
Ranty hanya termenung saja, saat ia mendengar pertengkaran antara Riri dan Anindya. Ia merasa bersalah mendengar pertengkaran yang terjadi pada adik kakak yang saling menyanyangi.
"Aku salah mbok, kalau aku nggak ada di kehidupan mereka mungkin keduanya tidak bertengkar seperti itu," Ranty mengeluh pada mbok Inem..
"Bu, sudah jangan dipikirkan. Biasa mereka bertengkar juga." bibir mbok inem..
"Tapi mbok."
"Bu, jangan banyak pikiran seperti itu, ibu kalau bisa lebih fokus pada kelahiran yang nggak akan lama lagi." kata mbok inem mengingatkan ranty.
Ranty hanya menghela nafas dan membenarkan apa yang di katakan oleh mbok inem.
"Mungkin ini perjalanan yang aku harus jalani mbok,"
"Itu sadar. Jalani apa yang kita jalani jangan menyimpang dari garis yang telah ditentukan." nasehat mbok inem.
"Makasih ya mbok Aya nasehatnya,"
"Sama sama."
"Ibu lebih baik istirahat yang cukup, jangan ada pikiran apa pun juga," kata mbok.inem mengelus tangan Ranty lembut.
Ranty mengangguk kepala nya, ia tidak menyangka kalau mbok inem perhatian seperti itu.
'Kalau saja Zoya seperti itu mungkin aku nggak mungkin merasa cape," Bisik Ranty..
Sekarang bukan hanya Zoya yang membenci dirinya tapi A no insya juga, awalnya sih Ranty ingin kalau Anindya berubah tapi malah sebaliknya. Malah Riri yang awalnya membenci dirinya malah kini berubah menjadi baik.
Mbok inem sudah lama meninggalakna Ranty yang berada di kamar, sejak pagi ia hanya melamun dan mbok inem datang untuk menghibur dirinya bukan hanya menghibur tapi memberikan nasehat pada dirinya.
Brak!
__ADS_1
Suara pintu terdengar seperti di banting, Ranty lanhsung beranjak dari duduknya terlihat Bayu menatap wajahnya dengan tajam sekali.
"Katanya Anindya dsn Riri disini?" tanya Bayu..
Mendengar pertanyaan Bayu Ranty bukan lanhsung menjawab tapi malah duduk kembali ke tempat tidur.
"Kamu nggak apa apa kan?"
"Nggak apa apa kok!"
"Anindya dsn Riri tadi kesini?"
Ranty mengangguk.
"Kenapa nggak bilang sama aku, kalau Meraka kesini?"
"Buat apa? Kamu pasti bela keduanya kan?" delik Ranty menghindar.
"Kenapa nggak?"
"Tapi kamu nggak apa apa kan?"
"Nggak emangnya kalau aku kenapa kenapa kamu bakal peduli?" tanya Ranty beranjak dari tempat duduknya melangkah mendekati jendela.
"Kok kamu bilang seperti itu sih!" tatap Bayu tidak suka.
"Emang aku harus bilang apa sama suamiku sendiri?" tanya Ranty yang masih menatap dedaunan lewat jendela.
"Ran kamus kenapa?" tanya Bayu heran.
"Nggak."
__ADS_1
Sebenarnya wanita itu masih merasa kesal apa yang dilakukan oleh Bayu suamianya, ya tidak kesal bagaiamana, kemarin Anindya bikin oleh lagi di rumah yang ditempati Ranty, semua barang keluar semuanya.
Mbok Inem sudah melarangnya tapi gadis itu tidak pernah mengubris larangan mbok inem. malah Anindya mendorong tubuh mbok inem di depan Ranty, saat ia mengadu pada Bayu kelakuan Anindya malah dianggap biasa saja.
Dan tadi waktu ia akan berangkat sekolah, Anindya melabraknya menyuruh bercerai secepatnya dengan Bayu, sambil mengancam juga.
"Aku nggak bakalan biarin bayi itu hidup, anak zina itu haram!" terima Anindya.
Ranty shock mendengar apa yang keluar dari mulut Anindya. Kata kata jelas, pendek dan penuh dengan kebencian terbukti oleh kata kata nya.
"Kamu bicara apa?"
"Oh! kamu nggak punya telinga ya sampai kamu nggak dengar apa yang aku katakan?" tanya Anindya menatap Ranty.
Ranty langsung meninggalkan Anindya, tapi gadis itu langsung mencegat Ranty.
"Kalau ada orang yang bicara dengerin dulu jangan langsung pergi kaya gitu?" sembur Anindya.
"Nggak ada waktu meladeni kamu, lebih baik kamu sekolah ngapain di sini?"
"Oh kamu sudah berani mengatur aku ya!"
"Nin, bukan..."
"Alah!"
Ranty sebenarnya gemes lihat Anindya Seperi itu.
"Kamu sebenarnya kenapa sih!" geram Ranty.
"Kamu bertanya?"
__ADS_1
Ranty benar benar kehabisan akal melihat tingkah laku Anindya Seperi itu..