MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Keterbukaan


__ADS_3

Ranty benar benar meraung Melihat Wulan seperti itu. Wulan menuduh dirinya berselingkuh dengan Dion sedangkan ia sama sekali hanya mengobrol saja dengan Dion tidak ada maksud apa apa lagi.


"Aku hanya mengangkat bukan menuduh," delik Wulan sambil duduk kembali.


"Aku hanya ingin kamu tes DNA kalau kau lahiran nanti," lanjut Wulan.


"Kalau misalkan aku nggak mau," tantang Ranty.


"Berarti anak itu bukan anak dari suamimu tapi dari laki laki itu!" tuduh Wulan.


"Sepihak itu kakak menuduh aku melakukan perbuatan yang nggak pernah aku lakukan kecuali dengan suamiku sendiri." tampik Ranty menatap Wulan.


Ada luka dihatinya saat Wulan berkata harus ada tes DNA atas bayi yang kini dalam kandungannya. Kalau misal ia mengikuti apa yang disarankan berarti ia melakukan hal yang dituduhkan. Tapi kalau ia tidak mengikuti saran Wulan berarti Wulan berpikir kotor.


Tiba tiba Ranty mengusap punggungnya yang terasa nyeri.


"Kak, aku menuduh aku melakukan perbuatan keji, tapi kak sadar apa yang pernah dilakukan Riri terhadap keluarga. Kakak diam saja." Dengus Ranty beranjak dari duduknya.


Ia tidak menunggu jawaban dari Wulan. Ranty meraih tangan Wulan tapi wanita itu menghindar dari tangan Ranty. Ditatapnya wajah Ranty dengan tajam.


Sebenarnya Wulan terkejut atas apa yang dikatakan oleh Ranty. Tapi ia pura pura tidak menyimak apa yang dikatakan oleh Ranty.


" Aku nggak ngerti," elaknya.


"Jangan mengalihkan pembicaraan pada topik lain," lanjut Wulan tidak suka.


"Nggak ngerti atau malu. Bagaimanapun aku telah jadi bagian keluarga kalian." cerca Ranty.


Ia nggak mau kalau Wulan datang hanya ingin merusak harga dirinya tanpa memandang harga diri sendiri. Ya menurut Ranty sendiri sebenarnya Wulan lebih fokus pada kesalahan orang lain dibandingkan kesalahan pribadi sendiri.


PLAK


Wulan dengan cepat langsung melayangkan tangannya kearah Ranty. Ranty terpekik saat tangan Wulan menyentuh pipinya, tangannya langsung menutupi rasa panas yang terdapat pada pipinya. Ranty menatap wajah Wulan dengan tajamnya. Wulan membalas tatapan mata Ranty.


Wulan tidak menyangka kalau Ranty bakal tahu semuanya tentang keluarganya. Tentang Riri.


"Kenapa?" tantang Ranty tersenyum sinis..

__ADS_1


"Mungkin aku.lebihnbaik dari pada Riri, biarpun secara lintas mungkin aku salah sebagai wanita yang ingin menikah dengan laki laki yang telah beristri dan beranak. Sedangkan Riri sendiri," cerca Ranty sinis.


Ia sudah lelah untuk terus mengalah demi Wulan dan kedua putrinya. Ranty sebenarnya telah melakukan yang terbaik, sellau mengalah dari setiap kesalahan yang ia lakukan apalagi berhubungan dengan posisinya sebagai istri kedua.


Tapi melihat Wulan dan kedua putrinya, Ranty seperti tersudut. Masalah hanya berputar dari dirinya saja tanpa melihat pribadi masing masing.


"Sejak kapan kamu tahu!" jerit Wulan.


"Nggak penting sejak kapan aku tahunya, tapi kau sebagai ibu reaksi mu bagaimana?" sindir Ranty.


"Apa kamu.marah, kecewa, atau apa?" tantang Ranty melanjutkan perkataannya..


Wulan terpuruk. Ranty mendekati Wulan, diraih tangan Wulan lembut Wulan hanya diam saja tidak ada reaksi sama sekali.


"Kamu sebenarnya kalau introfeksi, kamu merasakan apa yang dia rasakan." ungkap Ranty.


"Hanya mungkin jalannya berbeda satu sama lainnya." ujar Ranty kembali.


Wulan hanya diam saja. Ia baru menyadari apa yang dikatakan Ranty pada dirinya tentang kejadian Riri. Wulan menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan nafas kembali.


"Sebelum aku menikah dengan mas Bayu. Aku sudah mendengar kabar itu, dan waktu aku menikah dengan mas Bayu, aku ingin tahu semuanya. Jadi Bayu cerita semuanya tentang Riri." ungkap Ranty jujur.


