
Kata-kata Aisyah hanya sementara menyangkut dihati Zoya. Tapi nafsu marah masih menyelimuti hati Zoya, ia tidak ikhlas kalau pacarnya yang ia sayang harus di sia siakan oleh orang lain.
Zoya mengusap cairan bening di wajahnya yang mengalir begitu saja. Ia belum sepenuhnya ikhlas menerima Faisal harus meninggal gara gara cintanya di tolak oleh Riri.
'Kalau memang ingin menolak kenapa harus diberi harapan palsu tuh Faisal, aku kan masih sayang sama Faisal. Aku harus menghancurkan Rugi dan keluarganya, biarpun itu kakakku juga,'bisik hati Zoya kasar.
Ia sebenarnya sekarang sedang merencanakan sesuatu pada Riri supaya gadis itu merasakan apa yang ia rasakan.
Tapi ia tidak ingin kalau rencananya diketahui oleh orang lain, jadi ia lebih baik diam saja, tapi Zoya bakal melibatkan kakaknya dalam masalah ini.
*
Di perpustakaan Ranty sedang membereskan buku yang tadi tercecer oleh beberapa siswa, ia dengan teliti membereskan semua buku..
BRAK!
Suara pintu terdengar seperti dibanting. Ranty langsung menatap siap yang datang ke ruangan itu. Hati Ranty terkesiap melihat Wulan datang dan menutup pintu perpustakaan dengan kekuatan tenaganya.
"Kak, ada apa? Kenapa kakak kesini?" tanya Ranty yang sedang membereskan buku berhenti dulu.
Matanya menatap wajah Wulan yang datar seperti itu.
"Aku hanya ingin kamu tinggalkan mas Bayu, aku kasihan sama anak anak ku kalau kita bagi suami," kata Wulan menatap wajah Ranty.
"Kita nggak ada masalah apa apa dari awal juga, jadi mohon tinggalkan mas Bayu." lanjut Wulan.
DEG!
Ranty termenung seketika mendengar apa yang Wulan katakan padanya, kata katanya lembut tapi bagaikan pisau yang tajam menusuk kulit yang halus.
"Kak, kenapa? Ada apa sama kakak, kak jangan ngomong begitu," ujar Ranty lembut .
Ranty sebenarnya terkejut, tapi ia berusaha untuk tidak terpancing oleh kata-kata yang keluar dari Wulan.
Ranty mendekati Wulan, mereka akhirnya duduk di kursi hanya meja yang jadi penghalang.
__ADS_1
"Kamu bisa saja ngomong begitu Ran, kerena kamu nggak ada diposisi aku sekarang."
"Kak, posisi kita sebenarnya sama. Jujur istri pertama dan istri kedua nggak ada yang enak," akhirnya Ranty buka suara tapi ia masih berhati hati.
"Sama bagaimana?" tanya Wulan..
"Sama nggak enaknya," jawab Ranty jujur.
"Kalau kamu tahu nggak enak kenapa harus menerima mas Bayu di kehidupanmu?" tanya Wulan gemas.
Wulan tidak mau ada alasan lagi dari Ranty, apa yang dikatakan Ranty menurutnya tidak sesuai dengan apa yang dikerjakan oleh Ranty sendiri.
"Kamu bilang nggak enak jadi kedua Kenapa kamu mau jadi istri mas Bayu, sampai hamil segala?" tanya Wulan emosi.
"Kak, aku nggak tahu bakal terjadi seperti ini, kalau aku tahu mungkin aku nggak mungkin menerima mas Bayu." Ranty lembut.
Ranty berusaha untuk tidak marah, dan ia juga nggak mau ada keributan di perpustakaan bukan kerena ia takut tapi ia masih memikirkan dirinya, Bayu dan Anindya kalau sampai bertengkar pasti semua bakal melihat dan menyalahkan dirinya.
Itu yang tidak ingin ada perselisihan dengan Wulan apalagi di sekolah seperti ini.
"Aku bukan melampiaskan kesepian aku kak, tapi aku sayang sama mas Bayu, aku nyakin kakak mengerti. Dan aku hamil juga kerena hubunganku sah dengan mas Bayu, bukan hasil di luar nikah," ketus Ranty.
Ranty merasa kalau Wulan ingin berniat buruk datang ke perpustakaan ini, mungkin Wulan mengira perpustakaan bakal sepi saja tanpa ada orang yang mengetahui, Ranty hanya menghela nafas panjang.
