
Di perpustakaan Ranty masih menahan sakit di perutnya. Ia Sam sekali tidak menduga kalau Anindya bakal mendorong dirinya. Pungungnya terasa sakit terbentur ke kursi yang ia tadi duduki.
Wanita itu menelan ludah tanpa haus sama sekali. Ia membuang nafas dalam dalam setelah menghirupnya, seperti melepaskan beban di hatinya.
Ya Ranty baru ingat waktu itu! Ia bertemu dengan Dion. Pertemuan yang tanpa ia sadari sama sekali di sebuah pertemuan bimtek penulisan artikel arsitektur di kabupaten.
"Hai, Ranty apa khabar nya kamu!" seru Dion kala itu.
"Dion," ujar Ranty terkejut..
Ia sama sekali tidak menyadari kalau diantara orang orang yang ada di sana ada Dion. Mereka akhirnya berbincang bincang di tempat yang tidak jauh dari kegiatan.
"Istriku meninggal saat melahirkan anak pertama, anakku juga menyusul ibunya." cerita Dion waktu itu.
Ranty hanya diam saja, saat Dion teman kuliahnya menceritakan tentang keluarganya. Ranty ikut prihatin apa yang diceritakan oleh Dion waktu itu.
"Allah bakal memberikan yang terbaik buat kamu, asal kamu sabar apa yang Allah berikan." nasehat Ranty.
"Makasih ya, Ran,"
Terus kamu bagaimana? Aku lihat kamu hamil ya wah jangan jangan kamu udah nikah!" lanjut Dion menatap perut Ranty yang mulai kelihatan.
Ranty hanya tersenyum kecut saat Dion bicara itu pada dirinya.
"Kamu bahagiakan sama suamimu," selidik Dian menatap wanita yang ada dihadapannya.
"Aku sangat bahagia kok," ujar Ranty cepat.
Ia tidak ingin kalau Dion tahu keadaan rumah tangganya. Kalau mau jujur memang ia dan Bayu bahagia sekali menikah, apalagi Ranty tahu Bayu sangat perhatian dan sayang pada dirinya, apa yang ia inginkan selalu dituruti oleh Bayu ditambah lagi Bayi juga sangat bertangungjawab pada dirinya.
Permasalahnya bukan dari Bayu sebenarnya tapi pada anak naka Bayu. Itu saja. Ia sebenarnya sudah mencoba mendekati keluarga Bayu tapi tetap nihil apalagi dengan Anindya seperti belut yang licin untuk digapai olehnya.
Tapi Ranty tidak menceritakan pada Dion kerena itu hanya masalah rumah tangga dirinya, bukan untuk dibuat pada orang lain. Apalagi Dion sama sekali tidak tahu awal muasal yang menimpah dirinya.
"Tapi di sorot matamu, kamu mengatakan sesuatu yang berbeda," tandas Dion.
__ADS_1
"Maksudmu?"
"Aku rasa kamu seperti menyembunyikan sesuatu pada diriku tentang keluargamu? Apa ini tentang suami, atau keluarga suamimu?" tanya Dion.
"Sudah lah, Dion. Aku nggak mau ya bahas itu," Ranty berusaha mengelak.
"Kalau ada apa apa cerita, biar beban yang kamu bawa nggak terlalu berat."
Ranty tersenyum menutupi hatinya.
"Suami kamu baik kan?" Dipan masih berusaha mengorek keterangan.
"Keluarga suamimu bagaimana?" lanjut Dion kembali.
"Dion!" teriak Ranty cemberut.
Dion tersenyum. Ranty akhirnya beranjak dari duduknya lanhsung meninggalakan Dion begitu saja. Dion, tidak mengejar wanita itu..Ia hanya bertanya tanya dalam hati tentang Ranty, kehidupan, suami dan keluarganya.
Ya waktu mereka kuliah dulu. Ranty berstatus janda itu yang Dion tahu, setelah lulus kuliah Ia sama sekali tidak mendengar keberadaan Ranty sama sekali dan sekarang baru bertemu kembali. Dan Dion merasa kan kalau Ranty punya masalah yang berat yang harus Ranty tangung.
Ranty langsung pergi begitu saja tanpa menengok lagi ke Dion. Ia melakukan itu hanya untuk menghindar dari obrolan tentang dirinya dan Bayu. Sebenarnya Ranty takut kalau Dion bakal mengetahui tentang keluarganya itu saja.
Ranty hanya meringis kesakitan. Ia mengigit bibir bagian bawah untuk mengurangi sakit itu! Pandangan mata Ranty tertuju pada tumpukan buku yang berserakan dilantai perpustakaan, ia mendesah melihat semuanya.
