
Mata Ranty terbelalak melihat ditangan Anindya terdapat balok kayu yang ukuran sedang di genggaman tangannya. Gadis itu berlahan dan pasti mendekati Ranty, sedangkan wanita itu hanya diam saja ia tidak melakukan gerakan apapun juga hanya hatinya merasa ciut sekali, apalagi ia dalam posisi sendirian.
"Nindy kamu kenapa?" getar Ranty menatap Anindya.
Hatinya sangat berdebar sangat keras sekali saat matanya melihat wajah Anindya penuh dengan kabut yang menyelimuti wajahnya. Tapi ia berusaha untuk tenang dan tidak merasa takut dengan kedatangan Anindya, tubuhnya bergemetar ketakutan lalu Anindya melakukan apa apa pada dirinya.
"Kamu pilih cerai atau aku bunuh bayi yang kamu kandung!" Lirih Anindya dengan mata mendelik.
Surya Anindya yang pelan tapi membuat hati Ranty berdetak keras sekali, ia beringsut sedikit menjauhi Anindya tapi gadis itu dengan cepat menyusul Ranty.
"Nin, kita bicara baik baik yuk! Jangan seperti ini, ibu nggak ngerti apa yang kau ucapkan." Kata Ranty menahan perasaannya.
Sebenarnya ia sudah tahu maksud kedatangan Anindya dengan kayu ditangan bisa bisa kayu itu memukul dan menghantam tubuhnya. Ia tidak bisa membayangkan kalau misal kayu itu sampai di pukulkan oleh Anindya pada dirinya. Debaran jantung Ranty berdebar sangat cepat seperti berpacu dengan jam yang berdetak di atas dinding.
"Nggak aku hanya butuh jawaban dari kau sekarang! Anak itu anak teman kamu kan?" Sembur Anindya.
Mereka saling berhadapan satu sama lain, wajah Anindya tersenyum sinis, tanya melotot menatap wajah Ranty tanpa make up sama sekali. Ya selama ini Ranty jarang pakai make up, kadang pakai juga hanya tipis saja biar tidak terlihat pucat wajahnya. Tapi kalau ingat, kalau tidak ingat dengan riasan wajah ia langsung berangkat saja ke sekolah tanpa memikirkan riasan wajahnya.
Ranty masih berdiri di dekat meja yang akan didudukinya kerena akan menyelesaikan pekerjaannya ia mengalihkan duduknya kearah depan kerena disana juga ada kursi yang kosong tapi tiba tiba Anindya datang tanpa diundang sama sekali. Jadi ia masih berdiri memengang bejandsn kursi.
Sedamgkan karton dan alat atk yang telah ia keluarkan disimpan di atas meja supaya memudahkan dirinya mengerjakan pekerjaannya. Tapi baru saja akan mau mulai ia menghentikan kegiatannya kerena Anindya datang.
Ranty masih waspada pada Anindya kerena Anindya membawa kayu, ia nyakin kalau itu bakal dihantamkan oleh Anindya lada dirinya. Tapi sebelum itu terjadi, Ranty berusaha untuk meraih kayu itu.
BRAK!
Tiba tiba Anindya dengan spontan langsung memukulkan kayu ke meja yang akan digunakan oleh dirinya. Suaranya Sangat nyaring seketika juga memecah kesunyian di sekolah. Apalagi hari ini jam pelajaran full, hanya kelas tiga yang mungkin tidak ada gurunya, ya kelas Anindya saja yang masih diluar, kantin atau bermain.
__ADS_1
Mendengar suara yang keras itu, Ranty benar benar terkejut sekali. Ia tidak menyangka kalau kayu yang dipukulkan oleh Anindya langsung mengenai meja dekat dirinya.
"Nindy! Kamu apa apa an sih!' teriak Ranty geram.
Ia berusaha merebut kayu yang dipengang oleh Anindya, tapi gadis itu tidak memberikan begitu saja, kedua rebutan kayu. Seperti anak kecil yang rebutan dan meeprtahankan permen supaya tidak diambil oleh orang lain.
Tanpa Anindya duga ia langsung menghindar dari tangan Ranty dan kayu yang dipengang ya mengenai pinggang Ranty.
"Nindy! Astagfirullah!" Jerit Ranty kesakitan.
Wanita itu langsung memengang punggungnya yang terkena pukulan tanganya. Gadis itu tidak merespon sedikitpun juga malah ia tersenyum penuh arti.
"Jangan berlaga kesakitan begitu sih!" Ejek Anindya.
