
"Kak, itu teman kuliahku Dion namanya. Aku nggak pernah mengkhianati mas Bayu," jelas Ranty pada Wulan.
Ranty sangat terkejut saat melihat Wulan datang ke rumahnya. Dan lebih terkejutnya lagi Wulan melabrak dirinya menghianati Bayu, sejujurnya Ranty tidak pernah menghianati Bayu seujung rambut pun juga. Ia menjelaskan pada Wulan kalau Dion memang pernah suka pada dirinya waktu kuliah dan pernah mengajak menikah tapi ia menolaknya.
Ranty menjelaskan semuanya tapi Wulan belum percaya sepenuhnya. Wulan keukeuh menuduh dia.selingkuh dengan Dion.
"Kak, percaya sama aku." renggek Ranty pada Wulan.
"Aku nggak pernah percaya sama kamu. Kamu sebenarnya mau apa menduakan mas Bayu dalam kehidupanmu? Belum puas menyiksa kami?"
"Kak!" Raung Ranty.
Ia merasa sia sia menjelaskan panjang lebar sama Wulan. Sampai Ranty beranjak dari duduknya dan duduk di bawah Wulan, sambil tangannya memegang tangan Wulan.
"Kak, aku mohon anggap aku adik kelasmu yang dulu seperti dulu kita bersama. Kamu begitu percaya sama aku saat pak Bayu menghukum aku?" tangis Ranty.
Ranty menyandarkan kepalanya ke pangkuan Wulan. Wulan yang melihat kelakuan Ranty itu mengingatkan beberapa tahun yang lalu saat mereka menghabiskan waktu di pohon beringin bersama. Ya mereka sering mengikuti Pramuka di hati jum'at sore.
Awalnya Wulan ingin mendorong kepala Ranty tapi wanita itu terkesiap melihat adegan Ranty seperti itu. Ia masih ingat waktu kegiatan Pramuka, Ranty sering menyandarkan tubuhnya kepangkuan Wulan.
"Kak, apa kakak bakal percaya kalau suatu waktu aku berkata sama kamu," kata Ranty remaja sambil merebahkan kepalanya kepangkuan Wulan.
"Maksudmu, dik?" tanya Wulan waktu itu.
Belum sempat Ranty menjawab pertanyaan dari Ranty tiba tiba seseorang telah berdiri dengan garangnya.
"Ranty! Kamu lupa apa yang saya bilang sama kamu!" teriak Bayu yang telah berdiri diantara Wulan dan Ranty.
"Pak, cape masa bawa air dari bawah ke atas?" protes Ranty cemberut.
PLAK!
Kayu yang dipengang Bayu langsung mengenai kakinya Ranty. Ranty dengan refleknya Manarik kakinya lalu ia mengusap bagian yang sakit akibat dipukul oleh gurunya, gadis itu langsung beranjak dari duduknya dan berdiri menatap wajah Bayu tajam.
__ADS_1
"Pak, sakit tahu jangan main pukul saja!" sembur Ranty waktu itu marah dan kesal.
"Aku pergi ya dik," kata Wulan sambil meninggalakan Ranty berdua dengan pak Bayu.
Wulan tahu guru olahraga itu sangat disiplin sekali, harus tertib kalau tidak tertib pasti kayu yang selalu dipengang akan memakan korban. Ranty awalnya ingin meloloskan diri dari Bayu. Tapi Bayu dengan cepat menangkan tangan sang murid.
Ranty meronta saat tanganya dipengang sang guru itu.
"Kak, please percaya sama aku kali ini aja." suara Ranty membuyarkan lamunan Wulan.
Tapi Wulan dengan tega lanhsung bangkit dari duduk nya sampai tubuh Ranty yang masih dipangkuan Wulan ikut terdorong ke arah belakang.
"Kak, demi Allah aku nggak menghianati mas Bayu. Aku mencintainya, kak." tangis Ranty langsung menghambur kearah kaki Wulan yang akan berjalan.
"Dik, entah aku harus percaya sama siapa sekarang. Mau percaya sama mas Bayu ya nggak sepenuhnya percaya kerena dia telah menghianati aku juga. Percaya sama kamu, sama kamu juga telah melukai hatiku." ujar Wulan lirih.
Akhirnya Wulan berjongkok dihadapan Ranty, ia dengan lembutnya memengang pundak Ranty.