Tiba tiba pikiran yang jelek ia bunga jauh jauh kerena itu tidak baik kalau ia memikirkan Wulan dengan sisi jeleknya.
"Kak, kalau mau jujur juga aku nggak ingin seperti ini. Aku ingin seperti dulu lagi kak," lanjut Ranty setelah mereka saling diam.
"Kalau kamu nggak seperti ini, aku sarankan kamu lebih baik meninggalkan Bayu." tekan Wulan.
"Nggak aku nggak pernah meninggalkan mas Bayu. Kak, apa kakak sadar apa yang kakak ucapkan?" tegas Ranty..
"Aku sadar aku mengucapkan apa pada kamu, kalau kamu peduli denganku, apalagi mas Bayu dan aku sudah punya anak, jadi lebih baik kamu pergi dari sini biarkan kami bahagia," tekan Wulan..
Secara halus Wulan mengusir Ranty supaya menjauhi Bayu. Ranty yang mendengar tekanan kata kata dari Wulan hanya menghela nafas saja, ia tidak menyangka kalau Wulan bakal mengatakan itu pada dirinya.
__ADS_1
Ada kepahitan yang dirasakan oleh Ranty tapi ia berusaha untuk tetap tegar menghadapinya. Ia tidak ingin kalau Wulan melihat kepahitan yang ia rasakan.
"Kak, kalau masalah anak aku dan Bayu juga punya anak, jadi aku nggak mau mengikuti apa yang kakak bilang." tegas Ranty.
"Rani, please! aku mohon lepaskan mas Bayu biarkan dia bersamaku dan kamu boleh mencari laki laki selain mas Bayu." sembur Wulan agak marah.
Ia tidak menduga kalau Ranty tidak ingin melepaskan Bayu untuk dirinya.
"Maaf kalau untuk itu aku nggak bisa memutuskan sendiri, kalau kakak ingin kalau aku melepaskan mas Bayu..Kakak bilang sendiri pada mas Bayu."
"Kenapa harus bilang mas Bayu, seharusnya kamu tinggalkan mas Bayu bukan mas Bayu meninggalkan kamu!" teriak Wulan emosi.
Ingin rasanya ia menghajar Ranty, supaya wanita itu menurut apa yang ia perintahkan. Melihat Wulan yang marah dan emosi Ranty hanya tersenyum, ya ia nyakin kalau Wulan mengatakan itu Bayu tidak tahu masalahnya.
Ranty merasa nyakin kalau wulan datang hanya keinginan sendiri bukan dari Bayu.
"Kak, aku siap kok meninggalkan mas Bayu, demi kebahagiaan kakak dan mas Bayu. Tapi aku ingin kalau mas Bayu mengatakan sesuatu yang membuat aku harus meninggalkan kampung ini," Ranty sedikit menentang Wulan.
Wulan langsung terdiam saat Ranty mengatakan itu pada dirinya. Ia tidak menyangka kalau Ranty akan mengucapkan itu pada dirinya.
"Ran, kamu becanda atau apa mengatakan itu!" teriak Wulan emosi.
Ia pikir dengan kelembutan bisa meluluhkan hati Ranty tapi tidak sama sekali. Wulan melihat kaku Ranty begitu tenangnya saat ia mengatakan itu lada wanita yang ada di hadapannya.
"Aku serius kak, kalau kakak mau kita bicarakan semuanya. Mau di rumah atau di sini? Mumpung mas Bayu ada di sekolah," pojok Ranty lembut.
"Kamu brengsek Ran, aku datang kesini hanya untuk ketemu kamu tapi kenapa kamu bawa bawa mas Bayu segala." Darah Wulan tiba tiba langsung naik ke ubun ubun seketika juga.
"Aku nggak mau di salahkan dong sama mas Bayu, pasti mas Bayu bertanya tanya kalau aku pergi begitu saja. Jadi kaku bisa rundingan dulu bagaimana?" pancing Ranty tersenyum.
Ia sengaja mengatakan itu kerena ia nyakin kalau Wulan tidak berani menantang Bayu apalagi kalau ia ketahuan salah, Bayu tidak main ampun lagi.
Mendengar itu Wulan langsung pergi begitu saja
, dihatinya sebenarnya ada rasa dendam pada Ranty yang telah menjadikan dirinya kedua, ya ikhlas tidak ikhlas ia harus ikhlas.*
__ADS_1