MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Apa maunya sih!


__ADS_3

Ranty menatap ruangan perpustakaan yang telah lama ia tinggalkan, semua buku tidak karuan sama sekali. Ditambah lagi lantai perpustakaan kotor dan banyak debunya. Ia hanya mendesah melihat sekelilingnya, kalau saja kemarin ia tidak sakit mungkin ruangan itu tidak mungkin kotor, kerena setiap hari ia sapu dan berbenah.


Biarpun ada rasa malas dihatinya, ia berusaha untuk merapihkan semua buku buku yang berserakan, serta mengeluarkan debu. Untung ia mengunakan masker, jadi biarpun banyak debu yang berterbangan tidak terlalu terhisap oleh hidung saat ia bernafas.


"Jangan cape cape! udah butuh anak anak yang lain aja!" sebuah suara menegur Ranty yang membersihkan perpustakaan.


"Nggak apa apa kok mas, aku bisa sendiri, aku juga nggak mau malas malas kerja. Apalagi ini pekerjaan yang harus aku selesaikan, kasihan nyuruh anak." ujar Ranty tersenyum manis kearah Bayu.


Ya Bayu datang untung menengok Ranty di perpustakaan, ia beberapa kali melarang istrinya untuk tidak sekolah duluan tapi wanita itu tidak pernah mengubrisnya, ya sudah Bayu akhirnya mengizinkan Ranty sekolah.


Tapi saat sampai ke sekolah Bayu terkejut melihat Ranty membersihkan perpustakaan yang kotor, apa yang dikatakan oleh Ranty memang benar kalau pekerjaaan itu adalah pekerjaan dirinya.


Bayu hanya diam saja mendengarkan apa yang dikatakan Ranty kerena apa yang dikatakan Ranty memang benar sekali, tapi Bayi hanya khawatir kalau terjadi apa apa pada Ranty apalagi kandungannya.


Akhirnya Bayi meninggalakan Ranty dsn balik lagi, ia mengambil sapu yang ada di ruang guru dan membantu Ranty membersihkan ruangan perpustakaan. Ranty merajuk saat suamianya membantu mengerjakan di perpustakaan.


"Kita kerja bareng bareng." ujar Bayu tersenyum.


"Makasih mas atas bantuannya." senyum Ranty manis.


"Yealah bukannya beresin perpus eh malah pacaran?" sindir seseorang.


"Nindy!" gumam Ranty terkejut.


Ia tidak menyangka kalau Anindya ke perpustakaan dan.melihat mereka berduaan yang sedang menyapu.


"Nindy! Kamu yang sopan dong!" teriak Bayu tidak suka.


"Kenapa ayah sewot, seharusnya aku yang marah sama ayah yang enak enak di ruangan berduaan sama guru!" sembur Anindya melawan.


Nindy!"


"Mas, sudah kah" lerai Ranty menahan Bayu yang akan menghampiri Anindya. Bayu yang akan menghampiri Anindya akhirnya tidak jadi menghampiri anaknya. Ia hanya mengangkat bahu saja, dsn meneruskan apa yang ia kerjakan.

__ADS_1


"Segitunya ya nurut sama sang pelakor!" ketus Anindya langsung meninggalakan ruangan itu.


Sebelum meninggalkan ruangan itu ia membanting pintu dengan kerasnya sampai pintu itu bersuara. Anindya melakukan itu sebenarnya merasa cemburu ayahnya harus berduaan dengan wanita lain selain ibunya sendiri. Anindya sebenarnya ingin ayahnya dan mamanya selalu bersama seperti dulu, ya waktu sebelum ada ibu Ranty menurut Anindya keluarganya bahagia sekali..


Tapi setelah kedatangan Ranty semuanya menjadi kacau balau seperti ini, dan membuat dirinya merasa asing pada keluarganya sendiri.


Bayu hampir saja ja mengejar Anindya tapi oleh Ranty dicegah. Ranty tahu kalau Bayu marah bakal membuat Anindya ketakutan dan pasti gadis itu mendapat bogem mentah dari ayahnya.


Ranty hanya menghela nafas dalam dalam melihat tingkah laku Anindya seperti itu, tingkah laku Anindya menjadi jadi sekarang, ia hanya menelan ludah tanpa haus.


"Sabar mas, kita jangan terbawa emosi," saran Ranty mengelus tangan Bayu lembut.


"Anak itu keterlaluan!" Dengus Bayi kasar.