"Camkan, kalau kamu ketahuan menghianati mas Bayu aku nggak pernah memaafkan kamu sampai kapanpun juga," sembur Wulan menatap wajah Ranty.
"Entah aku percaya atau tidak sama kamu sekarang? Aku hanya berharap jangan lukai mas Bayu." tandas Wulan.
"Ka, kenapa pertemuan ini harus seperti ini?" keluh Ranty.
Ia hendak merangkul tubuh Wulan tapi Wulan menghindar. Hati Ranty gerimis mendapat prilaku Wulan, disisi lain Ranty tidak pernah menyalahkan Wulan atas sikapnya seperti itu. Kerena sikap Wulan seperti itu kerena dirinya, dulu Wulan tidak pernah bersikap seperti itu padanya sebelum pernikahan dirinya.
Wulan berdiri, Ranty mengikuti Wulan..
"Aku juga nggak tahu kenapa harus seperti ini pertemuan kita. Dulu kita nggak seperti ini," balas Wulan menatap dedaunan yang bergoyang oleh angin.
"Kak, maafkan aku,"
"Nggak perlu minta maaf semuanya telah terjadi," lirih Wulan sambil kembali duduk di kursi yang tidak jauh darinya.
__ADS_1
"Berapa kandungan mu?" tanya Wulan sambil melirik wajah Ranty.
"Baru 10 Minggu," ujarnya sambil duduk di depan Wulan.
"Kak, percaya lah sekali ini saja. Aku nggak ada hubungan apa apa dengan Dion. memang dulu Dion mengejar ku tapi demi Allah aku nggak pernah menerimanya. Aku kemarin ketemu dengan dia entah siapa yang mengambil fhoto itu. Kak, aku nggak peduli kalau mas Bayu nggak percaya tapi aku mohon kakak percaya sama aku kali ini saja." rengek Ranty memohon.
"Ran, kenapa kita harus begini sih," keluh Wulan seperti menyesali yang terjadi.
Ranty mendengus pelan mendengar apa yang diucapkan oleh Wulan. Entah Wulan sedang bicara apa tapi Ranty menangkap kalau Wulan seperti menyesali sebuah pertemuan yang terjadi diantara mereka.
Pertemuan yang harusnya asyik bagi keduanya malah terasa hambar sekali, dua duanya bukan lagi sebagai adik kelas tapi kini sebagai istri pertama dan kedua yang sedang membicarakan keluh kesah kehidupannya.
"Tapi aku masih sangsi sama ceritamu itu,"
"Kak, serius. Aku tidak pernah ada niatan untuk menduakan mas Bayu." Ranty berusaha jujur biarpun mustahil kerena bagaimanapun Wulan lebih percaya pada Bayi kalau ia selingkuh dengan Dion..
Ia juga tidak menduga kalau pertemuan dengan Dion ada yang merekam dan memberikan gambar itu pada Bayi sampai Anindya yang seharusnya tidak tahu jadi tahu masalah fhoto itu.
"Jangan jangan janin dalam kandungan bukan anak nya mas Bayu tapi anaknya laki laki itu," tuduh Wulan sinis..
"Kak, aku nggak mungkin melakukan perbuatan keji itu." jerit Ranty kaget apa yang dituduhkan Wulan terhadapnya.
"Siapa tahu," delik Wulan.
"Kak, sejahat itukah pikiran kakak terhadapku. Apa kerena aku merebut suami orang," desah Ranty.
"Syukur kalau kamu menyadarinya." Dengus Wulan sinis.
Ranty memejamkan matanya. Hatinya terasa sakit sekali mendengar apa yang dikatakan Wulan terhadapnya. Seburuk apapun ia nggak akan mungkin melakukan perbuatan keji itu.
"Kak, aku salah."
"Kamu sadar kalau kamu salah telah merusak rumah tangga orang, memang nggak ada laki laki lain yang mau menikah kamu sampai laki orang di akui jadi milik sendiri," tuduh Wulan.
__ADS_1
"Kak, apa yang Kakak katakan itu kakak sadar kak!" jerit Ranty marah.
Ia benar benar tidak bisa menahan emosinya sama sekali. Dari tadi Wulan selalu menyindir, menuduh dan menghina dirinya dengan ucapan ucapan yang pedas yang melukai hati nya.