MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Ingat kata kata Anindya


__ADS_3

Anindya menatap pintu perpustakaan yang tutup. Sudah tiga hari perpustakaan itu tutup, Ranty tidak masuk sekolah. Anindya sudah ke rumahnya tapi kata mbok Inem ikut kegiatan. Mendengar itu semuanya hati Anindya ada sesuatu yang hilang, Zahara yang tahu itu hanya menghibur Anindya tapi gadis itu hanya menghindar saja.


"Pasti ibu Ranty nggak masuk ya." tebak Zahra.


"Nggak ngapain sih menyebut wanita itu!" elak Anindya tidak suka.


"Jangan bohongi hatimu, aku tahu kok." tandas Zahra tersenyum.


"Ra, aku nggak mau denger ya namanya disebut." ancam Anindya marah.


Anindya langsung meninggalkan Zahra, ia menuju kantin yang ada di belakang kelasnya. Ia mengatakan itu sebenarnya tidak mau kalau Zahra tahu perasaannya pada Ranty.


Orang yang dipikirkan oleh Anindya kini berada di alun alun Pandeglang sedang ada acara bazar buku dan mengadakan Bimtek Pengolahan dan Pengadaan Bahan Pustaka di Perpustakaan sekolah.


Acara ini disponsori oleh PT xxx yang berada di Banten.


"Katanya nggak enak badan, lebih baik istirahat saja." ujar Putri menyentuh pundak Ranty.


"Tanggung Put, acaranya padat sekali nggak mungkin aku bisa istirahat apalagi pungung aku sakit begitu juga perutku." adu Ranty sambil memegang pungungnya.


Tidak sakit bagaimana, kegiatan itu menguras pikiran dan tenaganya. Apalagi ia dalam kondisi hamil muda, mudah lelah dan capai. Biarpun kerjaan dirinya ringan juga hanya menulis apa yang perlu di tulis itu juga harus harus duduk, jadi pantas kalau pungung nya terasa sakit sekali. Kerena tidak mungkin kan mendata sambil tiduran, bisa sambil telungkup juga tapi itu tidak mungkin.


Ranty meringis, saat Putri sahabatnya mencubit tangannya dengan kuat sekali, kerena Putri beberapa kali telah mengingatkan Ranty untuk istirahat tapi ia tidak mengubris apa yang dikatakan oleh Putri.


"Udah, jangan memaksakan diri. Perlu aku antar?" kata Putri.


"Bagaimana ya?" Ranty menatap Putri ragu.


"Jujur perutku sakit," jelas Ranty.


Ia tidak membohongi sahabatnya. Kalau mau jujur sih sejak malam perutnya terasa kram sampai sekarang apalagi harus naik tangga ke penginapan. Dengan naik turun tangga juga membuat Ranty getir.


"Sudah biar aku yang memegang kerjaan ini dari pada kamu kenapa kenapa." kata Putri merasa kasihan pada Ranty.

__ADS_1


Ranty akhirnya mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh Putri. Awalnya Putri akan mengajak Ranty ke penginapan supaya Ranty bisa istirahat dengan nyaman, tapi Ranty menolaknya ia hanya istirahat di pinggir jalan yang mau ke pendopo.


"Kenapa harus disini?" protes Putri.


"Nggak apa apa kok, kan dekat sama bazar." ujar polos Ranty.


Putri menghempaskan tubuhnya di samping Ranty. Ranty hanya tersenyum saja melihat Putri merasa kesal sekali.


"Gimana kedua anaknya pak Bayu?" tanya Putri.


Putri mengorek keterangan tentang Riri dan Anindya. Kedua putri Bayu. Putri kenal dengan Bayu kerena ia salah satu murid Bayu. Jadi tidak heran kalau Putri mengenal baik dengan Bayu. Putri adalah sahabat Ranty sejak SMP mereka satu SMP tapi beda kelas saja.


"Ya begitu saja. Nggak ada perubahan." desah Ranty mengusap perutnya.


Ia meringis kesakitan. Putri mencipir melihat Ranty sambil menggodanya. Ranty tersenyum kecut.


"Riri lebih parah dibandingkan Nindy." ujar Ranty.


Putri hanya mengangguk. Memang antara Anindya dan Riri bagaikan langit dan bumi keduanya sangat berbeda satu sama lainya.


