
2 Minggu Ranty tidak sekolah, ya kerena ia di suruh oleh Bayu menghadiri worshop tentang perpustakaan. Bukan hanya satu tempat tapi beberapa tempat, hanya beda hari dan waktu. Jadi ia tidak sekolah berturut turut, selama 2 Minggu. Ada tiga tempat yang harus ia hadiri dalam 2 minggu itu.
Lima hari di Anyer, Lima hari Pandeglang dan lima hari di Carita. Otomatis ia harus meninggalkan pekerjaan sekolah berturut turut, ditambah lagi itu suruhan dari Bayu sebagai kepala sekolah.
Ya mau tidak mau ia harus mengikuti apa yang kepala sekolah perintahkan, Meu menolak juga tidak enak sama sekali. Ya udah Ranty mengikuti apa yang diperintahkan Bayu.
Selama kegiatan juga pikiran Ranty begitu nyaman dan senang sekali ya itung itung refreshing pikirnya. Dan pada hari terakhir kegiatan workshop, hpnya berteriak dengan keras, ia menyangka kalau suamianya yang menelponnya.
Tapi saat ia melihat layar hpnya, terlihat nama guru mapel IPA yang menelpon, sebenarnya sedikit mengkerutkan wajahnya, kerena Ranty jarang sekali di telpon oleh guru mapel itu.
Sebenarnya waktu itu Ranty bersiap siap akan pulang kerumah, setelah selesai kegiatan. Akhirnya ia langsung menerima telpon dari Intan guru mapel.
📱 Assalamualaikum.
Ranty langsung mengucapak salam, saat ia menerima panggilan dari Intan.
📱Walaikumsalam.
Jawab Intan menjawab salam yang diucapkan oleh Ranty.
📱Maaf ada apa,Bu?
Tanya Ranty setelah Intan menjawab salam yang ia ucapakan.
📱Ibu Ranty, maaf saya begitu lancang cerita ini? Saya juga nggak mungkin cerita Sama orang lain, ya bagaimanapun ibu adalah ibunya juga.
Intan sebenarnya ragu ragu menceritakan yang sebenarnya, takut disangka ikut campur urusan mereka. Tapi ia sudah bertekad untuk menceritakan apa yang terjadi, dan apa yang ia lihat.
Intin tidak peduli kalau misal Ranty mau bilang apa juga yang penting ia sudah menyampaikan apa yang sebenarnya. Ia juga tidak mengada ngada cerita.
Deg!
Hati Ranty bergetar dengan cepat saat intan meminta maaf dan bicara kalau dirinya adalah ibunya. Ranty langsung berpikir kalau ada sesuatu yang dibicarakan.
__ADS_1
📱Iya ada apa ya. Saya akan mendengarkan apa yang ibu bicarakan, biarpun tentang apapun juga.
Ranty bicara itu pada Intan. Ia pasrah kalau Intan mengatakan atau ditegur juga.
📱Begini Bu, tadi waktu saya mengajar, Anindya tidak begitu fokus dengan apa yang saya jelaskan. Waktu di tanya juga jawabannya tidak begitu tepat.
Intan dengan jujur menceritakan keadaan apa yang ia lihat di kelas waktu ia mengajar kerena menurut intan, Anindya seperti punya masalah tapi ia tidak tahu apa yang terjadi pada Anindya..
Intan juga cerita kalau ia memanggil Anindya ke ruangannya, tapi jawaban Anindya tidak memuaskan sama sekali.
Ranty disebrang sana hanya mendengarkan apa yang diceritakan oleh Intan, sesekali ia menarik nafas.
📱Ya, Bu insya Allah saya akan mendatangi Anindya sepulang saya kegiatan.
Kata Ranty setelah mendengarkan keluh kesah intan yang menceritakan kalau Anindya juga pulang setelah di panggil oleh intan.
Intan tahu itu kerena ia memcari Anindya, tapi disana hanya ada Zahra yang berada di perpustakaan.
Memang menurut Intan, Anindya tidak melakukan apa apa tapi ia pergi begitu saja tanpa izin guru. Mendengar itu Ranty hanya bisa mwngelangkan kepala saja, ia juga heran kenapa Anindya seperti itu. Suka kabur dari sekolah tanpa sebab.
