MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Ranty Vs Anindya


__ADS_3

Wulan pulang. Awalnya ia ingin mengajak Anindya tapi gadis itu tidak mau katanya ada yang ingin dibicarakan sama Ranty. Wulan menatap wajah Anindya, tapi gadis itu hanya nyengir saja. Akhirnya Wulan pulang sendirian tanpa Anindya.


Setelah Wulan pergi, Ranty mengajak Anindya untuk sholat tapi gadis itu hanya mengelengkan kepalanya. Ranty tidak memaksa gadis itu untuk sholat yang penting ia telah mengingatkan saja.


"Kita ke kamar ibu yuk!" ajak Ranty mengajak Anindya.


Anindya mengikuti Ranty menuju kamar yang tidak jauh dari ruang keluarga. Anindya begitu nyaman sekali masuk ke dalam.kamar Ranty kerena kamarnya bersih dan harum lagi.


"Apa yang kamu ingin cerita?" tanya Ranty duduk di kursi dekat meja komputer. Sedangkan Anindya duduk di pojok ranjang dekat lemari baju.


Anindya merasakan Sepoi angin siang hari begitu sejuk sekali, tapi gadis itu merasakan nyaman saat ia masuk di kamar Ranty.


"Ibu Ranty belum jawab pertanyaan ku," protes Anindya.


"Oya pertanyaan tadi." ujar Ranty tersenyum.


Sebelum Ranty menjawab pertanyaan Anindya, ia menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan begitu saja. Ranty mengusap perutnya yang agak kram, tadi sebenarnya di sekolah perutnya sakit.


Awalnya pulang juga ingin istirahat tiduran di kamar dengan santainya. Tapi Bayu datang marah marah dan menuduh dirinya selingkuh dengan Dion. Setelah Bayu pergi, Ranty langsung ingin merebahkan badannya tapi tidak jadi ada Wulan datang.


Dan sekarang di kamarnya ada Anindya yang ingin tahu urusan orang tua. Sebenarnya kalau mau jujur Ranty ingin istirahat, sejak di sekolah perutnya sakit sampai sekarang juga.


Ranty hanya bisa mengelus perut bagian bawah yang tiba tiba terasa kram. Ia berusaha menahan sakit dihadapan Anindya.


"Ibu sayang kok sama ayahmu," akhirnya Ranty tidak bisa membohongi perasannya pada Anindya.


Ranty tidak peduli kalau Anindya bakal marah, atau melakukan apapun juga yang penting ia telah mengungkapkan perasaannya pada Anindya.


"Sejak kapan ibu saku ayah,"Dengus Anindya.


Anindya tidak menyangka kalau wanita dihadapannya bakal berkata jujur atas perasan yang dirasakan oleh dirinya. Sebenarnya ia merasakan sakit saat mendengar kejujuran Ranty terhadap ayahnya Bayu.


"Kenapa kamu ingin tahu?" tanya Ranty.


"Kalau ibu nggak mau jawab nggak apa apa kok, aku juga nggak pernah maksa,"

__ADS_1


Ranty menelan ludah.


"Sejak ibu masuk ke perpustakaan dan ayahmu mengajak nikah sama ibu." kata Ranty akhirnya berkata jujur.


"Kamu menanyakan ini untuk apa, perlu ibu tahu?"


"Aku hanya ingin tahu saja kok! nggak ada maksud apa apa." lirih Anindya.


"Aku kira ibu suka sebelum itu semuanya." lanjut Anindya lagi.


Ya Anindya menyangka kalau Ranty suka sama ayah sejak dulu tapi kenyataannya lain lagi. Anindya hanya bisa menghembuskan nafas lega. Anindya akhirnya percaya pada Ranty, wanita itu menceritakan semuanya pada Anindya tidak ditutup tutupi kerena Ranty menganggap Anindya adalah anaknya sekarang.


Ya biarpun mungkin Anindya tidak menganggap adanya Ranty. Tapi, Ranty bertekad akan berbuat baik pada anindya biarpun Anindya selalu melakukan hal hal lainnya pada dirinya.


"Bu, apa ibu tidak merasa bersalah, apa yang ibu lakukan pada keluarga kami?"


"Maafkan ibu, Nin. Ibu mengakui salah, tapi ibu nggak bisa menolak ajakan ayahmu untuk menikah."


"Demi kebahagiaan ibu, ibu mengorbankan kebahagiaan kamu," cerca Anindya.


Belum sempat Ranty bicara pad Anindya tiba tiba pintu kamar terbuka lebar, kedua wanita yang berbeda langsung menoleh kearah orang yang datang. Bayu menatap keduanya dengan tajam. Bayu tahu Anindya ada di ruang itu dari Wulan, tadi Wulan mengatakan kalau Anindya dan Ranty sedang mengobrol.


