MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Perasaan Ranty 1


__ADS_3

Kata-kata Toni membuat hati Rabty khawatir pada keadaan Riri, sebenarnya ia bersyukur Toni sudah memberi tahukan keberadaan Riri padanya tapi caranya bikin emosi saja..Ia tahu kalau Toni emosi pada dirinya yang telah menikah dengan Bayu, alasannya Toni menurutnya tidak masuk akal sama sekali.


"Suami kalau sudah meninggal harusnya kamu setia dengan satu pasangan. Ini botol botol setia malah menerima lamaran orang lain. Mana kesetiaan wanita saat suaminya meninggal?" sembur Toni waktu itu.


Waktu ia menyebar undangan pernikahan untuk kedua kalinya, ia hanya bisa melonggo mendengar kata kata Toni yang seperti itu. Sama sekali tidak menyangka kalau Toni bakal mengatakan perkataan yang menyingung hatinya. Ageng sudah meninggal masa ia harus menjanda terus menerus tanpa anak pula, kecuali kalau punya anak. Kemungkinan Ranty bakal berpikir dua kali untuk menerima lamaran Bayu.


Ranty hanay menghela nafas kesal, tapi ia masih menahan kekesalannya kesalnya dalam hati.


"Kamu pikir Ran, nggak segampang itu kamu meninggalkan Ageng!" ketus Toni..


"Ton, aku salah darimana? Aku menikah kerena ada yang melamar? Kesetiaan? mas Ageng sudah meninggal masa aku harus menjanda terus?" brondong pertanyaan meluncur di bibir Ranty.


Wanita itu banget benar merasa heran sekali melihat Toni seperti itu, Ranty lanhsung pergi setelah memberikan surat undangan ia sama sekali tidak peduli pada apa yang cowok itu katakan.


Toni menahan Ranty pergi tapi wanita itu dengan cepat menepiskan tanganya dari tangan Toni. Berhasil Ranty pergi tanpa diikuti Toni, sedangkan Toni hanya menghempaskan tubuhnya ke kursi,tanya melihat undangan itu dengan kerasan campur aduk.


Ranty yang masih ingat kelakuan Toni di perpustakaan hanya mendengus saja. Ia tidak tahu pasti apa yang dirasakan oleh Toni sendiri. Ranty masih menganggap wajar kalau Toni berbuat seperti itu kerena Toni dan Ageng adalah sepupu dari pihak ayah.


Hanya keadaan lah yang memisahkan mereka dari keluarga besar jadi wajar kalau Zoya dsn Aisyah tidak saling kenal satu sama lain, entah Maslah apa yang menimpah keluarga mereka sampai mereka tidak pernah akur sama sekali.


Hanya Toni lah yang malah akrab dengan Ageng itu juga hanya kebetulan saja, bukan kenal dari keluarga masing masing. Ranty tahu itu dari Ageng setelah mereka menikah dan ia juga sama sekali tidak menyangka kalau Toni itu saudara sepupu dari Ageng. Dan yang lebih terkejutnya lagi Aisyah adalah sepupunya Ageng juga, kalau ingat itu Ranty hanya tersenyum simpul.


Tanpa pikir panjang lagi, setelah kedatangan Toni ia putuskan mendatangi Riri di rumah Toni. Kalau saja Toni tidak datang dan mengatakan Riri ada di rumahnya mungkin ia dan Bayu tidak bakal tahu keberadaan Riri.

__ADS_1


"Mas, Riri ada di rumah Aisyah." adu nya pada Bayu ketika Bayu ada di rumahnya.


"Rumah Aisyah? kok bisa?" Bayu terkejut mendengar aduan dari Ranty.


"Tadi Toni datang ke sekolah ia tanpa ba bi bu lagi menceritakan kalau Riri ada di rumahnya," jelas Ranty sambil duduk di sebelah Bayu.


"Kamu tahu alasan Riri ke rumah Aisyah?" tanya Bayu melirik istrinya..


"Aisyah membawa Riri kerja gadis itu takut kalau Zoya menganiaya Riri," lirih Ranty masih terdengar jelas di telinga Bayu.


