
PLAK!
Sebuah tamparan langsung telak diwajah Anindya. Gadis 15 tahun itu terpekik menahan sakit yang luar biasa di pipinya. Ia langsung membalikkan tubuhnya melihat siap orang yang telah berani memukul pipinya dengan keras sekali.
"Kakak!" jerit Anidnya.
Matanya terbelalak ketika tahu apa yang dilakukan kakaknya pada diri Anindya..
"Jangan berani berani kamu menyakiti ini Ranty kamu berhadapan denganku!" teriak Riri gusar.
"Kak! Kenapa kakak seperti ini? Apa jangan jangan kakak yang dihasut wanita itu!" Anindya kaget mendengar apa yang dilontarkan oleh Riri padanya.
BUG
Sebuah bogem langsung mengenai wajah Anindya tanpa ampun lagi, Anindya menjerit histeris mendapatkan bogem mentah yang datang dari kakaknya. Ia terpekik kesakitan saat pipinya terasa terbakar oleh pukulan yang menghantam.
Anindya menatap garang. Ingin rasanya ia menghajar kakaknya tapi ia ingat kalau kakaknya lagi hamil dan Anindya tidak ingin janin yang di kandungan kakaknya kenapa kenapa kalau ia misal mendorong atau menyakiti kakaknya.
Tanpa menunggu waktu lagi Anindya langsung pergi meninggalkan Riri, hampir saja Riri memengang tangan Anindya tapi ia hanya menatap kepergian adiknya.
Ia langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi, ada helaan nafas panjang di mulut gadis itu! Ia tadi melakukan kekerasan pada Anindya kerena ia di tegur oleh Bayi tentang sebuah perjanjian antara dirinya dengan Ranty.
Riri yang masih ingat perjanjian itu hanya bisa menghela nafa panjang. Bayu mengingatkan semuanya tentang isi perjanjian yang telah ia tulis, ada perih di hatinya lalu saja sejak dulu ia mengingat semuanya mungkin kejadian ini tudks pernah bakal ada.
Ya Riri menyadari sekarang. Bukan Ranty yang salah tapi ia yang salah kerena telah membujuk Ranty menikah dengan ayahnya. Ia tahu kalau Ranty sebenarnya menolak menikah dengan Bayu.
Riri sadar saat ayah datang ke kamarnya, ya kerena ia menghadapi liburan semester. Saat ia sedang asyik di kamar membaca novel yang ia beli di tempat toko buku, tiba tiba ayahnya mengetuk pintu.
"Ayah," gumam Riri saat ayahnya Bayu membuka pintu dan menghampiri dirinya.
__ADS_1
"RI, ayah mau bicara sama kamu."
"Ada apa?"
Bayu tanpa basa basi lagi menceritakan apa yang terjadi pada Riri, tentang Anindya yang menyuruh Bayu dan Ranty berpisah dengan alsan bayi yang ada di kandungan Ranty bukan anak Bayu, Anindya menuduh Ranty selingkuh tapi kenyataannya Ranty tidak selingkuh sama sekali..
"Kalau memang kamu nggak selingkuh lebih baik ceritakan ayahku!" ujar Bayu mengulang kata kata Anindya.
Kata kata Anindya yang diucapkan pada Ranty ketika Anindya menyuruh Ranty dan Bayu pisah. Riri yang mendengarkan itu hanya diam saja, matanya menatap kearah ayahnya yang hanya terus menceritakan semuanya. Dan Bayu pun tidak lupa ia menceritakan kalau Anindya melakukan itu kerena Zoya!
Riri yang mendengar nama Zoya hanya menghela nafas panjang. Bayu juga menceritakan perjanjian nya yang pernah disepakati oleh Riri dan ditandatangani oleh nya.
Riri langsung terpaku mendengarkan isi perjanjian yang dibacakan oleh ayahnya.
"Kamu ingatkan perjanjian itu? Perjanjian kalau terjadi perceraian antara Ranty dan ayah, kamu ikhlas di penjarakan," ingat Bayu lada Riri.
"Ayah ingin kamu berlaku adil, ingat anak dalam kandungannya yang butuh seorang ibu," lanjut Bayu sambil meninggalkan Riri di kamarnya.
