
Di ruangan perpustakaan Ranty dengan tekun nya membuat beberapa katalog dari buku yang kemarin baru datang. Ya kalau ada buku yang datang Ranty selalu membuat katalog kembali untuk buku buku baru, belum.lago label ddc di pungung buku. Awalnya ia ingin membuat aplikasi SLiMS perpustakaan tapi kerena masih belum paham cara nya ya terpaksa ia mengunakan cara manual lagi.
Ranty meminta batuan suaminya tapi sang suami hanya mengangkat kedua bahunya kerena laki laki itu juga tudks tahu menahu tentang aplikasi SLiMS perpustakaan. Ranty hanya mendengus kesal kerena tidak bisa mengunakan katalog OPEC itu.
Daripada tidak mengunakan aplikasi SLiMS ia akhirnya kembali ke cara manual, kerena cara manual lah yang gampang sekali.
"Ran!" panggil Bayu tiba tiba sudah datang ke ruangan perpustakaan.
Ranty yang sedang mengerjakan mengunting beberapa karton langsung menatap wajah Bayu, terlihat wajah laki laki itu menunjukan kekhawatiran. Ia hanya mengerutkan wajah nya menatap heran kearah suamianya itu.
"Mas, kenapa?" tanya Ranty heran.
"Kamu nggak apa apa ka? tanya balik Bayu memegang tangan Ranty lembut.
"Aku? Aku kenapa memangnya?" heran Ranty..
"Tadi mbok Inem telpon kalau kamu sakit, aku khawatir sama kamu, aku langsung ke rumah tapi waktu sampai ke rumah mbok Inem ngomong kalau kamu ke sekolah," ujar Bayu duduk di samping istrinya.
Ranty hanya menghela nafas panjang. Mendengar penjelasan suamianya. Memang tadi malam ia merasakan perutnya sangat kencang sekali, tapi lalu mau jujur sekarang juga perutnya masih terasa kram dan sakit. Tapi ia berusaha untuk sekolah.
Ranty mengangguk. Ia tidak bisa membohongi suamianya, tadi ia bisa bohong sama mbok Inem lalu sakitnya hilang tapi dihadapan suamianya ia mengakui semuanya.
Melihat anggukan kepala istrinya Bayu terlihat cemas sekali.
"Kita pergi ke PKM yuk! jangan jangan kamu bakal lahiran,"
"Masih lama HPL nya mas." hibur Ranty.
Ayo lebih bak periksa takutnya perkiraannya maju," bujuk Bayu.
Sebenarnya Bayu khawatir kalau misal ia tidak ada disamping Ranty, wanita itu malah melahirkan. Itu yang ia khawatirkan. Jadi ia membujuk istrinya itu untuk periksa sebenarnya minggu kemarin juga sudah periksa kandungan bidan mengatakan kalau bayinya sehat dan tidak kurang apapun juga.
__ADS_1
"Mas udah aku nggak apa apa kok, memang perutku masih terasa kram dan sakit tapi masih bisa dibawa jalan jalan kok," Ranty berusaha menenangkan suamianya.
Ia tidak ingin suaminya khawatir, sebenarnya perasaan Ranty juga tidak karuan sama sekali, tapi ia berusaha menekan perasaan yang hadir dalam hatinya. Ia tidak ingin kalau suamianya semakin khawatir dan cemas melihat kalau ia sakit.
Jadi ia berusaha untuk terlihat kuat di hadapan suamianya.
"Tapi,.." Bayu lanhsung meraba perut bagian bawah Ranty.
Laki laki itu tertegun sejenak saat ia merasakan perut istrinya teras kencang, ia melihat wajah Ranty yang menhan sakit. Tapi Bayu juga merasakan kalau saat perut itu tidak kencang wajah Ranty biasa saja malah terlihat ada senyuman.
Ranty langsung menyentuh tangan suamianya.
"Dede nya aktif." ujar Ranty tersenyum.
"Aku ingin bayi ini laki laki biar bisa melindungi kakak dan adiknya kelak kalau sudah dewasa," kata Ranty.
"Perempuan juga boleh kok! Aku bakal di kelilingi bidadari yang cantik cantik," goda Bayu pada Ranty.
