MEMETIK KETULULUSAN CINTA

MEMETIK KETULULUSAN CINTA
Siapa menganiaya Riri?


__ADS_3

Riri masih terbaring di PKM, hatinya perih sekali saat mendengar suara di Hp yang mengatakan kalau semua terjadi kerena ibu sambungnya. Ia menarik nafas kasar, omongan orang itu seperti ia pernah ia ingat. Ya ia baru melihat wanita itu tapi wanita yang datang ke rumahnya seperti mengetahui banyak tentang keluarganya. 


Ia sempat kaget melihat kedatangan satu orang yang ia tidak kenal sama sekali datang tanpa diundang. Sebenarnya wanita itu datang sendirian, yang anehnya kenapa wanita itu tahu dari man rumahnya. 


Ya jarak antara si penelpon dengan kedatangan wanita itu hanya beda beberapa menit saja, hampir bareng sih. Tapi ia malah ingat kata kata Anindya, yang adiknya ucapkan tadi. Riri  hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan adiknya. Ia juga tidak berontak apapun juga, mendengar apa yang adiknya katakan pada dirinya. 


"Aku nggak nyakin kalau ibu Ranty, nggak pernah melakukan seperti yang kakak lakukan padanya," kata Anindya ketika ia menanyakan seseorang pada adiknya. 


Ya ia tadi menyakan pada adiknya ketika Anindya datang menjenguk dirinya. Tapi jawaban adiknya seperti itu. 


"Dek, jangan jangan wanita itu yang mengirim wanita yang ingin membahayakan kakak," ujarnya. 


Ya, wajar kalau ada kecurigaan dirinya lada Ranty kerena ia pernah melakukan perbuatan yang tidak pernah dimaafkan sama sekali. Tapi kalau mendengar kata kata adiknya membagi tidak mungkin Ranty melakukannya.


Riri berusaha bangkit dari baringanya, ia menyandarkan pungungnya ke tumpukan bantal yang ada dibelakangnya. Pinggangnya terasa sakit dan panas kerena ia lama berbaring di tempat tidur. 


Matanya menatap lurus kearah depan. Dan sebuah kelebatan banyangan dimasa lampau membayang di depan matanya. Riri masih ingat kejadian itu, kejadian dimana mamanya Wulan menatap sebuah gambar di ruang tengahnya. 


Ya itu pertama kali ia melihat mamanya melamun sambil menatap gambar di ruangan tengah. Ia sebenarnya tidak sengaja melihat mamanya, ketika ia keluar dari kamar hendak mengambil air minum matanya menangkap tubuh mamanya yang berdiri sambil menatap fhoto. 


Wulan tidak menyadari dari kejauhan Riri putrinya  memandangi dirinya yang anteng melihat  fhoto yang ada di dinding ruangan tengah.  Sebuah gambar dua orang wanita berjilbab sedang tersenyum manis. Ada ******* berat. 


Riri melihat kearah pipi mamanya yang mulus terlihat cairan bening, mengalir. Wulan, menghembuskan nafasnya berat. Ya ia masih ingat kata-kata anak nya,  meminta gambar itu disimpan di gudang. Tapi, ia tidak mengizinkan. Bagaimanapun ia hanya menganggap sebagai teman tidak lebih.


Tapi ia tidak memungkirinya, kalau ia melihat gambar itu hatinya terasa sakit sekali, beberapa kali ditepiskan tapi masih sakit. 


Riri yang berada dibelakang Wulan, menatap wajah mamanya, ia merasa kalau mamanya terpuruk kalau mengingat semua yang ayah lakukan pada dirinya. Tapi wanita yang di dekati oleh Riri itu tidak menyadari kalau putri berada ada di belakang, mata dan pikirannya tertuju pada gambar itu.


“Mama!”panggil putri pertamanya  menghampiri mamanya. 

__ADS_1


Gadis itu langsung memeluk tubuh mamanya yang sedang menatap gambar dirinya dengan Ranty.  Ia juga melihat gambar itu, tapi pandangannya beralih pada wajah Wulan ibunya. 


"Mama menangis?" Tanya Riri. 


“Riri, mama nggak apa-apa kok!” senyum mamanya samar.


"Tapi, akumlihat mama menangis?" 


“Mama, nggak apa apa  sayang. Tadi ada debu masuk, jadi mata mama berair,”dusta mamanya.


