MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Tidak bisa dilarang


__ADS_3

Hari minggu cuacanya cerah sekali, burung burung telah bernyanyi dengan riangnya, memberikan warna yang penuh dengan kegembiraan. 


Di sebuah rumah Ranty membereskan kamar, sedangkan mbok Inem bersih bersih dapur. 


"Bu, lebih baik ibu istirahat saja, biar saya yang kerja. Takut kenapa kenapa, nanti bapak menyalahkan mbok lagi,"mbok Inem melarang Ranty membersihkan kaca. 


Ranty hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh mbok Inem. Sebenarnya paginitu mbok inem hendak mengelap kaca, kerena tadinia mengerjakan pekerjaan di dapur. Jadi mengelap kaca di tunda dulu. Tapi waktu mbok Inem ke depan berniat membersihkan kaca, eh ia melihat majikannya mengelap kaca. 


Mbok Inem merasa tidak enak, tapi Ranty menghibur mbok Inem dengan lembutnya. Ia juga senang bekerja dan itu juga menurutnya tidak bahaya.  


"Memangnya kenapa mbok, kita bareng bareng kerjanya, nggak apa apa kok!" Senyum Rabty lembut. 


Ranty mengusap bahu mbok Inem dengan lembut, ia melihat pancaran wajah wanita setengah baya dengan perasaan yang bersalah.


"Seharusnya ibu diam saja nggak usaha bantu bantu mbok, ini pekerjan  mbok." Kata mbok Inem manatap wajah Ranty yang terbingkai hijab. 


"Nggak apa apa kok mbok, hanya kerjaan yang ringan aja. Mbok tolong ya angkat barang barang yang ada di ruangan dekat teras belakang." Kata Ranty meminta tolong. 


"Iya, Bu. Saya kesana dulu ya." Jawab mbok Inem. 


Wanita paruh baya itu langsung meninggalkan Ranty yang ada di ruangan tamu, kerena Ranty mengelap kaca. Ya setiap seminggu sekali atau hati Minggu Ranty sering membersihkan kaca, itu sudah menjadi kerjaan dirinya. 


Apalagi nanti jam 09.00 pagi Anindya bakal datang ke rumah, ya kemarin Anindya telah bilang padanya kalau dirinya bakal datang jam 09.00. 


Apa yang dikhawatirkan oleh mbok Inem terbukti, tanpa sengaja ia menginjak gamis yang ia kenakan, otomatis Ranty tidak bisa mengimbangi tubuhnya. Dengan spontan ia terjatuh di lantai, ia jatuh sambil duduk. Saat bokongnya menyentuh lantai ia langsung menjerit kesakitan. 


"Aaaa!" Jerit Ranty tertahan. 


"Mboook! Mboook, toloooonggg!" Teriak Ranty berteriak dengan kerasnya. 


Mbok Inem yang sedang berada di belakang sayup sayup mendengar teriakan Ranty. 


Mbok Inem langsung setengah berlari menuju asal suara Ranty, disana ia melihat Ranty yang kesakitan memegang perutnya. 


"Bu!" Jerit Mbok Inem dengan wajah pucat. 


Ia langsung menghampiri Ranty dan mengangkat tubuh Ranty untuk bangun, mbok inem ingin membawa Ranty ke dalam rumah. 

__ADS_1


"Mbok perut ku sakit!" Ranty meringis kesakitan. 


Mbok Inem langsung membawa Ranty ke dalam kamar tapi Ranty meminta mbok inem supaya dinruang tamu sambil duduk saja. Mbok Inem protes tapi akhirnya menuruti perintah majikannya. 


"Saya panggil bapak ya Bu," ujar mbok Inem langsung melangkah kan kaki untuk menelpon Bayu. 


Tapi oleh Ranty langsung dipegang tangannya. Mbok Inem yang akan pergi langsung menghentikan langkahnya menatap heran pada majikannya. 


"Jangan mbok, takutnya bapak sibuk." Kata Ranty mwngelangkan kepala..


"Tapi, Bu?" Mbok Inem ragu. 


"Nggak apa apa kok, mbok. Aku juga nggak apa apa. Oya mbok sekarang kan Anindya mau kesini.." larang Ranty pada Inem. 


"Anindya kesini sama siapa? Mau ngapain? Terus saya harus apa?" Brondong pertanyaan mbok Inem memotong kalimat yang Ranty ucapkan. 


"Anindya kesini sendirian, dia mau baca buku tapi mbok jangan bilang bilang ya kalau saya jatuh," Ranty mengingatkan. 


Wanita setengah baya itu hanya mengangguk mengerti arah pembicaraan dari majikannya. 


