MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Bayu mengamuk 1


__ADS_3

Bayu melirik ke kanan disana ia melihat ada bambu yang berdiri, bambu milik Anindya kerena besok ia bakal ikut Pramuka. Dengan gerakan cepat Bayu mengambil bambu dan memukulkan ke Riri dengan kuat, tapi Riri dengan cekatan langsung menghindar. Biarpun pikiran kemana kemana tapi tatapan matanya masih tertuju pada ayahnya. 


Melihat Riri menghindar membuat emosi Bayu membludak seketika ia tidak menyangka kalau outrinyanbakal menghindar dengan cepatnya. Bayu memandang sangar ke wajah Riri, sedangkan Riri langsung berusaha duduk biarpun kakinya terasa sakit sekali..


Ia merinding melihat kemarahan ayahnya di hadapannya, dalam hatinya ia ingin sekali membela apa yang dilakukan orang yang melaporkannya, kerena orang itu ia mendapatkan Maslah seperti ini dari ayahnya. 


"Bangsat!" Teriak Bayu sambil melempar lemparan pecahan kursi plastik yang tercecer kerena pukulan yang keras mengenai dinding tembok. 


PLATAK 


Lemparan Bayu mengenai bahu Riri, Riri mengasuh kesakitan saat pecahan kursi yang dilemparkan ayahnya mendarat di bahunya, ia juga tidak menyadari semuanya. Kejadiannya berlangsung dengan cepat dan tanpa ia ketahui kalau saja ia tahu sebelumnya mungkin ia bisa menghindar. Tapi ia sama sekali tidak menghindar apapun juga. 


"Ayah sakit! Maafkan Riri!" Raung Riri meraung ketakutan melihat ayahnya benar benar seperti orang kesurupan. 


Di lain tempat sebuah motor melaju dengan cepatnya. 


"Nindy!" Panggil Ranty dengan kerasnya memanggil Anindya yang sedang berjalan tanpa melihat jalan. 


Sebuah kendaraan roda dua melaju dengan kencang, untungnya Anindya menyadari ada sebuah kendaraan serta teriakan dari Ranty.


Ranty berlariwnyongsong Anindya, untung saja Anindya bisa menghindar dari motor tersebut kalau saja ia tidak menghindari akibatnya fatal. 


"Kamu nggak apa apa kan?" Tanya Ranty khawatir. 


"Nggak apa apa kok, bu." 


"Ya udah! Ibu antar pulang ya?" Tanya Ranty. 


Anindya mengangguk saja, ia masih merasa ketakutan sekali, entah motor itu akanenbarak atau tidak. Ia hanya takut kalau di jalan ada motor itu lagi, jadi ia membiarkan ibu Ranty mengantarnya. 


Sedangkan Ranty yang melihat kendaraan yang akan menyerempet Anindya hatinya merasa heran dan bertanya tanya dan ia seperti mengenal roda dua itu! 


Tapi ia membuang prasangka dirinya pada pengendara motor itu, kerena sang pengendara itu mwnggunakan helm kaca hitam, jakwt dan celana panjang serta sepatu laki laki, jadi ia tidak menduga kalau orang yang menyerempet nya itu seorang gadis. 


Pengendara motor itu lanhsung meloloskan diri saat Ranty memeluk tubuh Anindya. Sei.pwngendra motor hanya melirik pada Ranty dengan perasaan yang tidak bisa di lukiskan setelah itu ia pergi begitu saja, sedangkan Ranty menyongsong Anindya. 


Siang itu mereka pulang, Ranty menempati janji untuk mengantarkan Anindya pulang. Ia tidak tenang saat melihat pengendara motor yang hampir saja menebak tubuh Anindya. 

__ADS_1


Sampai di rumah, Anindya dan Ranty saling tatap satu sam lainnya, mwndenbra suara yang ganduh. Rabtybdan Anindya saling tatap satu sama lainnya, kerena ras penasaran mereka langsung melihat ke dlm dengan bergesa gesa.


"Ayah! 


"Mas!" Teriak Anindya bersamaan dengan Ranty. 


Kedua wanita yang berbeda umur shock saat melihat Bayu memukul Riri yang menutupkan kepalanya ke tubuhnya. Anindya melihat tubuh Wulan tergeletak begitu saja di lain tempat tubuh Riri terlihat ketakutan. 


Ranty lanhsung menerobos masuk, begitu juga dengan Anindya. Kalau Ranty ke arah Riri sedangkan Anindya menuju mamanya ya. 


Bayu melirik keduanya. 


