
Apa yang diceritakan oleh Bayu memang kenyataan yang ada. Sebenarnya Ranty ketika Bayu datang juga memaksakan diri untuk membuka pintu, kalau saja Bayu tidak telpon waktu Ranty tertidur mungkin mbok Inem tidak bakal cerita keadaan Ranty pada Bayu.
Bayu juga waktu datang agak marah pada dirinya kerena ia tidak memberitahukan keadaan Bayu. Ranty tahu Bayu kecewa akan dirinya kerena tidak kejujuran dirinya atas keadaan.
Ranty melakukan itu tidak ingin membuat Bayu khawatir sama sekali, jadi waktu Bayu datang ia menahan rasa sakit di perutnya. Setelah sholat Isya Bayu mengorek keterangan pada dirinya, Ranty hanya bilang hanya beres beres buku. Awalnya Bayi percaya apa yang diomongkan istrinya, tapi kebohongan Ranty terungkap saat pak Ilham orang tuanya Zahra telpon kalau Zahra dipukul oleh Riri.
Dari pengakuan itu Ranty akhirnya berkata jujur dan menceritakan kronologi pemukulan oleh Riri.
"Kamu kenapa nggak bilang tadi." hardik Bayu marah.
"Aku nggak mau kalau kamu tahu dan memerani Riri." ungkap Ranty jujur.
"Kamu bela dia dihadapan ku, tapi dirinya terhadap mu apa?" ketua Bayu tidak suka.
"Lebih baik kita ke Alinda aku nggak mau kamu kenapa kenapa," ajak Bayu beranjak dari tempat duduknya.
Tapi Ranty tidak mau sama sekali diajak oleh Bayu, Bayu kesal sekali pada Ranty. Wanita itu langsung emjnggalakan Bayu ke ruangan keluarga. Ranty mengusap pungungnya dengan lembut.
"Maafkan aku mas, aku nggak mau kamu bertengkar dengan Riri." ujar lirih Ranty sambil duduk di kasur yang ada di ruang keluarga.
Bayu langsung keluar dari kamar dan menghampiri Ranty, Bayu melihat sekilas tangan Ranty mengelus perutnya. Melihat Bayu yang datang, Ranty langsung melepaskan tangan dari perutnya. Ia pura pura tidak terjadi apa apa.
" Kita tidur yuk!" ajak Bayu menyentuh tangan Ranty.
__ADS_1
Ranty tidak bisa menolak diajak tidur sama Bayu. Ia mengikuti Bayu ke kamar. Mereka tidur di kasur yang empuk dan wangi. Ranty tidak bisa tidur nyenyak sama sekali, ia mengelus perutnya yang semakin sakit. Kalau dibandingkan tadi siang sakitnya lebih parah yang sekarang. Ranty mengigit bibir bagian bawah hanya untuk mengurangi sakitnya.
Entah tidur atau apa. Ranty tersentak kaget. Ia langsung menuju kamar mandi, biarpun saat itu perutnya seperti diperas oleh ribuan orang. Sakit. Ia merasakan ada desakan yang kuat di perutnya. Dan betapa terkejutnya saat ia melihat ****** ******** ada darah, ditambah lagi darah itu mengalir di kakinya akibat tadi ia berjalan.
Ranty langsung membangunkan Bayu. Bayu belum sepenuhnya sadar dari keterkejutannya, langsung shock melihat darah.
Ranty meringis sambil perut bagian bawah dielus elus untuk mengurangi rasa sakit. Malam itu Bayu langsung membawa Ranty ke Alinda dengan mengunakan motor, kerena ia tidak mungkin mengunakan mobil kerena mobil ada di rumah Wulan. Bayu bisa ke rumah Wulan dulu tapi ia takut kalau Wulan tahu pasti takut ada pertengkaran kecil antara ia dan Wulan.
Dengan perasaan khawatir ia langsung membawa Ranty ke sebuah RS yang ada di Panimbang.
"Mas, jangan di apa apa ya Riri nya." ujar Ranty ketika di ruang perawatan.
Bayu hanya diam saja. Ia langsung merebahkan diri ke kasur satunya kerena ruangan itu ada dua tempat tidur, satu digunakan oleh Ranty, satunya kosong. Dari pada tidak digunakan lebih baik Bayu mengunakan untuk tidur malam itu.
