MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Terkejut


__ADS_3

Diam diam Ranty meninggalakan rumah, sejak kejadian gambar Riri yang di perpustakaan ia dan Bayi belum.peenah ketemu lagi, Ranty tidak tahu apa yang Bayu lakukan pada Riri.


Hati Senin pagi, Ranty hanya bilang ke mbok Inem mau pergi ke suatu tempat, detilnya ia tidak menjelaskan pada mbok Inem. Ia mengunakan mobil umum DAMRI saja, kerena tidak mau menanggung resiko yang lebih besar kalau menaiki motor sendirian dengan jarak yang jauh sekali.


Kalau mobil pribadi oke kali punya, ini tidak punya sama sekali. Mau pinjem ke suaminya pasti bakal ditanya ini itu, ujung ujungnya ribut.


Akhirnya Ranty memutuskan buat naik DAMRI pada pukul 06.30, mbok Inem tidak tahu kalau majikan mau berangkat ke suatu tempat, ia menyuruh majikan buat sarapan dulu, tapi Ranty mengelak mau makan di jalan kalau perutnya lapar.


Ranty berangkat, diantar oleh tatapan mata mbok Inem yang merasa iba terhadap Ranty. Wanita tua itu hanya menghela nafas panjang, saat mobil yang ditumpangi Ranty telah menghilang.


Mobil yang ditumpangi Ranty jalannya melambat kerena memang mencari penumpang, apalagi mobil itu hanya beberapa orang saja penumpangnya. Ia mengambil duduk tiga baris dari belakang supir.


Hari itu ia ingin menemui Zoya adiknya supaya tidak pernah menganggu anak sambungnya. Ya biarpun Ranty tahu kalau Riri dsn adiknya tidak pernah menganggap dirinya sebagai ibu sambung, tapi itu sudah kewajiban dirinya sebagai kakak dari Zoya.


Ranty tidak ingin kalau Zoya menjerumuskan Riri ke lebih jauh lagi, kalau misal Zoya tidak mau diingatkan ia pasrah saja dengan apa yang Allah rencanakan kerena ia nyakin kalau Allah tahu dan merencanakan sesuatu untuk dirinya dan keluarganya.


Tiga jam perjalanan di tempuh, sampai terminal ia langsung menuju rumahnya yang berada di sebuah perkampungan kecil di dekat sebuah komplek perumahan. Tapi pas sampai di rumah, rumahnya kosong seperti tidak berpenghuni sama sekali.


"Nak Ranty!" panggil seorang ibu pada Ranty.


"Ibu Nita, apa Zoya ada di rumah?'' tanya Ranty saat melihat ada ibu yang menghampirinya.


ibu Nita adalah tetangga keluarganya sampai sekarang juga, jadi pantas kalau Ranty mengenal dekat dengan ibu Nita. Ibu Nita rumahnya tidak jauh dari rumahnya, hanya terhalang oleh satu rumah saja.


"Nak Zoya?" gumam ibu tadi seperti bertanya pada dirinya.


Wanita setengah baya itu manatap wajah Ranty seperti menyelidik pertanyaan yang dilontarkan oleh Ranty yang menanyakan keberadaan adiknya.


Wajah wanita itu merasa linglung mau cerita atau tidaknya pada Ranty, sedangkan Ranty sendiri menunggu jawaban yang bakal di bicarakan oleh ibu Nita.


Ibu Nita hanya menarik nafas.


"Bagaiamana ya ceritanya,"lirih nya.


"Maksud ibu apa ya, cerita apa?" tanya heran Ranty menatap ini Nita yang ada dihadapannya.

__ADS_1


Ranty yang mendengar gumaman ibu tadi hanya mengangguk mengiyakan, ditatap wajah ibu tadi dengan wajah ingin tahu apa jawaban ibu itu.


"Nak Ranty, rumah ini ditinggalkan begitu saja oleh nak Zoya. Tapi ibu tahu kok Zoya sekarang ngekost di perumahan dibelakang kampusnya." ujar ibu tadi.


Ada kejut dimata Ranty saat wanita setengah baya itu menceritakan keadaan tentang rumah dsn adiknya Zoya, ia menahan nafas untuk mendengarkan apa yang terjadi.


"Di belakang kampusnya? Zoya kan kuliah di Jakarta Bu, emang disana ada perumahan?" tanya Ranty heran dan terkejut mendengar pengakuan ibu tadi.


Seingatnya Zoya kuliah di kampus Jakarta, dan di belakang kampus juga tidak ada perumahan atau pemukiman rumah. Hanya bangunan tinggi yang menjulang. Dan Ranty mendengar kalau Zoya kost di dekat kampusnya? Setahu dirinya, Zoya tidak ngekost di manapun juga kok tiba tiba kost.


Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dalam hatinya, ia merasa heran atas pengakuan dari tetangganya tentang Zoya.


Ranty mengigit bibir bagian bawah, dan tangannya langsung mengelus perut yang tiba tiba terasa kram sekali, setelah rasa kram nya hilang ia menarik nafas panjang.


"Kamu nggak apa apa nak?" tanya ibu Nita khawatir saat melihat Ranty meringis kesakitan.


"Nggak apa apa kok Bu," senyum Ranty.


Nak, kamu tahu nggak sekarang nak Zoya itu sudah pindah ke kampus disini." lanjut ibu Nita menjelaskan.


"Kapan, Bu?" kejar Ranty.


"Udah lama ya kira kira 6 bulan lamanya ya, saat ditanya nak Zoya alasannya kalau kuliah di Jakarta jauh sedangkan di sini enak bisa balik ke rumah," cerita ibu Nita


Mendengar penjelasan sang ibu tetangga rumahnya, Ranty melorotkan tubuhnya kebawah tanah. Pandangannya kosong, ia sama sekali tidak mendengar kalau Zoya pindah kampus.


"Kenapa kakak menikah dengan bapaknya pembunuh, perebut pacar orang!" teriak Zoya terhiang hiang kembali ditelinga nya.


"Nak Ranty nggak apa apa kan!" teriak ibu Nita yang langsung menarik tangan Ranty untuk tidak duduk k tanah, tapi Ranty hanya diam dan gamang.


Ranty tidak menjawab pertanyaan dari ibu Nita itu. Di kelopak mata Ranty mengalir cairan bening membasahi pipinya.


Ibu Nita langsung mengangkat tubuh Ranty, wanita itu merasa iba apalagi sekarang Ranty dalam keadaan hamil. Ia membawa Ranty ke rumahnya, ia hanya diam menurut saat dibawa ke rumah Nita.


Mereka duduk di kursi ruang tamu, ibu Nita membawa segelas teh manis untuk Ranty dan beberapa cemilan ringan.

__ADS_1


"Emang nak Zoya nggak cerita sama nak Ranty?" tanya ibu Nita ingin tahu.


"Nggak, Bu, Zoya nggak cerita apa apa sama saya. Jadi wajar kalau saya kaget dan terkejut." Ranty terbata bata.


"Ah!" jerit Ranty memegangi perut nya yang terasa sakit.


"Nak Ranty kenapa? Jangan jangan!" panik ibu Nita melihat Ranty kesakitan..


"Nggak Bu, saya belum waktunya lahiran. Mungkin stres kali," ujar Ranty meringis.


"Udah kalau begitu nak Zoya baringan saja ya, di kamar biar sakitnya hilang." ibu Nita mengajak Ranty masuk kamar.


"Nggak apa apa kok Bu, di sini saja." tolak Ranty tidak enak.


Ibu Nita hanya mengangguk saja.


"Bu, boleh saya minta alamat Zoya." kata Ranty pada ibu Nita.


Ibu Nita memberikan alamat kost an Zoya kerena ibu Nita juga pernah kesana untuk menemui Zoya. Dua Minggu lalu ada orang yang mengontrak di sekitar kampung itu, Ibu Nita langsung menghubungi Zoya melalui panggilan telpon tapi tidak diangkatnya oleh Zoya.


Akhirnya ia ke kampus Zoya menanyakan pada teman teman untung ketemu, setelah bicara masalah ada orang yang mau ngontrak tapi Zoya dengan lembut tidak mengizinkan rumahnya di kontrak.


"Aku juga balik lagi ke rumah itu, bu, nggak mungkin kan aku nggak pulang." Zoya memberikan alasannya.


Ya sudah ibu Nita kembali dengan tangan kosong, dan menceritakan pada orang itu.


Setelah menerima alamat dari ibu Nita, Ranty akan melanjutkan menemui Zoya adiknya ke kost an tapi ibu Nita menahannya.


"Istirahat saja, jangan cape cape dulu, kasihan janin yang kamu kandung." kata Ibu Nita.


"Tapi, Bu?"


"Jangan tapi tapian, kemarin nak Zoya pulang ke rumah. Ia juga menitipkan kunci sama ibu. Apa kamu ingin istirahat di rumahmu?" tanya ibu Nita lembut.


Akhirnya Ranty pulang ke rumahnya, diantar dengan tatapan dari mata ibu Nita. Ia tahu semua yang pernah Ranty alami, ia merasa kasihan sama Ranty sebenarnya tapi tidak bisa menolong lebih.*

__ADS_1


__ADS_2