
"Ayo! Ran diminum minumannya mumpung hangat, dan maaf hanya alakadar saat,"kata Wulan mempersilahkan adik kelasnya waktu sekolah.
"Makasih, kak." Ujar Ranty sambil menyeruput minuman yang telah ada di hadapannya.
"Ayo, Nin apa alasan yang kamu ingin bicarakan," suruh Wulan memberikan kesempatan pada Anindya putrinya.
Anindya yang sejak tadi diam saja hanya diam saja kini terlihat menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskan secara lembut. Ditatapnya wajah ayah yang sejak tadi berdiri di tempatnya.
"Aku nggak sekolah kerena ibu Ranty nggak sekolah, aku mau pinjam buku di perpustakaan juga susah. Apalagi buku yang harus di pinjam banyak, kenapa sih ayah nggak negur ibu Ranty?" Suara Anindya pelan tapi tegas terdengar oleh ketiganya.
"Ayah menyuruh ibu Ranty untuk menghadiri kegiatan di tiga tempat yang berbeda, masa kamu gara gara itu nggak sekolah sih!" Suara Bayu tinggi.
Bayu langsung melirik Ranty, ya seharusnya Ranty yang menjawabnya pertanyaan dari Anindya. Bayu menghela nafas mendengar alasan yang tidak masuk akal Anindya, ada ada aja.
Sebenarnya Ranty akan menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Anindya, tapi keburu Bayu yang bicara pada Anindya. Akhirnya ia diam saja mendengarkan apa yang Bayu katakan.
"Itu cuma alasan kamu keren sebenarnya kamu nggak mau sekolah," lanjut Bayu kasar.
"Pak, mas!" Ranty dan Wulan bersamaan. Hanya penyebutan dari kedua wanita yang berbeda.
Wulan langsung dengan cepat mendekati Bayu, diusap bahu laki laki kekar itu dengan lembut.
"Mas, kamu duduk yuk!" Ajak Wulan.
Bayu akhirnya mengikuti ajakan Wulan untuk duduk di antara mereka, ya kerena tadi Bayu hanya berdiri saja.
Anindya hanya menunduk mendengarkan teriakan ayahnya, tapi Ranty dengan cepat merangkul tubuh gadis ABG itu dengan lembut. Sebenarnya hati Ranty juga menolak kalau Bayu berkata seperti itu, ia kesal sama suaminya. Tapi perasaan itu ia tekan saja, ia hanya mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Kamu sebenarnya ingin kaya kakak kamu itu kan?" Ketus Bayu menatap Bayu.
"Ayah kenapa ayah menuduh aku seperti itu? Tanya Anindya matanya berkaca kaca mendengar tuduhan ayahnya.
"Pak sudah!" Ranty langsung bicara.
Saat ia melihat Bayi akan angkat bicara, ia tidak Bayu menuduh Anindya yangbtidak tidak. Bayu melirik wajah Ranty, keduanya saling menatap.
"Ini masalah kecil jangan dibesar besarkan, dengarkan alasan Anindya jangan mengunakan emosi, tapi mengunakan perasan biar nggak ada.." Ranty bicara lembut.
__ADS_1
"Kamu belaan Anindya, indah tahu salah main kabur ke sekolah tapi kamu malah seperti mendukung nya!" Teriak Bayu marah.
"Mas!" Kata Wulan menyanggah kata-kata Bayu.
"Ayah nggak mau dengerin semuanya yang aku bilang! Ayah egois!" Terima Anindya langsung pergi begitu saja dari hadapan tiga orang.
Bay yang masih emosi hampir saja mengejar Anindya tapi Wulan dengan cepat langsung menghalangi Bayu, ia tidak ingin kalau putrinya dan suaminya bertengkar.
Melihat itu Ranty langsung menyusul Anindya, gadis ABG itu langsung masuk ke kamar tapi sebelum Anindya masuk Ranty lebih dulu mengejar dan memegang tangannya.
Anindya melepaskan ngengaman Ranty tapi Ranty tidak begitu saj melepaskan ngengaman tangan Anindya.
"Maafkan ayah, Anindya. Kita ngobrol di luar yuk!" Ajak Ranty lembut.
"Bu, kenapa ayah nggak mau dengerin aku, ayah!" Ujar Anindya menatap wajah Ranty.
"Bukan nggak mau dengerin, ayah kamu cape mungkin jadi bawaan marah marah saja," hibur Ranty.
Akhirnya mereka menuju teras rumah, di tempat itu udaranya sejuk sekali kerena di halaman ada pohon mangga yang rindang sekali.