Paginya setelah selesai mengurus Ranty, ia pulang dan tidak ingat apa yang diucapkan oleh Ranty. Datang ke rumah langsung memarahi Riri habis habisan.
Anindya dan Riri langsung ke Alinda, sebenarnya Anindya malas untuk kesana, tapi kerena Riri mengajaknya ya terpaksa ia mengikutinya. Sebenarnya bukan hanya Anindya yang malas, Riri juga malas untuk ke Alinda kerena ke Alinda juga keterpaksaan, ayahnya menanyakan tentang dirinya menengok belum ibu Ranty.
"Kakak sih ngapain sih kakak harus melakukan itu," protes Anindya tidak suka.
Anindya menyesali perbuatan kakaknya yang melakukan anarkis pada Ranty, ujung ujungnya dirinya juga terseret masalah yang dilakukan oleh kakaknya. Kalau saja kakaknya bisa menhan emosi mungkin ia dan kakaknya hati ini tidak bakal menengok Ranty.
"Aku kira nggak bakal ada kasus seperti ini," elak Riri.
__ADS_1
Riri membela dirinya. Ia juga tidak menduga sama sekali kalau Ranty harus di rawat di Alinda, ia juga nggak tahu awal apa Ranty sakit atau tidaknya. Riri juga mendorong Ranty secara reflek saja, mungkin kerena wanita itu tidak bisa menyeimbangkan diri maka ia jatuh begitu saja. Kalau pada Zahra ia mengakui ia memukul kerena ia marah kerena Zahra membantu Ranty dari amukan dirinya.
"Nggak sengaja tapi sekarang dia di Alinda." protes Anindya menggerutu.
"Jujur aku nggak sengaja." bela Riri keukeuh.
"Tapi kenyataannya sekarang?" tuding Anindya kesal.
"Kak, bagaimana kalau dia keguguran?" ujar Anindya sambil memegang tangan kakaknya.
Tiba tiba ada perasaan yang lain yang masuk dalam hatinya Anindya. Apalagi sebelum berangkat sekolah Anindya mendengar dari Bayu kalau Ranty pendarahan dan butuh istirahat yang cukup untuk menguatkan kandungannya. Anindya hanya diam saat ayahnya mengatakan itu padanya, akhirnya Anindya berangkat ke sekolah dengan pikiran kemana mana.
Di sepanjang jalan ke Alinda juga kedua gadis itu hanya diam saja. Anindya memikirkan kata kata ayahnya serta merasa kesal kerena tingkah laku kakaknya yang tidak langsung menyeret dirinya ke masalah yang dibawa Riri. Sedangkan dirinya Sam sekali tidak tahu menahu atas apa yang terjadi antara Riri dan Ranty di perpustakaan.
Riri lebih lebih lagi ia merasa kesal kerena ayahnya menuduh dirinya yang mengakibatkan Ranty di rawat di Alinda. Menurut Riri tidak ada sama sekali hubungan dengan Ranty di Alinda. Tapi Bayu tidak terima alasan yang disampaikan oleh Riri.
Di ruang nomor 6, Anindya dan Riri masuk. Disana hanya dua ranjang saja serta 2 lemari baju serta dua telivisi.
Ranty terbaring dengan mengunakan baju RS, serta selimbut yang menutupi kaki dan bagian tubuhnya. Ranty kaget saat melihat kedua putri Bayu datang secara bersamaan. Ia berusaha bangkit dari rebahan nya, biarpun perut bagian bawahnya terasa sakit.
"Gara gara kamu semuanya," sembur Riri tidak suka.
"Kak, ingat kata ayah!" tegur Anindya.
__ADS_1
Anindya itu dengan cepat menyentuh tangan Riri, untuk Riri jangan bicara apa apa dulu sama Ranty. Tapi wanita 20 tahun itu lupa kalau tujuan mereka hanya untuk minta maaf atas peristiwa yang terjadi kemarin siang.
Ranty tidak kaget mendengar kata-kata Riri seperti itu pada dirinya, ya Riri tidak pernah bicara lembut pada dirinya. Sedangkan Ranty hanya tersenyum tipis mendengar kata.kata Anindya, gadis remaja yang umur dibawah 17 tahun bisa mengingatkan kakaknya.*