"Kalau laki laki?" cicit Ranty.
****
PLAK!
Ranty menjerit saat sebuah pukulan mengenai pipinya. Tanganya langsung mengusap wajahnya yang terasa panas sekali, ia tidak menyangka kalau laki laki yang ada dihadapannya melayangkan tangannya di hadapan Ranty.
Wanita yang sedang hamil menjerit kesakitan, saat pipinya yang terbingkai hijab harus merasakan panas dan perih di pipinya.
"Toni!" teriak Ranty terkejut melihat kelakuan Toni.
"Suami Kamu nggak becus jaga anak, kamu tahu anaknya harus Kabir gara gara adikmu!" sembur Toni berang.
__ADS_1
Tangan Toni langsung mengebrak meja di ruangan perpustakaan. Matanya memandang geram ke arah Ranty.
"Maksudmu?" Ranty mengusap pungungnya yang terasa panas..
"Anakmu Riri ada di rumahku, aku nggak mau kalau dia ada di rumahku, apalagi dia hamil diluar nikah!" ketus Toni.
Mata Riri terbelalak mendengar pengakuan Toni dihadapannya, hampir saja ia tidak percaya kalau Toni tidak menjelaskan apa yang terjadi pada Riri. Ya laki laki berusia 25 tahun itu langsung menceritakan pada Ranty kalau Aisyah adiknya mengajak Riri ke rumahnya. Alasannya di kosan Riri sering sendiri keren Aisyah banyak di kampus. Jadi Riri takut kalau ditinggal sendiri itu jug insiatif Aisyah.
Ranty mau tudks mau harus percaya pada Toni, cerita Toni begitu mengalirnya dan tidak pernah dibuat baut sama sekali. Saat menatap wajah Toni, Ranty melihat kejujuran di matanya yang jernih.
Toni adalah teman kuliah di jurusan Perpustakaan, hanya ia memilih untuk jadi usaha di bidang kuliner. Dan membiarkan ijazah perpustakaan nya terbengkalai begitu saja, sedangkan Ranty mengunakan ijazah dengan melamar di perpustakaan dimana ia pernah sekolah disana.
Toni adalah laki laki yang mengenalkan Ageng pada dirinya, tapi naas Ageng hanya sebentar singgah dalam hati nya Ranty kerena Ageng harus meninggal akibat kecelakaan begitu juga anak dalam kandungan istrinya yaitu Ranty.
"Apa? Jadi Aisyah adikmu?" tanya Riri terbelalak menatap wajah Toni.
Ia sama sekali tidak menduga kalau Aisyah adalah adik Toni.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, kamu lebih baik jemput anak sambungnya. Aku takut terkena fitnah dikira hamil oleh aku," sembur Toni jutek.
"Toni!
Ranty langsung memukul lengan Toni dengan kerasnya. Ia tidak menyangka kalau laki laki itu bakal berpikir negatif seperti itu, tapi kalau dipikir panjang juga ada benarnya. Ia mwnghala nafas melihat Toni setelah mengatakan itu meninggalkan Ranty begitu saja, sedangkan wanita itu hanya menghela nafas panjang. Dan lanhsung menghempaskan tubuhnya ke kursi, dan menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan tatapan lulus.
"Kamu mau menerima Ageng?" tanya Toni waktu itu.
"Ah kamu apa apa an sih kamu," hindar Ranty.
"Orangnya baik, agamis lagi,"lanjut Toni.
Ranty langsung terdiam ketika Toni melanjutkan kata katanya. Ia ragu untuk mengatakannya apa lagi ia dan Ageng belum pernah bertemu sama sekali masa langsung di terima begitu saja.
__ADS_1
Ranty menghela nafas ingat percakapan antara dirinya dengan Toni. Tiba tiba ia ingat kata kata Toni yang mengatakan kaku Riri ada di rumahnya. Tiba tiba ia merasa kalau Riri sebenarnya tidak baik baik saja, ia berniat untuk menyusul ke rumah Toni.
Ada perasan yang menyelinap begitu lembut saat mendengar nama Riri, ia merasa iba dan kasihan melihat kehidupan Riri yang seperti tidak ada arah sam sekali.*