
Subuh tadi memang Riri malas bangun untuk sholat subuh, mamanya Wulan beberapa kali mengetuk pintu kamar putri pertamanya. Tapi Riri hanya pura pura tidur dan sengaja tidak mendengar ketukan pintu kamarnya.
Wulan bolak balik ke dapur dan ke kamar putri pertamanya. Kalau misal Riri dibangunkan tidak bangun bangun ia langsung ke dapur melihat kerjaan yang belum ia selesaikan sama sekali.
Ia hanya bisa mengerjakan cuci piring, masak dan beberes dapur saja selebihnya belum selesai sama sekali. Wulan menuju kamar putri yang bungsu, ia mengetuk pintu yang lain, Anindya juga sama malas untuk bangun dari tidur nya.
Akhirnya ia pasrah pada keadaan yang terjadi, susah bangunkan putri putrinya. Riri yang selamat dari Wulan meneruskan tidurnya ia malah meninggalkan shalat subuh, sedangkan Anindya waktu itu sedang ada halangan jadi malas bangun awal.
Riri hampir saja memejamkan matanya saat hp yang ada di dipan dekat ranjang yang ia tiduri berteriak dengan keras membangunkan dirinya yang belum lelap.
Dengan malasnya ia langsung mengambil hpnya, ia melihat siapa yang memanggil dirinya tapi Riri mengkerutkan wajahnya kerena yang tertera itu nomor baru.
📱Selamat ya atas kehamilan yang kamu jalani.
Suara wanita muda terdengar lembut, tapi membuat hati Riri terkejut. Ia terkejutnya tidak ada orang lain yang tahu kehamilannya kecuali keluarga dekat saja.
Dan pagi ini ia mendapatkan telpon dari orang yang tidak diketahui sama sekali olehnya.
📱Kamu siapa, sok tahu!
Suara Riri bergetar, ia menahan gejolak hatinya yang meluap luap dalam dadanya. Ia hampir saja berkata kadar tapi ia berusaha menahan. Dan bicara dengan apa adanya.
📱Jangan ngeles kalau hamil.katakan hamil, dsn kamu harus hati hati kerena aku berada diantara orang yang kau kenal.
Kata suara itu kembali. Ia mengatakan kalau ia berada diantara orang orang yang Riri kenal dekat, Riri yang mendengarnya hanya mengkerutkan wajahnya kerena ia juga tidak bisa menuduh begitu saja orang orang yang pernah dekat dengan dirinya.
📱Kamu nggak curiga sama orang terdekatmu, keluargamu?
Suara wanita itu terdengar kembali di telinga Riri. Riri sangat geram mendengar tebak tebakan dari wanita yang menelpon itu.
📱Jangan ikut campur!
Riri berteriak histeris. Ia tidak bisa membendung emosinya, badannya gematar menahan didihan darah yang terasa naik dan bakalan meluber keseluruhan ruangan.
__ADS_1
📱Aku harapkan gugurkan kandungan lebih baik daripada kamu hamil tanpa seorang suami memalukan keluarga.
Wanita itu benar benar pojok kan Riri dengan kata kata pedasnya, membuat Riri yang labil kerena masa masa kehamilan langsung membanting hpnya sampai hancur tidak berbentuk lagi.
Ia juga meraung sejadi jadinya. Wulan yang mendengar langsung menghampiri kamar Riri dsn membuka pintunya tapi pintu masih dikunci.
Akhirnya Wulan mencari kunci serep dan membuka kuncinya, ia tertegun sejenak melihat keadaan kamar yang kemarin tapi kini bagaikan gudang yang ada di dapur. Di lantai ia melihat Riri menangis, Wulan langsung menghampiri Riri dsn memeluk putrinya. wajah Riri terlihat ada guncangan di dalam hatinya.
Satu jam kemudian, Riri menceritakan kalau ada yang menelpon dan si penelpon itu mengatakan orang orang terdekat. Wulan yang mendengarkan cerita Riri jahat diam saja ia juga pendaran apa yang Riri katakan dengan orang orang yang terdekat, tiba tiba ia merasa kalau ada hubungan dengan Ranty.
Ranty yang mendengarkan hanya diam membisu kerena Wulan menceritakan kejadian tadi dengan Riri.
"Kata Anindya kemarin kamu dapat telpon tapi nggak mengangkat, kenapa kamu nggak mengakar Ran?" tanya Wulan menatap Ranty.