Riri hanya menghela nafas panjang, mendengar apa yang Wulan katakan lada dirinya. Ia dengan eratasih memeluk mamanya dari belakang, seperti memberikan kekuatan pada wanita yang telah melahirkan dirinya. 


Bukan hanya Wulan yang terpuruk sebenarnya, Riri juga terpuruk kalau mendengar apa yang ayahnya katakan beberapa waktu yang lalu. 


Gadis yang menatap wajah mamanya. Disana Riri seperti melihat ada luka yang terbalut oleh senyuman yang mengisyaratkan duka. Ada rasa kasihan melihat wanita yang telah melahirkan harus menangis seperti ini.


“Ma, aku harus pergi!’’ Riri pamit pada mamanya sambil tersenyum rahasia.


Riri, tidak menyaut panggilan mamanya. Akhirnya wanita muda itu hanya menatap kepergian putri sulungnya. Tanpa izin sama mamanya, Riri langsung mengendarai roda dua dengan kecepatan rendah. 


Tujuan ke rumah wanita simpanan ayahnya—Ranty. Pikiran gadis usia 20 tahun berkecamuk antara benci, dan kasihan.. benci sama wanita yang telah merebut ayah dari dirinya danm mama. Kasihan pada mamanya yang telah menemani ayah selama 21 tahun. Kini, ternoda oleh wanita itu. Saat ia sampai di depan rumah. Adzan berkumandang dengan merdunya, tapi gadis muda itu tidak memperdulikannya.


Tanpa salam. Riri mengedor-ngedor pintu yang tertutup rapat. Berkali-kali ia mengedor, tapi sang penghuni belum menampakkan batang hidungnya. Amarahnya telah sampai keubun-ubun. Mendidih. Selang 10 menit, pintu terbuka lebar.


"Riri, ayo masuk kita sholat magrib bareng!" Ajak Ranty. 


Sebenarnya Ranty terkejut melihat kedatangan anak sambungnya tapi ia berusaha menutupi dengan menyambut Riri. 


"Kamu udah bangun Ri?" Tanya Wulan yang tiba tiba membunyarkan lamunan Riri. 

__ADS_1


Riri hanya mengangguk, ia tidak menyadari kalau Wulan datang berkunjung. Wulan membawakan baju untuk Tuti ganti, tidak lama kemudian Ranty pun berkunjung ke PKM. Riri hanya menghela nafas panjang melihat wanita itu, Ranty hanya tersenyum dan duduk di dekat ranjang Riri. 


"Gimana keadaannya?" Tanya Ranty ramah. 


"Ya seperti yang kamu lihat." Ketus Riri. 


Ranty hanya menghela nafas mendengar jawaban dari mulut Riri. 


'Nggak berubah juga,' bisik hati Ranty. 


"Ma, ayah kok nggak kesini sih!" Rajuk Riri pada mamanya. 


"Nanti juga ayah kamu kesini," ujar Wulan tersenyum pada Riri. 


Ia mendekati Riri yang duduk,"kamu lebih baik baringan jangan banyak duduk,"bujuk Wulan mengingatkan Riri. 


"Kamu nggak pulang? Ngapain disini lama lama?" Tanya Riri pada Ranty yang duduk di sebelah kanan, sedangkan mamanya duduk di sebelah kirinya. 


"RI!" Panggil Wulan mengingatkan Riri putrinya. 


"Nggak apa apa kok, kak. Aku juga butuh buru maaf ya Ri. Aku pulang dulu," ujar Ranty. 


Ia tidak mengubris kata kata Riri, sebenarnya ia datang juga hanya ingin melihat keadaan Riri saja. Ranty pun pulang lagi, diikuti oleh tatapan mata Wulan dan Riri.


"Kamu jangan bicara itu sih sama Ranty." Protes Wulan. 


"Kenapa, ma. Seharusnya wanita itu nggak ada di kehidupan kita?" Dengus Riri agak kecewa pada Wulan. 


Wulan hanya mengelus bahu Riri dengan lembutnya. Riri dengan cepat menghindar dari elusan tangan Wulan, ia langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang. Melihat itu Wulan hanya menghela nafas saja, sedangkan Riri hanya bisa diam tapi banyangan antara dirinya dan Ranty berkelebat. 

__ADS_1


Wulan langsung keluar dari ruangan Riri, ia akan ke warung buat beli tisu tapi matanya menangkap dua sosok yang dikenalnya. Melihat dua sosok itu Wulan hanya mwnghala nafas panjang, hatinya terasa sakit sekali melihat mereka berdua.*


__ADS_2