MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Curhatan Anindya


__ADS_3

"Aku nggak suka kalau kamu menutupi semuanya padaku," Suara Bayu mengelegar.


Ia tidak suka cara Ranty seperti itu pada dirinya. Bayu hanya ingin terbuka pada dirinya tapi Ranty berpikir lainnya.


"Aku takut kalau Riri marah sama aku, kerena aku seperti ini."


"Kenapa harus marah? Pokonya dengar aku nggak mau kamu kenapa kenapa,"


"Maaf."


Ranty hanya minta maaf.


"Mas, sejujurnya aku hanya ingin menjadi istri pertama dalam hidupmu. Tapi kenyataan aku harus berbagi dengan kak Wulan. Tapi aku sadar aku nggak boleh egois, kau masih milik kak Wulan dan aku tidak mau kak Wulan,"


"Apa maksudmu? Picik cara pikir kamu!" terima Bayu tidak suka.


Laki laki itu langsung berdiri dihadapan Ranty. Sedangkan Ranty masih duduk di kursi.


"Mas, kecilkan suara kamu!" bisik Ranty meraih tangan Bayi.


Bayu masih kesal. Ia menghindar saat tanganya di raih oleh Ranty. Ranty diam melihat Bayu menghindar darinya.


"Ran, sebenarnya kamu anggap aku itu apa? Apa kamu nggak sayang sama aku sampai kamu menhan sakit sendirian, itu anakku juga Ran, bukan hanya anakmu, " kata Bayu menghempaskan punggungnya ke kursi.


Bayu beberapa kali mendesah membuang nafas hanya untuk melepaskan beban yang menghimpit hatinya. Ranty yang melihat itu langsung mendekati suaminya, ia menyentuh pungung Bayi dengan lembut, sedangkan bayi hanya diam saja merasakan sentuhan tangan Ranty.


"Mas, aku nggak apa apa kok. maafkan aku kalau aku salah, ya besok besok kalau ada apa apa lagi aku bilang sama kamu,” kata Ranty berbisik ke telinga Bayi lembut.


Ranty berusaha menenangkan perasaan suaminya. Memang dari awal ia salah tidak bilang sama Bayu kalau saja bilang mungkin Bayu tidak akan marah seperti ini.


"Benar ya. Aku sebenarnya aku masih kecewa sama kamu, kalau saja Anindya tidak bilang mungkin aku tidak bakal tahu masalah ini," kata Bayu menatap wajah Ranty.


Ranty tersenyum manis.

__ADS_1


"Sebenarnya perutku masih kram, mas." adu Ranty pelan.


Ia tidak mau lagi menyembunyikan keadaan dirinya dihadapan Bayu. Ya bagaimana pun Bayu adalah suamianya secara sah di hukum agama.


Bayu menatap wajah Ranty. Ranty yang tahu tatapan Bayu langsung mengangguk seketika juga. Bayu mengusap perut Ranty. Ranty tersenyum.


"Malam ini aku tidur disini menemani kamu."


"Boleh, aku juga pengen kamu temani aku mas. Aku tidak ingin terjadi apa apa pada diriku, kalau bisa Anindya boleh kok tidur disini," ujar Ranty berbinar.


"Nggak aku nggak tidur disini. Aku hanya ingin menemani mama," kata Anindya yang tiba tiba menghampiri keduanya.


"Aku nggak bilang kok sama mama kalau ayah tidur disini. Itukan anak ayah juga," lanjut Anindya langsung pergi.


Ranty hampir saja mengejar Ranty, tapi Bayu menahannya. Ranty menghentikan langkahnya saat tangan Bayu memegang tangannya.


Ranty memandang wajah Bayu, akhirnya duduk kembali disamping Bayu, sambil menghembuskan nafasnya.


Ranty hanya menganguk saja.


Mentari pagi muncul. Sinarnya begitu hangat sekali, ditambah nyanyian burung burung yang lincah menari di ranting pepohonan dekat pohon perpustakaan.


Di ruang perpustakaan Ranty telah berada di ruangan itu membereskan buku buku yang kemarin berserakan, ia mengumpulkan buku dengan klasifikasi DDCnya.


Tiba tiba ia mengusap perut bagian bawah yang terasa sakit, Wanita itu akhirnya menghentikan aktivitasnya membereskan buku ia langsung menuju bangku dan mengusap perutnya untuk mengurangi sakit.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam." jawab Ranty yang langsung melihat ke arah pintu perpustakaan..


