
Hari Senin
Seminggu Ranty istirahat di rumah. Otomatis ruangan perpustakaan tidak dibuka selama itu, dan ini hari ke delapan ia masuk kembali ke sekolah.
Biarpun Bayu melarang untuk tidak masuk, kerena ia tahu kewajiban sebagai pustakawan tidak enak meninggalkan perpustakaan terlalu lama sekali.
Awalnya sih Ranty ingin sekolah setelah sehari pulang sekolah, tapi Bayu melarang Ranty kerena melihat kondisi Ranty belum stabil untuk pergi ke sekolah. Ranty menurut akhirnya kerena Bayu memang benar benar tidak mengizinkan dirinya sekolah dalam kondisi seperti itu.
"Alhamdulillah, ibu udah baikan," seru Zahra tersenyum.
Gadis itu mendengar kalau ibu gurunya sejak kejadian itu langsung masuk ke Alinda, ia langsung ke Alinda paginya, biarpun tubuhnya masih terasa sakit akibat tendangan dan pukulan Riri. Bapaknya Zahra sebenarnya sudah melarang putrinya untuk menjenguk ibu gurunya tapi gadis manis itu kekeh untuk menjenguk. Akhirnya mau tidak mau bapaknya mengantarkan kerena ia tidak ingin anaknya kenal kenapa.
"Alhamdulillah baik, gimana dengan kamu," ujar Ranty tersenyum.
Hatinya hanya bisa merintih sakit.
'Seharusnya Anindya seperti ini ya Allah,' gumam hati Ranty getir.
Kalau mau jujur Ranty ingin Anindya menanyakan kabar dirinya. Tapi Ranty tidak menemukan Anindya bersama dengan Zahra, Ranty ingin menanyakan pada Zahra tentang Anindya tapi bel masuk keburu berbunyi. Ranty mengurungkan niatnya untuk tanya tentang Anindya pada Zahra, kerena Zahra langsung menuju kelasnya ketika mendengar bel masuk berbunyi.
Ranty langsung menuju perpustakaan, saat pintu perpustakaan terbuka tercium aroma pengap, dan di sana sini banyak debu yang menempel. Untung seminggu yang lalu ia membereskan semua buku yang berserakan, jadi ia sekarang tinggal menyapu debu yang menempel.
Anindya.
Keputusan ayah sudah final. Bukan aku tidak bisa mengingat ayah menikahi janda yang ditinggal mati oleh suaminya. Bukan masalah ayah menikah dengan janda bukan, tapi disamping ayah ada mama yang selalu sayang dan mencintai ayah secara tulus.
Coba apa motif ayah menikahi janda yang ditinggal mati suaminya, sedangkan mama masih hidup. masih untung kalau mama telah meninggal kan diri ayah, apa yang terjadi sebenarnya pada ayah.
__ADS_1
Terus yang aku nggak suka kenapa harus janda yang jadi pustakawan di sekolah kenapa bukan yang lain? Memangnya tidak ada wanita lain ya selain janda itu?
Kadang aku juga berpikir jelek pada janda itu ya aku kadang memanggil ibu Ranty sebagai janda, kerena aku pernah mendengar ceritanya kalau suamianya meninggal kecelakaan saat ia berada di Serang. Hanya itu sih yang aku dengar dari orang, bukan dari ibu Ranty sendiri.
Aku tidak mau menerima kerena aku masih punya mama, kasih sayang mama yang tulus membuat aku nyaman sekali bersama mama. Pernikahan ayah membuat aku merasa tersisihkan takut, cemas kerena pasti ayah akan membagi cintanya dengan wanita itu. Wanita yang seharusnya jadi guru ku di sekolah.
Aku suka sama ibu Ranty, tapi aku juga takut kalau ibu Ranty merebut kebahagiaan yang aku telah dapatkan dari ayah. Apalagi kini ibu Ranty hamil, pastinya ayah senang mendengar kehamilan ini ibu Ranty, apalagi aku lihat ayah sering banget masuk ke perpustakaan, untuk memastikan ibu Ranty baik baik saja.
Ayah tidak tahu kalau sebenarnya aku cemburu sekali, ayah membagi cinta ya pada wanita itu. Aku cuma menarik nafas dalam dalam kalau melihat ayah memanjakan ibu Ranty, sejujurnya hatiku terasa sakit sekali tiap hari harus melihat semuanya.
