
Hari Jumat pukul 13.30 Ranty masih memberikan buku buku yang bercecer tidak karuan di ruangan perpustakan. Ia tadi juga Dzuhur di ruangan perpustakaan, daripada tidak keburu sholat di rumah lebih baik sholat di sekolah saja.
Ruangan perpustakaan bagaikan gudang saja. Buku buku yang tadi pagi tersusun rapi kini turun semua, anak anak yang membaca seperti sengaja menurunkan semua buku yang ada di rak.
Ranty mendesah sambil berdiri, dan tangannya reflek mengusap pingangnya yang terasa ngilu sekali. Ia agak blank memulai membereskan dibagian mana dulu. Matanya menatap kearah tumpukan buku buku yang berserakan disudut ruangan, lantai, meja, dan di rak juga tidak tersusun rapi.
Ia hanya mengelengkan kepala saj melihat semua buku berserakan. Tidak semuanya sih hanya sebagian saja itu juga harus memerlukan tenaganya untuk membereskan semua buku.
Ada rasa malas melihat pekerjaan yang menumpuk, tapi bagaimanapun ia harus mengerjakannya kalau ditunda bakal berta pekerjaan yang harus ia kerjakan, apalagi harus mengerjakan sendiri.
Akhirnya ia membereskan buku pake dsn buku non paket, buku dengan kode 300 dipisahkan dengan kode 400 begitu seterusnya. Lalu ia memasukan ke rak buku yang telah diberi kode DDCnya. Supaya pengunjung tahu buku yang dicarinya. Hanya hitungan menit akhirnya ia bisa merapihkan beberapa buku di perpustakaan.
Tiba tiba ia meringis kesakitan, tangannya mengelus perut bagian bawah yang terasa sedikit kram. Tapi ia berusaha menahan sakit itu, dengan mengelus perut bagian bawah.
Mungkin kerena ia membereskan buku buku itu, maka perutnya terasa sakit apalagi dikerjakan sendirian.
Ranty masih berada di ruang perpustakaan saat anak anak Pramuka datang untuk mengikuti ekstrakulikuler pramuka yang sering dilaksanakan pada hari Jumat jam 13.30 sehabis dzuhur.
"Wah ibu masih disini," sapa Zahra yang tiba tiba masuk ke ruang perpustakaan setelah mengucapkan salam.
Ranty tersenyum kearah Zahra.
"Biar besok nggak kerja lagi," ujar Ranty sambil melangkahkan kaki menuju kursinya.
"Bu, Anindya kesini nggak tadi?" tanya Zahra.
Ranty hanya mengelengkan kepala saja. Sejak kejadian Anindya memecahkan kaca perpustakaan gadis remaja itu tidak muncul di perpustakaan, apalagi di hari yang sama Bayu menegur Anindya dihadapannya. Sebenarnya Ranty ingin membela Anindya tapi Bayi memberi kode supaya dirinya tidak ikut campur urusan Anindya.
Ranty hanya diam saja, sedangkan Anindya beberapa kali.minta maaf pada Bayu dan Ranty. Setelah itu Anindya pulang. Ranty mengingat itu hanya menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan begitu saja.
Zahra yang melihat gelengan kepala Ranty hanya mendesah saja. Kalau di ajak ke perpustakaan Anindya selalu menghindar Zahra tidak tahu apa yang dialami oleh Anindya, tapi gadis itu menduga kalau Anindya tidak ke perpus kerena masalah beberapa hari kemarin.
BRAK!
__ADS_1
Suara nyaring terdengar di pintu perpustakaan yang terbuka. Ranty dan Zahra yang mendengar suara itu langsung melihat kearah pintu. Terlihat Riri dengan wajah merah menghampiri Ranty tanpa ba bi bu lagi Riri langsung mendorong tubuh Ranty. Ranty yang tidak menduga langsung terjatuh ke lantai dengan kerasnya.
"Aduh!" desah Ranty sambil memegang perutnya.
"Bu Ranty!" jerit Zahra saat melihat tubuh gurunya terjungkal. Apalagi waktu ia melihat wajah gurunya meringis kesakitan yang begitu sakit.
"Kak!" teriak Zahra langsung mengamuk pada Riri.
Riri langsung menampar muka Zahra berkali kali, disusul oleh teriakan Ranty yang melihat Riri memeluk bertubi tubi tubuh Zahra.
"Ri, hentikan semua ini. Jangan pukul Zahra, lebih baik pukul aku saja, kerena Zahra tidak tahu apa apa!" jerit Ranty sambi meringis kesakitan.
Keributan dan kegaduhan di perpustakaan terdengar jelas di lapangan upacara, disana anak anak yang akan pramuka kumpul bersama kakak pembina.