"Kalian jangan ikut campur ini urusan saya dengan Riri!" Teriak Bayu. 


Melihat Ranty langsung menghampiri Riri, Riri memeluk tubuh Rabu begitu juga Ranty memeluk tubuh Riri. Sedangkan Anindya langsung menghampiri mamanya yang masih pingsan. Dipeluknya tubuh wanita yang telah melahirkannya dengan lembut. 


"Mas, ada apa?" Tanya Ranty menatap Bayu. 


"Tanya sendiri pada dia, anak nggak ada manfaatnya!" Sembur Bayu masih emosi. 


"Mas, jangan katakan itu, bagaimanapun ia anak mas."ketus Ranty yang masih belum mengerti masalah apa yang terjadi. 


"Anakku yang tidak tahu diri! Anak yang mencoreng nama baik orang tua!" Teriak Bayu  kesal. 


Ia menatap Riri yang memeluk tubuh Ranty, ia benar benar sangat ketakutan sekali melihat ayahnya marah. Bayu menarik tangan Ranty dengan kasarnya tapi gadis itu menarik kembali tangannya ia menatap wajah Ranty..


"Mas, mas sudah! Mas kalau seperti inialah menyakiti Rifi!" Teriak Ranty. 


"Biar biar! Akan ku bunuh anak itu!" Terima Bayu dengan amarahnya. 


"Mas!" Teriak Ranty berusaha melepaskan tangan Bayu di tangan Riri.


"Bangsat!" 


Bayu berhasil melepaskan tangan Ranty pada tangan Riri. Melihat itu Riri berusah sekuat tenaga untuk melindungi Riri dari ayahnya. 


"Ayah ampun ayah ampun!" Tangis Riri menghiba hiba padaa ayahnya..

__ADS_1


PLAK


Pinggang Riri langsung dipukul beberapa Kalai oleh Bayu dengan amarah yang meluap. Melihat itu Ranty mwngalangi pukulan Bayu ke tubuh Riri. Bayu yang sudah kerasukan setan merasa Ranty sebegai penghalang ia langsung mendorong tubuh Riri. 


Riri langsung tersungkur dengan hebatnya. Tapi untung ia hanya tersungkur tidak membuat perutnya terbentur, ia hanya meringis kesakitan. 


"Mas, mas kenapa sih seperti ini!" Teriak Rantyenatik tangan Bayu supaya menatap wajahnya. 


Melihat Ranty marah seperti itu Bayu hanya diam, cuma nafas nyanyang turun naik terlihat jelas sekali. 


"Makanya kalau nggak tahun apa apa diam saja, kamu tahu nggak anak yang banggaakan mencoreng nama baik aku, mencoreng nama baik kita sebagai orang tuanya!" Teriak Bayu keras. 


"Maksudmu apa mas?" Tanya Ranty heran


"Aku nggak mau punya cucu dari dia, dia sampah!" Ketus Bayu menatap Riri yang tersengkur. 


Deg! 


Hati Ranty seperti dihantam oleh benda berat mendengar apa yang diucapkan oleh Bayu. Ranty gamang mendengar apa yang Bayu ungkapkan ya biarpun tidak langsung, Ranty langsung terdiam seketika juga..


Bukan hanya Ranty yang terdiam, Anindya yang tidak jauh dari mereka.hanya terpaku menatap wajah ayahnya dan Riri dengan tajamnya. Hatinya berdesir mendengar ayah mengatakan itu pada Ranty. 


"Jadi kak Riri  hamil? Hamil oleh siapa kak?" Tanya Anindya masih menatap wajah Riri.  


Semuanya diam seketika. Ranty akhirnya duduk disamping Riri, Riri langsung memeluk Ranty, tapi Ranty hanya termanggu ia melihat wajah Bayu. Ya wajar kaku bayi marah dan sangat brutal pada Riri, ridkaa tahunya foto melakukan kesalahan fatal. 


"Aku aku hamil," tangis Riri dipelukan Ranty. 


"Jadi ayah kamu marah kerena kamu," Ranty menghela nafas panjang. 


Ranty tidak meneruskan kata-katanya, ia melihat anggukan kepala dari Riri. Ranty akhirnya memeluk tubuh Riri dengan erat sekali. 


Anindya yang masih ada di tempat itu hanya termanggu, gamang. 


"Kak, mama tahu?" 


"Tahu, dek! Mama pingsan kerena mama tahu kalau kakak hamil," kata Riri. 

__ADS_1


Ranty dan Bayu saling diam saja, mereka.hanya mendengarkan percakapan antara kakak dan adik.*


__ADS_2