"Mas, bagaimana pun kita juga salah. Gara gara kita menikah semuanya memburuk," Hela nafas Ranty sedih.


"Ran, aku nggak suka ya kamu selalu menyalahkan dirimu dalam masalah ini," sembur Bayu tidak suka.


Laki laki itu sebenarnya bosan sekali kaku Ranty yang selalu menyalahkan dirinya sendiri dari pernikahan yang sekarang. Ia sebenarnya ingin hidup bahagia bersama Ranty.


"Iya mas, trus kita harus bagaimana?" tanya Ranty.


"Kamu sabar ya sayang. Insha Allah semuanya pasti bisa kita lewati bersama," ujar Bayu menyentuh bahu Ranty lembut.


Ranty hanya bisa mengangguk saja..


Mereka berdua akhirnya memberikan ruangan perpustakaan, Ranty sebenarnya bahagia punya suami Bayu, bahagia sekali. Hanya satu ganjalan dalam hatinya, ia hanya dijadikan istri kedua itu juga tidak resmi secara negara.


Ia menikah dengan Bayu sah di mata hukum agama, tidak dengan negara. Tapi itu tidak menghalangi langkah Bayu untuk.mwnuanyangi dirinya secara utuh. Bayi selalu hadir diantara kehidupan Ranty..Mungkin itu yang membuat Anindya harus cemburu dan itu melihat kebahagiaan ayahnya dengan Ranty gurunya.


Apalagi kalau Bayu berada di samping Ranty Anindya hanya bisa menelan ludah. Apalagi sejah Ranty sakit Bayi tidak pernah pulang ke rumah atau bermalam di rumah, Anindya merasakan itu semuanya.


Ranty sebenarnya sudah mengatakan kalau ia tidak apa apa tapi bayi tetap menemani dirinya, dan pagi tadi Anindya marah dan emosi lihat ayah dan Ranty berduaan di perpustakaan.

__ADS_1


Ranty hanya mendesah ia membuang pikiran buruknya masalah Anindya. setelah menyelesaikan membersihkan ruangan perpustakaan Bayu membelikan makanan buat Ranty. mereka makan di ruangan perpustakaan sambil menunggu siswa dan siswi membaca buku.


Untung waktu beberes perpustakaan, jam belajar telah dimulai jadi pas istirahat semua nya telah beres dan siap digunakan kembali.


"Bagaimana kalau kita malam ini makan diluar," ajak Bayu.


"Tapi mas," ujar Ranty ragu.


"Kenapa?"


"Apa nggak bikin anak anak mas marah ya kalau mas selalu didampingi aku?" tanya Ranty hati hati.


Ia mengatakan itu sebenarnya ragu sekali takut Bayu marah. Bayu menghela nafas mendengar apa yang dikatakan Ranty, hati Bayu hanya bisa menjerit kerena kalau ia diajak makan Ranty selalu menolak dengan.kata kata anak anak..


Ia sudah mengingatkan pada Ranty supaya tidak menceritakan tentang keluarganya kalau sedang bersama dirinya. Tapi Ranty seperti tidak pernah mengubrisnya. Bayu hanya bisa menghela nafas saja mendengar Ranty seperti itu.


"Ran, kita bicarakan masa depan kita ya. Jangan bicarakan yang lain," kata Bayu sambil menyentuh tangan Ranty lembut.


Ranty hanya bisa mengangguk.


"Bagaiamana kalau kita makan malam di luaran, kamu mau kan?" ulang Bayi menatap wajah Ranty yang terbingkai dalam kerudung.


"Oke, aku.mau dong! Mmmhh, gimana kalau kita ke Cilok Goang yang ada di depan bale desa itu." usul Ranty berharap.


"Siap. Tapi siang ini aku ke rumahmu ya," senyum Bayu menggoda.


"Boleh! Tapi ada syarat."


"Apa syaratnya?"


"Asal mas nginep ya di rumahku, aku pengen tidur bareng mas," bisik Ranty lembut.


Bayu mengangguk setuju.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Bayu.lanhsung ke ruangannya. Wajahnya berseri seri seketika juga, apalagi melihat Ranty yang begitu cantik dan lembutnya.


Di ruangannya ia senyum mengingat percakapan yang ia lakukan tadi, hatinya begitu adem mendengar kata kata Ranty yang meminta dirinya tidur di rumahnya.*


__ADS_2