
Siang itu! Riri dengan perasaan yang tidak bisa dilukiskan mendatangi Ranty. Ia sangat terpukul melihat Anindya mendapat nilai anjlok di pelajaran bahasa dan sastra. Riri menduga kalau Anindya memikirkan bayi dan Ranty.
Setelah sampai di rumah Ranty, Riri langsung menggedor pintu rumah Ranty dengan keras sekali sampai Ranty yang sedang tiduran kaget. Wanita itu langsung membuka pintu, kerena mbok Inem tadi ia suruh membeli sayuran di pedagang.
"Riri!"
Ranty shock sekali ketika ia membuka pintu terlihat Riri berdiri di hadapannya.
"Riri, ada apa ayo masuk,"
Ranty berusaha menahan perasaan saat ia melihat Riri. Ya beberapa kali ia dan Riri harus bertengkar gara gara pernikahannya dengan Bayu. Ranty sebenarnya tidak menyalahkan Riri secara sepihak. Kalau ia berada dipihak Riri mungkin ia lebih brutal dibandingkan Riri, melihat ayah hari menikah lagi sedangkan status istrinya pertamanya masih hidup.
"Aku nggak mau basa basi ya. Gara gara kamu semuanya. Anindya sekarang nilai anjlok gara gara pernikahan kamu dengan ayah. Kamu belum puas!" teriak Riri kasar
Ia mendorong tubuh Ranty. Untung Ranty bisa menyeimbangkan tubuhnya, ia berusaha untuk tenang menghadapi Riri seperti itu.
"Ri," panggil Ranty.
Ditatapnya wajah Riri yang bagaikan pinang dibelah dua dengan ayahnya Bayu.
"Kamu datang tidak salam, hanya mengedit pintu, sekarang marah marah tanpa ada hujan dan angin. Kamu maunya apa sih!" suara Ranty bergetar.
"Oh! kamu marah aku datang kesini?" suara sinis Riri sambil menatap tidak suka pada Ranty.
"Pantas kalau aku marah sama kamu kerena kamu datang seperti ini."
"Apa aku dan keluargaku tidak berhak marah, atas pernikahan dirimu dengan ayah. Kenapa aku dan keluargaku tidak pantas marah sama kamu," cerca Riri.
"Ri!"
"Baik baik baik, aku akan mengucapkan salam pada kamu. Biar kamu puas!" sembur Riri sewot.
"Assalamualaikum." ucap Riri.
"Walaikumsalam." jawab Ranty pelan tapi masih terdengar di telinga Ranty.
"Trus aku duduk kerena aku sudah diizinkan masuk oleh kamu," sinis Riri sambil menyenggol pinggang Ranty.
__ADS_1
Ranty hanya diam saja melihat tingkah laku Riri seperti itu. Ranty mengusap perutnya yang terasa kram, ia mendesah. Tapi ia tidak ingin Riri tahu kerena percuma tahu juga Riri tidak bakal bersimpati pada dirinya. Setelah Riri duduk, Ranty pun ikut duduk di depan Riri.
"Ri, aku hanya minta maaf apa yang aku lakukan pada keluargamu. Aku salah."
Ranty akhirnya mengakui semuanya. Ia hanya ingin mendapatkan restu dari Riri atas pernikahan dirinya dengan Bayu. Ya sejak 6 bukan yang lalu ia menikah dengan Bayu tapi keluarga Bayu begitu dingin sekali pada dirinya.
Tapi Ranty memaklumi semuanya sih! Siapa orang yang ingin membagi kasih sayang dan perhatian pada orang lain.
"Hanya minta maaf?" sinis Riri mengejek.
"Kamu nggak ngerti apa yang aku alami,"
"Nggak ngerti, kenapa nggak ngerti?" ejek Riri.
"Kalau kamu menikah, hamil trus apa yang kamu lakukan kalau kamu diposisi aku!" jerit Ranty gemas.
"Kalau aku berada diposisi kamu. Menikah tanpa izin pihak istri sang suami aku bakal gugurkan kandunganku, bereskan," ujar Riri merendahkan Ranty.
"Ri, sejahat jahatnya seorang harimau tidak akan menekan anaknya sendiri! Harimau juga punya hati kenapa manusia yang punya akal dan pikiran harus mengugurkan kandungan!" hantam Ranty tidak suka.
"Aku bukan dirimu, yang tega membunuh darah daging sendiri tanpa berpikir panjang! Kamu lebih jahat dibandingkan aku," cemooh Ranty pedas.
Tiba tiba darahnya sampai ke ubun ubun mendengar apa yang diucapkan oleh Ranty yang ada dihadapannya. Riri tidak menyangka kalau Ranty bakal tahu semuanya tentang dirinya. Hati Riri bergetar sekali.
