MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Pertanyaan Ranty


__ADS_3

"Kenapa?" tanya Bayu menghampiri Ranty yang berada di perpustakaan.


"Anindya emang nggak sekolah?"tanya Ranty bukan nya menjawab pertanyaan suaminya ia malah menanyakan tentang Anindya.


"Sekolah tadi berangkat!" seru Bayu menatap wajah Ranty heran.


"Anindya nggak masuk, kata Zahra. Tadi Zahra pinjam buku kesini. Zahra menanyakan padaku," jelas Ranty.


Bayu melonggo mendengar penjelasan dari Ranty. Ia sendiri yang melihat Anindya berangkat sekolah berangkatnya juga sebelum jam 07.00 sarapan juga tidak. Di suruh sarapan malah bilangnya ada pr yang lupa di kerjakan ia mau mengerjakan di sekolah dengan Zahra.


Mendengarkan penjelasan Bayu, Ranty diam seketika hatinya merasa bersalah pasti kejadiannya kemarin tentang perselingkuhan. Ranty sudah menjelaskan kalau ia benar benar tidak selingkuh dsn bayi yang ia kandung adalah anaknya Bayu adik Anindya tapi gadis itu tidak percaya.


Ranty hanya menelan ludah dengan susah payah. Melihat Ranty terdiam seketika Bayi.menywntuh bahunya dengan lembut. Tapi Ranty hanya diam saja, mendapat sentuhan dari Bayu.


"Mas, jangan jangan gara gara kemarin," dengus Ranty.


"Kamu sabar ya jangan dimasuki hati, nanti aku bicara sam Anindya. Aku heran kenapa ia menuduh kamu selingkuh?" tanya Bayu aneh..


"Entah mas, aku juga nggak tahu apa apa masalah itu. Apa mungkin?" ujar Ranty tersendat.


Ia tidak.meneruskan kata katanya takut sang suami marah padanya, tapi Bayu menatap ingin tahu apa yang ingin Ranty ucapakan dihadapannya. Tapi Ranty hanya mengelangkan kepalanya saja, tudks mau bicara apa apa.


"Aku nggak baka marah, teruskan apa yang kamu ingin bicarakan," suara Bayu lembut. Ia menggeser duduknya dekat dengan Ranty,


Wanita itu menghela nafas panjang mendengar Bayu seperti itu.


"Apa mungkin Zoya melakukan itu mas," lirih Ranty.


Bayu yang mendengar suara lirih Ranty langsung memengang tangan Ranty dengan lembut ya biarpun hatinya juga mengatakan begitu tapi ia tidak langsung menuduh Zoya dihadapannya Ranty.


"Entah!"

__ADS_1


"Maafkan aku, mas."


"Nggak apa apa Ran, kita bakal tahu apa yang terjadi kamu sabar ya."


Ranty hanya mengangguk saja mendengar Bayu mengatakan itu, ia mengusap punggung Rabty dengan lembut tapi wanita itu hanya diam saja mendapat sentuhan dari suamianya. Sebenarnya hatinya sejak tadi sangat gelisah memikirkan Anindya, ya biarpun gadis itu seperti itu lagi tapi ia nyakin kalau suatu waktu Anindya bakal tahu masalah dan kebenarannya.


"Mas, apa yang dikatakan Zoya dan Anindya benar. Lebih baik kita pisah saja!" gumam Ranty pasrah.


"Ranty!" teriak Bayu kaget.


"Kamu jangan semudah itu mengatakan kata kata itu, kita punya anak." sembur Bayu melanjutkan kata katanya.


"Tapi, mas?"


"Nggak, aku nggak akan mengucapakan kata kata itu. Kamu sabar sedikit lagi!" bujuk Bayu..


"Sampai kapan, mas," Rajuk Ranty langsung beranjak dari duduknya. Ia berjalan menuju tak buku di sebelah kiri.


"Ran,"


"Mas, kamu gampang bilang sabar tapi kenyataannya tidak ada penyelesaian yang baik buat kita," kata Rabty putus asa.


"Ran!"


"Mas, aku nggak mau dengar lagu apa yang kamu omongkan, aku hanya ingin menyelesaikan semuanya," getir Rabty menahan emosi yang tiba tiba memuncak seketika juga.


Sebelum Bayu angkat bicara wanita itu langsung meninggalkan Bayu di ruang perpustakaan, menuju parkiran motor tapi sebelum itu ia mengambil tas nya yang ada diatas meja.


