
BRAK!
Terdengar suara keras dari pintu yang dibanting oleh Anindya. Sepatu dan tas dilempar begitu saja, Wulan yang mendengar suara pintu langsung menuju ruang tamu, dilihat anak bungsunya berjalan ke kamarnya.
Wanita itu hanya mengelus dada melihat kelakuan putrinya itu, ia langsung menghampiri kamar dan membuka pintunya. Untung pintunya tidak terkunci, Wulan langsung masuk terlihat anaknya sedang duduk di lantai dengan melipatkan kakinya. Tanganya berada diatas, sedangkan tatapan mata lurus menatap tembok yang ada kaligrafinya.
Wulan langsung menghampiri anak bungsunya, ia duduk di sisi kiri putrinya itu. Ditatap wajah Anindya dengan lembut, ia melihat jelas kabut di wajahnya.
Wulan menyentuh pundak Anindya tapi gadis itu hanya diam saja tidak mengubris wanita yang melahirkannya itu.
"Ada apa? Cerita sama mama sayang?" tanya Wulan lembut.
Anindya tidak bergeming sama sekali oleh pertanyaan yang dilontarkan oleh mamanya ya, ia sebenarnya ingin cerita tapi keadaannya lah yang tidak bisa di ceritakan.
Gadis itu hanya diam saja tidak bereaksi apa apa, hanya nafasnya yang teratur yang terdengar oleh Wulan.
"Nindy, ya udah kalau kamu nggak mau cerita nggak apa apa, tapi kenapa kamu pulang? kan ini baru jam 11.00 waktunya belajar." gumam Wulan.
Tapi gumaman Wulan terdengar dengan jelas oleh Anindya kerena jarak antara ia dan Wulan dekat sekali.
"Nggak apa apa kok ma, aku cuma kesal saja, perpustakaan nggak pernah dibuka, aku pengen bilang sama ayah supaya menyuruh yang jaga perpustakaan di pecat saja," ujar Anindya.
Wulan hanya menarik nafas panjang saat mendengarkan apa yang keluar dari mulut putrinya, ia mengerti sekarang kalau Anindya kesal kerena pustakawan.
Wanita itu menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan ya kembali.
Tapi Wulan belum bisa mengerti apa yang dimaksud Anindya, ia hanya menyangka kalau Anindya cuma kesal pada Ranty kerena wanita itu tidak datang ke perpustakaan untuk membuka perpustakaan.
Sedangkan dalam hati Anindya sebenarnya ia sangat kehilangan Ranty, ya biarpun ia sedikit uringan di depan Ranty sesungguhnya ia ingin ada perhatian dari Ranty hanya wanita itu tidak tahu apa yang jadi keinginan Anindya.
Jadi waktu Ranty tidak masuk sekolah, entah alasan apa, Anindya tidak tahu sama sekali. Ia merasakan kehilangan Ranty, ya Ranty sellau datang ke perpustakaan tapi sekarang wanita itu tidak datang, otomatis ia seperti kehilangan sesuatu.
Wulan yang melihat putrinya diam langsung merangkul putrinya dalam pulangnya. Tiba tiba Anindya merindukan pelukan Ranty, ia sering sekali dipeluk Ranty, tapi sejak Ranty menjadi ibu sambungnya ia malah memusuhi Ranty.
__ADS_1
"Kamu bilang sama ayah saja, biar ditindak."
"Aku ingin wanita itu sekolah terus, itukan pekerjaan nya sebagai pustakawan." ujar Anindya.
"Iya, seharusnya begitu,"
Anindya mengangguk dalam pelukan Wulan. Wulan melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah Anindya tajam.
"Nin, seharusnya kamu jangan benci ibu Ranty, bagaimana pun ia adalah gurumu," nasehat Wulan.
Wulan tahu kalau Anindya tidak suka sama Ranty kerena pernikahan ayahnya dengan wanita itu, tapi Wulan juga tidak melupakan kalau sebenarnya Anindya dan Ranty dulunya akrab satu sam lainnya.
"Kenapa, Ma. Aku nggak suka saja kalau wanita itu jadi istri ayah apalagi jadi istri kedua," cerocos Anindya.
"Mama sepertinya menerima ya kalau ayah menikah lagi!"lanjut Anindya ketus.