"Apa urusanmu denganku,"
"Kenapa nggak. Sekarang aku sudah menikah dengan ayahmu, otomatis mau tidak mau kamu dan aku bagaikan ibu dan anak. Seperti Wulan padamu." senyum Ranty menyudutkan.
"Jangan harap. Aku bakal menganggap kamu mama. Mama ku hanya satu yaitu Wulan bukan dirimu."
Riri langsung beranjak dari duduknya tanpa permisi lagi ia langsung pulang dengan perasaan yang tidak karuan sekali. Ia tidak menyangka kalau berita tentang dirinya sampai juga di telinga Ranty. Ia tidak menduga sama sekali, Ranty telah mengingatkan semuanya pada sebuah peristiwa yang membuat dirinya hancur.
Ranty tidak mencegah kepergian Riri, ia langsung menutup pintu rumahnya. Tiba tiba Ranty mengigit bibir bagian bawah, dan tangan kanannya memegang perut bagian bawah. Perutnya terasa kram sekali. pungungnya juga sakit.
"Ya Allah kuatkan aku dan janin ini." bisik Ranty menyadarkan tubuhnya ke dinding.
Ia mengusap perutnya beberapa kali untuk mengurangi sakit.
__ADS_1
Ranty akhirnya berusaha duduk di kursi.
"Ibu, Bu lebih baik kita ke puskesmas saja," teriak mbok Inem berteriak melihat Ranty memegang perutnya.
"Nggak apa apa kok mbok, mungkin aku kecapean saja makanya perutku agak sakit, kram." hibur Ranty tersenyum..
Mbok Inem duduk di lantai sedangkan Ranty di kursi. Wanita tua itu memijit kaki Ranty dengan lembut sekali.
"Seharusnya pak Bayu tahu ini," keluh mbok Inem.
Ranty tidak mengubris apa yang diomongkan oleh mbok Inem.
Belum lagi Ranty memejamkan mata terdengar salam diluar. Mbok Inem langsung membukakan pintu.
"Ibu ada?" tanya Bayu.
Mbok Inem mengangguk dengan cepat. Anindya yang ikut dengan Bayu juga ikut masuk ke dalam mengikuti ayahnya. Ranty terkejut mendengar Bayu datang dengan Anindya. Perasaannya berkata kalau Anindya mengatakan semuanya pada Bayu.
"Kenapa kamu nggak bilang!" suara Bayi mengema saat ia melihat Ranty masih duduk di ruang tamu.
"Bilang apa?" tanya Ranty pura pura tidak tahu.
"Kamu tadi pagi jatuh. Kamu kenapa tidak telpon aku," Bayu menatap tajam.
Ia tidak menduga kalau Ranty akan memperlakukan dirinya seperti ini. Sebenarnya Bayu hanya ingin Ranty jujur pada dirinya, kerena bagaiamana pun ia dan Ranty sudah menikah dan sekarang sedang menunggu kelahiran anak..
"Aku hanya nggak mau kamu khawatir itu saja," Ranty memberikan alasan.
Anindya dan mbok Inem hanya diam saja. Mbok Inem langsung membawa Anindya ke kamarnya Ranty. Awalnya Anindya tidak mau tapi lama lama gadis itu mau kerena mbok Inem seperti memaksa Ranty untuk tidak mendengarkan pembicaraan Ranty dan Bayu.
Anindya masuk kamar Ranty. Kamar yang rapi, bersih sekali. Seprai terlihat lembut, halus ditambah lagi senada dengan gorden yang dipakai. Kamar dengan ukuran 4x4², bercat putih tulang menambah kesejukan saja.
Tiba tiba perasaannya begitu nyaman sekali, sunyi, sepi tidak seperti di rumahnya yang harus perang dunia tiap jamnya. Membuat dirinya berontak.
"Untung Nindy tadi bilang sama aku. Kamu jatuh keserempet motor, kamu jangan lakukan ini lagi," suara Bayi gemas.
"Aku nggak apa apa kok, makanya aku nggak kasih tahu kamu," Ranty memberikan alasan.
__ADS_1
Ya ia bicara itu kerena tidak ingin Bayu khawatir sama sekali terhadap dirinya. Bukan itu saja Ranty juga tidak ingin kalau Bayu tahu keadaannya Bayi bakal menemani dirinya. Itu yang ia takutkan kalau misal Wulan dan Riri tahu pasti mereka marah padanya.
Ranty hanya tidak ingin ada pertengkaran lagi, gara gara keadaan dirinya. Kalau mau jujur sih! ia ingin kalau Bayu ada disamping selamanya. Tapi Ranty sadar. Itu tidak mungkin dilakukan kerena Bayu harus adil pada dirinya maupun Wulan.*