
Semenjak Bayu ayahnya menikah lagi. Bukan hanya Anindya yang terpuruk Riri lebih parah lagi. Kalau Anindya terpuruknya lebih melempiaskan kemarahannya pada Ranty sedangkan Riri benda lagi.
Kehidupan kota tempat ia kuliah dijadikan melempiaskan kemarahannya. Rara tidak peduli dalam kehidupan yang lurus sesuai tuntutan norma agama yang dianutnya. Ia benar benar goyah dan tidak terkontrol, Wulan yang melihat itu juga frustasi melihat keadaan putri pertamanya. Wulan sangat sedih sekali, dampak pernikahan Bayi yang membuat keluarga yang harmonis terlihat kacau sekali.
Riri dan Anindya yang seharusnya mendapatkan kasih sayang lengkap kini hanya kehampaan yang ada dalam hatinya. Anindya yang seharusnya mendapatkan semuanya kini terpuruk, antara benci dan cinta pada ayahnya.
Riri apalagi. Beberapa kali ia bertengkar dengan Bayu, harapan kali juga pipinya dijadikan bogem ayahnya. Tapi Riri tidak kapok, ia seperti tidak merasakan sakit, ya dibandingkan dengan sakit hatinya. Hatinya lebih sakit dan perih melihat yang Bayu lakukan pada keluarganya.
Riri beberapa kali juga terlihat menyakiti Ranty, tapi biarpun begitu ia tidak kapok apalagi saat ia mendengar wanita itu hamil. la benar benar sangat geram sekali mendengar kenyataan yang ada, ia kelimpungan.
Dan yang lebih sakitnya saat ia melihat Bayu mengelus perut wanita itu dihadapannya. Bukan dihadapannya sih! Tanpa sengaja ia lewat di depan rumah wanita itu. Hatinya sangat terbakar sekali, apalagi melihat senyuman wanita itu rasanya ia ingin merobek bibir wanita itu.
Ya Riri melihat senyuman keduanya sangat bahagia, ia iri melihat semuanya kenapa tidak ada dalam keluarganya sedangkan laki laki itu adalah ayahnya. Ayah kandung yang seharusnya memberikan kebahagiaan pada dirinya, adik dan mama.
Riri waktu itu langsung meninggalkan tempat itu. Ia tidak mau berlama la melihat kebahagiaan keduanya diatas penderitaan yang mama alami.
Sampai di rumah Riri langsung melampiaskan pada barang barang yang ada di kamarnya. Semua buku yang ada di kamarnya di buang begitu saja, lemari di pukul dengan kayu.
Wulan yang melihat itu shock!
"Ri, ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Wulan histeris melihat semua barang barang berserakan di kamar Riri..
"Ma, kenapa sih ayah begitu kenapa ma!" jerit Riri langsung menangis di pelukan Wulan.
Wulan memeluk dengan erat putri pertamanya. Anindya yang baru dari rumah Zahra menatap keduanya yang saling berpelukan satu sam lainnya. Perasaannya mengatakan kalau ada sesuatu yang terjadi, apa yang dipikirkan oleh Anindya benar saja. Anindya hanya bisa terdiam dan masuk ke dalam kabar.
__ADS_1
Anindya mengorek keterangan dari sanalah ia mengerti kalau kakaknya pasti kecewa pada ayahnya. Bukan Riri saja tapi Anindya juga sebenarnya tidak punya pegangan yang berarti sama sekali.
Anindya hanya bisa termenung saja, saat Wulan menceritakan tentang Bayu, awalnya Wulan tidak akan cerita apa apa pada Anindya tapi gadis itu mendesaknya. Wulan akhirnya terbuka Maslah kehamilan Ranty, Anindya hanya terdiam tidak bergeming sama sekali mendengar kehamilan Ranty dari Wulan.
'Ya Allah kenapa harus dia yang hamil? Kenapa bukan mama saja yang hamil dari ayah,' bisik Anindya dalam hatinya.
Sejujurnya mendengar Ranty hamil bagaikan halilintar disiang bolong kerena Anindya sama sekali tidak mengharapakan apa pa dari wanita itu dan ayahnya tapi kenyataan yang ada lain.
Seharusnya kabar itu kabar bahagia. Tapi bagi Riri maupun Anindya kabar itu bagaikan kiamat yang akan terjadi. Mereka membanyangkan kebahagiaan keluarga ayah yang lain, berbalik dengan kebahagiaan yang hampa pada keluarganya mama.
"Ri, lo ngelamun mikirin apa sih!" usik Zoya menepuk bahu Riri yang duduk di teras rumah kost.
