MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Zahra mengingatkan Anindya


__ADS_3

PRANG!


Tiba tiba kaca perpustakaan pecah dan kacanya berserakan begitu saja. Ranty yang berada di ruangan itu terkejut sekali mendengar suara yang begitu nyaring. Ia langsung beranjak dari kursi yang di duduki nya langsung menuju luar. Tidak jauh dari sana matanya menangkap sosok Anindya yang berdiri, ditangannya tergenggam sebuah batu karang yang siap dilemparkan ke kaca perpustakaan.


Semua guru yang ada di ruangan langsung melihat yang terjadi, jam istirahat telah tiba. Otomatis aksi Anindya terlihat oleh semua orang.


Ranty tertegun saat tahu apa yang dilakukan oleh Anindya. Zahra yang ada di antara siswa siswi SMP langsung menghampiri Anindya, begitu juga dengan Ranty.


"Nindy apa apaan?" tanya Ranty hampir barengan dengan Zahra.


"Apa apaan," sinis Anindya menatap wajah Ranty penuh dengan api kebencian.


"Maksud kamu," ujar Ranty tidak mengerti.


Zahra yang akan angkat bicara tidak jadi bicara kerena keduluan sama Ranty ia hanya menganggap tangan Anindya dengan erat sekali.


Ranty sebenarnya tidak mengerti apa yan GB terjadi pada Anindya. Kematian Anindya tidak beralasan menurutnya, ya biarpun alasan sepele hanya gara gara pernikahan.


"Kalau kamu memang nggak cinta sama ayah, jangan sampai sakiti ayah! Kamu nggak ngerti saja ya? Apa pantas kamu pantas mendapatkan ayah? Tidak pantas!" sembur Anindya marah.


Gadis itu tidak bisa menahan didihan darahnya yang naik keatas kepala. Sampai tanganya langsung melayang kearah muka Ranty, Ranty tertegun saat tahu Anindya memberikan cap tangan ke wajahnya. Terasa sakit. Tapi hatinya lebih sakit kerena kejadian itu dilihat oleh semua siswa yang melihat kejadiannya.


"Nindy!" teriak Zahra yang tidak menyangka sama sekali.


Bukan hanya Zahra yang kaget. Ranty juga sangat terkejut sekali kalau Anindya bakal melakukan itu padanya apalagi banyak orang yang melihatnya. Ranty menahan emosinya, ia langsung meraih kedua tangan Anindya ditatapnya wajah gadis itu dengan lembut, tapi Anindya menghindar dari tatapan Ranty.


"Ran, ada apa? Cerita aja jangan seperti ini. Kamu boleh marah tapi jangan seperti ini," kata Ranty lembut.


Ranty menatap kerumunan siswa siswi yang melihat polah Anindya. Ranty dengan refleknya menarik tangan Anindya untuk masuk ke perpustakaan, ia tidak ingin kalau semuanya mengetahui apa yang akan mereka omongkan. Awalnya Anindya menolak tapi Ranty memohon pada Anindya untuk terus terang padanya. Zahra yang ada di samping Anindya mendukung apa yang dikatakan oleh Ranty.


"Kamu boleh kok marah sama ibu, tapi jangan seperti ini. Kamu bisa ceritakan .kenapa kamu marah sama ibu, ibu hanya ingin tahu alasan kamu marah," ungkap Ranty.

__ADS_1


Ia tidak ingin kalau kemarahan Anindya tidak pernah tersalurkan dengan baik. apalagi kalau gadis itu tidak cerita tentang sebab dan akibat kematian yang ia lakukan.


Anindya Akhirnya mengikuti Ranty ke ruang perpustakaan, Zahra juga ikut. Dan Zahra pun membersihkan pecahan kaca yang berserakan. Anindya hanya diam, Ranty juga tidak menyuruh Anindya untuk membereskan pecahan kaca itu.


Setelah membereskan pecahan kaca itu Zahra pun duduk di samping Anindya. Ranty pun duduk, ketiganya duduk berhadapan satu sama lain di lantai.


"Apa yang terjadi, Nindy. Kamu marah tapi kenal harus kaca yang jadi pelampiasan mu? Untung ayahmu nggak datang ke sekolah kalau ayahmu tahu bagaimana?"" kata Ranty membuka percakapan..


Ya hari ini Senin 12 Agustus 2012, Bayu sedang pergi rapat kepala sekolah di Pandeglang. Jadi Bayu tidak tahu kejadian yang terjadi di sekolah. Entah kalau Bayi sampai tahu mungkin Anindya bakal menjadi amukan amarah Bayu, Ranty sama sekali tidak ada niatan untuk melaporkan tingkah laku Anindya. Ranty hanya menduga kalau urusan Anindya sebenarnya bukan masalah sekolah tapi masalah pribadi yang dibawa bawa ke sekolah. Membuat semuanya menjadi kacau, orang yang tidak penting harus tahu masalah keluarga.