"Bagaimana kalau saya pijit ibu, biar mengurangi sakit," tawar mbok Inem merasa iba melihat Ranty meringis kesakitan dibawah perutnya. 


Kapan kapan saja ya mbok, keburu Anindya datang. Mbok, tolong ya beresin semuanya." Ranty minta tolong lada ARTnya untuk menyelesaikan pekerjaan dirinya. 


Mbok Inem hanya mengangguk saja, akhirnya mbok Inem mengelap kaca dulu sambil matanya melirik Ranty yang mengusap perut dibagian bawah, sedangkan tangan kirinya memijit pinggangnya. 


"Bu lebih baik.ibu istirahat saja dikamar," pinta mbok Inem merasa kasihan pada majikannya yang menahan sakit..


Ranty hanya tersenyum lnut kearah mbok Inem. 


"Mbok itu lagi ngelap kaca apa lagi lihatin saya sih!" Ujar Ranty sambil tersenyum. 


Ia hanya mengelangkan kepala saja mendengar perintah mbok Inem. Lalu Ranty dengan berlahan langsung bangkit dari dudknya, melihat itu mbok Inem langsung bergerak kearah Ranty yang sedang berdiri. 


Tapi Ranty mengelengkan kepalanya melihat mbok Inem hampir menghampirinya. Wanita setengah baya itu mematung saja melihat majikannya berjalan kearahnya, dengan hati hati Rabty berjalan kearah mbok Inem. Setelah berada di dekat wanita setengah baya itu Ranty dengan lembut nya menyentuh bahu mbok Inem. 


"Udah mbok yang tenang saja, aku nggak apa apa kok!" Senyum Ranty. 

__ADS_1


"Tapi Bu, perut dan pinggang ibu sakitkan?" Tanya mbok Inem menatap wajah Ranty tajam. 


"Ya sakit, tapi nggak apa apa kok masih bisa ditahan," jawab Ranty dengan jujur. 


Ranty melakukan itu hanya tidak ingin kalau mbok Inem khawatir pada dirinya, ia berusaha menhan sakitnya, apalagi ketika ia bangkit dari duduk dan berjakan menuju mbok Inem, perutnya benar benar sakit sekali. Tapi hanya untuk membuat mbok inem supaya tidak khawatir ia berusaha untuk biasa saja. 


"Mbok, bisa minta tolong kan?" Tanya Ranty sopan. 


"Ya ada apa, Bu.?" 


"Tolong ya, Anindya kayanya sebenarnya lagi datang. Mbok goreng pisang atau ubi di dapur," pinta Ranty lembut. 


Mbok Inem dengan senang hati.lanhsung mengangguk saja, ia langsung berjalan ke dapur untuk menggoreng ala yang diperintahkan oleh Ranty. Tapi sebelum ia sampai ke dapur ia malah balik lagi ke ruang tamu, Ranty memandang heran pada mbok Inem itu. 


"Ada apa mbok?" 


"Tapi ibu jangan kerjanlagi ya biar saya saja. Bisa bisa saya dimarahi bapak lalu ini kerja," ujar mbok Inem mengingatkan Ranty. 


Ranty hanya tersenyum tipis mendengar apa yang keluar dari mulut ARTnya. Ia hanya mengangguk, melihat anggukan itu mbok Inem langsung menuju dapur. 


Hanya sepuluh menit mbok Inem berada di dapur, Anindya datang sendirian ke rumah disambut oleh Ranty. 


"Masuk!" Ajak Ranty dengan riangnya. 


"Mana bukunya," tanya Anindya polos. 


"Ada tuh di ruangan!" Tunjuk Rabty hanya menggelengkan kepala. 


"Wah! Ibu udah baca semuanya?" Tanya Anindya memegang novel Biar Ia Hidup. 


"Udah beres kok! Endingnya tidak diduga lho!" Kata Ranty sambil duduk di kursi. 


Anindya pun ikut duduk di kursi kerena di ruangan itu ada beberapa kursi. 


"Bu, lebih baik diluar saja deh!" Ajak Anindya sambil melangkahkan kakinya ke teras..


Ranty tidak bisa mencegah Anindya untuk duduk di teras depan, ia mengikuti akhirnya di belakang dsn mereka duduk lesehan. Tidak lama mbok Inem datang dan menyuguhkan teh manis dan goreng ubi. 

__ADS_1


Mata mbok Inem menatap wajah Ranty, Ranty hanya mengelengkan kepala. Ia tahu arti tatapan mata mbok inem. Tapi Ranty tidak mengizinkan kalau mbok Inem harus bicara masalah kejadian tadi pada Anindya. Melihat itu mbok Inem hanya diam saja dan langsung menuju ke dalam lagi.*


__ADS_2