Wulan mendesah mendengar tentang Riri dari Ranty. Ia tidak menyangka kalau semuanya telah tahu masalah Riri bagaimana pun di tutupi juga, disisi lain ia membenarkan apa yang diucapkan Ranty tapi disisi lain ia masih belum percaya pada diri sendiri kalau Ranty yang dulu kini malah jadi madunya.


BRAK!


Suara Duan pintu memekakkan telinga dua wanita. Pintu itu di sepak dengan keras, dan dengan otomatis pintu yang tidak dikunci hanya ditutup terbuka begitu saja kerena tendangan yang keras.


Kedua wanita yang ada di dalam sangat terkejut sekali, matanya langsung melihat apa yang terjadi di depan mata. Wulan shock melihat kedatangan Anindya yang tiba tiba sekali, begitu juga dengan Ranty. Ia sama sekali tidak menduga kalau Anindya melakukannya.


"Nindy! Kamu itu apa apa an," terik Wulan yang langsung berdiri.


"Mama yang apa apa an? Mama kenapa harus ada disini," jerit Anindya gusar.


Wulan menatap wajah Ranty. Begitu juga dengan Ranty, mereka sama sekali tidak menduga kalau Anindya bakal menyusul.


"Apa kerena gambar ibu Ranty sama laki laki itu!" selidik Anindya menatap kedua wanita itu bergantian satu sama lainnya.

__ADS_1


Ranty menelan ludah.


"Itu hanya editing saja." elak Wulan menatap Ranty. Ranty hanya diam saja mendengar alasan yang keluar dari mulut Wulan. Ranty tahu kalau Wulan berusaha melindunginya.


Bukan melindungi Ranty mungkin tapi supaya tidak terjadi pertengkaran kembali.


"Kita pulang yuk!" ajak Wulan.


Wulan sebenarnya tidak ingin kalau Anindya melihat dirinya dan Ranty bertengkar itu saja, biarpun Wulan tahu kalau Anindya dan Riri tetap memusuhi itu sebenarnya tidak membuat hatinya nyaman.


Anindya menepiskan tangan Wulan..


"Kalian sebenarnya ngomongin apa sih!"


"Mama dan ibu Ranty nggak ngomong apa kok!" tegas Wulan sambil menatap wajah Anindya.


Anindya membalas tatapan mata Wulan. Mereka saling tatap satu sama lainnya, sedangkan Ranty hanya diam saja melihat mereka.saling tatap satu sama lainnya. Ia juga tidak berkomentar sama sekali atas kedatangan Anindya.


"Bu, jawab dengan jujur. Kenapa harus ibu yang jadi penghianat ayah, ayah sayang ibu sampai meninggalakan kami," keluh Anindya.


"Nindy kamu bicara apa, beliau gurumu!" teriak Wulan kaget atas apa yang diucapkan oleh Anindya.


Wulan shock sekali melihat Anindya seperti itu pada Ranty ya bagaimanapun Ranty ada gurunya di sekolah. Ranty hanya terdiam saja mendengarkan apa yang diucapkan oleh Wulan.


Ranty hanya menggigit bibir bagian bawah, Wulan hanya menganggap dirinya sebagai guru, tapi Ranty hanya tersenyum samar saja. Jadi selama pernikahan dengan Bayu, mungkin Wulan hanya menganggap dirinya guru dari Anindya dan teman di SMP nya.


Tapi bagaimana pun Ranty masih senang Wulan menganggap dirinya guru Anindya maupun teman Wulan biarpun getir sekali.


"Nggak apa apa kok!" senyum Ranty kecut.


"Tuh dia nya juga bilang nggak apa apa masa mama yang sewot," bela Anindya.


"Kak," bisik Ranty kembali.


Saat Ranty melihat Wulan akan angkat bicara lagi, Ranty mengelus tangan Wulan dengan cepat. Wulan hanya melirik Ranty, ia tidak suka Anindya menanyakan hal yang tidak perlu ditanyakan sama sekali pada Ranty apalagi tidak ada sangkut pautnya dengan sekolah.


Tapi Ranty dengan sabar meladeni Anindya. Melihat itu Wulan hanya geleng geleng kepal saja, tapi dalam hatinya ia mengakui kalau Rabu memiliki hati yang lembut dan sabar pantas kalau Bayu harus milihnya sebagai istri. Tapi kenapa harus Ranty yang jadi madunya, kenapa bukan yang lain?*

__ADS_1


__ADS_2