
Dinruang perpustakaan Ranty hanya termenung. Kata-kata Zoya telah membuktikan kalau ia salah, tapi keberanian untuk mengatakan pada Bayu menyurut seketika.
Ia bukan membela kesalahan adiknya bukan. Ranty hanya takut kalau Bayu tahu pasti bakal ada perang tiga Anatar ditinyandan Bayu, pasti Bayu menyangka kalau dirinyaembela adiknya. Sebenernya bukan membela adiknya ia hanya tidak ingin ada keributan saja. Kalau bisa sih diselesaikan dengan baik baik.
Ranty hanya mwngehlannafas panjang, apa yang harus lakukan sekarang. Tiba tiba ia mengusap bagian perut yang terasa kram, sejak tadi subuh ia merasaka kan kram.
'Seharusnya aku jangan stres, bakal terpengaruh pada kehamilanku,' bisik hati Ranty.
'Apalagi masalah Zoya ya Allah kenapa harus aku yang mengalami ini semua,' Ranty mengeluh.
Sekarang Riri hamil, sedangkan ia juga tidak tahu dimana laki laki yang menghamilinya, itu benar benar membuat Rabty stres tidak stres bagaimana mengingat kelakuan Zoya pada Riri. Apalagi Zoya sendiri yang mengaku kalau dirinya lah pelaku yang sebenarnya.
Ia harus mendatangi Zoya ke kostannya, atau ke rumahnya. Ranty harus pergi menemui Zoya dan berikan nasehat buat Zoya adinya. Kemarahan Zoya pada Riri tidak beralasan menurut dirinya.
Ranty hanya menghela nafas kasar, ia semakin rapuh saat ini. Tapi ia nyakin suatu saat nanti ia bakal meraih sebuah keindahan dengan berkumpulnya keluarga diri dengan keluarga Bayu.
"Hai kenapa serius banget sih melamunnya." Tegur Bayu menghampiri Ranty yang duduk memandang lurus.
"Nggak apa apa kok, mas. Mas, bagaimana dengan Riri?" Tanya Ranty ingin tahu.
Sebenarnya ia ingin menanyakan pada Anindya tapi gadis itu sampai sekarang belum kelihatan batang hidungnya. Ingin mencarinya tapi diurungkan mencari Anindya apalagi ia berpikir kalau Anindya dengan tengah temannya makan di kantin ia tidak mau menganggu nya.
"Riri sampai sekarang masih di kamarnya, sudah di ketuk tapi nggak mau keluar saja," adu Bayu menghela kasar.
"Sudah berikan ia waktu untuk berpikir. Jangan menganggu dirinya, nanti juga ia keluar kok kalau perutnya lapar." Ranty berkomentar.
"Bagaimana dengan mbak Wulan?" Tanya Ranty.
Ranty sebenarnya agakmmenyesal tidak bisa menemani Wulan yangbthdak sadarkan diri, ia pulang juga ingin istrahat pungungnya sakit. Kalau kemarin Bayu tahu mungkin Bayu tidak bakal membiatkan ia pulang sendirian dan pagi ini juga tidak mungkin Bayu mengizinkan dirinya menunggu perpustakaan.
"Kamu kayanya kurang sehat, kskaundskit pulang saja," kata Bayu sambil meraih kerudung Ranty..
Tapi Ranty hanya diam saja, ia hanya menghindar saat tangan Bayu memengang tangannya. Ranty melakukan itu sengaja membuat Bayu merasa kesal.
__ADS_1
"Kenapa?" Cecer Bayu saat Ranty menghindar.
"Nggak apa apa kok. Mas, kenal sih perpustakaan kita hanya mengunakan sistem katalog manual'kan lebih ba8 mengunakan aplikasi SLiMS perpustakaan, biar mempermudah pustakawan?" Tanya Ranty mengalihkan pembicaraan nya.
Tangan Bayu dipengang oleh Ranty, kerena tangan Bayu memegang pinggang dirinya. Ya begini kalau Bayu dan dirinya kalau berdua kadang tangan Bayu nggak mau diam menyentuh DNA menyentuh tubuhnya.
Kadang rabty kesal sekali pada kelakuan Bayu tapi Bayu hanya tersenyum melihat Ranty terlihat kesal. Tapi dalam hati rabty ia juga merasa senang kalau Bayu menyentuh tubuhnya hanya ia pura pura kesal saja.
"Gimana ya, kalau mengunakan aplikasi SLiMS perpustakaan harus jaringan stabil dan nggak mati lampu, aku setuju sih kerena bagaimana pun itu demi kebaikan semuanya," Bayu mengangguk anggukan kepalanya.
