MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Apa yang kau pertahankan?


__ADS_3

"Anak!" teriak Bayu.


Saat Ranty mendesak apa yang dipertahankan dari pernikahan ini? Ya pria itu menjawab adalah anak yang sekarang dikandungan Ranty. Ia hanya ingin mempertahankan anak bukan yang lain, kalau saja bukan kerena kehamilan Ranty mungkin ia juga sama seperti Ranty. Sebenarnya pernikahan dengan Ranty kalau mau jujur banyak rintangan mungkin kerena ia menikah setalah menikah dengan Wulan.


Bayu tidak menyalahkan Ranty dalam hal ini. Ia lah yang salah yang telah membawa Ranty kedalam keluarganya tanpa disadari. Ranty langsung terdiam seketika juga mendengar apa yang Bayu ucapakan.


Anak adalah utama yang selalu dipertahankan oleh Bayu..


"Ran, kamu perlu tahu Allah langsung memberikan kita anak kerena Allah kerena Allah tahu kondisi kita, Allah tahu kadar keimanan kita. Kalau misal kita mengikuti ego kita percuma Allah ngasih anak pada kita?"


"Nggak percuma, Maslah anak bisa dibicarakan lagi,"


"Aku akan mempertahankan kamu sebagai istriku."


"Dengan penuh resiko dari keluargamu?" tanya Ranty.


"Ran, percaya padaku."


"Aku cape. Kamu pulang saja," usir Ranty.


"Boleh dong aku tidur disini?"


"Mas!"


Tapi Bayu tidak mengubris teriakan Ranty malah merebahkan badannya ke kasur yang empuk. Melihat itu Ranty hanya mengenal nafas panjang, akhirnya ia juga merebahkan badannya. Ia membelakangi Bayu, melihat itu bayi langsung memeluk Ranty dari belakang. Tapi wanita itu menepiskan tangan Bayu ia sebenarnya masih kesal pada Bayu.


Tapi Bayu malah memeluknya dengan lembut sambil mengelus perutnya beberapa kali. Ranty hanya diam saja pura pura tidur. Bayu mencium Ranty yang matanya yang terpejam.


"Mas!" teriak Ranty saat kupingnya digigit oleh Bayu.


Ranty lanhsung bangkit dari tidurannya dsn mengejar tubuh Bayu beberapa kali dengan gulingnya. Bayu tertawa melihat reaksi Ranty, ia hanya melindungi wajahnya dari pukulan Ranty.


"Mas," Ranty merasa gemas.

__ADS_1


"Udah kita tidur yuk!" ajak Bayu, tapi Ranty langsung turun dari ranjangnya. Bayu langsung menangkap tangan Ranty dengan cepat dan memeluk tubuh Ranty erat sekali. Ranty hanya diam saja saat Bayu melakukan pelukan dalam tubuhnya, ia tidak bisa menolak apa yang Bayu inginkan.


Bakdza asyar Ranty dengan gamis serta kerudung warna biru langit, langsung pergi ke sekolah kerena ada barang yang ketinggalan di sekolah kerena ia buru buru pulang begitu juga. Sedangkan Bayu masih di rumahnya dengan laptop di hadapannya.


Ranty terkejut melihat Anidnya yang ada di sekolah sendirian, ia ragu mendekati Anindya tapi ia berusaha mendekati Anindya yang duduk di ruangan guru.


"Nindy, kamu kenapa?" tanya Ranty lembut.


Anidnya tidak menjawab pertanyaan Ranty, tidak melihat Ranty dsn tidak ada reaksi apapun juga pada gadis itu. Ranty duduk disamping Anindya, hanya terdengar helaan nafas kasar yang keluar dari mulut Anindya.


"Aku nggak nyangka ya kalau ayah lebih percaya sama kamu dibandingkan anaknya sendiri!" Cipir Anindya pada Ranty tanpa menatap Ranty.


"Anak itu bukan anak ayah kan, kamu hanya memanipulasi kan semuanya, kamu hanya ingin merusak rumah tangga orang lain," ketus Anindya.


Terlihat kecewa dalam wajah gadis itu tergambar dengan jelas sekali. Ranty hanya mengigit bibir bagian bawah ia berusaha untuk menahan emosi mendengar apa yang dikatakan Anindya lada dirinya.


