
Pernikahan Ranty dengan Bayu sebenarnya bahagia sekali. Ranty mendapatkan Bayu yang bertangungjawab mau berkorban demi dirinya. Itu yang membuat Ranty bahagia bersama dengan Bayu, kalau bicara tentang masalah ia sama sekali tidak ada masalah sama sekali dengan Bayu.
Ranty mengakui masalah berasal dari dua keluarga masing masing. Ranty dan Bayu telah tahu itu, tapi mereka keukeuh mempertahankan keluarganya. Mereka sering bertengkar kerena mempertahankan keluarga masing masing.
Seperti sekarang Ranty berbaring di Alinda tidak ada satupun keluarga Ranty yang muncul, sedangkan Bayu beberapa kali memberitahukan keadaan Ranty tapi keluarga Ranty seperti membiarkan saja.
"Kalau kau sakit gugurkan saja kandungan mu, Ran , bereskan urusan kalian," sembur Zoya saat Bayu vido call dengan adiknya.
"Zoya, kamu nggak pantas ya ngomong itu sama kakak sendiri,"balas Bayu geram mendengar kata kata Zoya.
Bayu langsung mematikan hpnya lalu di buang ke atas ranjang. Tapi hp itu terpental jatuh ke lantai saat diambil hpnya telah terpecah. Ranty menjerit saat Bayu melempar hp dirinya.
"Mas! Rusak kan hp ku? Kalau marah Jangan sama barang!" jerit Ranty.
Bayu mengambil hp Ranty yang telah terpecah kacanya dan tidak bisa digunakan kembali. Bayu diam saja ia merasa bersalah telah melakukan itu pada hp Ranty.
"Mas, coba sih kalau ada masalah jangan barang jadi pelampiasannya."
"Aku kesal sama keluargamu, sok suci!" protes Bayu menghempaskan tubuhnya di ranjang satunya lagi.
Ranty bangkit dari duduknya, ia mengambil hp yang disimpan Bayu atas meja yang ada di ruangan itu. Wanita itu hanya diam mendengarkan protes Bayu, kalau dilawan pasti mereka akan bertengkar. Jadi lebih baik Ranty diam saja, ia bukan menyesali keputusannya menikah dengan Bayu dan meninggalkan keluarganya.
"Aku tuh nggak tahu apa sih yang keluarga kamu nggak suka dari aku. Setahuku sejak kita sebelum nikah sampai sekarang mereka seperti itu, kamu sakit nggak dijenguk apalagi kalau aku sakit!" sembur Bayu geram.
Ranty hanya menelan ludah mendengar apa yang diucapkan oleh Bayu, ia sama sekali tidak bicara apapun juga kalau sampai ia bicara pasti Bayu bakal terus ngomong kemana kemana, ujung ujungnya ia dan Bayu bertengkar.
__ADS_1
"Kamu kenapa diam saja, nggak suka ya kalau keluarga kamu di jelek jelek kan di hadapan mu?" bentak Bayu manatap wajah Ranty.
"Perutku sakit, mas. Aku mau istirahat," Hela Ranty sambil membaringkan tubuhnya ke ranjang.
Ruangan 6 dari tadi terasa dingin sekali. Sebenarnya Ranty menggigil dinginnya kerena AC yang menyala. Bayu seperti belum peka kalau Ranty sebenarnya tidak nyaman sekali di udara yang dingin seperti AC apalagi ia sekarang lagi sakit.
Ranty sebenarnya ingin mematikan ac-nya kerena perutnya agak sakit jadi ia mengurungkan niatnya untuk memberikan AC. Ia langsung berbaring mencari kenyamanan, ia tidak mengubris apa yang Bayu katakan tentang keluarganya menurutnya lebih baik ia dan Bayu tidak bertengkar lagi apalagi tentang keluarga.
Sebenarnya kalau membicarakan keluarga, keluarga Bayu lebih parah dibandingkan keluarga dirinya. Ranty hanya mendesah, tiba tiba ia meringis kesakitan perutnya terasa kram, tapi Ranty tidak bilang sama Bayu yang masih berada di ranjang satunya.
Bayu yang mendengar kata kata Ranty hanya diam saja, ia hanya melihat Ranty punggungnya. Akhirnya Bayu beranjak dari ranjang menuju ranjang Ranty, ia langsung mengelus pungung Ranty dengan lembutnya. Ranty hanya diam saja, Bayu juga melihat tangan Ranty mengelus perut, ia langsung menyingkirkan tangan Ranty supaya tidak memijit perutnya. Tapi Ranty menolaknya. Bayu diam saja.