Kata Intan sejujurnya. Ranty hanya mengiyakan saja. Setelah mengucapkan salam, ia menutup sambungan hpnya.
Ranty yang siap siap mau pulang hanya membuang nafas dengan kasar. Akhirnya ia pulang dengan menaiki roda dua yang ia bawa sendiri dengan hati hati.
Ranty tidak langsung pulang ke rumahnya tapi langsung ke rumah Wulan, ya biarpun hatinya ragu untuk datang ke rumah Wulan. Ia pasti bertemu dengan Wulan istri Bayu, tapi ego nya berusaha diturunkan supaya tidak membuat keganduhan.
'Aku datang sebagai guru, bukan sebagai istri mas Bayu,"dengusnya.
Akhirnya pada pukul 11.30 ia sampai di rumah itu dan melihat Anindya sedang berada di teras belakang.
"Emang ayah kamu nggak cerita ya kalau ibu pergi?" Tanya Ranty menebak hati Anindya tersenyum.
"Siapa yang nyariin kamu, jangan Ge Er jadi orang itu!" Dengus Anindya mengelak.
__ADS_1
"Oh! Terus kamu marah, nangis, kesel kerena apa?" Tohok Ranty.
"Aku tuh kesel kerena kamu nggak datang, makan gaji buta!" Ketus Anindya masih angkuh.
Anindya tidak pernah mengakui kalau ia sendiri yang ingin selalu dekat dengan Ranty sampai ia uring uringan, kesal dan nangis seperti tadi.
Wulan hanya melihat apa yang dikerjakan Anindya putrinya dengan Ranty gurunya, ia hanya bisa mengigit bibir bagian bawah saat mendengar kata kata Ranty.
"Ran, kamu mau minum apa?" Tanya Wulan, ia baru ingat kalau ia belum memberikan air minum buat Ranty.
Wanita itu langsung berjalan kearah dapur untuk membuatkan minum buat Ranty. Ranty yang ditawarin minum sama Wulan hanya mengangguk saja.
"Buat apa dikasih minum, ma. Nanti kebiasaan!" Teriak Anindya cuek.
Ranty gemas, dengan refreknya ia langsung menjitak kepala Anindya dengan pelan dan lembut sekali. Anindya hanya diam saja saat ia merasakan tangan Ranty menjitak kepalanya yang tidak terasa sakit sama sekali.
Ranty tersenyum mendengar teriakan Anindya. Ia tidak marah mendengarkan teriakan Anindya terdengar lucu saja ditelingga, mungkin kalau ada sebagian orang yang mendengarkan terkesan aneh kerena satu guru dan satu murid. Murid malah main teriak teriakan seperti itu.
Ranty tahu kalau Anindya hampir semuanya watak Wulan, tapi kalau Riri seperti ayahnya keras dan egois. Apalagi kalau ia benar.
"Kamu disini Ran?" Tanya suara berat yang ada dibelakang Ranty.
Kedua wanita yang berbeda langsung memandang orang yang bicara, Bayu berdiri memandang wajah Ranty dan Anindya bersamaan.
"Aku kesini hanya datang sebagai guru Anindya, Anindya tidak masuk sekolah. Aku tadi menegurnya." Kata Ranty cepat.
"Kamu nggak masuk sekolah lagi Nindy!" Suara Bayu mengelegar seketika juga.
"Yah aku nggak sekolah juga kerena,.." ujar Anindya membela diri.
"Mas, dengarkan dulu apa yang Anindya katakan jangan di potong!" Sanggah Wulan sambil menyodorkan minum kehadapan Ranty maupun Bayu.
Kerana waktu Wulan akan mengantarkan minuman buat Ranty, ia mendengar suara Bayu, jadi sekalian membuatkan teh manis buat Bayu.
__ADS_1
Ranty hanya diam saja, ia mengucapkan terimakasih saat teh manis buatan Wulan tersedia. Disini ia tidak ingin ikut campur antara keluarga Bayu dan istrinya, dan ia memposisikan sebagai guru Bayu bukan sebagai ibu sambung Anindya.
Bayu yang mendengar sanggah Wulan hanya melirik wajah Ranty, tapi wanita yang dilirik Bayu hanya diam saja dan tidak menatap wajah suamianya. Bayu hanya menghela nafas melihat Ranty tidak bereaksi apa apa.*