"Ibu bilang sama ayah ya, kalau aku malas sekolah kalau nggak ada ibu. Nggak seru, ya biarpun kita selalu berantem," lirih Anindya.
"Nggak aja sih! Tapi seru juga," senyum Anindya.
"Terus selama ini nggak ada kamu ngapain aja di sekolah?" Korek Ranty.
"Bolos aja." Jawab Anindya polos.
"Aku suka sama ibu, tapi kenapa ibu harus merebut ayah," latih Anindya menunduk.
Ranty hanya diam saja mendengarkan keluh kesah dari Anindya, hanya sekali kali menarik nafas lalu dihembuskan kembali. Ditatap wajah gadis yang disampingnya dengan perasaan lembut. Sebenarnya apa yang dirasakan gadis ABG itu, ia juga merasakan.
Ranty kadang suka seperti Anindya kalau misal Anindya sakit, ia sebenarnya ingin mendampingi Anindya tapi keberadaan nya takut diperselisihkan oleh Bayu maupun Wulan dan itu yang tidak ingin terjadi.
Hanya saja kalau ia lebih menahan perasan pada Anindya, ia sayang sama Anindya lebih dari segalanya. Tapi untuk mengungkapkan ia masih ragu sekali, Ranty lanhsung merangkul pundak Anindya lembut.
"Nin, biarpun nggak ada ibu kamu harus sekolah apa lagi kamu sekarang kelas 3, sebentar lagi ujian nggak lama kok." Nasehat Ranty.
__ADS_1
"Iya Bu, tapi ibu janji sekolah juga."
"Nggak ah ibu nggak mau sekolah nggak naik naik kelas," canda Ranty tertawa.
Anindya juga ikut tertawa,emdengar Ranty tertawa. Ia begitu nyaman sekali. Tanpa mereka sadari Bayu menatap keduanya, hatinya berdesir halus melihat keintiman keduanya. Di belakang Bayu ada Wulan yang manatap keakraban mereka, hatinya mengakui kalau memang Anindya dan Ranty akrab.
Tapi Wulan langsung menepiskan kecemburuannya.'Mereka hanya sepasang guru dan murid,'bisik nya perih.
"O,ya Nin, ibu sekarang pulang, kamu baik baik saja disini." Kata Ranty pamit pada Anindya.
Ranty langsung beranjak dari tempat duduknya, tapi langkahnya dicegah oleh Anindya. Gadis itu meraih tangan Ranty dengan erat sekali, Ranty yang awalnya akan melangkah langsung berhenti saat tangannya dirasa dipengang oleh Anindya.
Gadis ABG itu langsung berdiri di samping Ranty.
"Bu, sholat disini juga boleh kok, kan bentar lagi dzuhur." Pinta Anindya menatap wajah Ranty.
"Maaf ya, Nin. Ibu sholat di rumah saja, waktunya masih beberapa menit lagi kok." Elak Ranty.
Anindya langsung melepaskan tangan Ranty, ia mengangguk malas. Ranty meraih bahu Anindya lembut.
"Kamu belajar ya jangan bikin ayahmu marah lagi," ujar Ranty lirih.
Anindya hanya mengangguk. Ranty yang tudks menyadari ada bau dan wulan langsung pergi begitu saja.
"Ran!" Panggil Bayu.
Ranty menghentikan langkahnya, membalikan tubuhnya melihat bayi yang memanggil namanya, begitu juga dengan Anindya yang masih ditempat itu.
Keduanya tertegun sejenak kerena tidak menyangka kalau Bayu dan Wulan dari tad ia memperhatikan mereka.
Bayu yang melihat Ranty berhenti, langsung mendekati Ranty.
"Aku antar ya!" Pinta Bayu perhatian.
Bukannya langsung menjawab pertanyaan Bayu, Ranty melirik Anindya dan Wulan yang masih ada ditempat sambil menatap keduanya.
"Nggak mas, aku pulang sendiri saja. Mas, lebih baik disini saja, jagain Anindya." Tolak halus Ranty.
__ADS_1
Wanita itu langsung menuju motornya yang diparkiran. Bayu hanya menatap kepergian Ranty, sedangkan dua wanita yang berbeda hanya menghela nafas panjang melihat Bayu yang sepertinya agak kecewa kerena Ranty menolak Bayu untuk mengantarkan pulang.
Anindya langsung masuk kamar dan mwgunci diri di dalam sedangkan Wulan pun masuk kamar sendiri diikuti oleh suamianya.*