MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Mencari tahu


__ADS_3

Ranty masih menatap Anindya yang berdiri saja. Gadis Itu hanya diam saja mendengar apa yang ayahnya bicarakan. Terlihat ada tarikan nafas panjang yang terlihat dari gadis 15 tahun itu.


Tanpa permisi lagi Anindya malah meninggalkan keduanya menuju luar, awalnya Ranty akan mengejar tapi Bayu memengang tangan Rabty untuk menghalangi istrinya mengejar Anindya..


"Udah kamu diam saja, mandi sana. Apalagi magrib bentar lagi tiba, aku pulang sambil nyusul Anindya." Kata Bayu sambil beranjak dari tempat duduk nya. 


Ranty hanya mengangguk saja. Ia melihat kepergian suaminya untuk ke rumah Wulan istri pertamanya. 


Tidak lama kemudian kumandang adzan magrib terdengar dengan indahnya masuk kelerung hati. Ranty yang mendengar adzan magrib langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari keringat yang telah mengering. 


Kalau saja ia tidak bicara dengan Bayu mungkin ia sudah mandi, tapi kerena mereka bicara dulu maka ia mandi terlambat. Bukan menyesali kerena telah bicara tentang Zoya sampai Anindya tahu bukan itu, sebenarnya ia juga bakal cerita tapi setelah magrib kenyataannya ia sudah menyelesaikan ceritanya pada Bayu. 


Setelah mandi dan sholat ia langsung membaca Alqur'an 1 juz, dalam Al Qur'an. 


"Assalamualaikum!" 


Mbok Inem mengucapkan salam dan mengetuk pintu kamar Ranty. Ranty yang ada di dalam kamar langsung menghentikan membaca Alquran nya kerena telinga mendengar salam yang diucapkan oleh ARTnya. 


"Waalaikumsalam," Ranty langsung menjawab salam mbok inem..


Ia bergegas menghampiri pintu, dan membukanya..


"Ada apa mbok?" Tanya Ranty..


"Ada Anindya." Ujar mbok Inem.


Ranty hanya mengangguk saja, ia langsung membuka mukena dan memakai kerudung kembali. Dalam hati ia bertanya tanya kedatangan Anindya, dan anehnya Anindya tidak langsung ke kamarnya. Tapi Ranty tidak mau berpikir kemana mana, ia langsung menuju ruangan tamu. 


Terlihat Anindya duduk dengan manisnya. Di hadapan gadis ABG itu telah tersedia teh manis dan kripik pisang yang di toples plastik. 


"Nindy, ada apa?" Tanya Ranty sambil duduk dihadapan Anindya..

__ADS_1


Mereka duduk saling berhadapan satu sama lainnya, hanya meja yang jadi pembatas mereka saja. 


Anindya bukannya langsung menjawab tapi ia hanya diam saja menatap Ranty. Ranty mengkerutkan wajahnya melihat Anindya hanya menatap wajahnya saja tanpa bicara apapun juga. 


"Nin, bicara lah?" Pinta Rabty. 


"Bu, kenapa harus adik ibu melakukan ini pada kakak?" Tanya Anindya lirih..


Ya sejak ia mendengarkan sambungan telpon antara ibu gurunya dengan Zoya, Anindya langsung pulang setelah mendengar apa yang ia dengarkan dari ibu gurunya tentang Zoya adik sendiri yang telah melakukan kejahatan pada Riri. 


Di perjalanan menuju pulang hatinya masih bertanya tanya kelakuan Zoya pada keluarganya, sampai ke rumah ia langsung masuk kamar dan tidak membuka pintu saat ada orang yang mengetuk pintu. 


Ia tahu itu adalah ayahnya setelah mendengar suara ayah memanggil namanya, tapi tidak dibukanya. Untung hari itu ia tidak sholat jadi sholat magrib ia tidak melaksanakan sholat magrib..


Setelah adzan telah berlalu, ayahnya mengetuk pintu dan akhirnya ia  membuka kamarnya, kerena ayahnya meminta dirinya bicara pada Ranty. Tapi sebelum ke rumah Ranty tadi Anindya dan Bayu bicara tanpa diketahui oleh Riri dan Wulan. 


Bayu mengizinkan Anindya buat menemui Ranty bakdza magrib ini,  dan menanyakan hal tadi. Kerena pada saat ia membuka pintu kamar Anindya langsung menanyakan pada Bayu apa sebab Zoya seperti itu pada keluarganya.