"Lo, jangan mikir macam macam deh! Lo seharusnya bikin perhitungan dengan wanita itu," cerocos Zoya pada Riri.
Zoya tersenyum sinis melihat ledakan amarah Riri. Riri tidak tahu apa yang akan Zoya lakukan untuk dirinya dan Ranty. Zoya bersorak sebenarnya dalam hati kerena ia mendapatkan mangsa yang tidak akan susah dipermainkan olehnya.
Wanita itu merangkul tubuh Riri dengan hangatnya. Sedangkan Riri hanya mengangguk atas yang diucapkan Zoya, tiba tiba Aisyah muncul dengan wajah tidak suka pada Zoya.
"Zoy, jangan hasut Riri! kamu mau apa sih menghasut Riri," teriak Aisyah.
Wanita usia sebaya dengan Riri langsung menghampiri Zoya yang duduk bersama dengan Riri. Aisyah langsung menatap tepat ke wajah Zoya.
"Alaaah Lo mau jadi pahlawan kesiangan. Lo nggak kenal kan sam yang namanya Ranty. Pelakor kelas teri," ejek Zoya dengan sinis membalas tatapan Aisyah.
"Biarpun nggak kenal juga, aku cuma mengingatkan kamu saja Ri!"
__ADS_1
"Kalian kenapa sih bukannya membantu aku keluar dari masalah malah menambah masalah lagi!" teriak Riri langsung meninggalakan keduanya temannya.
Aisyah langsung meraih tangan Riri tapi gadis itu menepiskan tangan Aisyah dengan cepat sekali. Zoya mencipir kearah Aisyah, ia mengikuti Riri. Sedangkan Aisyah hanya diam saja melihat tingkah laku Riri.
'Aku nggak ingin kalau Riri membenci Ranty. Memang benar aku nggak kenal dengan Ranty, tapi seenggaknya aku bantu Riri untuk menerima apa yang telah ditentukan olehNya,' bisik Aisyah.
Orang yang dipikirkan oleh Aisyah kini sedang termenung di kamarnya. Ia tidak menyangka kalau Bayu bakal melakukan kekerasan pada Anindya putri bungsunya. Ia sebenarnya telah berusaha untuk melerai tapi Bayu dan Anindya tidak bisa dilerai. Sampai sekarang Anindya masih belum bisa menerimanya.
Ranty mengusap cairan bening yang jatuh dari pipinya. Secara reflek ia mengusap perutnya yang tiba tiba terasa mengeras sekali, ia berusaha menahan sakit yang mendera yang berpusat di bawah perut, seperti datang bulan.
Ranty sebenarnya tidak bisa mengelak dari pernikahan dengan Bayu. Ia menikah dengan Bayu bukan kerena ekonomi yang Bayu bangun bersama Wulan bukan. Ia hanya merindukan sosok seorang laki laki yang bisa melindungi dirinya, itu hanya terdapat pada Bayi gurunya di SMP sekaligus kepala sekolah.
Hanya itu yang Ranty lihat. Tapi sejak ia menikahi Bayu banyak kabar burung yang mengatakan kalau ia juga merebut semua kekayaan Bayu dengan Wulan. Itu yang Ranty tidak inginkan, kerena ia Sam sekali tidak merasakan semuanya.
Hatinya sakit sekali. Tapi mau bagaimana lagi, mengikuti anjuran kedua putrinya Bayu itu tidak mungkin sama sekali, sebenarnya bisa saja mereka bercerai tapi anak dalam kandungannya butuh kasih sayang ayahnya?
Ranty hanya mendesah beberapa kali seperti mengeluarkan beban yang menghimpit hatinya. Ia sama sekali tidak bisa berkutik lagi, dan sadar tidak sadar ia juga harus mengikuti kehidupan Bayu dan istrinya.
"Kamu telah pikirkan masalah masak semua yang bakal terjadi?" kata Ratna menepuk tangan Ranty lembut.
Suara Ratna sahabatnya terhiang hiang kembali ditelinga nya. Ketika ia menceritakan kalau akan menerima lamaran Bayu.
Awalnya Ratna tidak setuju dengan keputusan yang diambil oleh sahabatnya untuk menikah dengan Bayu. Tapi mendengar alasan Ranty, Ratna hanya bisa mengingatkan resiko menjadi istri kedua dalam pernikahan.
Apalagi menikah dengan pengawai negeri seperti Bayu. Waktu itu Ranty hanya mengangguk dan tersenyum saja saat Ratna mengingatkan.*
__ADS_1