
Ranty memandang kearah luar rumah. Ada helaan nafas panjang yang terdengar di mulutnya, masih terbayang kemarahan Anindya yang membuat ia merasa bersalah pada gadis itu.
Ia menarik nafas panjang lalu di hembuskan dengan kasarnya.
"Bu, emang nggak ada laki laki lain yang suka sama ibu sampai ibu jadi pelakor," ujar Anindya tajam.
Kata kata Anindya terhiang hiang ditelinga ya sampai sekarang juga. Ia sangat terkejut saat mendengar dari mulut seorang gadis 18 tahun dihadapannya.
"Nin, jaga bicara kamu!" sembur Ranty tidak suka..
Ia merasa getir mendengar apa yang Anindya ucapkan. Untung gadis itu mengucapkan saat di perpustakaan, dan ruangan itu sepi hanya mereka berdua saja.
"Emang kamu nggak ngerasa ya kalau kamu sebenarnya wanita perebut kebahagian orang lain!"
"Nin, cukup! Aku memang salah sama kamu dan keluarga kamu, tapi jangan seperti ini kamu lakukan padaku?" jerit Ranty emosi.
Ia sama sekali tidak bisa menahan emosi nya kerena mendengar kata kata Anindya yang selalu memojokkan dirinya. Ia benar benar marah, ingin rasanya menampar pipi Anindya tapi ia berusaha menahan amarahnya.
"Kenapa? Apa kamu ngerasa begitu kan, pantas kalau kamu nggak ada yang suka juga," hina Anindya sinis.
"Nindy! keluar kamu di sini!" teriak Ranty sambil mengebrak meja dsn berdiri.
Ia menatap wajah Anindya tajam. Ranty ingin melumatkan tubuh Anindya, tapi sepertinya ia tidak bisa melumatkan tubuh gadis itu.
"Aku nggak akan segan segan menyakiti kamu kalau kamu menghina diriku seperti ini!" teriak Ranty marah.
Wajah nya merah, darahnya mendidih telah sampai ke ubun ubun. Melihat itu Anindya tidak takut ia malah menjadi jadi membuat hati Ranty terluka dan berdarah. Dengan perasan yang tidak karuan akhirnya Ranty meninggalakan perpustakaan. Sedangkan Anindya tersenyum sinis.
Ranty yang ingat kejadian itu hanya menarik nafas panjang, ia tidak menyangka kalau murid yang ia sayangi dulu malah menjadi anak yang brutal seperti itu.
Beberapa kali Ranty mengelus dadanya, kalau ingat semuanya. Bukan hanya Anindya saja yang memusuhi dirinya tapi Riri juga.
"Bu, kenapa?" tanya mbok inem menghampiri Ranty.
Bi Inem merasa kasihan melihat majikan hanya diam seperti itu. Ia mendekati Ranty dan duduk di bawah kursi yang di duduki Ranty.
__ADS_1
"Mbok duduk disini jangan dibawah," tegur Ranty lembut.
Akhirnya mbok Inem duduk diatas kursi.
"Bu, kenapa ibu? Ada yang sakit kah ibu sampai melamun seperti ini?" tanya lembut mbok Inem.
"Nggak apa apa kok mbok, aku hanya melamun Anindya." lirih Ranty.
"Sabar ya Bu, semoga saja nin Anindya cepat sadar apa yang dilakukan nya pada ibu." kata mbok inem pelan.
"Iya mbok, aku sebenarnya merindukan Anindya yang dulu mbok. Anindya yang manja sama aku, Anindya yang selalu merajuk sama aku, bukan Anindya seperti sekarang," keluh Ranty..
Wanita itu beberapa kali menghela nafas panjang beberapa kali seperti membuang beban yang menghimpit hatinya.
"Berdoa saja Bu, insha Allah kalau ibu pasrah sama Allah, Allah bakal bantu ibu,"nasehat mbok Inem sambil mengelus tangan Ranty.
Ranty mengangguk lembut. Ia sangat bersyukur mempunyai ART seperti mbok Inem yang menurutnya baik sekali, perhatian pada dirinya juga pada Anindya.
"Lebih baik ibu istirahat, ini baru jam 13.30 lebih baik ibu istirahat ya. Jangan banyak pikiran." mbok inem mengingatkan Ranty supaya istirahat.
'Apa aku menyerah!' bisik hati Ranty ketika ia berada di kamarnya.