Bayu menghela nafas, mendengar suara lirih Ranty apalagi saat menyebut nama Zoya. Ia sebenarnya ingin sekali tegas pada Zoya tapi yang dilihat olehnya adalah Ranty. Jadi Bayu tidak mungkin memarahi Zoya dihadapan Ranty maupun dibelakang istrinya. Bayu hanya takut kalau Zoya akan melakukan lebih jahat lagi lada Riri.


Jadi ia lebih banyak diam saja. Daripada ia dsn Ranty harus bertengkar.


Dalam hatinya ia merasa bersalah pada Riri keren kelakuan Zoya Riri jadi korban dan imbasnya adalah dirinya sendiri. Sebenarnya dilema harus memilih kemana, Ranty mengusap tangan Bayu lembut. Tanpa Bayu jawab juga ia sudah tahu kalau Bayu sebenarnya masih menyimpan marah pada Zoya adiknya. Boro boro Bayu yang notabennya ayah kandung dari Riri, ia juga yang kakak kandung Zoya sakit hati atas apa yang adik nya lakukan pada Riri.


"Maafkan adikku mas. Kini Riri harus merasakan getirnya kehidupan," ungkap Ranty merasa bersalah.


Bayu hanya diam saja mendengar keluh kesah Ranty. Bayu mengusap pungung Ranty dengan lembut dan ia beranjak meninggalkan Bayu menuju kamar. Ranty hanya menghela nafas panjang melihat suaminya pergi begitu saja.


Sedangkan orang yang dipikirkan oleh Ranty dan Bayu sedang duduk manis bersama teman temannya.


"Aku nggak nyangka kalau kamu bisa.melakjkan itu pada Riri." kata Indra menepuk bahu Zoya.

__ADS_1


"Zoya dilawan!" ujar gadis itu membusungkan dadanya dengan bangganya.


Teman teman yang lain mengacungkan jempol kearah Zoya. Zoya yang melihat teman teman mengacungkan jempol hanya tersenyum manis, ya selama ini ia telah menjadikan Riri kambing hitam untuk membalas dendam sakit hatinya ditambah lagi ia juga tidak pernah setuju pada apa yang terjadi, kakaknya dilamar oleh Bayu seorang laki laki yang menurutnya lantas jadi ayah dari Ranty sendiri.


Zoya benar benar tidak setuju apalagi menurut Zoya kalau Bayu tidak pernah gaul sama sekali, dan tertutup. Bayu memang tudks menyukai dunia malam sedangkan Zoya lebih menyukai dunia malam, dan yang Zoya tidak sukanya ia pernah dilarang untuk bermain dan pulang malam. Itu yang membuat dirinya terasa asing buat Bayu. Bukan itu saja, Bayu sangat berbeda dengan Ageng yang royal dan sering bawa makana atau oleh oleh. Sedangkan Bayu sama sekali tidak.


"Jangan sama kan Bayu dan Ageng!' celetuk Indra sambil mengibaskan tanganya.


"Iya Zoya, Ageng orangnya kaya gini," lanjut yang lain mengacungkan kedua jempol mereka.


"Bayu, udah tua, bau tanah masih doyan daun muda," ejek Indar dan yang lainnya..


"Bikin kakakmu di pelet Zoya, masa sama aku aki dia mau aneh kan?" tanya Ridwan mengejek


"Aku juga heran sih si aki aki tua itu kenapa harus kakak ku yang di nikahi nya, bisa jadi sih di pelet." kata Zoya mengangguk angguk mendengarkan apa yang dilontarkan oleh teman temannya yang hadir di restoran terkenal di kota Baja.


"Apa si Bayu itu banyak uang?" tanya Tiwi mengejek.


"Mungkin juga tapi aku juga nggak tahu sih! Kalau dengar dengar Bayu itu seorang guru!" kata Zoya ringan.


"Ya Tuhan!" teriak mereka mengejek.


Entah pikiran apa yang merasuki hati anak anak muda itu yang menceritakan bayi dan Ranty, mereka tidak menyadari kalau Mereke bisa membaca dan menulis juga atas jasa seorang guru. Tapi sepertinya mereka tidak menyadari masalah itu, jadi.mereka begitu ringan dan gampang menjelekan profesi seorang guru.*

__ADS_1


__ADS_2