Bukan langsung menjawab Ranty hanya menghela nafas panjang.
"Aku nggak angkat kerena aku nggak tahu itu siapa?" dusta Ranty.
"Benarkan apa yang kamu ucapakan?" tanya Wulan.
Sebenarnya hatinya ia merasa deg Deg deg kerena takut ketahuan kebohongan dirinya, tidak.mungkin kan ia mengatakan kalau yang telpon itu adalah Zoya atau suruhan Zoya, ia merasa nyakin kalau Zoya yang melakukan itu lada Riri. Tapi ia tidak bakal menceritakan kalau itu Zoya, apalagi menceritakan alasan kenapa Zoya melakukan itu lada Riri.
"Kak, maaf aku nggak bisa bantu apa apa, aku juga nggak tahu apa yang Riri katakan dan yang kakak ceritakan juga." Ranty memohon maaf pada Wulan.
"Apa jangan jangan ada hubungan dengan kamu lagi," tuduh Wulan menatap Ranty tanpa kedip.
"Astagfirullah, kak." ujar Ranty tercekat atas tuduhan Wulan.
"Aku lihat kamu agak menghindar dari masalah yang Riri hadapi, aku nyakin kamu tahu masalahnya?" tuduh Wulan.
"Kak, aku nggak menghindar ya bagaimana juga kerena Riri juga anakku. Kenapa kakak hari bicara itu padaku, apa kerena aku ibu sambungnya?
Ranty langsung berjalan ke kursinya, ia duduk Sedangkan Wulan mengikuti Ranty, wanita itu juga duduk di kursi yang lainnya.
__ADS_1
Ranty hampir berkata kalau saja Anindya tidak masuk dengan wajah pucat, di bajunya terlihat ceceran darah segar. Ranty dan Wulan menatap wajah Anindya. Nafasnya memburu seketika seperti di kejar setan.
"Nindy kamu kenapa?" tanya Ranty dan Wulan serempak menatap wajah gadis 15 tahun itu.
"Kak, kakak!" Anindya menyebut kata kakak. kerena ia masih mengatur nafas yang naik turun.
"Kak Riri?" tanya Ranty.
Anindya langsung mengangguk cepat saat Ranty menyebut Riri.
"Riri kenapa, Nindy! Riri kenapa?" teriak Wulan histeris sambil mengincang tubuh anak bungsunya.
Anindya tidak langsung menjawab kerena ia masih mengatur nafas yang memburu, Ranty langsung mengambil air putih yang ada di galon, dan memberikan ke Anindya. Gadis itu meminumnya sekali teguk habis. Ranty berusaha menenangkan Anindya.
Waktu Wulan histeris dan mengincang tubuh Anindya, Ranty langsung melepaskan tangan Wulan yang mengguncang tubuh Anindya. Melihat gadis itu mulai tenang, Ranty dan Wulan menunggu Anindya supaya bicara.
"Kak Riri kenapa?" tanya Ranty.
Ia mencegah Wulan untuk bicara dengan kode. Wulan yang tadi mau angkat bicara akhirnya hanya diam saja.
"Tadi aku bawa hp ke sekolah, maaf. Untung aku bawa hp kalau nggak aku juga nggak tahu nasib kakak,"
"Wulan hampir bereaksi. Tapi Ranty mengelengkan kepalanya lagi, ia tidak mau kalau Wulan menghalangi cerita Anindya.
"Tetangga mengatakan kalau kak Riri menerima tamu seorang wanita, tapi anehnya mereka seperti bertengkar hebat. Dan terdengar jeritan kakak,"
"Aku yang menerima telpon tanpa pikir panjang pulang dengan ojeg, tapi sampai disana kakak bersimbah darah dan pingsan. Dan sekarang kakak ada di PKM terdekat," lanjut Anindya dengan perasaan yang tidak karuan.
"Jadi kakak kamu sekarang di PKM? Siapa yang melakukan ini ya Allah!" jerit Wulan histeris.
Wanita itu langsung menangis sejadi jadinya. Ranty langsung memburu Wulan dan memberikan dukungan dan motivasi.
"Kita ke PKM sekarang, ayah kamu juga harus tahu ini," kata Ranty.
__ADS_1
Ia mengatakan itu dengan hati yang gerimis, Ranty menduga kalau orang itu adalah Zoya, tapi ia berusaha untuk diam saja. Dan Ranty janji bakal mencari Zoya kemana pun juga, ia harus mempertanggungjawabkan semuanya.*