MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Keanehan Anindya


__ADS_3

Anindya hanya termenung di ruangan kelasnya. Cerita dari ibu Ranty membuat hatinya gerimis mendengarnya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau kehidupan gurunya penuh dengan lika liku. Tatapan matanya hanya terpaku pada papan tulis yang kemarin yang penuh dengan tulisan guru mapel. 


Anindya memutar kilas masa lalunya,  pertama kali ayahnya meminta izin akan menikah dengan seorang wanita yang menjadi teman mamanya Wulan. 


Waktu itu ia dan keluarga sudah berkumpul di ruang tamu, pertemuan mendadak itu membuat dirinya terguncang waktu itu, tapi saat ia melihat roman muka Riri, Anindya hanya bisa menghela nafas. Begitu juga dengan mamanya hanya diam saja, ia sendiri pertama kali yang berontak tidak mau Bayu menikah dengan teman mamanya. Apalagi saat ia tahu kalau teman mamanya itu adalah Ranty. 


Ia hanya mengelengkan kepala waktu itu, ya hanya dirinya yang berontak sedangkan Wulan dan Riri hanya diam membisu tanpa bisa bicara apa apa. 


Ruangan tamu yang sejuk terasa panas sekali itu yang dirasakan oleh Anindya. 


"Kenapa ayah menikah lagi?" Tanya Anindya waktu itu memberanikan menatap wajah Bayu. 


"Apa kerena ayah ingin punya anak lagi, kerena mama keguguran gara gara aku?" Lanjut Anindya masih menatap wajah ayahnya. 


Anindya melihat ayahnya hanya menunduk saja, sedangkan ia mendengar helaan nafas Wulan dsn Riri, Anindya merasa heran pada kedua wanita itu hanya diam tanpa bergeming sama sekali, seperti menganggap semuanya lelucon saja. 


"Ayah, mencintai Ranty. Maaf kan ayah, kerena ayah telah melukai kamu, kakakmu dan mama kamu," ujar ayah membalas tatapan mata Anindya. 


Mendengar kata kata Bayu yang lembut, tapi menghujam hatinya membuat Anindya tidak bisa menahan emosi nya. 


"Ayah! Kurangnya mama Dimata ayah itu apa? Dan sekarang ayah malah menikah dengan wanita itu!" Teriak Anindya emosi. 


Ia berdiri dengan emosi yang meledak ledak mendengar sebuah pengakuan ayahnya membuat ia berang sekali, apalagi wanita yang akan ayah nikahi adalah gurunya, ia otomatis tidak bisa menerimanya. Ia malu sekali kalau mendengar kata kata orang lain tentang ayah menikah dengan gurunya sendiri apalagi gurunya satu sekolah. 


Ya Anindya tidak bisa menerima sama sekali, kelakuan ayahnya Bayu yang meninggalkan mamanya. 

__ADS_1


Wulan dan kakaknya  yang melihat Anindya marah terhadap ayahnya, Riri dan Wulan langsung berdiri dan memegang tangan Anindya yang benar benar hampir melayangkan tangan ke wajah Bayu. Untungnya Riri  dengan sigap nya langsung memeluk tubuh adiknya dengan lembut sekali. 


"Sabar de, kamu belum mengerti." Bisik Riri. 


Sambil merangkul tubuh Anindya dengan eratnya. Tapi Anindya memberontak ia tidak suka kata kata kakaknya. Menurut nya kata kata kakak nya seperti memberikan peluang pada Ranty dan Bayu menikah. 


Rangkulan Riri terlepas, Anindya yang masih emosi membalikkan badannya ke hadapan kakaknya. 


"Kakak bilang sabar! Sabar bagaimana kak? Kakak kaya nggak bisa ngerasain perasaan mama!" Sembur Anindya kasar. 


PLAK! 


Sebuah tamparan dengan tepat mengenai wajah kakaknya. Riri menjerit saat sebuah tamparan mengenai wajahnya, ia tudks.mwnyangka kalau adiknya menampar pipinya. Riri hanya bisa meringis kesakitan sekali, dan ia merasakan pipinya panas. 


"Anindya! Kamu ini kenapa sampai memukul kakakmu?" Teriak Wulan gemas melihat putri keduanya yang menampar wajah anak pertamanya. 