Ranty dengan kasarnya langsung merebut kayu itu dari tanganya Anindya tapi nihil Anindya malah merebut kembali kayu itu dengan tangan Ranty, Ranty geram melihat Anindya seperti itu!
Anindya hampir saja mengunakan kayu itu untuk memukulkan ke tubuh Ranty tapi tiba tiba Bayu datang dengan cepat!
Bayu langsung merampas kayu yang dipengang oleh Anindya. Melihat itu Anindya hendak mengambilnya tapi Bayu langsung menghalangi Anindya untuk mengambilnya. Bayu menatap Ranty yang mengelus pingangnya, ia curiga kalau Anindya melakukan sesuatu pada Ranty.
Dengan amarahnya Bayu langsung menarik tangan Anindya buat keluar dari perpustakaan, Ranty yang melihat Anindya sudah ditarik oleh ayahnya langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi yang ada disana.
"Kamu nggak apa apa?" Tanya Bayu cemas.
Ia lebih cemas waktu mendengar pengakuan dari mbok Inem kalau Ranty dari jam 02.00 sampai subuh tidak tidur kerena kram di perutnya. Bayu langsung ke sekolah menyusul Ranty, sebenarnya ia menyusul Ranty juga ingin menyusul ke rumahnyaRanty untuk berangkat bareng dengannya. Setalah mendengar kabar dari mbok Inem ia langsung ke sekolah dan melihat apa yang terjadi.
Kalau saja ia telat mungkin Ranty bakal jadi korban Anindya, ia langsung merangkul bahu Ranty dengan erat sekali, tapi Ranty menghindar dari rangkulan tangan Bayu. Ranty yang duduk langsung berdiri dari duduknya kerena Bayi hendak merangkul bahunya. Melihat Rantu seperti itu Bayu bernafas kesal kerena Ranty menghindar dari pelukannya.
__ADS_1
Ranty malah duduk di kursi lain yang agak jauh dengan kursi yang tadi ia duduki. Bayu langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi yang telah ditinggalkan pemiliknya.
Ranty hanya diam saja, ia tahu kalau Bayu kesal terhadap dirinya yang menghindar dari tangan Bayu. Ia lakukan itu kerena ia sengaja melakukannya kerena ia tidak ingin Bayu merangkulnya apalagi di sekolah.
"Aku nggak apa apa?"
"Mas sekarang aku harus bagaimana? Aku takut terjadi sesuatu pada aku dan bayi dalam kandunganku," lanjut Ranty menatap Bayu.
Hela Ranty khawatir apa yang bakal terjadi pada dirinya dsn kandungannya. Ia mengelus perut bagian bawah yang terasa kram, Bayu melihat Ranty ia mendekati wanita itu. Tapi Ranty hanya menipiskan tangan Bayu.
"Kamu tenang saja dulu biar aku bereskan semuanya." Ujar Bayu kesal.
"Tapi mas, mas jangan terlalu keras ya sama Anindya."
Bayu mengangguk seketika. "Kata mbok Inem tadi perutmu sakit?"
Ranty menghela nafas kasar mendengar pertanyaan Bayu yang barusan tadi. Tapi ia mengangguk juga, melihat anggukan Ranty Bayu menatap wajah cemas pada Ranty.
"Apa udah waktunya?"
"Belum, nanti juga lahir sendiri,"
Ranty langsung berjalan menuju rak buku ia menyimpan buku buku itu yang ada di mejanya, ia berusaha menyembunyikan rasa kram yang tiba tiba datang menghampirinya. Ia tidak ingin kalau Bayu cemas memikirkannya.
"Lalu aku bagaimana dengan Anindya?" Pertanyaan Ranty terlontar begitu saja di mulutnya.
Ranty hanya takut kalau sewaktu waktu gaid itu datang kembali dimana pun juga, ya ia tidak mungkin menghindar dari masalah, kalau bisa Ranty hanya ingin menyelesaikan permasalahannya dengan Anindya. Tapi Anindya sekarang tidak bisa diajak kompromi sama sekali.
__ADS_1
Bayu diam seketika juga mendengar apa yang diucapkan oleh Ranty, ia juga memikirkan apa yang Ranty ucapakan sih! Tidak mungkin kan Ranty harus istirahat di rumah yang jauh dari Anindya, sedangkan rumah itu ditempati Zoya. Bukan selamat nanti malah mereka bakal saling bertengkar..
Ada helaan nafas yang keluar dari mulut laki laki itu. Ia langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Ranty yang sedang merapihkan buku yang terlihat acak acakan.*