Setelah Bayu pergi, dsn membawa perjanjian antara dirinya dan Ranty, ia hanya bisa mengepalkan tangannya. Kalau ingat ingat perjanjian itu! Ia merasa geram. Bukan geram pada Ranty, kerena ia sendiri yang membuat perjanjian itu. Riri hhayangeram.lads Anindya dsn dirinya yang selalu menyalahkan Ranty dari awal awal pernikahan mereka. Tiba tiba ia ingat Anindya tanpa menunggu waktu lagi ia beranjak dari tempat tidur mencari Anindya
Pas melihat Anindya berada di ruangan tamu, tanpa menunggu waktu ia menampar beberapa kali muka Anindya bukan itu saja Riri juga memukul wajah Anindya dengan kerasnya sampai wajah gadis itu memar kerena lecet.
Riri yang masih duduk di kursi hanya menghela nafas panjang, ia benar benar ingin sekali menghajar habis adiknya yabgbtelah berani lancang lada dirinya. Tiba tiba banyangan masa lalu itu datang kembali menghiasi wajahnya.
"Kalau sampai kamu dan keluargamu melakukan tindakan kekerasan lada saya, saya tidak segan segan bakal menjebloskan kamu ke penjara!" suara Ranty terhiang hiang di telinganya.
"RI, maaf bukan saya suka sama bapak kamu, tapi kerena ini hanyalah paksaan semata. Aku tidak pernah mencintai bapak kamu, maaf kan saya kalau misal saya bukan wanita yang baik untuk dijadikan ibu maupun istri," lanjut Ranty.
"Aku nyakin kalau kakak bakal menjadi wanita yang baik, bisa mengayomi," kata Riri tersenyum..
__ADS_1
Riri gembira saat menanda tangani perjanjian antara dirinya dan Ranty. Ia merasa nyakin kalau wanita yang ada dihadapannya adalah wanita idaman semua para lelaki baik dan Sholeh. Tapi lama lama Riri lupa apa yang pernah ia janjikan pada Riri tentang sebuah kenyamanan yang akan ia berikan pada Ranty.
Beberapa kali Riri menghela nafas panjang ada kesal mengingat semuanya pada Ranty. Tanpa menunggu lama lagi dan tidak izin pada mama dan ayahnya, Riri langsung keluar menuju ke rumah Ranty. Ia hanya ingin bicara beberapa mata saja tentang tindakan yang dilakukan oleh Anindya.
"Riri," Ranty heran melihat Riri datang ke rumahnya.
Hatinya tiba tiba berdebar sangat kencang, apalagi masalah Anindya belum selesai. Sekarang Riri datang kembali ke rumah itu, ia sudah memastikan kalau Riri juga bakal mendukung apanyang dilakukan oleh Anindya adiknya.
"Mama!" teriak Riri tulus.
Tiba tiba Riri memeluk tubuh Ranty dengan erat nya, dsn menyebut nama mama pada wanita itu.
Ranty melonggo beberapa detik kemudian merangkul tubuh Riri dengan eratnya. Riri menangis di pelukan Ranty, wanita itu hanya diam saja, ia hanya berpikir tentang Riri yang tingkah lakunya semakin mengherankan dirinya.
"RI, ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Ranty bertanya bertubi tubi pada Riri..
"Ma, maaf kan Riri ya ma, Riri selama ini Riri jahat sama mama." tangis Riri masih dalam pelukan Ranty.
"RI, lihat aku," ujar Ranty melepaskan pelukan Riri dari tubuhnya. Riri melepaskan pelukannya menatap wajah Ranty dengan tajamnya.
"Apa aku nggak salah mendengar apa yang kamu ucapakan?" kata Ranty menatap wajah Riri.
Riri menggelengkan kepala mendengarkan ucapan Ranty.
"Seharusnya dari dulu aku menyebut mama, bukan membenci mama, aku tahu Anindya sekarang berubah kerena Zoya."
"Kamu serius?"
Riri mengangguk tulis menatap wajah wanita yang pernah ia tabrak dulu sampai anak dan suamianya meninggal akibat dirinya. Wajar kalau misal Ranty menghukum dirinya, tapi ia sendiri tidak mau kerena ingin kuliah dan apalagi sekarang ia ingin sekali mengurus anak dirinya ya biarpun dari hasil perkosaan.*
__ADS_1