Tangan Bayu menyentuh bahu Ranty lembut sekali, wanita itu beberapa kali menyingkirkan tangan Bayu dari tubuhnya.
"Ayah ngapain pengang pengang ibu Ranty?" Tegur Anindya yang masuk perpustakaan tanpa permisi lagi.
Ditatap wajah Bayu dan Ranty, dengan tatapan tajam menghujam hati keduanya. Bayu yang memengang tubuh Ranty langsung menarik tangannya, sedangkan Ranty hanya menghela nafas panjang.
Sebenarnya Ranty beberapa kali menepiskan tanga Bayu darintunuhnya kerena ia takut ketahuan oleh Anindya tapi Bayu kekeh ingin menyentuh Ranty.
"Kamu harus bisa membedakan di sekolah dengan di rumah, jangan seperti kemarin kemarin." Kata-kata Zahra selalu terhiang hiang di telinganya.
"Aku nyakin kalau ibu Ranty juga dekat kerena kamu muridnya bukan kerena kamu anak sambungnya."lanjut Zahra pada Anindya.
"Jangan mudah emosi kalau kamu misal melihat ibu Ranty dan ayahmu berduaan mungkin mereka membicarakan kerjaan, apalagi ibu Ranty bawahan ayahmu."
Kata kata Zahra yang selalu Anindya dengar setiap kali mereka bertemu di sekolah.
"Sebenarnya ayahmu mau melakukan ibu Ranty lebih dari apapun juga nggak masalah mereka halal kok," cetus Zahra mengingatkan Anindya tentang pernikahan.
"Maafkan ibu ya Nin, ayahmu tadi hanya jail saja," Ranty mendekati Anindya.
Anindya hanya diam saja, apa yang dikatakan Zahra benar benar membuat hatinya luluh.
"Ayahmu nggak mungkin melampaui batas, kalau tidak ada hubungan pernikahan dengan ibu Ranty." Suar masih mengema di telinganya.
__ADS_1
"Nggak apa apa kok! Kalian kan udah nikah!" Tekan Anindya agak ketus.
Ranty hanya menghela nafas kasar mendengarkan apa yang diucapkan oleh Anindya, biarpun Anindya mengucapakan itu di bibirnya. Ranty tahu dalam hati Anindya ada rasa tersisih kan kerena kedkatan ditinyandwngan Bayu.
Jadi waktu kepergok oleh Anindya, Ranty lanhsung bangkit dan meninggalkan Bayu supaya tidak membuat Anindya merasa tersisihkan oleh dirinya.
"Oya, kamu udah baca buku Biar Ia Hidup?" Tanya Ranty.
Ia berusaha untuk mengalihkan percakapan, kerena kalau misal masih membahas tadi kemungkin membuat Anindya agak kecewa pada dirinya. Jadi, ia sengaja untuk mengalihkan pembicaraan supaya Anindya tidak fokus pada apa yang tadi ia lihat.
"Ibu udah baca, kamu boleh kok pinjam buku itu," ujar Ranty menatap wajah Anindya.
Ranty tahu kalau sebenarnya Anindya suka baca, buku buku di perpustakaan hampir semua dilahap oleh Anindya tanpa kecuali.
"Memangnya ceritanya apa?" Tanya Anindya terpancing.
"Seorang wanita yang masih mencintai pacarnya, harus dipisahkan oleh perbedaan. Ibu dari pacarnya nggak setuju dengan wanita pilihan anaknya," Ranty mulai cerita.
"Gender nya apa?" Tanya Anindya.
Keduanya akhirnya duduk lesehan di lantai perpustakaan kerena setiap pagi ruangan itu selalu di bersihkan oleh Ranty dan selalu di pel juga.
Bayu yang melihat Ranty yang membuat Anindya melupakan pertanyaan tadi hanya tersenyum tipis saja, ia tidak menyangka kalau Ranty bisa mengalihkan pembicaraannya.
Bayu tanpa menunggu waktu langsung pergi begitu saja, saat matanya melihat Ranty dsn anindya duduk berdua saja, dengan cerita Ranty tentang seorang wanita yangasih mencintai pacarnya sedangkan pacarnya sudah menikah selama lima tahun.
Tapi kedua masih menyanyangi satu sama lainnya. Perpisahan selama lima tahun tidak membuat mereka melupakan cinta mereka, akhirnya keduanya melakukan hubungan suka sama suka dan membuat wanita itu hamil.
"Endingnya?" Tanya Anindya.
"Baca aja, nanti ibu tunggu di rumah ya?" Kata Ranty menatap wajah Anindya.
Anindya hanya mengangguk setuju.*
__ADS_1