
Mendengar pengaduan dari Riri, darah Bayu langsung naik seketika juga, ia tidak menyangka kalau Ranty bakal mendatangi Riri, seharusnya ia yang datang. Dan Riri sudah ia ingatkan supaya tidak mengulang kejadian kemarin.
Mendengar pengakuan dari Riri, Bayu lanhsung mendatangi Ranty di rumahnya. Untung Anindya sudah pulang sejak lama, jadi Bayu tidak tahu kalau Anindya datang ke ruang itu.
BRAK!
Suara keras terdengar di teling Ranty yang akan istirahat. Ia kaget saat melihat suaminya datang seperti itu..
"Mas, kenapa lagi!" seru Ranty bangkit dari rebahan nya.
"Kamu yang apa apa? Kamu bilang kalau Zoya sakit, tapi Riri tadi telpon kalau kamu mendatangi kosannya!" teriak Bayu menggema dengan kerasnya..
Pintu kamar dibanting dengan keras, sampai suaranya BRAK terdengar sampai dapur. Mbok inem yang ada di dapur hanya diam saja, hatinya ketar ketir kalau mendengar ada yang bertengkar seperti ini.
Ia ingin melindungi Ranty tapi takut kena damprat Bayu, kerena ia juga pernah melindungi Ranty tapi Bayu dengan kasar mendorong tubuhnya, jadi ia hanya duduk termenung di dapur.
Hatinya berdetak dengan keras sekali, seperti berpacu dengan keributan yang ada di kamar.
"Mas, aku nggak sengaja ketemu dengan Riri, mas tahu nggak kalau mereka.sati kost." kata Ranty menjelaskan lada Bayu..
"Aku nggak cerita sama kau juga takutnya kita bertengkar,"lanjut Ranty lembut..
"Halah, kamu bela aja Zoya!" teriak Bayu tidak suka.
"Mas, aku nggak pernah belain Zoya biarpun dia adikku. Aku hanya ingin mengingatkan Zoya supaya tidak pernah berbuat apa apa pada Riri!" bela Ranty.
"Cukup! Kapan kamu bela Riri, kamu hanya bela Zoya saja, kerena dia adik kamu!" pojok Bayu.
"Mas, please jangan pojokan aku. Malah mas bela Riri trus!" tangsi Ranty kesal.
Ya tidak kesal bagaiamana ia.dstang ke kosan Zoya hanya ingin mengingatkan Zoya supaya tidak pernah menganggu Riri, tapi kenyataannya Bayu malah menganggap ia datang untuk menegur Riri.
Kalau Ranty tahu Riri kos bareng adiknya mungkin ia.lwbih baik tidak datang menemui Zoya, tapi ia tidak bisa cerita dalam keadaan seperti ini, kalau ia cerita yang sebenarnya. Bayu tidak mungkin bisa menerima ceritanya.
"Ran, jangan bohongi dirimu, aku nyakin kamu nggak menemui Zoya kan. Kamu menemui Riri, apa yang kamu katakan pada Riri?" ketus Bayu menatap tajam wajah Ranty.
"Mas, berapa kali kau jelaskan! Aku nggak sengaja!" teriak Ranty kesal.
"Kamu mengelak saja, kapan kamu jujur?"
__ADS_1
"Ya Allah mas, memang aku ketemu dengan Riri dulu, sebelum ketemu Zoya. Waktu aku..."jelas Ranty emosi.
"Alah! Aku nyakin kamu berdusta. Kamu nggak menemui Zoya kan, kamu hanya menemui Riri. Apa kerena Riri hanya anak sambung kamu?" potong Bayu tidak menerima penjelasan istrinya
"Mas! jangan memperkeruh keadaan, aku mengatakan yang sebenarnya. Kamu dengarkan aku dulu. Aku menemui Zoya kerena Zoya yang mengirim fhoto itu padaku, aku hanya ingin menegur Zoya." kata Ranty beranjak dari duduknya mendekati Bayu yang masih berdiri di dekat jendela..
Ranty menghentikan bicaranya, ia menunggu reaksi bayu yang manatap matanya ke arah luar. Hari itu udaranya sejuk sekali, apalagi malam tadi hujan dengan deras, jadi sinar matahari tidak terlalu kuat menyinari bumi..
Tapi keadaan kamar yang seharusnya sejuk malah terlihat panas oleh pertengkaran antara Bayu dan Ranty yang memperdebatkan hal sepele.