Ranty hanya tersenyum melihat saat yang datang adalah Anindya yang menghampirinya. Gadis itu mengulurkan tangan untuk mencium tangan Ranty. aktivitas itu sering Anindya lakukan setiap datang ke sekolah. Tapi apa yang dirasakan oleh keduanya sangat berbeda satu sama lainnya.


Kalau Anindya mencium tangan Ranty kerena Anindya menganggap Ranty sebagai gurunya tidak kurang dan lebih. Sedangkan Ranty menganggap lebih dari murid. Perasaan yang berbeda itu lah yang membuat keduanya tidak bisa menerima satu sama lainnya.

__ADS_1


"Aku pinjam buku bahasa Inggris," ujar Anindya sambil melepaskan tangannya dari tangan Ranty.


Anindya langsung mengambil buku yang dimaksud di rak buku yang telah diberi nama. Setelah Anindya mengambil buku itu ia langsung meninggalakan ruangan perpustakaan tapi sebelum meninggalakan ruangan perpustakaan Ranty memanggilnya.


"Boleh bicara disini?" pinta Ranty meminta persetujuan dari Anindya.


"Ibu mau bicara apa?" tanya Anindya menghentikan langkahnya.


"Sudah lah Bu, aku nggak mau bahas apa apa," lanjut Anindya berkesan dewasa.


"Bicara sebagai guru dan murid, bukan yang lain," desak Ranty.


Akhirnya Anindya mengangguk. Gadis 14 tahun itu duduk dihadapan Ranty, yang terpisah oleh meja yang digunakan Ranty saja. Ranty menatap wajah Anindya yang duduk dihadapannya, seorang gadis yang manis dan lugu penuh dengan luka itu telah Ranty lihat dari pandangannya. Mata gadis remaja itu bersinar dengan beningnya, tapi di sorot mata itu Ranty merasakan ada getir kehidupan yang dijalaninya.


"Boleh ibu tahu atas kata kata kamu,' kenapa bukan yang hamil?' Apa sebenarnya yang sebenarnya terjadi pada mama kamu.?" tanya Ranty lembut.


Ranty bicara secara hati hati, takut menyingung hati gadis itu. Anindya terkejut saat Ranty mengucapakan kata katanya dulu. Tapi gadis itu hanya diam saja tidak bergeming sama sekali.


"Nggak apa kok kalau kamu nggak cerita juga. Itu privasi keluarga kamu, aku hanya orang luar saja yang nggak boleh tahu." sindir Ranty pelan.


Ranty langsung beranjak dari duduknya. Ia tidak ingin mengorek keterangan apa apa pada Anindya, kerena ia tahu kalau Anindya tidak akan menceritakan pada dirinya. Apalagi Anindya tidak pernah menganggap ada dalam kehidupannya. Ranty hanya mengigit bibir bagian bawah terasa getir sekali untuk menjalani kehidupan dengan suami orang.


"Apa perlu aku ceritakan tentang mama, sedangkan aku tahu dari mama kalau kamu adalah sahabat mama." tiba tiba Anindya bersuara saat Ranty akan melangkahkan kaki menuju luar perpustakaan.


Mendengar Anindya angkat bicara Ranty langsung membalikan badannya menghampiri Anindya yang masih duduk di kursinya.


Ranty langsung berdiri disampingnya Anindya. Ia menunggu apa yang akan anindya ucapakan tentang Wulan dan dirinya. Tapi Anindya diam saja, akhirnya Ranty mengambil kursi dan duduk di samping Anindya.


"Jujur, Nin. Memang ibu dan mamamu satu SMP tapi itu hanya sebagai adik kelas. mamamu saat itu kelas 2 SMP sedangkan ibu kelas 1 SMP. Tapi keren mama dan ibumu punya kegemaran yang sama, akhirnya kami berteman, ungkap Ranty menceritakan apa yang terjadi.


Ya kali ini Ranty ingin menceritakan status antara Wulan dan dirinya di hadapan Anindya memang antara dirinya dan Wulan hanya sebatas kakak dan adik kelas, ia sama sekali tidak menduga kalau setelah lulus SMP mereka bertemu dan disaat itu mereka tahu kalau mereka satu sama lain suka membaca dan menulis.


Akhirnya hobi dan kegemaran yang sama Ranty sempat akrab dengan Wulan, waktu itu Wulan telah punya Riri. Wulan menikah dengan Bayu waktu Wulan setelah lulus SMU, sedangkan dirinya lulus SMU langsung mengikuti komunitas menulis di daerah Banten.*

__ADS_1


__ADS_2