"Jangan dipijit, bagian perutnya, "cegah Bayu mengingatkan Ranty.
"Diusap saja, tapi jangan keras keras." ingatkan Bayu.
Ranty diam. Ranty pura pura tidur dengan memejamkan matanya. Melihat itu Bayu merasa kalau Ranty tidak mau di nganggu olehnya. Akhirnya ia beranjak dan meninggalkan Ranty, saat Bayu meninggalakan dirinya. Ranty membuka matanya ada perasaan yang hilang dalam hatinya.
"Kak, apa yang terjadi pada kamu. Jangan beritahu keadaan kamu, kami nggak pernah mau mendengarkan kabar kamu," Zoya
"Zoya, apa salah kakak pada kamu , apa kakak nggak boleh memilih suami pilihan kakak?" Raung Ranty waktu itu.
Ranty bersimpuh dihadapan adiknya sambil memeluk kaki Zoya . Tapi Zoya seperti tidak mengubris apa yang dikatakan Ranty. Ia dengan teganya langsung menyepak tubuh Ranty yang memegang kakinya, sampai tubuh Ranty terbentur di meja komputer yang tidak jauh darinya.
Ranty hanya meringis kesakitan, tapi ia tidak dirasakan kerena hatinya lebih sakit dibandingkan sakit yang dirasakan tubuhnya. Zoya langsung meninggalkan Ranty, dan tidak pernah memperdulikan Ranty sama sekali. Hilwa langsung memburu tubuh putrinya tapi Zoya malah memukul tubuh kakaknya.
__ADS_1
Melihat itu Ranty hanya bisa menjerit. Akhirnya dengan perasaan yang terluka, ia pulang ke rumah suaminya. Di dalam perjalanan pikiran Ranty kalut sekali, Untung waktu kesana ia sama sekali tidak membawa kendaraan sendiri. Entah kalau ia membawa kendaraan sendiri mungkin bisa mengalami kecelakaan masalahnya ia sama sekali tidak fokus.
"Ya Allah apa yang ini yang terbaik buat hamba, kenapa kau beri hamba ujian ini ya Allah," tangis Ranty terisak.
Ranty tidak mengerti sama sekali, jalan cerita yang ia jalani sekarang. Penuh dengan permasalahanya, kalau semuanya bisa menerima satu sama lain mungkin tidak akan serumit ini kehidupan yang ia jalani tapi nyatanya tidak sesuai dengan keinginan.
"Kakak hamil, teriak Zoya waktu pertama mendengar Ranty hamil di pernikahan dengan Ageng.
Ranty tersenyum bahagia dan mengangguk dengan antusiasnya. Zoya yang melihat anggukan kakaknya langsung memeluk tubuh kakaknya dengan senang dan gembira, kebahagiaan itu menyelimuti hati Ranty.
Bapaknya Arif pun memeluknya dengan erat sekali. pak Arif pun mencium kening Ranty dengan lembut saat mendengar putri pertamanya hamil. Sebenarnya kehamilannya oleh Ranty disembunyikan dulu, masalah masih terlalu dini untuk diberitahukan juga tapi anehnya keluarganya tahu.
Mereka mendatangi rumahnya, ya kedua adiknya menyambut kedatangan janin yang di kandung Ranty dengan bahagianya. Ageng sang suamianya juga terlihat berbinar binar melihat keluarga sang istri menyambut kehadiran janin yang baru beberapa Minggu dalam kandungan Ranty.
"Semoga kamu lahiran selamat, sehat, dan tidak kurang apapun juga." ucap pak Arif tersenyum sambil menggenggam tangan putrinya lembut.
"Ah bapak berlebih. aku baru hamil muda juga sudah kemana mana bilangnya." sanggah Ranty tersenyum.
"Eh! itu nasehat orang tua yang harus diingat, pokoknya kamu jangan kerja yang berat berat ya." ujar pak Arif tegas.
"Iya aku bakal ikuti apa yang bapak omongkan," senyum Ranty bahagia sekali..
Ranty yang hanya tiduran di atas ranjang perawatan. Matanya berkaca kaca kalau mengingat semuanya, kehangatan keluarga, keharmonisan kedua orang tua dan suami. Tapi sekarang boro boro harmonis, ditelpon juga tidak mau menerimanya. Ranty hanya bisa mengusap cairan bening di matanya yang siap mengalir.
"Ya Allah rahasia apa yang kau akan tunjukan pada hamba, tolong hamba ya Allah." bisik Ranty beberapa kali meminta tolong pada Allah.*
__ADS_1