
Anindya hanya menatap kosong kearah depan. Perasannya campur aduk mengingat kejadian antara dirinya dengan kakaknya. Satu keanehan yang terlihat olehnya kalau kakaknya sekarang lebih memihak pada gurunya ibu Ranty. Sebenarnya banyak pertanyaan yang ia ingin kontrakan tapi ia ragu untuk bicara pada Riri.
Apalagi ia dan Riri sekarang tidak baik baik saja, Anindya menarik nafas secara kasar kerena mengingat kejadian yang tidak bakal dilupakan oleh dirinya. Ia benar benar terpukul oleh kata kata kakaknya sekarang, kenapa tidak. Kakaknya lebih memilih Ranty dibandingkan dirinya, sakit hati mendengar kata kata kakaknya seperti itu, ya tidak sakit bagaimana seharusnya Riri memihak pada dirinya kenyataannya tidak sama sekali.
Dan yang lebih meyakinkan lagi kakaknya lebih baik kehilangan dirinya dibandingkan Ranty. Anindya otomatis mendengar semuanya kata kata dari Riri yang melukai hatinya. Dan waktu ia curhat pada mamanya sang mama hanya diam saja membisu..
Bukannya cerita pada dirinya, malah Wulan diam mendengarkan semua yang keluar dari hati Anindya. Anindya tidak tahu apa yang terjadi pada Wulan yang hanya diam membisu, ia juga kalut sekali harus apa pada mama dana kakaknya.
Menanyakan sesuatu yang ia tidak tahu itu tudkammungkin ia dapatkan kerena mereka tidak pernah bicara pada dirinya apa lagi masalah Ranty. Anindya benar benar merasa labil.
Akhirnya Anindya melangkah kaki menuju teras rumah nya, ia membawa tubuhnya berjalan menuju sekolah. Anindya tahu kalau disekolah bakalan sepi dan ia bakal berada disana sendirian itu tujuan awal menuju sekolah.
Apa.yangndioikirkan oleh Anindya terbukti, sekolah sepi ya kerana ini hari Minggu jadi wajar kalau hari Minggu sekolah benar benar tudks ada orang sama sekali kecuali dirinya saja yang ada di sekolah.
Ia menuju parkiran dan duduk di sana sendirian dengan tatapan mata lulur kearah perpustakaan. ruangan perpustakaan tertutup pintunya wajar kerena hari Minggu jadi aktifitas perpustakaan juga libur.
Semilirnya angin pagi begitu sejuk menyentuh tubuh Anindya lembut, kerudung tipis ia gunakan untuk melindungi rambut nya yang panjang. kerudung warna putih berkibar dengan bebasnya kerena angin yang mempermainkan sedangkan pemilik kerudung itu hanya menghela nafas panjang.
Kalau mau jujur banyak pertanyaan yang ingin Anindya ungkapan tapi ia ragu untuk mencarinya, yang paling terlihat adlah perubahan yang terlihat pada kakaknya Riri yang menurutnya aneh bin ajaib.
Tapi pertanyanya demi pertanyaan tidak pernah ia jawab kerena ia juga malas mencari tahu tentang perubahan pada Riri pada Ranty. Sebenarnya sudah ditanyakan pada ayah tapi ayah hanya diam dan mwngelangkan kepalnya membuat Anindya berpikir kalau ayahnya tidak pernah menyukai dirinya kerena ia jahat lada ibu Ranty. Ayahnya meninggalakan begitu saja sampai kini ia tidak mendapatkan jawaban yang pasti pada ayahnya tentang Riri. Ia merasa nyakin kalau ada sesuatu yang tidak ia ketahui tentang Ranty maupun Riri kakaknya sendiri.
Anindya menarik nafas panjang dsn dikeluarkan secara kasar, dadanya seperti tertindih beberapa batu di dadanya dan merasa sakit. Ya untuk saat ini ia sama sekali tidak menemukan jawaban yang dibutuhkan. tapi ia nyakin suatu waktu akan mendapatkan jawaban yang pasti, ya biarpun jawaban yang didapatkan terlambat. Tapi itu lebih baik lagi dari pada ia sama sekali tidak mendapatkan apa yang ia inginkan lebih baik terlambat dari lada tidak sama sekali..