"Waktu aku datang kesana Riri sedang sarapan pagi, aku juga kaget Riri ada di kosan Zoya. Tapi aku nggak tanya apa apa pada Riri tentang Zoya, aku malah mengungkit gambar itu," lanjut Ranty menghela nafas panjang.
"Aku bertengkar sedikit dengan Riri, setelah itu Riri pergi begitu saja tidak lama kemudian Zoya datang ke kosan," jelas Ranty..
Ia tidak ingin berdusta kembali dihadapan suaminya.
"Lho kok Zoya ke kosan, kata kamu.." potong Bayu menatap waja Ranty tajam..
"Maaf aku berbohong Zoya sakit, kerena aku nggak mau kamu bertanya banyak." kata Ranty lembut.
Bayu menghela nafas kasar, mendengar ke kuburan Ranty. Laki laki itu menggelengkan kepala mendengar pengakuan dari Ranty.
"Zoya nggak sakit, itu hanya kebohonganku pada mas saja. Aku takut mas marah, nggak tahunya marah juga," Ranty menunduk..
"Aku hanya ingin menegur Zoya saja?"
"Tapi kamu ketemu Riri disana?" kejar Bayu.
Ranty mengangguk mengiyakan..
"Lalu?" kejar Bayu.
"Aku bertengkar dan Zoya. Mas, maafkan Zoya. Zoya yang menyebar fhoto Riri," Ranty menatap wajah suamianya.
Ada helaan nafas yang keluar mendengar cerita Ranty pada dirinya.
"Berarti Zoya nggak sakit? Lalu kenapa kamu nggak mengaku kalau kamu datang menemui Zoya?" tanya Bayu melunak..
"Aku takut kalau marah dan nggak mau mendengarkan kaya tadi," ujar Ranty..
__ADS_1
"Mas, kenapa sih kita seperti ini?" keluh Ranty.
"Maksudmu?"
Kita harus bertengkar gara gara Riri dan Zoya? Kalau dipikir sih mereka hanya orang laur," lirih Ranty.
"Riri tangungjawab ku bukan orang luar, orang luar itu Zoya! Dia sebatas adikmu nggak lebih" ketus Bayu tudks suka..
"Iya aku tahu Riri tangungjawab kamu mas, tapi.."
"Tapi mas,"
"Tapi apa Ran, jangan memperkeruh keadaan!"
Ranty menghela nafas, tiba tiba ia mengusap pungungnya yang terasa sakit. Tapi ia bisa menahannya. Bayu melirik Ranty itu hanya diam saja.
"Mas, jangan ribut lagi ya," pinta Ranty memengang tangan Bayu lembut.
"Aku cape!" lanjut Ranty, ia berjalan menuju kursi untuk duduk.
"Kata kamu kalau Zoya kuliah di Jakarta kok bisa bareng sama Riri?" tanya Bayu menatap wajah Ranty.
"Zoya pindah kuliahnya di kampus Riri, entah mereka satu jurusan atau tidak,"
"Tapi aku juga ketemu Aisyah teman mereka, kata Aisyah Zoya memang pindah sudah 6 bukan tujuan pindah ingin dekat dengan rumah,"
"Tapi kalau ingin dekat rumah kenapa dia kos di kosan Riri," Bayu mengerutkan wajahnya.
Ranty akhirnya menceritakan kalau Zoya pindah kerena ingin dekat kampus, biarpun kos ia sering pulang ke rumah beberapa dan kalau libur kuliah Zoya menepati rumah itu.
Kalau di Jakarta ia harus bolak balik, mang di pikir sih lebih enak di tempat sekarang. Sedangkan Bayu hanya mengangguk angguk kan kepalanya mengerti.
Tanpa bilang apa apa Bayu pergi begitu saja tanpa bicara lagi, Ranty ingin mengejarnya tapi tidak jadi perut bagian bawahnya kerasa kram sekali. Ia hanya menghirup nafas lalu dengan lembut nya mengeluarkan kembali.
"Riri dan mas Bayu satu watak. Sam sama watak keras," bisik hati Ranty.
Ia melihat jam yang ada di kamarnya, jam menunjukan pukul 14.00.
"Satu jam ya Allah, aku istirahat saja dulu," bisik nya dalam hati, lalu ia merebahkan badannya.
__ADS_1
Beberapa kali ia mengelus lembut perutnya yang terasa kencang sekali.*