Melihat itu Bayi mengejarnya. Ia langsung menghalangi Rabty untuk meninggalkan sekolah. Tapi Rabty dengan cepatnya berusaha menghindar dari kejaran Bayu. Untung keadaan sekolah sepi kerena semua siswa pada belajar di kelas masing masing. Otomatis kejadian itu tidak terlihat oleh siswa dan siswi sekolahan.


"Lepaskan!" jerit Ranty menepiskan tangan Bayu yang akan memengang tangannya. Ranty langsung menuju parkiran motor.

__ADS_1


Ranty langsung pulang ke rumahnya. Sedangkan Bayu menatap kepergian Ranty. Ia hanya menghela nafas panjang melihat Ranty seperti itu, kerena rasa cemas memikirkan Ranty akhirnya Bayu Oun mengikuti Ranty pulang ke rumah dimana Ranty tuju.


Mbok Inem yang melihat Ranty pulang pagi hanya menatap heran sekali, tapi Ranty tidak mengubris pertanyaan mbok inem yang sedang menyelesaikan menyapu di halaman rumah. Melihat majikan seperti itu hanya menghela nafas, ia menduga kalau majikannya pasti bertengkar dengan anak sambungnya.


Tapi dugaan mbok Inem salah, memang pemicunya Anidnya tidak sekolah, Ranty sebenarnya punya keinginan kuat untuk mennayakan tentang kejadian kemarin tapi kenyataannya malah gadis itu tidak sekolah, dan sebenarnya pemicunya hanya itu saja.


Dan kedatangan Bayu ke perpustakaan itu jalan ia mengungkapkan kalau ia ingin pisah dengan Bayu tapi pria itu menentangnya. Dan Bayu malah ingin mempertahankan ya, yang membuat Ranty tidak berpikir sehat lagi.


Ya Ranty sebenarnya berpikir kalau misal ia ceria dengan Bayu ia bisa hidup bersama anak yang bakal ia lahirkan dan selesai masalah yang ada. Ranty tidak pernah berpikir masalah yang akan hadir dalam perceraian yang terjadi pada dirinya kalau sampai Bayu menceraikannya.


Ranty langsung masuk kamar, dan duduk di kursi depan meja komputer.


'Apa sih susahnya bilang talak," bisik Ranty perih.


Pikiran buruk itu tiba tiba datang dalam benaknya dsn ia malah menyusunnya. Kalau misal ia ditalak oleh Bayu ia bakal menghidupi anak yang bakal lahir dalam rahimnya. Ranty berpikir akan mampu hidup sendirian tanpa di dampingi suaminya.


Tapi tiba tiba terdengar ketukan dari pintunya dan suara mbok Inem yang memanggil namanya. Ranty dengan malas langsung membuka pintu, saat pintunya terbuka bukan hanya mbok Inem saja yang berdiri tapi Bayu juga berdiri disana. Tanpa menunggu waktu lagi Bayu masuk kamar, biarpun Rabty berusaha untuk menutup kembali pintunya tapi kekuatannya kalah.


Mbok Inem langsung pergi dari tempat itu, dan Bayi pun masuk mengikuti Ranty. Ranty langsung menghempaskan punggungnya di kursi yang tadi ia duduki sedangkan Bayi duduk di tepi ranjang.


"Buat apa kesini?" sembur Ranty ketus.


"Aku khawatir sam kamu?" jawab Bayu.


"Kenapa sih mas nggak menyalak aku?" tanya Ranty emosi.


"Ran, nggak pantas kamu menyebutkan kata itu. Sampai kapanpun aku nggak akan menyebut nama itu dihadapan mu maupun di belakang kamu!" teriak Bayu kaget.


Ia benar benar tudks menyangka wanita yang selama ini menemani dirinya bakal mengatakan itu padanya, Ia sedikit kecewa pada Ranty. Bukan Bayi membandingkan dengan Wulan, selam ini Wulan belum.leensh mengucapakan kata itu di hadapannya, biarpun masalah menyelimuti hatinya.


"Kita bisa melewati ini Ran.

__ADS_1


Ranty hanya membisu, cairan bening keluar dari pelupuk matanya. Bayu mendekati dsn mengusap cairan bening itu diwajah Ranty, wanita itu hanya diam saja.*


__ADS_2