MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Diskusi


__ADS_3

Ranty dan Anindya keduanya saling diam satu sama lainnya. Mereka membaca buku yang berbeda, Ranty membaca novel Ratu Lucifer. Itu menceritakan tentang satu kumpulan yang berusaha mengharapakan sebuah kelahiran seorang ratu untuk mereka sendiri. 


Kumpulan ini juga mengunakan seorang gadis untuk hamil dan melahirkan seorang bayi yang suci. Ranty menikmati buku yang ia baca, ya biarpun agak serem serem sedikit kerena mengambarkan sebuah kelahiran yang mengerikan menurut nya. 


Menceritakan seorang bernama Rani yang rela memberikan rahimnya untuk melahirkan anak dari Lucifer ini. Sedangkan temannya Aulia sebenarnya menentang keinginan Rani, tapi mereka tidak pernah bisa keluar dari merasa Lucifer. 


Sedangkan Anindya dengan asyik membaca Biar Ia Hidup. Sebuah kisah yang menginspirasi seorang wanita, yang hamil dan mempertahankan kehamilannya biarpun banyak cemooh dan hinaan dari orang lain yang melihat dari luar saja. 


Si Tokoh utama itu mempertahankan kehamilannya demi menebus sebuah kesalahan yang membuat dirinya terpuruk dan jatuh ke lembah dosa. Untuk menghindari dosa kedua kalinya si tokoh utama itu melahirkan bayi. 


Waktu Anindya baca Biar Ia Hidup ingatannya tertuju pada kakaknya, hanya bedanya kalau Riri tidak tahu ia hamil oleh siapa sedangkan di novel mengisahkan kasus tokoh utama itu hamil kerena suka pada  suka. 


"Bu ngomong ngomong kalau status anak diluar nikah itu bagaimana?" Tanya Anindya. 


"Maksudnya bagaimana?" Tanya Ranty belum konek kerena ia juga malah fokus baca buku yang dipegang.. 


"Disini kan tokohnya hamil, yang aku tanyakan bagaiamana status anak dari si tokoh utama itu?" Tanya Anindya menatap wajah Ranty. 


"Oh! Itu statusnya anak biologis dari ayah nya, bukan status anak nasab. Nasab anak yang dilahirkan diluar nikah itu mengikuti ibunya, bukan ikut bapaknya biarpun si ayah biologis menikah dengan ibunya." Jelas Ranty. 


"Tapi kalau menikah nya bagiamana Bu, kan si tokoh hamil lalu lahiran anak perempuan, wali nikahnya bagaimana?"


"Wali hakim." 


"Ngeri juga sih ya, Bu." 


"Makanya kita sebagai perempuan harus jaga diri dari hal hal yang menjerumuskan ke hal yang tidak baik." 


"Bu, emang kalau wanita hamil diluar nikah dan wanita yang hamil secara sah bedanya ya?" Cerocos Anindya. 


"Bedanya dari apa?" Tanya Ranty kurang faham. 


"Katanya wanita yang hamil diluar nikah kalau lahirannya nggak sakit, sedangkan wanita yang sah menikah pasti kalau lahirannya sakit," tanya Anindya polos. 

__ADS_1


"Nggak tahu, ibu'kan belum pernah lahiran." Ranty mengangkat kedua bahunya. 


Anindya hanya mengangguk angguk kepalanya biarpun ia sendiri juga belum mengerti sama sekali. 


"Tapi di sini aku baca Rani melahirkan merasakan sakit," gumam Anindya merasa heran. 


"Ibu juga kaya gituan sih nggak tahu, cuma menurut beberapa orang sih! Memang kalau wanita hamil diluar nikah, saat lahirannya gampang kerena oleh Allah dicabut kenikmatannya." 


"Kenikmatan rasa sakit lahiran, kerena wanita itu nggak bakal mendapat pahala dari sakitnya lahiran. Sedangkan wanita yang Sah dalam pernikahannya kadang ada yang lama lahirannya, itu kerena Allah memberikan pahala buat ibu yang lahiran." Lanjut Ranty. 


Ranty pernah membaca artikel tentang proses lahiran anak zina dan anak nasab. Kalau anak zina, lahirannya gampang kerena Allah Mencabut pahala sakitnya lahiran yang sebenarnya. 


