
PLAK
Beberapa kali tamparan mendarat di pipi Riri, Bayu tidak menyangka kalau Riri melakukan perbuatan bejat seperti itu, dan ia juga menanyakan laki laki yang telah menghamilinya. Tapi Riri tidak menjawab kerena ia juga tidak tahu laki laki itu.
Aisyah yang melihat Riri di siksa oleh ayahnya langsung membela Riri dengan sekuat tenaga. Aisyah sampai menangis melihat ririnyabg tanpa daya sama sekali.
Riri tidak tahu apa pangan terjadi tiba tiba ayahnya datang tanpa ada panggilan apapun, dan memojokan dirinya. Riri tidak bisa menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan oleh ayahnya.
"Kamu nggak perlu tahu siapa orang yang membicarakan kamu, pada ayah. Ayah sangat kecewa sama kamu. Gugurkan!" Teriak Bayu dengan wajah penuh amarah.
Awalnya Riri berusaha untuk tidak jujur tapi Bayu punya bukti kalau memang Riri hamil. Tanpa Riri duga sebenarnya Zoya yang telah memberitahu kan kalau Riri hamil, Zoya yang membuka aib Riri pada Bayu.
Zoya puas mendengar Bayu marah di telponnya, awalnya Bayu tidak percaya tapi gadis itu telah memastikan kalau Riri hamil. Mau tidak mau akhirnya Bayu percaya atas ucapan dari Zoya.
Akhirnya hari itu ia meluncur ke kostan Riri, saat itu Riri sedang minum susu hamil dan biskuit. Melihat Riri yang sedang makan biskuit dan susu hamil Bayu mulai curiga.
Bayu langsung menampar muka Riri beberapa kali, sampai Riri menjerit kesakitan saat tamparan tangan Bayu berhasil singgah di pipinya.
"Ayah! Ada apa?" Tanya Riri heran memandang ayahnya tiba tiba datang GG langsung menampar pipinya dengan keras..
"Kamu yang apa apaan, ayah sudah percaya sama kamu tapi kamu tidak pernah memberikan kepercayaan pada ayah!" Teriak Bayu merah padam wajahnya.
"Maksudnya apa? Kepercayaan apa?" Tangis Riri kesakitan di bagian pipinya.
"Makanan apa ini, susu apa ini, kamu hamil?" Bayu lanhsung the point.
Riri langsung lemas mendengar ayahnya menyebutkan dirinya hamil. Hatinya langsung bergetar saat Bayu manatap wajahnya. Ia hanya diam tidak bisa berbuat apa apa.
"Jawab!" Teriak Bayu.
__ADS_1
"Yah, ayah percaya begitu saja kalau aku hamil!" Sembur Riri.
Ia berusaha untuk merahasiakan kehamilanny pada ayah. Hatinya bertanya tanya siapa orang yang membuka rahasia dirinya, ia menduga kalau Aisyah tapi Aisyah sama sekali tidak tahu nomor ayah mereka juga jarang banget berkomunikasi.
"Pak, kalau Riri hamil saya lebih tahu dari pada bapak," dusta Aisyah.
Sebenarnya dalam lubuk hati yang paling dalam ia ingin mengakui kalau memang riri hamil, tapi melihat kemarahan dari Bayu, Aisyah jadi situs untuk berkata jujur. Tapi Aisyah menduga kalau Zoya lah yang melakukannya, tapi ia tidak mau menuduh tanpa bukti dulu.
"Kalau kamu nggak hamil kita ke bidan periksa!" Sembur Bayu menatap Riri..
"Yah, ngapain ke bidan. Aku nggak apa apa, aku juga nggak hamil." Terima Riri ketakutan.
Ya kalau misal ia dan ayahnya ke bidan otomatis kehamilannya bakal ketahuan oleh ayahnya.
Tapi Bayu memaksa Riri untu ke bidan. Hati Riri sudah tidak karuan sama sekali, Bayu yang melihat Riri mengelengkan kepalanya semakin nyakin kalau anaknya hamil kerena kalau tidak hamil tidak mungkin Riri tidak mau ke bidan untuk membuktikannya.
Aisyah hanya bisa diam saja, ia sama sekali tidak bisa membantu Riri, apalagi kalau sampai Riri periksa ke bidan pasti bakal ketahuan. Bayu yang masih menatap wajah Riri meminta putrinya untuk melakukan apa yang ia katakan.
