MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Slide Kehidupan Ranty


__ADS_3

"Mas, aku hamil!" teriak Ranty girang sekali.


Kabar bahagia itu langsung menghampiri telinga Bayu. Ranty langsung memperlihatkan alat tes kehamilan dihadapan suamianya, Bayu yang baru sampai di rumahnya langsung berseri seri mendapatkan kabar bahagia dari istrinya. Dengan cepat Ranty memberikan alat kehamilan itu kehadapan suaminya.


"Alhamdulillah," teriak Bayu bersorak kegirangan.


Bayu yang mendengar langsung jingkrak jingkrak seperti anak kecil yang diberi mainan oleh orang tuanya. Ranty tersenyum bahagia saat Bayu mengusap ngusap perutnya yang masih rata. Sejujurnya yang paling membahagiakan atas kehamilan itu adalah Ranty sendiri, kerena ia dari awal ingin punya anak.


Kalau saja Ageng tidak meninggal mungkin ia dan Ageng sekarang sudah memiliki anak yang lucu dan manis sekali, tapi Allah lebih sayang mereka, mereka diambil diwaktu yang sama. Tapi Ranty tidak mau terhanyut dalam memory yang lampau ia janji akan menjaga janin yang dikandungnya, ia tidak ingin kehilangan kembali, kehilangan malaikat kecilnya.


"Pokoknya kami banyak istirahat apalagi kamu hamil muda, jangan kerja berat berat," ingat Bayu mengelus pungung Ranty.


"Iya, mas." senyum Ranty bahagia sekali mendapat perhatian dari suaminya.


"Mas, bagaiamana dengan Wulan? Dan kedua putri mas?" ujar Ranty seketika ingat mereka..


"Nggak apa apa, tenang saja. Kamu jangan pikir kemana kemana yang penting kamu bersikap positif thingking saja." hibur Bayu sambil tersenyum menenangkan diri istrinya.


Bayu berusaha akan menyembunyikan kehamilan Ranty dihadapan anak anaknya dan istrinya. Bukan kerena ia takut tapi ia hanya ingin menjaga perasaan Wulan dan kedua anaknya saja, Ranty awalnya tidak setuju tapi Bayu menjelaskan secara jelas alasan yang ia pegang. Akhirnya Ranty mengangguk apa yang dikemukakan oleh Bayu.


Bayu janji akan cepat atau lambat akan memberitahukan semuanya pada kedua putri dan istrinya Wulan tapi bukan sekarang. Ranty hanya mendesah dan mengangguk saja ia bakal menuruti keinginan Bayu dan ia tidak bakal melakukan hal yang diluar dugaan Bayu.


Sore itu juga Bayu membawa Ranty ke klinik yang terdekat. Ranty tidak setuju kerena Bayu memaksa ingin melihat janin yang dikandung Ranty akhirnya sore itu mereka ke klinik untuk periksa. Ranty hanya tersenyum saja melihat Bayi seperti itu, tanpa menanyakan lagi Ranty tahu sebenarnya kalau Bayu sangat bahagia sekali, terlihat dari wajah Bayu yang berseri seri sekali.


Kerena masih muda sekali kehamilannya, jadi janin yang terlihat hanya sebesar kelereng yang meringkuk dalam rahim Ranty. Usia kandungan belum enam minggu, Bayu saat melihat janin yang dikandung Ranty matanya berkaca kaca terharu sekali.

__ADS_1


"Aku bakal menemani kamu saat lahiran nanti," bisik Bayu gembira sekali.


Ranty mengangguk bahagia.


Apa yang diinginkan manusia berbeda dengan keinginan Allah. Allah menguji manusia hanya ingin mengangkat derajat manusia begitu juga dengan yang dirasakan oleh Bayu dan Ranty sendiri. Mereka sangat bahagia atas kehamilan yang kini dijalani oleh Ranty. Bayu pikir dengan kehamilan Ranty akan membuat kedua putrinya luluh begitu juga dengan Wulan.


Dugaan Bayu melesat 100%. Entah siapa yang membocorkan kehamilan Ranty sampai Anindya dan Riri harus mendengar kabar bahagia itu.


Apa yang ditakutkan oleh Bayu pun terjadi juga. Ranty juga tidak bisa menghindar dari pertengkaran yang terjadi dengan Anindya. Ranty menjadi melempiaskan kemarahan Anindya di sekolah, dan yang lebih fatalnya lagi Anindya tidak bisa membandingkan mana pribadi dan bukan pribadi semuanya dilabrak oleh Anindya.


Bukan rahasia lagi. Anindya sering melakukan hal hal yang membuat Bayu sebagai Aya dan kepala sekolah hanya bisa geleng geleng kepala, melihat kelakuan Anindya seperti itu. Kejadian yang singkat yang telah melukai hati Ranty sebenarnya. Tapi wanita itu berusaha untuk bertahan atas kata kata yang dilontarkan oleh Anindya. Bukannya Ranty tidak marah, kecewa tapi bagaimana pun ia harus menahan semua amarahnya.