Ia melepaskan tangan Wulan dengan kasar dari tubuhnya, gadis itu langsung beranjak dan pergi begitu saja, Wulan tidak bisa mencegah Anindya.
ia hanya mengatakan itu pada Anindya hanya untuk menghormati Ranty sebatas guru bukan sebagai ibu sambungnya.
Anindya juga menangkap Kat kata mamanya menyangka kalau mama nya setuju atas pernikahan ayah dan ibu Ranty. Itu yang tidak diterima oleh dirinya.
Anindya langsung berlari menuju teras rumah ia menumpahkan kekesalan pada dirinya sendiri, ia benar benar tidak bisa menerima apanyang ia alami sekarang. ya Anindya kalau bisa ia hanya ingin kembali ke masa lalu yang menurutnya indah banget untuk di kenang.
'Kenapa harus seperti ini ya Allah, aku nggak mau seperti ini,' bisik nya dalam hati.' bisik hati Anindya perih.
Ia rindu Ranty yang dulu, Ranty yang tidak pernah absen dalam sekolah. Tapi sekarang ini Ranty sering absen tanpa pemberian sama sekali.
Anindya tidak mampu mencurahkan hatinya, Wulan melihat semua adegan yang dilakukan Anindya ia tidak tahu apa yang dirasakan putrinya. Tapi ia nyakin putrinya butuh sandaran yang seharusnya ada, Wulan menghampiri Anindya ia langsung memeluk tubuh putrinya.
Anindya yang tahu mamanya memeluk hanya diam saja, ia menahan gejolak perasaan yang tiba tiba membuncah.
Mereka saling diam satu sama lainnya, mengkoreksi diri. Sedangkan Anindya masih berpikir kemana pustakawan itu, sudah dua Minggu ini Ranty tidak sekolah, ditambah lagi ayahnya juga selama ini diam saja tidak memberi tahu keadaan Ranty.
__ADS_1
'Apa ayah hanya ingin menjaga perasaan aku dan mama,' bisik Anindya dalam hati.
Ia menghela nafas panjang lalu dihembuskan begitu saja, ya selam ini ayahnya tidak pernah bicara apalagi masalah Ranty, sama mamanya juga sama sekali tidak pernah menyingung Ranty.
Kemarin kemarin ayah sering banget menyinggung Ranty sampai mereka betengkar hebat. Ya ayah kalau ada apa apa sering menceritakan tentang Ranty pada mamanya, biarpun ujung ujungnya mereka bertengkar.
'Apa kerena ayah tahu kalau ia menceritakan ibu Ranty, mam bakal marah termasuk dirinya,' bisik Anindya perih.
Gadis itu beberapa kali menghela napas panjang, mengeluarkan beban yang menghimpit hatinya. ia begitu sesak untuk mengeluarkan beban hatinya. Tapi untung dengan ia menangis sedikit demi sedikit bisa merasa longgar sedia kalanya.
"Nindy," panggil seseorang yang begitu familiar di telingganya.
"Ranty," ujar Wulan melepaskan pelukan dari tubuh putrinya.
Wanita itu menatap wanita yang memanggil nama putrinya, Anindya tidak akan bereaksi saat mendengar nama nya dipanggil, tapi saat mama menyebut nama orang yang memanggil. Ia langsung mengangkat kepalanya menatap orang yang memanggil namanya.
"Ibu Ranty, kenapa kesini." ketus Anindya.
Tapi anehnya saat Ranty berada di sampingnya ia begitu nyaman sekali, tapi rasa ego dalam hatinya mengalahkan nya. Perasaan yang awalnya menghimpit hatinya tiba tiba mencair bagaikan air es yang meleleh.
Ranty duduk di samping Anindya, termasuk Wulan.
"Kamu kabur dari sekolah kenapa?" tanya lembut Ranty.
"Ibu kemana saja sih! ilang ilang kaya setan saja," ketus Anindya.
Ia begitu rapat menyembunyikan perasannya pada Ranty yang duduk disampingnya.
"Lho kok kamu yang sekolah masa harus mengikuti ibu," lirik Ranty dengan suara lembut.
"Aku kan mau pinjem buku, sudah tahu kalau nggak ada ibu mau pinjem juga," suara Anindya masih tinggi.
Ranty merangkul tubuh Anindya dengan hangatnya. Anindya yang tahu itu hanya membiarkan saja, ia tidak menepiskan rangkulan Ranty.*
__ADS_1