Tapi waktu Bayu menanyakan mereka ngobrol apa, Wulan hanya menggelengkan kepalanya. Bayu langsung beranjak meninggalkan Wulan menuju rumah Ranty. Ia khawatir pada Ranty kerena di rumah itu ada Anindya. Bayu sudah berpikir macam macam terhadap Anindya.


Tapi Bayu kaget saat ia melihat dua wanita saling diam saja, saat ia datang. Bayu langsung menghampiri Anindya dan Ranty yang duduk saling berhadapan.


Bayu menarik kursi dan duduk diantara mereka berdua. Ranty diam saja saat bayi duduk di sampingnya, begitu juga dengan Anindya. Sejujurnya gadis itu masih marah sama ayahnya kerena selalu bela Ranty biarpun Ranty salah juga.


Apalagi Ranty ketahuan selingkuh dengan laki laki lain, menurut Anindya lebih baik ayahnya memilih mama yang selalu setia pada ayahnya. Bayu mendengar itu langsung marah dan memukul Anindya, otomatis Anindya yang kena pukul langsung melarikan diri ke rumahnya Ranty, niatnya ingin melabrak wanita itu tapi melihat kelembutan Ranty Anindya akhirnya diam saja.


Anindya malah asyik ngobrol dengan Ranty, dan melihat kedatangan Bayi kedua wanita itu hanya diam saja, Bayu menatap satu persatu wanita yang berbeda usia itu dengan tatapan penuh cinta dan sayang.


"Ran, maafkan aku. Aku nggak percaya sama kamu sampai," ujar Ranty menganggam tangan Ranty.


Tapi Ranty dengan cepat menepiskan tangan nya dari tangan Bayu, ia tidak ingin kalau Anindya melihat semuanya. Tapi Anindya melihatnya, melihat tangan Bayu yang akan memegang tangan Ranty, tapi Ranty dengan cepat menarik dari tangan Bayu.

__ADS_1


"Aku nggak pernah mengkhianatimu, sampai kapanpun juga." ujar Ranty melirik Anindya.


Ia hanya ingin menjaga perasaan Anindya, Ranty tahu kalau Anindya pasti tidak suka melihat keakraban dirinya dengan Bayu, jadi Ranty berusaha untuk tidak intim dihadapan Anindya.


"Trus gambar itu!" ujar Anindya.


"Kayanya ada orang yang nggak suka padaku, maka ia mengirim fhoto itu pada kalian. Entah motifnya untuk apa." sembur Ranty agak geram.


"Apa jangan jangan," ujar Anindya langsung diam tidak meneruskan perkataannya.


"Siapa?" potong Bayu bertanya pada Anindya.


Anindya langsung diam saat Bayi menanyakan orang yang telah melakukan perbuatan itu.


"Apa mungkin kak Riri." celetuk Anindya.


Bayu melotot. Ekspresi Ranty datar.


"Bisa jadi, kerena mau siapa lagi yang melakukan itu?" gumam Ranty seperti pada diri sendiri.


Bayu lanhsung menatap Ranty tajam. Anindya mengangguk. Mendengar gumaman Ranty. Sebenarnya apa yang disangka oleh Anindya, Ranty sudah menduga sejak awal hanya ia tidak bicara kerena takut terjadi fitnah itu. Tapi dugaan Anindya dan Ranty sama. Hanya Anindya lebih terbuka dibandingkan Ranty.


"Aku menyadarinya tadi sewaktu ibu pulang. Maafkan aku." kata Anindya pelan..


Gadis itu langsung menundukkan kepalanya, ia Sam sekali tidak ingin wajahnya ditatap oleh Ranty maupun Bayu.


"Kamu pulang sebelum jam pulang?" tanya Bayu melonggo.


Ranty akhirnya mengangguk.


"Perutku sakit, aku pulang kerena ingin istirahat tapi kaku datang marah marah dan mendorong aku, sampai aku jatuh dua kali." jawab Ranty jujur.


Ia tidak mau membohongi Bayu keadaan dirinya sekarang. Bayu mendesah mendengar pengakuan Ranty, ia tidak menyangka kalau ia telah mendorong Ranty sampai wanita itu kesakitan akibat benturan. Bayu meraih tangan Ranty digenggamnya tangan Ranty dengan eratnya, seperti tidak ingin melepaskan kembali.


Anindya akhirnya mengaku telah mendorong Ranty di perpustakaan ketika ia tahu kalau Ranty berdekatan dengan laki laki itu. Sampai Ranty pulang, Bayu yang mendengarkan dari mulut Anindya hanya bisa menghela nafas dalam dalam. Ia sama sekali tidak tahu kalau keduanya tidak menceritakan kejadiannya, ia langsung merangkul Ranty dan Anindya dalam pelukannya.*

__ADS_1


__ADS_2