MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Ada masalah apa lagi Nindy?


__ADS_3

BRAK!


Pintu kamar Ranty di dorong dengan kuat sekali, Ranty yang ada di kamarnya sangat terkejut melihat Anindya yang tiba tiba datang dengan mimik wajah ditekuk seperti itu. Tatapannya lurus kearah Ranty dan nafasnya turun naik seperti menahan emosi yang meluap seketika juga.


"Kamu bajingan juga ya, bayi yang kamu kandung itu anak siapa!" teriak Anindya dengan luapan amarah yang memuncak keras ubun ubinnya.


Ranty melonggo mendengar teriakan dari Anindya ia tidak mengerti sama sekali atas kata kata yang terlontar dari mulut Anindya. Wanita itu bangkit dari duduknya menghampiri Anindya yang masih berdiri ditempatnya.


"Maksudmu itu apa Nindy, ibu nggak ngerti apa apa?" tanya Ranty dengan wajah heran.


"Kamu pura pura tidak tahu atau apa? Kaku wanita ****** tetap ****** ya, aku mulai hampir mau menerima kamu tapi tingkah kamu kaya gitu!" sembur Anindya marah.


"Nindy, ibu nggak ngerti apa yang kamu bicarakan," kata Ranty lembut..


Ia blank sama sekali apa yang dikatakan oleh Anindya pada dirinya. Ranty menyentuh tangan Anindya tapi gadis itu langsung menipiskan begitu saja. Ranty kaget melihat tingkah laku Anindya seperti itu, hatinya bertanya tanya apa yang terjadi kemarin ia lihat Anindya baik baik saja tapi sekarang?


"Ibu menikah dengan ayah kerena status anak itu kan? Anak yang ibu kandung bukan anak ayah tapi anak laki laki lain." ungkap Anindya..


Deg!


Hati Ranty berdetak dengan keras mendengar tuduhan Anindya. Hatinya terluka mendengar tuduhan yang tudks masuk akal dari anak sambungnya.


"Kamu kata siapa?" ucap Ranty tersendat.


"Jangan sok kaget! Aku tahu semuanya, kamu hanya ingin mencari status anakmu sja yang jadi korba ayah! Kamu pakai kerudung hanya menipu orang saja!" sembur Anindya tajam.


PLAK

__ADS_1


Sebuah tamparan mendarat di pipi nya Anindya dengan keras sekali, sampai gadis itu menjerit kesakitan saat sebuah tangan mengenai pipinya. Anindya langsung mengusap pipinya dengan tanganya yang terasa sakit sekali.


Anindya menyangka kalau Ranty melakukannya tapi wanita yang disangka memukul pipi Anindya juga begong seketika saat mbok Inem dengan wajah yang merah padam langsung memberikan cap lima jarinya di pipinya Anindya.


"Mbok!" pekik Ranty.


"Gadis kuntilanak!" sembur mbok Inem dengan beringasnya.


Dari tadi ia mendengar teriakan Anindya yang membuat hatinya panas, kata kata Anindya yang tidak baik tidak terkontrol..Tanpa ba bi bu lagi langsung menghampiri Anindya tanpa mereka duga wanita tua itu lanhsung melayangkan tangannya ke pipi Anindya yang menyerang terus tanpa hentinya. Ia yang mendengarkan hatinya sangat panas sekali..


"Dasar nenek tua!" ketus Anindya.


Saat ia tahu kalau yang menampar pipinya adalah mbok Inem art yang dipercaya ayahnya untuk bantu bantu di rumah itu. Ranty langsung mendekati mbok Inem dsn menyuruh perempuan itu pergi tapi mbok Inem dengan halusnya menolak kalau ia pergi. Mbok Inem tidak mau kalau Anindya melakukan hal hal diluar dugaannya, Rabty akhirnya tidak bisa memaksa mbok Inem pergi.


Mbok Inem yang mendengar cercaan mulut Anindya pada dirinya langsung menjitak kepala Anindya dengan kerasnya sambil menjambak rambut gadis 15 tahun itu. Ranty yang melihat itu menarik tangan mbok Inem untuk melepaskan dari rambut kepala Anindya.