Setelah diizinkan oleh Bayu, Anindya langsung meluncur ke rumah Ranty, tapi ayahnya juga mengantarkan dengan tatapan matanya. 


"Ayah akan menyusul kamu," lirihnya. 


Anindya hanya mengangguk saja mendengar kata kata lirih Bayu. Dengan kecepatan sedang ia melajukan motor meticknya ke rumah Ranty. Sebenarnya tadi ia juga ragu untuk masuk ke dalam rumah Ranty, kalau saja tadi tidak ada mbok inem mungkin ia hanya berdiam diri di luar. 


Mbok Inem yang melihat Anindya duduk di teras langsung menyongsong anak majikannya itu, dengan ramah mbok Inem membawa Anindya masuk, gadis itu hanya diam saja ketika mbok Inem menyuruh duduk dan menyediakan minuman dan kripik pisang.


Mendengar suara Anindya yang pelan, Ranty menghela nafas panjang. Hatinya sebenarnya sudah menduga kalau kedatangan Anindya ada sangkut pautnya dengan kejadian tadi. 


Sebenarnya ia melakukan loud speaker supaya suaminya mendengarkan apa yang Zoya bicarakan padanya supaya Bayu percaya. Dan Ranty juga ingin menceritakan semuanya, tapi saat itu ia tidak menyadari kalau Anindya datang dan mendengarkan apa yang ia dan Zoya bicarakan. Kalau mau ada Anindya mungkin ia juga tidak bakal bicara dan lebih baik mematikan sambungannya. Tapi ia menyadari kalau Anindya juga harus tahu masalah yang terjadi. 


"Adik ibu nggak pernah setuju pada pernikahan ibu, Nindy. Ibu juga tidak tahu kenapa mereka nggak setuju," kata Ranty menjelaskan. 

__ADS_1


"Bukan hanya adik ibu saja yang tidak setuju, ayah ibu malah lebih nggak setuju lagi, tapi untung nya ibunya ibu setuju. Mungkin kerena ibunya ibu nggak tega pada ibu," lanjut Ranty. 


Ranty berhenti dulu bicara, melihat reaksi Anindya yang mendengarkan cerita yang Ranty ungkapkan. 


Tapi melihat Anindya diam saja Ranty hanya menatap gadis yang ada dihadapannya. 


"Tapi ibu berusaha untuk membuktikan kalau ayahmu itu orang baik, tapi mereka tetap tidak merestui pernikahan ibu. Termasuk Zoya adik ibu." Cerita Rabty lanjut. 


"Tapi kenapa kak Zoya jahat membuat kak Riri, "ujar Anindya tidak melanjutkan perkataannya. 


Ranty paham apa yang Anindya bakal bicarakan, tapi ia nyakin kalau Anindya ragu untuk meneruskan apa yang dikatakannya. 


"Intinya Zoya nggak suka sama kakakmu. Kakakmu sebenarnya tidak jahat, ia hanya terpengaruh oleh Zoya," Ranty menjelaskan pada Anindya. 


"Kenapa nggak suka?" Kejar Anindya menatap wajah Ranty. 


"Riri merebut pacarnya Zoya itu pengakuan dari Zoya sendiri." 


"Segitunya?" Tanya Anindya heran. 


Gadis 15 tahun itu sangat terkejut mendengar kalau masalah yang dihadapi oleh kakaknya hanya lah masalah sepelekan sampai membuat orang tidak berkutik. 


"Kau tahu kejadian di perpustakaan kemari, Zahra dan ibu." Kata Ranty membalas tatapan mata Anindya. 


Anidnya hanya menggelengkan kepala, kerena ia sebenarnya juga tidak tahu masalahnya. Ia hanya tahu Riri datang dan malah menyiksa Zahra dan Rabty secara tiba tiba tanpa angin maupun hujan. 


"Riri lakukan itu kerena hasutan Zoya, Nindy. Kebencian Riri  pada  ibu di jadikan jalan pintas Zoya untuk melampiaskan kebenciannya pada ibu," Ranty merasa getir seketika juga mengingat semuanya. 


Tapi ia harus kuat kerena ia harus menceritakan semuanya pada Anindya supaya gadis itu tahu kenapa Riri tidak bisa menerima dirinya. 


Ia bukan mencari simpatik pada Anindya sebagi anak sambungnya atau Riri bukan. Kerena ia menceritakan ini semua kerena Zoya sendiri yang cerita pada dirinya.*

__ADS_1


__ADS_2