Riri langsung menubruk tubuh Anindya gadis itu memeluk adiknya dengan erat sekali, Wulan hanya melihat diam saja. Anindya yang tidak menyangka kakaknya melakukan itu hanya tertegun melihat kelakuan kakaknya seperti itu.


Ditambah lagi ia tadi menampar muka Riri dengan kerasnya, tapi kakaknya tidak membalas apa yang ia lakukan malah Riri memeluk tubuh Anindya dengan erat sekali. Anindya ingin melepaskan pelukan kakaknya tapi sang kakak tidak mau melepaskan pelukan adiknya, akhirnya Anindya hanya diam saja mematung sedangkan hatinya bertanya tanya apa yang sebenarnya terjadi. 


Tapi sampai sekarang ia tidak tahu apa arti dalam pelukan Riri, sampai suatu waktu Riri menunjukan sikap memusuhi Ranty. Sebenarnya ada kendaraan yang menyelinap dalam hatinya saat sang kakak memusuhi Ranty, tapi pertanyaan itu tidak pernah ia lontarkan kerena kelakuan Riri terlalu jahat. Ia tidak ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan sekarang yang dipikirkan Anindya hanya itu. 


Apalagi ditambah cerita tentang Zoya yang membuat ia sangat terkejut sekali. Dan Anindya nyangka kalau Zoya mata mata saja hanya ingin tahu urusan orang lain.


"Ibu nyakin perubahan kakakmu itu kerena Zoya." Terdengar suara ibu Ranty terhiang hiang ditelinga Anindya. 

__ADS_1


Apalagi cerita gurunya tentang Zoya yang selalu menghasut Riri. Ya gadis itu hanya terdiam saja waktu ibu Ranty menceritakan semuanya tentang Zoya. 


"Nindy, kenapa? Ada masalah?" Tiba tiba Zahra menghampiri Anindya yang masih duduk di kursinya. 


Zahra dari tadi memperhatikan Anindya yang sepertinya sedang ada masalah, ia menghampiri Anindya dsn menyentuh bahu Nindy dengan lembut sekali. 


"Ng..nggak kok!" Gugup Anindya pada Zahra. 


Ia sangat terkejut saat ia melamun muncul Zahra tanpa ia ketahui sama sekali. Anindya hanya tersenyum tipis melihat Zahra duduk disampingnya. 


"Kamu kenapa melamun? Ceritakan lah!" Ujar Zahra. 


"Jangan-jangan kamu diputuskan sama Hadi ya?" Celetuk Zahra. 


"Nggak lah aku masih pacaran sama dirinya, kamu ngarep aku putus sama jadi?" Tanya Anindya menatap wajah Zahra. 


Elak Anindya sambil memeluk bahu Zahra, ya selama ini ia dan Hadi pacaran tidak pernah ada keributan sama sekali. Malah Anindya dan Hadi makin akrab saja, kedua orang tua mereka juga sudah tahu apalagi Wulan dan Sinta adalah teman waktu SMU. Meraka malah mendukung Anindya dan Hadi akrab untuk mengenal lebih dekat lagi. 


Dan sekarang Zahra malah bercanda ia melamun gara gara diputus sama Hadi. Ya tidak lah Anindya sampai sekarang masih ada hubungan khusus. 


"Tapi kenapa melamun, aku kira masalah sama Hadi?" 


"Ibu Ranty, kak Riri dan kak Zoya." Kata Anidnya menyambut tiga orang nama itu dihadapan Zahra. 


Zahra mengkerutkan wajahnya mendengar satu nama yang tidak pernah ia dengar lewat ditelinga dirinya. Anindya menghela nafas panjang lalu dihembuskan secara kasar, melihat kerutan keheranan dari wajah Zahra. Memang selama ini Anindya belum pernah menyebut nama Zoya, kerena ia juga baru tahu kalau ada nama Zoya di dunia ini. 

__ADS_1


Sebelum Anindya angkat bicara bwl masuk telah berbunyi dengan nyarinya memberi tahu kalau jam pelajaran bakal dimulai. Akhirnya Zahra dan Anindya yang bicara menghentikan obrolannya, apalagi guru mapel telah datang dan memberikan pelajaran hari itu. 


Mau tidak mau akhirnya keduanya harus mengerjakan pelajaran yang diberikan oleh guru mapel. Ya biarpun Anindya ingin sekali menceritakan tentang kakaknya pada Zahra. Ia bukan menceritakan apa yang diceritakan oleh ibu Ranty.*


__ADS_2