Ryan kakak pembina dan anak anak yang lain mendengar kegaduhan itu langsung menuju ruang perpustakaan, begitu juga dengan Anindya yang ada di sana. Ia langsung berlari menuju perpustakaan, saat matanya melihat sosok Riri ia terkesiap saat matanya melihat Riri memukul Zahra bertubi tubi, sedangkan Ranty saat itu sedang berusaha memisahkan Riri dan Zahra.
Ryan yang melihat itu langsung menarik tangan Riri dengan kuat dan membawa keluar. Riri hendak menghindar tapi tidak bisa kerena tenaganya lebih besar tenaga Ryan.
"Kamu nggak tahu ya, kalau wanita itu..!" teriak Riri sambil menunjukkan tanganya ke arah Ranty.
Riri menyangka kalau adiknya tidak tahu masalah gambar yang di ponsel ayahnya. Masalahnya ia sendiri tidak mengirimkan gambar Ranty ke Hp adiknya, mungkin kalau tahu Anindya bakal marah sama sepertinya.
Memang Anindya mengakui kalau ia tidak pernah dikirim gambar Ranty dan laki laki yang bersama Ranty itu. Tapi ia sebenarnya tidak sengaja melihat gambar itu dari hp mamanya, kemarin ketika ia akan berangkat sekolah.
Tapi Anindya dengan cepat menarik tangan Riri. Ia menduga kalau Riri bakal menceritakan apa yang terjadi pada gambar yang terdapat Ranty.
Ryan pun menolong Zahra yang kesakitan kerena tubuhnya dipukul beberapa kali, Ranty mengucapakan terimakasih pada Ryan yang lanhsung cepat menolongnya.
"Bu Ranty nggak apa apa, kan?" tanya Ryan melihat Ranty yang memengang perut dan pinggang.
"Nggak apa apa kok," ucapnya sambil tersenyum.
Ryan dan anak anak yang lain meninggalkan Ranty yang kini sedang duduk bersama Zahra di perpustakaan. Zahra langsung gabung dengan teman teman yang lain sedangkan tanpa sepengetahuan Ranty, Anindya menghampirinya.
__ADS_1
"Ibu nggak apa apa?" tanya Anindya melihat Ranty.
"Nggak apa apa kok, ibu pulang ya." kata Ranty sambil beranjak dari duduknya.
"Bu, besok ibu sekolah?" tanya Anindya.
" Insha Allah ya,"
Ranty langsung pulang dengan perasaan yang tidak bisa.dilukiskan sama sekali. Ia memikirkan Anindya, kata kata Anindya menanyakan tentang besok sekolah tidaknya. Ranty membawa motor dengan kecepatan sedang, kerena perutnya sakit sekali jadi kalau ngebut ia takut ada apa apa dengan dirinya.
"Bu, kenapa? teriak mbok Inem saat melihat Ranty berjalan sempoyongan setelah memarkirkan motor di halaman rumahnya.
Mbok Inem yang berada diluar yang sedang membersihkan rumput langsung menghampiri Ranty, wanita tua itu memapah Ranty untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Ibu, ada apa?" tanya mbok Inem menatap majikannya dengan ribuan pertanyaan.
"Perut saya sakit banget, mbok," keluh Ranty meringis kesakitan.
Tangannya mengelus perutnya. Mbok Inem langsung menumpuk bantal supaya Ranty bisa menyandarkan tubuhnya ke bantal yang telah ditumpuk.
Topi Ranty hanya ingin berbaring saja, akhirnya tumpukan bantal itu dibongkar lagi sama wanita tua. Mbok Inem terlihat cemas melihat majikannya yang seperti itu, tanpa di perintahkan lagi oleh Ranty. Mbok Inem memijit kaki Ranty dengan lembut.
"Mbok, tolong pijit pinggang saya, ya pelan pelan saja." lirih Ranty sambil menahan sakit.
Mbok Inem langsung memijit punggung Ranty dengan pelan tapi lembut, sedangkan tangan Ranty mengusap perut yang terasa kram sekali.
"Bu, bagaimana kalau bapak di telpon buat tahu keadaan ini." ucap mbok Inem mengingatkan majikannya.
"Atau ibu saya antar ke puskesmas untuk periksa. Taku ada apa apa," lanjut wanita tua itu khawatir.
Ranty mengelengkan kepalanya, mendengar usulan mbok Inem. Ia sebenarnya tahu kalau Bayi di rumah Wulan, Ranty tidak mau mengunggu acara Bayu dengan keluarganya. Apalagi kalau berurusan Riri kembali.
Mbok Inem hanya diam saja melihat gelengan kepala majikannya. Ia benar benar khawatir kalau majikan nya sakit tidak ada suami yang menemaninya. Bukan ia tidak mau mengurus Ranty, tapi lebih baik kalau Ranty sakit yang mengurus adalah suamianya. Bukan dirinya.*
__ADS_1