Pikiran itu tiba tiba muncul seketika juga dalam benak Ranty, ia sudah lelah untuk melanjutkan kehidupan ini kerena apa yang ia lakukan selalu salah dan salah.
Ia duduk ditepi ranjang dengan bantal di berada di pangkuannya. Hatinya sakit kalau ingat kata kata Anindya yang menyebut dirinya pelakor.
Ranty mengakui kalau ia pelakor, merebut laki orang, apalagi pernikahan ia dsn Bayu hanya pernikahan siri yang oleh sebagian orang dipandang rendah. Ya biarpun pernikahan siri adalah pernikahan yang sah di hukum agama, tapi masyarakat masih menganggap kalau pernikahan siri adalah pernikahan yang tabu.
Ranty menyandarkan pungungnya ke tumbukan bantal, ia berusaha tenang dan tidak mengingat semuanya tapi anehnya hatinya malah ingat semuanya. Lintasan demi lintasan peristiwa yang membuat dirinya terpuruk dan merasa bersalah.
"Hai kenapa melamun, apa nggak kedengaran ya aku datang?" tanya Bayu tiba tiba menghampiri Ranty.
Ranty gelagapan seketika, ia tidak menduga kalau Bayu sang suami bakal datang dan masuk ke dalam kamarnya. Tatapan mata Bayu sangat tajam menembus hatinya, Ranty hanya melengos saja melihat tatapan mata Bayu seperti itu.
"Apa yang kamu pikirkan, akhir akhir ini kamu sering melamun," gumam Bayu.
__ADS_1
Gumaman Bayu yang lirih itu masih terdengar jelas di telinga Ranty. Awalnya ia ingin mengatakan sesuatu tapi Ranty hanya diam saja, ia takut kalau kesalahan bicara Bayu bakal marah. Apalagi kalau ia menyinggung keluarga Bayu, ia tidak mau merusak suasana hati Bayu untuk saat ini.
"Nggak apa apa kok, mas. Aku cuma kelelahan saja," hindar Ranty tersenyum.
"Jangan jangan perutmu kram." selidik Bayu.
"Nggak aku nggak kenapa kenapa, perutku juga nggak sakit." ujar Ranty.
Hati Ranty sebenarnya sakit melihat perhatian Bayu yang seperti itu. Kalau saja ia menikah dengan laki laki yang tidak memiliki anak dan istri mungkin ia merasa senang, kerena perhatian itu hanya untuk dirinya sendiri..
Ranty hanya bisa tersenyum tipis. Ia menyembunyikan hatinya yang terasa perih sekali.
"Syukur kalau kamu kenapa kenapa, aku khawatir pada kamu," bisik Bayu lembut hampir tudks terdengar.
Ranty tersenyum.'Pasti pada istrinya juga bilang begitu,' bisik Ranty berdarah hatinya.
"Aku senang kalau mas mengkhawatirkan aku," ujar Ranty jujur.
Bayu lanhsung memeluk tubuh Ranty dengan lembutnya, Ranty hanya membiarkan Bayu memeluknya, hatinya semakin teriris iris kalau ia bukan wanita satu satunya yang dimiliki oleh Bayu. Ia hanya wanita kedua..
Sebenarnya bukan ia tidak bersyukur, tapi ia ingin seperti wanita lain yang memiliki suami satu satunya bukan suami yang harus dibagi cintanya. Ranty menepiskan, ia hanya mendesah kerena apa yang dirasakan istri Bayu mungkin lebih dari ini.
"Mas, kita jadi makan diluar?" tanya Ranty berusaha melepaskan pelukan Bayu.
"Jadi dong! Kalau bisa kamu dandan yang cantik ya." kata Bayu mencubit pipi Ranty dengan.lembut sekali.
"Bisa'kan kamu pakai gamis warna Dongker. Kamu cantik pakai baju itu," puji Bayu.
"Siap, aku pakai gamis itu ya, kerudungnya?" tanya Ranty menatap wajah suaminya.
"Senada dengan bajunya dong."
Ranty mengangguk.
Bayu langsung mengajak Ranty untuk istirahat, mau tidak mau Ranty akhirnya mau istirahat juga. Bayu memeluk tubuh istrinya dengan lembut sekali, tangan Bayu membuka kerudung yang masih digunakan Ranty.*
__ADS_1