Ceritanya waktu pagi hari. Ya, Ranty datang lebih awal kerena ingin membereskan buku buku yang berserakan, kerena kemarin ia pulang ke rumah. Akhirnya paginya ia datang hanya untuk merapihkan buku buku sebelum ada siswa berkunjung ke perpustakaan.


"Jangan angkat yang berat berat," protes Bayu yang tiba tiba menghampiri Ranty yang sedang membereskan buku.


"Aku khawatir pada kamu. Boleh,kan aku bantu bereskan buku buku ini," kata Bayu sambil mengambil buku dan membereskan nya ke rak buku yang ada di dekatnya.


Melihat Bayi seperti itu sebenarnya Ranty serba salah. Bayu tidak mau kalau ia mengerjakan sesuatu yang berlebih sebenarnya ia mengerjakan pekerjaan seperti biasa tidak terlalu berlebih. Tapi Bayu sepertinya tidak mau Ranty melakukan aktivitas yang membahayakan janin yang dikandungnya.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat keduanya yang asyik bercanda. sepasang mata itu penuh dengan kebencian yang sangat mendalam, apalagi gadis itu melihat tangan laki laki itu mengelus lembut ke perut wanita itu!


Gadis itu benar benar geram seketika juga. Akhirnya gadis itu menghampiri keduanya dengan perasaan yang tidak karuan sama sekali. Seperti ada tsunami yang menerjang hatinya, tapi gadis remaja itu menhan dengan rasa geram nya.


"Oh! Mentang mentang mau punya bayi, di waktu kosong Kakan pacaran seperti tidak ada orang yang melihatnya," raung gadis itu dengan sinis.

__ADS_1


Matanya menatap dengan tajam dengan sinarnya yang merah, pipi yang putih terlihat bersemburat menghiasi wajahnya. Bayu dan Ranty terkejut seketika juga melihat kedatangan Anindya yang tiba tiba sekali. Tapi Ranty dengan lihainya bisa menguasai perasaan yang tiba tiba muncul seketika juga. Ia tersenyum lembut menatap wajah Anindya, ia langsung mendekati Anindya.


"Pinjam atau mau baca disini?" tanya Ranty.


"Bu, jangan berlagak sok suci. Sepagi ini bukannya untuk berduaan dengan laki laki, malah mengumbar kemesraan!" teriak Anindya geram seketika.


"Nindy!" potong Bayu cepat.


"Kenapa, Yah! Malu dilihat orang orang?"


"Nin!"


"Mas," Ranty langsung menyentuh tangan Bayu dengan cepatnya.


Hampir saja Bayi melayangkan tangannya kearah pipinya Anindya kalau saja Ranty tidak mencegah Bayu, mungkin pipi Anindya telah berwarna merah. Melihat itu Anindya sangat berang sekali pada ayahnya Bayu. Tanpa diduga sama sekali oleh Bayu dan Ranty, wanita itu tidak menduga sama sekali kalau Anindya bakal mendorong tubuhnya.


Otomatis pustakawan itu terjatuh membentur lemari buku. Bayu yang melihat itu shock seketika juga melihat apa yang dilakukan oleh Anindya terhadap Ranty. Ranty hanya meringis memegang pungungnya yang terasa sakit akibat terbentur.


"Nindy!"


Bayu berteriak. Dengan refleknya tangan Bayu melayang ke arah pipi Anindya. Beberapa kali tangan Bayu mendarat dengan bebas, sampai gadis itu terpekik kesakitan sambil menutupi wajahnya dengan tangan. Ranty yang melihat itu hanya diam saja ia tidak bisa melakukan apa apa pada Anindya sama sekali.


Anindya yang sama sekali tidak menduga kalau ayahnya akan melakukan itu hanya bisa menangis saja. Ia langsung tanpa permisi lagi pergi meninggalkan tempat itu.


Ranty yang melihat Anindya pergi hampir saja mengejarnya tapi Bayu menahan tangan Ranty.

__ADS_1


"Mas, apa yang lakukan mas sama Anindya? Mas kalau mas melakukan itu otomatis anindya bakal semakin membenci aku," protes Anindya yabgbtudsk suka cara Bayi pada putrinya.


Bayu tidak menyadari apa yan ia lakukan akan membuat Anindya membenci Ranty. Apa yang dipikirkan oleh Ranty memang benar juga, itu yang ia tidak inginkan dari Anindya. Tapi itu sudah terlanjur terjadi, Bayu hanya mendengus mendengarkan apa yang Ranty katakan padanya.*


__ADS_2