Ranty baru sadar kalau pertemuannya dengan Dion ada yang melihat dan melaporkan pada Anindya.
'Tapi siapa orang yang melakukannya?'bisik hati Ranty.
Siang itu ia langsung pulang ke rumahnya, sebenarnya jam sekolah belum selesai. Tapi perutnya terasa sakit ia ingin merebahkan badannya di rumah sambil istirahat. Daripada ia harus di perpustakaan sambil menahan sakit, lebih baik pulang saja.
Ranty membiarkan buku buku berserakan di ruangan perpustakaan, mungkin besok ia bakal membereskan kembali kalau perutnya mulai agak enak.
Pagi itu sebenarnya Ranty tidak akan masuk sekolah kerena badannya nggak enak, tapi ia ingat kalau ada sesuatu yang harus ia selesaikan di perpustakaan, ya sejak malam sebenarnya perutnya sakit, kram.
Mbok Inem sebenarnya sudah mengingatkan dirinya tapi ia agak memaksa untuk masuk ke sekolah. Dan ditambah lagi Anindya tadi mendorongnya. Ranty mendesah ingat Anindya.
__ADS_1
Mbok Inem kaget saat melihat kedatangan Ranty sebelum jam pulang sekolah. Ia telah menduga hal hal yang lain.
"Pasti perutnya sakit,"
"Nggak kok, cuma kram saja." ujar Ranty tersenyum..
Ranty langsung duduk di kursi. Diambilnya bantal untuk mengganjal di atas perutnya. Sedangkan mbok Inem langsung ke dapur tidak lama kemudian ia membawa air bening di gelas bersama goreng pisang.
"Tadi bapak kesini, tapi kayanya bapak kelihatannya marah," adu mbok Inem.
Belum sempat Ranty menanyakan Bayu pada mbok Inem tiba tiba Bayu datang dan menghampiri Ranty dan mbok Inem. Bayu menyuruh mbok Inem ke belakang. Wanita tua itu langsung ke belakang, sedangkan Ranty masih duduk di kursi ruang tamu.
"Kamu itu apa apa sih! Kamu itu punya suami bentar lagi punya anak tapi kelakuanmu!" suara Bayi mengelegar menahan emosi yang hampir membludak..
"Mas, maksudnya apa. Nggak ada hujan nggak ada angin kok mas bicara seperti itu?" tanya Ranty heran.
Bayu akhirnya mengambil hpnya dan menunjukan ke Ranty. Ranty langsung meraih hp yang diberikan oleh Bayu padanya, saat hp ada ditangannya terlihat gambar dirinya dan Dion yang sedang berbicara ketika bimtek kepenulisan yang ada di alun alun itu.
"Mas, kau dapat gambar ini dari siapa?" tanya Ranty sambil mengusap perutnya dengan tangan kiri.
"Aku dapat darimana jangan kau tahu. Jelaskan kamu ngapain sama dia, dia itu siapa?" bentak Bayu tidak suka..
Bayu langsung merampas hp dari tangan Ranty dengan kasar. Ia sama sekali tidak tahu kalau Ranty bakal berbuat itu padanya.
"Dia Dion aku dan dia nggak ada hubungan apa apa, dan aku tanya kamu darimana dapat fhoto itu? Aku nggak ngerti kenapa aku dan Dion harus di fhoto." ujar Ranty.
"Jangan ngeles. Kamu masih suka kan sama Dion sampai bisa ngobrol begitu, nyaman banget kamu ya." sinis Bayu.
"Mas!" teriak Ranty..
"Aku nggak nyangka wanita yang aku pilih bukan wanita baik baik malah tukang selingkuh!" teriak Bayu sambil beranjak dari duduknya.
Tapi Ranty langsung meraih tangan Bayu, Bayi dengan reflek langsung menepiskan tangan Ranty. Kerena Ranty tidak menyumbangkan tubuhnya akhirnya ia jatuh ke lantai.
"Mas, sakit!" jerit Ranty keras.
__ADS_1
Ia langsung memegang perutnya. Tapi Bayu tidak memperdulikannya, hati laki laki itu terasa pedih sekali melihat keakraban antara Ranty dan Dion.
Bayu pun tidak mendengarkan penjelasan dari Ranty dulu, ia malah pergi begitu saja. Ranty hanya bisa menangis dsn menahan sakit di perutnya. Mbok Inem yang tahu kalau Bayu telah pergi langsung memburu Ranty di ruang tamu.*