Pernah waktu itu aku mau masuk ke perpustakaan, tanpa aku duga melihat ayah dan ibu Ranty berduaan dan aku lihat ibu Ranty sedang memegang perut bagian bawah, waktu aku lihat tangan ibu Ranty, ia langsung menurunkan tangannya.
Ku tatap matanya ada perasan menghindar dari tatapanku, entah apa yang dirasakan oleh ibu Ranty aku sama sekali tidak tahu apa apa. Aku pura pura tidak melihatnya dan langsung mengambil buku yang aku butuhkan tapi sebelum itu aku salam dulu dengan ayah dan ibu Ranty.
O,ya aku salama pada ibu Ranty bukan kerena aku setuju ya pada pernikahan mereka. Aku hanya menganggapnya ibu Ranty adalah guru di sekolah tidak lebih, tidak seperti ayah.
"Malas tahu, nggak apa apa kali aku berniat itu,"
"Nin, seharusnya kamu bersyukur punya ibu sambung kaya ini Ranty. Sedangkan aku?"
"Diam kamu," dengus ku.
Aku tidak suka kata kata Zahra. Memang kalau dipikir sih aku harusnya aku bersyukur kerena ibu Ranty sebenarnya baik tapi hatiku belum sepenuhnya terbuka pada dirinya. Aku masih belum bisa menerima dirinya menjadi bagian hidupku.
"Aku nyakin kalau ibu Ranty baik, kamu nya saja yang menutup hatimu," cerca Zahra gemas.
"Entahlah," desahku.
__ADS_1
Aku menghindar dari cercaan yang dilontarkan oleh Zahra, aku rasa Zahra tahu apa yang aku rasakan kerena aku selama ini mungkin Zahra tahu hanya pura pura saja. Aku hanya bisa diam saja.
"Jangan ada penyesalan." ujar Zahra.
Membuka suaranya kembali, ia berhenti dulu menatap wajahku yang menatap wajahnya. Zahra mengalihkan pandangannya ke arah lain sedangkan aku masih menunggu jawaban dari Zahra.
"Maksudmu?" tanya ku heran.
Akhirnya aku bersuara menanyakan kata kata Zahra tadi. Sebenarnya aku menunggu apa yang diucapkan oleh Zahra tapi tidak dilanjut oleh Zahra. Akhirnya aku memberanikan untuk bertanya pada Zahra.
"Aku hanya takut sebelum kamu minta maaf, ibu Ranty keburu meninggal bagaiamana." seloroh Zahra.
Deg!
Aku langsung memukul lengan Zahra dengan keras sekali.
"Masalahnya sekarang ini Ranty hamil, kata orang orang wanita yang usia lebih dari 30 itu resiko melahirkannya banyak. Apalagi ibu Ranty pernah keguguran," Zahra mengingatkan.
"Bukan usia 30 tahun tapi 35 tahun kali," ledekku.
Zahra tersenyum. Aku tatap wajah sahabatku, dalam hatiku berkata cantik padanya. Tapi aku tidak mengatakannya takut dia terbang sebenarnya aku mengakui kalau Zahra itu cantik dan manis. Baik juga sih tapi sering usilnya, kadang aku kesal kalau dia bela ibu Ranty di depanku pula.
Aku hanya bisa menarik nafas dalam dalam mengingat semuanya. Ya mengingat ibu guru itu, menurut ku ibu Ranty guru biarpun tidak mengajar.
Kalau ingat kata kata Zahra aku juga kadang berpikir lagi. Tapi hatiku berontak sih! Masa sih ibu Ranty harus meninggal, biarpun aku tidak suka sama ibu Ranty tapi aku tidak ingin kalau ibu Ranty meninggal. Kalau suruh memilih sih aku ingin melihat ibu Ranty tetap ada biarpun harus bertengkar tiap hari dengannya.
Tapi jujur aku tidak bisa menganggap ibu Ranty lebih dari apapun juga ia sebagai guru di sekolahku saja. Kalau masalah di rumah aku tidak tahu pasti kerena kami tinggal di rumah yang berbeda dengannya.
__ADS_1
Aku tidak banyak bicara dengan Zahra kerena bagaimanapun ia juga orang luar ya biarpun ia adalah sahabatku. Aku langsung meninggalakan Zahra dari pada aku mencurahkan semua hatiku pada dirinya, mungkin buat saat ini aku hanya diam.*