
"Zoya! Kamu harusnya punya sopan santun sama kakak mu itu!" teriak Aisyah merasa geram pada tingkah laku Zoya.
Aisyah mengejar Zoya sampai teras kosan. Gadis itu menatap Zoya yang akan kuliah hari itu, Zoya terlihat risi sekali diperhatikan oleh Aisyah.
Tadi waktu mau berangkat Aisyah memberikan nasehat untuk Zoya supaya minta maaf pada Ranty, tapi Zoya merasa tidak suka mendengar yang Aisyah katakan.
Zoya yang sudah sarapan langsung pergi begitu saja, sebenarnya hari itu ia ada jam kuliah jadi ia harus datang mengikuti kuliah. Tapi Aisyah malah mengejar dirinya sampai ke depan kosan segala.
"Apaan sih, ikut campur saja urusan orang!" hardik Zoya tidak suka.
"Aku bakal bilang sama kakak kamu kalau kamu sebenarnya nggak suka sama Riri," ancam Aisyah.
Aisyah langsung memengang tangan Zoya, tapi Zoya berusaha untuk menepiskan tangan Aisyah, tapi ngenggaman tangan Aisyah lebih kuat dibandingkan Zoya.
"Bilang saja kamu kalau kamu ingin bilang," tantang Zoya.
Sebenarnya Zoya sudah mual sekali pada tingkah laku Aisyah yang selalu ikut campur urusan dirinya dengan Riri, dan sekarang malah melarang larang dirinya.
"Zoya, apa kamu nggak kasihan pada kakak kamu," kejar Aisyah.
"Kasihan? Dia lebih kasihan sama anak sambungnya dibandingkan adiknya!" sembur Zoya menarik tangannya tapi nihil tidak berhasil.
"Zoya, seharusnya kamu," Aisyah berteriak keras.
"Seharusnya apa Ai, kamu menganggap aku salah, kakak tuh yang salah yang selalu belain anaknya saja!" ketus Zoya tidak suka.
"Kamu tahu nggak Riri juga nggak suka sama kakak kamu," Aisyah mengungkap apa yang pernah dilihat.
"Tuh kan anak itu sudah dibela tapi nggak pernah belain," damprat Zoya kesal.
Ya seingat Zoya, kakak lebih bela keluarga dari suami dibandingkan dengan membela keluarga sendiri itu yang tidak suka dari Ranty.
"Sekarang mau kamu apa?" tanya Aisyah.
"Riri nggak pernah menganggap kamu ada Zoya, kemarin kakakmu kesini, tapi sebelum kamu datang ia melihat Riri." akhirnya Aisyah cerita.
__ADS_1
"Mereka bertengkar, kakak kamu sabar banget menghadapi Riri." lanjut Aisyah.
Aisyah sebenarnya tahu kalau Zoya baik tapi keadaannya lah yang membuat ia tidak baik, ia tahu rencana Zoya pada Riri.
Ia berusaha untuk melindungi kedua nya supaya kedua sadar kaku mereka menempuh jalan yang salah, tapi keduanya kekeh pada pendirian sendiri sendiri. Hanya bedanya kalau Zoya tahu Riri, sedangkan Riri masih polos bisa diperalat oleh Zoya.
Zoya sebenarnya melakukan perbuatan melalui tangan Riri sendiri, masalah dari ibu sambung, serta percintaan Anatar Ranty dan Bayu.
Zoya menatap wajah Aisyah, kedua gadis saling tatap satu sama lainnya.
"Sayangi kak Ranty mu, Zoya. Kak Ranty adalah saudara yang dekat denganmu," suara Aisyah lembut.
"Ai, buat apa? Kamu tahu nggak dia kenapa harus menikah dsn menjadi ibu dari gadis yang membuat pacar aku meninggal?" Raung Zoya.
"Zoya kamu sadar apa yang kau ucapkan? Ingat Zoya, jodoh, mati, hidup, senang, sedih, itu milik Allah. Kita hanyalah perencana dan Allah menentukan." Aisyah lembut.
"Ai, kalau mau ceramah itu di mesjid bukan di kosan. Kamu sok baik," sinis Zoya pada Aisyah.
Ia merasa Aisyah sok baik kerena tidak pernah merasakan apa yang dirasakan oleh dirinya.
"Zoya, kamu belum tahu aku, kenapa aku melakukan ini sama kamu, kerena aku pernah berada diposisi kamu maupun posisi Riri." kata Aisyah lembut..
