu seharusnya langsung pergi atau kemana saja, ini malah meladeni kakak. Kalau ibu kenapa kenapa bagaimana?" lanjut Anindya menatap Ranty.
"Nindy, maafkan ibu. Ibu tadi hanya beresin buku kok!" bela Ranty kecut.
"Jangan cari alasan. Aku tahu. Emang nggak ada esok hari buat beresin buku!" ujar Anindya pedas.
Gadis itu langsung meninggalakan Ranty yang belum sempat bicara apa apa pada Anindya. Ranty yang melihat kejadian itu hanya tersenyum pada Anindya yang pergi pulang. Ada ******* dalam bibirnya.
"Ya Allah, terimakasih atas perubahan yang kau berikan pada Anindya semoga perubahan itu tetap selamanya," bisik hati Ranty.
Biarpun kemari kemarin Anindya seperti tidak menerimanya tapi sekarang Ranty melihat ada perubahan yang baik buat Anindya. Ada kisi hati yang kini disimpan buat Anindya, perasaan itu sebenarnya sudah sejak lama ia rasakan sejak ia menikah dengan Bayu.
Tapi Ranty menyadari kalau perasaannya berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Anindya dulu. Akhirnya siang itu ia pulang dengan perasaan berbunga bunga seperti mendapatkan cinta dari seorang pria. Ini lebih berharga, kerena ia dari awal pernikahan ini sekali meraih Anindya.*
__ADS_1