"Jangan ngeles, bu. Munafik," sembur Anindya masih Balum menguasai emosinya.


"Jujur ibu nggak ngerti apa yang kamu bicarakan," ujar Ranty.


Ia benar benar tidak tahu maksud gadis yang ada dihadapannya. Zahra sebenarnya ingin meninggalakan tempat itu, tapi Ranty Anindya menari tangan Zahra untuk menemaninya. Akhirnya Zahra mau tidak mau harus terlibat dalam percakapan yang menurutnya tidak penting untuk di dengarkan, apalagi kalau masalah keluarga Anindya yang menurutnya rumit dan bikin kepala mumet.


Ranty juga tidak bisa berbuat apa apa saat Anindya melarang Zahra untuk pergi, Ranty menatap wajah Anindya dengan tajam ia ingin tahu apa yang akan dibicarakan gadis itu dihadapan dirinya dan sahabatnya.


Ranty hanya mengelengkan kepalanya, kerena.ia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Anindya.


"Ibu kemarin kemana? Bareng sama laki laki yang bukan suami, jangan jangan ibu selingkuh ya. Bu, jangan sakiti ayah. Ayah rela meninggalakan anak dan istri tapi ibu sendiri malah tinggalkan ayah, kalau ibu emang sayang ayah. Siapa laki laki itu," raung Anindya menangis.


Ranty tertegun sejenak mendengar apa yang keluar dari mulut Anindya. Laki laki gumamnya pelan. Ditatap wajah gadis itu, gadis yang manis sebenarnya. Ranty mengakui kalau Anindya gadis yang manis dan cantik.


Ranty menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan kembali. Ia baru mengerti arah pembicaraan yang dilontarkan oleh Anindya.


"Oh! Itu, ibu cuma temanan kok sama dia. Dia bukan siapa siapa nya ibu, kok!" senyum Ranty menghapus air mata Anindya lembut.


Tapi Anindya menepis tangan Ranty kasar. Melihat prilaku Anindya seperti itu, Ranty hanya diam.


"Kamu dapat kabar dari mana?" tanya lembut Ranty.

__ADS_1


Anindya hanya tersenyum sinis. Ia langsung beranjak dari duduk, tapi Ranty dengan cepat meraih tangan Anindya ia tidak ingin ada kesalahpahaman dengan Anindya. Tapi Anindya menepiskan tangan Ranty dan mendorong tubuh Ranty.


"Nindy!" jerit Zahra kaget.


Zahra berteriak keras kerena dengan refleknya Anindya mendorong tubuh Ranty saat wanita itu berdiri ingin menyentuh tangan Anindya.


Tubuh Ranty langsung oleng dan jatuh ke lantai. Wanita itu menjerit kesakitan saat tubuhnya membentur kursi tempat tadi duduk. Anindya berjalan begitu saja saat tubuh Ranty terbentur ia sama sekali tidak menoleh, Zahra yang melihat itu langsung membentuk Ranty untuk bangkit dan duduk di kursi kembali.


Setelah itu Zahra langsung mengejar Anindya yang masuk ke kelasnya.


"Nin, Kam UU. jangan lakukan itu sama ibu Ranty."


"Kamu lebih belain wanita itu dibandingkan aku?" teriak Anindya marah pada Zahra.


"Nin, wajar kalau aku bela ibu Ranty. Kam UU tahu beliau lagi hamil itu adikmu!" balas Zahra.


"Diam! Bagaiamana pun dia bukan adikku, jangan jangan itu bukan anak ayah tapi anak selingkuhannya!" tepis Anindya marah.


"Ini kenyataan Nin, kamu jangan mengingkari,"


"Aku.ngak peduli."


"Kamu mau kehilangan adikmu lagi?" tanya Zahra menatap wajah Anindya.


Zahra melakukan itu kerena ia pernah mendengar kalau Anindya pernah mau punya adik tapi gagal kerena sebuah kecelakaan yang mengharuskan Wulan tidak bisa hamil lagi.


Mendengar kata kata Zahra, Anindya langsung diam seketika juga. Zahra langsung menggenggam tangan Anindya lembut sekali.


"Aku nggak peduli kalau kamu benci pada ibu Ranty. Itu hak kamu sendiri, tapi kamu jangan benci adikmu, dia nggak bersalah sama sekali, sayangi adikmu sebelum penyesalan itu datang." kata Zahra tersenyum.


Anindya hanya diam. Tapi kata kata Zahra menyentuh hatinya yang paling dalam, Anindya langsung membuang nafas dalam dalam dan pergi begitu saja meninggalkan Zahra.*

__ADS_1


__ADS_2