__ADS_1
Banyangan kejadian kemarin terbanyak kembali dalam benaknya. Kemarin pagi pas hari Minggu ia berada di kamarnya sedang mengerjakan mengerjakan pr yang di berikan gitu mapel bahasa Indonesia.
BRAK
Anindya terkejut seketika juga mendengar bunyi keras disampingnya. Waktu dilihat Riri telah berada di hadapannya dengan wajah yang gusar sekali, Anidnya langsung berdiri dan menghampiri kakaknya yang berada tidak jauh darinya menatap tajam kearahnya.
Riri menatap wajah Anidnya dengan sinis nya. Anidnya menatap kembali wajah kakaknya, keduanya saling tatap satu sama lainnya.
"Kak, aku nggak mau debat sama kamu."
Anindya langsung hendak duduk kembali ke kursi yang tadi tapi Riri dengan cepat menarik baju yang digunakan oleh Anindya, otomatis Anindya gadia itu tidak duduk dan membalikan tubuhnya kearah kakak ya, dengan cepat ia melepaskan tangan kakaknya dari baju yang dipakainya. Tangan Riri terlepas begitu saja dari pegangannya, Anindya meluncur begitu saja dan terhempas di tempat duduknya.
"Kak!" jerit Anindya saat tubuhnya terbentur ke kursi yang ia duduki.
"Sakit," tawa Riri renyah.
"Kak, mau kakak apa sih sebenarnya? ganggu orang saja?" tanya Anidnya langsung bangkit dari duduknya. Ia akhirnya duduk di kursi yang tadi dan menggeser kan ke dekat meja tulisnya.
"Jangan sakiti ibu Ranty! Kalau kalau kamu sakiti ibu Ranty urusannya denganku.
Anindya terbelalak matanya mendengar kata-kata Riri yang seperti itu membuat hatinya sakit mendengarkan nya.
"Pergi!"
__ADS_1
Anidnya mengusir Riri yang masih ad di kamarnya, akhirnya Riri keluar dari mata itu sedangkan Anindya langsung shock mendengarkan apa yang Riri katakan padanya. Hatinya sakit sekali ia tidak menyangka kakak bakal memebela ibu gurunya seperti itu.
Anindya menangis perih hatinya. Tapi dalam hatinya bertanya tanya apa sebenarnya yang terjadi pada Riri dan ibu Ranty tapi ia tidak bisa menjawab pertanyaan dirinya sendiri.
Sebenarnya kemarin kemarin ia menyakan semuanya pada mama tapi Wulan hanya diam saja ia tidak menceritakan apa yang ditanyakan Anidnya pada Wulan. Sebenarnya bukan sekali dua kali ia mendapatkan tingkah laku Riri seperti itu, tapi ia berusaha untuk bersabar tapi kesabaran yang ia lakukan sudah batasnya.
Anindya hanya diam saja kerena ia juga tidak bisa mencari jawaban yang memuaskan. Ia gamang sebenarnya Riri seperti itu seperti ada yang disembunyikan darinya.
Apa yang dirasakan oleh Anindya dirasakan oleh Riri juga. Kalau tidak ingat kata kata Ranty mungkin tadi ia bakal menceritakan apa yang pernah terjadi, tapi ia benar benar tidak bisa menceritakan semuanya kerena bagaimanapun harusnya Ranty bukan dirinya yang bercerita ya biarpun ia juga berhak atas menceritakan pada Anindya.
Tapi ia ingat kata Bayu yang bicara tentang masalah kecelakaan yang menimpah Ranty, kaku saja Bayu juga tidak melarang nya mungkin hari ini juga ia menceritakan semuanya.
"Ayah nggak ingin kalau kamu ceritakan semuanya, kalau sampai Anindya tahu semuanya berarti kamu yang cerita."
"Yah kenapa begitu? Seharusnya Anindya tahu supaya.." kata Riri heran..
"Riz kalau Anindya tahu sekarang ayah takut dia menyangka kalau kita merekayasa nya," potong Bayu cepat.
"Kan ada surat perjanjian?"
Bayu diam seketika juga. Surat perjanjian itu ada di Ranty, itu yang Riri tidak tahu dari surat perjanjian nya.
"Ibu Ranty yang pengang surat itu, jadi ayah nggak bisa berbuat apa apa, kecuali kalau kamu mau mengambil surat itu?" kata Bayu menatap wajah Riri tajam.
__ADS_1
Riri hahaha mengambil nafas panjang saja m