Sedangkan wanita yang menikah dan hamil, oleh Allah diberi sakit ketika lahirannya kerena waktu itu Allah meluluhlantahkan dosa dosa wanita yang lahiran.


Anindya hanya mengangguk angguk saja. Mendengarkan penjelasan dari gurunya. 


"Kasihan kak Riri, kak Riri nggak dapat menerima pahala dong kerena kak Riri hamil tanpa nikah." Kata Anindya merenungkan kejadian kakaknya. 


"Mudah mudahan dapat pahala," doa Ranty tersenyum. 


"Bagus sih novelnya. Intinya sih dalam novel ini, jangan sampai membunuh anak biarpun anak itu hasil perkosaan atau zina," kata Anindya langsung memberikan kesimpulan. 


"Udah beres?" Tanya Rabty menatap Anindya. 


Anindya mengangguk, Ranty menghela nafas ia kagum melihat Anindya telah membereskan membaca bukunya hanya 1 jam saja.


"Mantap!" Seru Rabty girang. 


"Anak zina, atau anak apalah namanya itu sama saja. Lahir dalam kesucian tapi kerena orang tuanya maka sebutan anak zina melekat pada anak yang lahir tanpa pernikahan." Jelas Anindya tersenyum. 


"Dan rata rata mereka membunuh janin yang harusnya di lindungi oleh dirinya, tapi dalam tokoh di Biar Ia Hidup si tokohnya berusaha menjaga dan melindungi janin yang ia kandung." Urai Ranty.


"Kenapa mereka harus membunuh bayi itu, kan bayi itu nggak salah sama sekali?" Tanya Anindya menatap wajah Ranty. 

__ADS_1


"Ya kerena Alah mencabut rasa sakit saat mereka lahiran maka mereka tidak punya rasa kasih sayang pada anak yang dilahirkan. 


"Wah kalian lagi baca apa serius banget," seru Bayu yang tiba tiba menghampiri mereka yang asyik diskusi. 


Ranty dan Anindya memalingkan muka kearah suara yang berada di depan mereka. Anindya langsung terdiam seketika melihat kedatangan ayahnya ke rumah Ranty ada perasan perih. 


Ranty pun terkejut sekali melihat kedatangan Bayu yang tiba tiba tanpa ada pemberitahuan sama sekali, ditatapnya wajah Bayu dengan tajam. Tapi Bayu diam saja, ia tidak memperdulikan tatapan Rabty, melihat itu Ranty hanya menggelengkan kepala saja. 


"Kalian lagi bikin apa sih!" tanya Bayu.


"Kamu nggak apa apa kan?" lanjut Bayu menatap wajah Ranty.


"Nggak sih emangnya kenapa?"


Tapi Bayu seperti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Ranty, tapi ia tidak memperpanjang nya.


Bayu hanya menatap keduanya saja, mereka sama sama suka baca. Sama sama suka menulis hanya bedanya Anindya masih belum berpengalaman sedangkan Ranty sudah berpengalaman.


"Yah, emang kalau hamil di luar nikah itu yang salah siapa? Trus kenapa bayi dilahirkan harus tidak pernah diakui,"


Bayu tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Anindya, ia langsung menatap wajah Ranty kerena ingin ada penjelasan dari Ranty.


Wanita itu hanya mengangkat kedua bahunya, sedangkan Bayi masih melihat wajah Ranty, kerena apa yang Anindya tanyakan harus ia jawab.


"Kamu baca apa sih! kok tanya seperti itu?" tanya Bayu heran.


"Dia baca novel Biar Ia Hidup," celetuk Rabty.


"Buku dewasa," selidik Bayu menatap wajah Ranty tajam.


"Dewasa tapi ceritanya sama sekali tidak ada berbau vulgar."


Bayu hanya menghela nafas saat Ranty menjelaskan tentang buku yang dibaca oleh putrinya, ia hanya takut kalau Anindya membaca buku yang tidak layak untuk usia nya, kerena belum waktunya.

__ADS_1


Ya biarpun di sekolah ia pernah belajar IPA tentang reproduksi, tapi penjelasannya tidak sedetil di novel. Apalagi kalau di novel ada adegan 18 tahun keatas, ia membanyangkan juga merinding.*


__ADS_2