Anindya hampir mirip dengan Wulan. Kalau Anindya masih mempunyai pikiran positif, dibandingkan negatif. Putri tahu itu kerena ia telah bertemu mereka.


"Riri brutal, tidak punya hati, perasan!" lanjut Putri.


Ranty tersenyum kecut mendengar yang diucapkan oleh Putri, ia mengakui kata kata dari Putri fakta di lapangan. Dan itu yang pernah ia alami selama ini, kalau masalah Anindya, Ranty masih ingat kata kata gadis itu kata kata yang terkesan cuek tapi penuh dengan perhatian. Ranty hanya bisa menyembunyikan perasaan yang halus itu, ia menyimpan kata kata Anindya dihatinya.


"Emang kamu tahan ya sama tingkah laku Riri?"


"Aku nyakin kalau dia bakal berubah, tapi entah kapan berubahnya."


"Kamu nyakin banget,"


"Aku nyakin, hati dia bakal berubah suatu waktu. Tapi aku juga nggak tahu kapan itu terjadi,"harap Ranty menerawang.

__ADS_1


Hatinya merasa nyakin kalau diri bakal berubah seperti Anindya. Ya secara berlahan tapi pasti.


"Kamu seperti nyakin kalau Riri bakal berubah, aku nggak nyakin melihat tingkah laku dia seperti itu," sinis Putri pada Ranty.


Kata kata yang ia ucapkan bukan untuk Ranty, tapi untuk Riri kerena ia tidak berada dihadapan Riri maka pelampiasannya pada Ranty sebagai ibu sambungnya Riri.


Kalau saja diri ia jadi Ranty tidak mungkin memliki kesabaran seperti dirinya. Mungkin saja tingkah laku Riri bakal diadukan oleh dirinya ke pihak berwajib apalagi Riri telah mengunakan kekerasan pada Ranty.


"Putri, udah jangan dibahas Riri," hindar Ranty mengelak.


"Kamu nggak suka kalau aku membicarakan Riri?" tanya heran Putri menatap Ranty.


"Bukan begitu, sih! Put, " Ranty mulai tidak enak.


Bukan hanya sekali dua kali ia mengelak dari pembicaraan tentang Riri dengan Putri. Sebenarnya kalau mau jujur ia tidak mau membahas pembicaraan yang mencakup keluarganya biarpun itu hanya anak sambung.


"Sudahlah. Kamu lebih baik istirahat saja, jangan banyak pikiran." senyum Putri mengusap pungung Ranty dengan lembut.


"Kamu.mau kemana?" cegah Ranty langsung menahan tangan Putri.


Putri yang akan pergi berhenti kerena Ranty mencegahnya.


"Aku kesana dulu, takut nggak ada orang."


Ranty membiarkan Putri menuju tempat itu, sedangkan dirinya hanya duduk sambil pikiran nya kemana mana. Ia tidak menduga kalau Anindya bakal ada perhatian khusus dengan dirinya, perhatian yang belum pernah ia terima sejak mengenal Anindya.


Ranty hanya menghela nafas, mengingat kata kata gadis umur 14 tahun seperti nasehat seorang wanita yang lebih tua dibandingkan dirinya. Tapi perasan itu ia tepiskan kerena ia takut apa yang ia inginkan tidak seperti apa yang ia pikirkan.


"Ibu jaga baik baik kandungannya jangan kenapa kenapa, kala u ada apa apa seharusnya ibu bilang sama ayah bukan hanya diam saja."


Kata kata yang pedas tapi sarat nasehat untuknya.


"Nin, ibu kangen Nindy yang dulu lagi. Ibu harap Nindy suatu saat tidak pernah membenci adikmu. Biar kamu benci ibu tapi jangan adik kamu, adik kamu nggak salah tapi yang salah ibu," bisik hati Ranty sambil mengusap perutnya dengan lembut.

__ADS_1


Sejujurnya ia tidak ingin mengecewakan Anindya. Ia janji bakal menjaga janin ini sampai lahiran nanti. Kalau untuk masalah Riri ia hanya untuk berpikir kembali. Jadi niat sekarang hanya untuk mendekati Anindya di sekolah, bukan di rumah kerena di sekolah ia lebih leluasa tanpa ada ngangguan siapapun juga.


Ranty berniat untuk mulai sekarang akan mendekati Anindya bagaimana pun caranya. Bukan hanya di perpustakaan saja tapi di kantin, itu akan ia lakukan untuk mendekati Anindya.


__ADS_2