Mbok Inem dan Anindya terus saling menggulingkan satu sama lainnya, kadang Anindya menyepak, memukul, serat menggigit tubuh mbok Inem. Begitu juga dengan mbok Inem menyerang beberapa kali ke tubu Anindya, di pukul, di dorong, di benturkan kepala Anindya, serta rambut gadis itu di gigit. Teriakan demi teriakan terdengar dari mulut kedua wanita berbeda umur itu.


Ranty yang merasa Anindya seperti itu hanya meninggalakan saja, ia tidak perduli apa yang kedua nya lakukan. Apalagi perutnya terus menerus kontraksi, ia meninggalakan mereka kerena ia hanya ingin tenang dsn merasakan rasa yang nikmat di perutnya.


Bayu yang di telpon oleh Ranty langsung datang ke rumah dan lanhsung menuju ruangan yang ditunjukan Ranty.


Bayu benar benar tidak menduga kalau Anindya dsn mbok Inem harus saling gulat satu persatu..


"Hentikan!" teriak Bayu keras.


Mbok Inem dsn Anindya langsung menghentikan pergulatannya saat telinganya mendengar teriakan Bayu yang melengking dan keras nya membuat kedua wanita itu langsung menghentikan gerakannya.

__ADS_1


Anidnya terkejut melihat ayahnya datang tanpa ia duga sama sekali, mbok Inem melotot saat melihat majikannya datang ia gemetar sekali melihat Bayi berdiri dengan tatapan matanya tertuju pada dirinya dan Anindya. Berlahan tapi pasti mbok Inem beranjak dari lantai ingin pergi begitu saja, tapi Bayu memengang tangan mbok Inem..


Begitu juga dengan Anindya ia bangkit dsn akan pergi, tapi bayi dengan cepat memegang tangan Anindya, Anindya lanhsung menghentikan langkahnya dan memandang wajah ayahnya yang tajam dan mengerikan.


Ranty yang ada di teras langsung masuk dan melihat mbok Inem hanya menundukkan kepalanya sedangkan Anindya membalas tatapan mata ayahnya.


Setelah semuanya berkumpul Bayu membawa mereka ke ruang tamu untuk menceritakan apa yang terjadi diantara mereka.


"Kalian ini kenapa? Kalau ada masalah selesaikan masalah jangan hanya diam apalagi bertengkar seperti ini!" suara Bayu tinggi sekali.


Matanya menatap ketiga orang yang ada di hadapannya, Ranty, Anidnya dan mbok Inem menundukkan kepalanya, tapi hatinya saling menyalahkan satu sama lainnya. Hanya bibirnya saja yang tidak menceritakan pada Bayu.


"Kamu itu datang datang malah bikin onar!" sembur Bayu pada Anindya yang termenung saja.


Ketiga orang yang ditanya hanya membisu diam saja, tidak ada satu orang pun yang menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Bayu. Ketiga orang itu hatinya tercekam sekali mendengar suara Bayu yang mengelegar seperti halilintar yang datang ditengah terik panas hari.


Bayu masih memberikan kesempatan supaya ketiganya saling terbuka tapi Anindya dengan cepat langsung beranjak dari tempat duduk dsn melesat kabar meninggalkan semua orang yang ada disana. Bayu sama sekali tidak bisa mencegah kepergian Anindya hanya tatapan matanya aja yang menatap kepergian Anindya.


Bayu sebenarnya tidak ingin kalau keluarganya ada masalah ia hanya ingin Anindya maupun yang lain terbuka satu sama lain tapi kenyataannya Anindya pergi begitu saja.


Ranty yang melihat Anindya pergi hanya menghela nafas, ia nyakin kalau suatu waktu nanti bakal ada perang dunia kembali. Kemarin Riri yang marah marah tidak.jelas, sekarang Riri masih bisa ke kontrol dan sekarang malah Anindya kembali ke sifat semula.


Bayu akhirnya tanpa mengatakan apa apa langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi begitu saja. Mbok Inem mendekati Ranty.


"Ibu nggak apa apa?" tanya nya menatap Ranty..


"Nggak apa apa kok, mbok." ujar Rabty tersenyum.

__ADS_1


Ranty meninggalakan mbok Inem menuju kamarnya, ia menumpukan batal di tembok lalu ia duduk dengan tumpukan bantal di belakangnya,*


__ADS_2