"Ayah hanya ingin memastikan kalau kamu nggak hamil, jadi apa kabar itu benar atau tidaknya hanya dengan periksa kehamilan!" Ketus Bayu masih memandang wajah putrinya yang agak pucat.
Bayu menarik tangan Riri dengan kasarnya sampai gadis itu terjatuh dan berusaha bangkit tapi Bayu dengan cepatnya menyeret tubuh Riri supaya ke bidan pagi itu. Akhirnya mau tidak mau Riri akhirnya ke bidan mengikuti arahan ayahnya, biarpun hatinya ketar ketir.
Ayah juga mendorong Aisyah supaya tidak mengikuti mereka berdua pergi, Riri hanya mwngelangkan kepala pada Aisyah supaya tidak mengikuti mereka. Aisyah hanya memeting melihat kepergian mereka dengan hati berdebar debar.
PLAK
Riri meraung kesakitan. Pipinya beberapa kali di tampar dengan kekuatan tenaga oleh Bayu. Bidan yang telah memeriksa Riri langsung melindungi gadis itu.
"Pak, maaf jangan ada kekerasan disini, maksuds bapak apa. Main pukul saja!" Sembur bidan yang telah memberikan hasil kalau riri dinyatakan positif hamil.
__ADS_1
"Anak yang nggak tahu untung! Mana laki laki yang menghamilimu!" Tanya Bayu dengan nada marah dan malu pada bidan.
Bidan memeluk tubuh Riri yang menangis. Riri tidak menjawab pertanyaan ayahnya kerena ia takut kalau ayahnya bakal melakukan apapun padanya.
"Pak lebih baik selesaikan di rumah, jangan di sini." Suara bidan itu lembut mengingatkan.
Bayu mengangguk. Ia yang masih emosi langsung menyeret tangan Riri, awalnya Riri tidak mau pulang tapi bidan menyuruh pulang dan meminta Riri untuk istirahat.
Di tengah jalan mereka saling diam, tidak ada oboral yang diobrolkan oleh mereka, hanya pikiran mereka yang saling bertanya tanya.
"Kita pulang ke rumah!" Ujar Bayu..
"Tapi Yah kuliah Riri." Cegah Riri.
"Udah kamu jangan pikirkan kuliahmu, lebih baik kamu pulang saja dengan ayah!" Tekan Bayu.
Riri hanya diam saja, ia tidak bisa berbuat apa apa, apalagi untuk bicara. Hatinya berkecamuk membanyangkan amarah mamanya pasti mamanya bakal lebih dasyat lagi memarahi dirinya.
Sebenarnya Riri ingin bertanya siapa orang yang memberitahukan pada ayahnya kalau ia dalam keadaan hamil. Tapi ia tidak berani untuk menanyakan pada ayahnya.
Sesampai di rumah Wulan terkejut mendengar pengakuan Bayu dan Bayu pun memperlihatkan hasil pemeriksaan dari bidan tadi. Wulan yang melihat itu langsung pingsan mendengar kenyataan yang ada. Sedangkan Riri hanya berdiri dipojok rumah sambil tubuhnya bergetar hebat akibat takut.
"Anak nggak ada untung!" Teriak Bayu melempar Riri dengan kursi palstin.
Tubuh Bayu bergetar hebat saat melihat tubuh Wulan ambruk jatuh ke lantai akibat mendengar Riri hamil. Dengan emosi masih labil tiba tiba Bayu memegang kursi dan melayangkan ke tubuh Riri yang brdiri dipojok, untung gadis itu langsung berlari menjauhi kursi itu.
Akibatnya kursi itu menghantam dinding. Sampai kursi itu patah seketika, Riri yang menghindar kearah kiri langsung terjelambab jatuh ke lantai.
Bayu yang melihat Riri menghindar langsung mengeram bagaikan singa yang kelaparan dan melihat mangsa nya lepas begitu saja.
__ADS_1
Wulan yang pingsanalah dibiarkan saja oleh Bayu, matanya malah menatap ganas pada Riri yang hanya mengigit bibir bagian bawah. Hatinya benar benar ciut seketika melihat wajah ayahnya marah dan emosi pada dirinya.*