"Nin, kamu bicara ini kenapa? Kamu tahu dari mana kalau anak yang ibu kandung bukan anak ayahmu?" tanya Ranty yang masih menguasai emosinya.


"Kamu jangan bicara lagi, seharusnya kamu minta cerai saja, kerena itu bukan anak ayahku. Kamu hanya iri kan atas kebahagian yang kami rasakan, apa kerena mama pernah keguguran terus kamu masuk begitu saja sambil bawa kehamilan mu," cerca Anindya.


"Kamu nggak pantas mendapatkan cinta ayah, ayah juga nggak pantas mendapatkan cinta kamu!"


"Nindy!" teriak Ranty tertahan mendengarkan apa yang Anindya katakan padanya. Ia menarik nafas dan mengeluarkan kembali dengan kasarnya.


Ranty memejamkan matanya mengingat kata kata itu pernah diungkap oleh Anindya waktu dulu.


"Apa kamu punya bukti kuat kalau aku hamil bukan dari ayahmu?" tanya Ranty.


Memang untuk saat ini aku nggak ada bukti kalau anak itu bukan anak ayah, suatu waktu aku akan buktikan," Geram Anindya menghela nafas kasar..


Ia sebenarnya ingin mencari bukti kalau memang bayi yang di kandungan Ranty bukan anak ayahnya. Sebenarnya tadi juga ia berpikir seperti itu bagaimana cara mengetahui kalau bayi yang Ranty kandung itu bukan anak Bayu. Tapi sebelum itu terjawab malah Ranty datang ke sekolah akhirnya bertemu di sekolah.


"Aku izinkan kamu mencari bukti itu!" ucap Ranty serius.

__ADS_1


"Baguslah! Dan kenapa sampai sekarang kaku nggak pisah dengan ayahku? Memang kamu nggak risi ya merampas suami orang, apa.sih yang kau pertahankan dalam pernikahan ini," ketus Anindya melirik Ranty.


Deg!


Apa yang kau pertahankan dari pernikahan, kata kata itu menghantam kalbu nya yang paling dalam. Kata kata yang pernah ia katakan pada Bayu tadi, masih segar dalam ingatan ya kalau ia mengatakan kata kata itu dan malah kata katanya diikuti oleh Anindya, sedangkan waktu itu Anindya tidak ada ditempat itu!


Ranty hanya mengenakan nafas kasar, anehnya waktu tadi ia mengatakan kata kata itu biasa saja. Tapi saat Anindya mengatakan itu hatinya terkoyak seketika juga.


"Kenapa diam?" nggak bisa jawabkan?" ejek Anidnya pelan tapi melukai hati Ranty.


"Nindy, boleh kah aku tahu kamu mengatakan kalau anak ini bukan anak ayahmu itu dari siapa?" tanya Ranty.


Ya ia harus tahu orang yang memberitahukan kalau anak yang ia kandung bukan anak Bayu. Ranty tidak menjawab apa yang dilontarkan oleh Anindya malah Ranty membalik pertanyaan kembali pada Anindya. Kemarin ia hanya ingin tahu apa yang terjadi pada Anidnya.


Anindya hanya diam, ia tidak lanhsung menjawabnya. Tatapan matanya memandang dengan lurus ke depan.


"Kamu nanya, bertanya tanya?" ejek Anindya.


Ranty hanya diam saja." Aku dan ayah mempertahankan kerena anak yang aku kandung," jelas Ranty..


"Anak? Itu bukan anak ayah, apa yang kau pertahankan?" tawa Anindya sumbang.


"Cape ya bicara sama kamu," pojok Rabty kesal.


"Seharusnya aku yang kesal bicara sama kamu. Kamu munafik!" cerca Anindya.


"Kamu lebih baik pulang, dari pada mama dan ayahmu mencari keberadaan kamu," Rabty akhirnya meninggalakan Anidnya.


"Jangan sok perhatian, ayahku bersama dengan kamu kan? Ngaku. Kamu ngapain saja sama ayahku?" maki Anindya sambil menatap punggung Ranty yang menuju perpustakaan.


Ranty mengepalkan tanganya mendengar kata kata pedas dari mulut Anindya, tapi ia tidak meladeni apa yang Anindya katakan. Ranty pergi ke ringan perpustakaan mengambil kertas kertas yang akan ia gunakan untuk mengetik.


Ketika ia pulang, matanya tudks menemukan sosok Anindya.*

__ADS_1


__ADS_2