"Aku hanya nggak ingin nasib kita itu sama, sama sama menyesal telah melakukan yang tidak baik pada kakak atau ibu," tatap Aisyah tajam..
"Ah jangan sok di dramatis kan Ai, jangan satukan dunia imajinasi dan dunia nyata!" sembur Zoya jegah oleh kata kata Aisyah.
"Terserah apa yang kau omongkan, aku hanya ingin mengingatkan saja," ujar Aisyah pelan.
Zoya langsung diam seketika juga, mendengar apa yang keluar dari Aisyah. Zoya menarik nafas dalam dalam lalu dihembuskan kembali.
Kalau saja waktu bisa diputar mungkin Zoya tidak akan melepaskan Faisal untuk pergi dan tergoda oleh Riri, ya Riri menggoda Faisal dan mereka malah berhubungan. Sebenarnya Zoya tidak mau putus dengan Faisal tapi Riri menelpon Faisal untuk memilih salah satu dari keduanya.
Faisal memilih Riri.
"Zoya, apa kamu kenal dengan wanita yang jadi pacarnya Faisal? apa kamu pernah melihatnya?" tanya Aisyah.
__ADS_1
Setelah mereka saling diam. Aisyah langsung membuka percakapan supaya Zoya mengatakan kejujuran pada dirinya, ya ia pernah mendengar tapi itu masih belum keseluruhannya.
Aisyah tahu kalau Zoya adalah pindahan dari kampus Jakarta, sedangkan kaku Riri memang dari awal kuliah di Banten. Jadi Aisyah sedikit tahu tentang Riri yang sebenarnya, ia pernah mendengar sih Riri pacaran dengan lak laki tapi Aisyah tidak tahu nama laki laki itu.
Tapi Riri hanya menganggap laki kaki temannya saja, itu yang Aisyah dengar. Memang ia mendengar kalau laki laki itu sayang sama Riri, dan mencintainya.
"Nggak sih, tapi aku melihat di gambar di jadikan wallpaper di hpnya Faisal, setelah kecelakaan itu, aku akhirnya mencari tahu tentang hadis yang ada di wallpaper hp Faisal," Zoya menjelaskan..
"Jadi kamu menuduh Riri sebagai perebut Faisal, kamu tahu nggak kalau Faisal itu suka kamu?" tanya Aisyah.
Zoya mengangguk atas apa yang Aisyah katakan, ia melihat anggukan kepala Zoya hanya menghela nafas panjang.
"Kamu sudah selidiki semuanya tentang Riri, aku nyakin Riri bukan gadis seperti itu," ungkap Aisyah menatap wajah Zoya.
"Iya aku selidiki, sampai ke keluarganya segala. Dan yang membuat aku sakit hati ayah tiri adalah suami kakak aku, dan yang lebih parahnya lagi kak Ranty jadi istri kedua nya," ketus Zoya.
Diraut muka Zoya masih terdapat kabut yang menyelimuti hatinya.
Ya ia belum sepenuhnya ikhlas harus kehilangan Faisal yang ia sayangi setulus jiwanya.
"Aku nggak apa apa kok, kalau memang Faisal suka sama Riri, tapi jangan menolak saat Faisal menyatakan cintanya pada nya," kata Zoya kemudian.
Pikiran gadis itu menerawang entah kemana.
"Seharusnya Riri menyanyangi Faisal, Ai bukan meninggalkan Faisal," pertahanan Zoya luluh juga.
"Zoya, selidiki lebih teliti lagi," ujar Aisyah..
"Jangan sampai kamu menyesal melakukan apa yang salah," lanjut Aisyah meninggalkan Zoya.
Aisyah langsung pergi begitu saja setelah bicara apa adanya. Zoya hanya mematung melihat kepergian Aisyah seperti itu, tiba tiba kata kata Aisyah seperti menyentuh kalbu yang terdalam. Tapi ada perasaan lain yang menepiskan nya, ia bisa mengeja nafas panjang.
Awalnya ia akan pergi, malah tidak pergi. Ia akhirnya masuk kamar kosan kembali dan duduk di dipan tempat tidurnya.
'Selidiki lebih teliti,' kata kata Aisyah menggedor hati nya masih terhiang di telingganya.
__ADS_1
'Apa yang Aisyah katakan benar, seharusnya aku nggak buru buru sih! Tapi bagaimana kalau memang itu benar?" tepis Zoya.*